Buku “Delapan Sisi”: Genre Baru Sastra Indonesia

Belakangan, saya sedang menggandrungi kumpulan cerpen Indonesia. Berangkat dari merebaknya minifiksi cetusan Agus Noor beberapa tahun yang lalu, mulai banyak orang-orang, baik yang berlatar belakang penulis maupun bukan, juga ikut memeriahkan euforia fiksi pendek ini. Isinya yang padat dan kecenderungannya melepaskan diri dari bertele-tele membuatnya memiliki daya pikat tersendiri. Kumpulan cerpen dan minifiksi berbentuk buku yang terakhir saya baca adalah “Dunia di Dalam Mata”, diterbitkan tahun 2013. Setelah itu, saya tak mendengar lagi ada buku kumpulan cerpen yang diterbitkan. Sampe akhirnya ketemu buku ini.

Image

Omnibook (omnibus book) ini merupakan sebuah mahakarya perdana dari teman-teman Akademi Bercerita. Ditulis oleh delapan penulis muda, yang beberapa karya di antaranya sudah pernah diterbitkan di Kompas, buku bersampul kuning cerah ini berhasil membentuk citra distingtif karya sastra Indonesia–genre baru, entah apa namanya. Semua cerita dalam buku ini berjudul nama-nama orang: Rini, Surti, Lastri, Mujis, Urip, Tris, Jeremy, dan Fendira. Belum selesai, yang lebih menariknya, masing-masing cerita tersebut berhubungan satu sama lain, sehingga pembaca, setiap kali membaca cerita selanjutnya, seolah terlempar dalam ruang dan waktu, menyeret kita ke cerita sebelumnya. Itu juga yang membuat buku 172 halaman ini seolah-olah seperti novel penuh fragmen: kumpulan cerita berbeda yang diikat dalam bundelan yang sama.

Seperti “Dunia di Dalam Mata”, “Delapan Sisi” menyuguhkan para penikmat narasi dengan konten yang mengangkat isu-isu yang tak biasa, bahkan sudah dianggap tabu. “Rini” membuka cerita berlatar belakang historis Indonesia pada era G-30S PKI dan akhirnya harus rela melihat anaknya mati ditembak prawira angkatan darat. Dilanjutkan dengan cerita anak Rini yang bertahan hidup, “Surti”, yang harus rela kabur ke kota, bekerja sebagai “pendamping” kaum borjuis, dan berakhir hamil. “Lastri” melanjutkan cerita dan kemudian menjadi anak yang dibuang Surti dalam cerita sebelumnya. MB Winata dalam “Mujis” menggambarkan seorang tukang becak yang berprofesi sebagai kurir para perempuan yang hendak aborsi di kliniknya dokter “Urip,” yang harus menyembunyikan profesinya kepada dosennya dulu, “Tris.” Selanjutnya, dalam cerita “Jeremy”, Norman Erikson Pasaribu mengangkat tema pernikahan lelaki penyuka sesama jenis yang hendak mengadopsi anak di India. Terakhir, Astri Avista menutup cerita dengan membuka kehidupan pernikahan Urip dengan istrinya dalam cerita “Fendira” dalam balutan etnis Tionghoa yang konservatif.

Cerita favorit saya itu…semuanya! Hehehe. Mengingat memang masing-masing cerita punya karakternya sendiri. Tapi, jika ditanya cerita yang membuat saya sampe terpongah gitu, mungkin saya akan milih cerita “Urip” dan “Jeremy.” Mbak RF Respaty dengan luwesnya bermain dengan istilah-istilah kedokteran yang agak membingungkan, namun tetap bisa dicerna dengan mulusnya. Tak heran, di bagian “Profil Penulis” di halaman belakang buku, Mbak Respaty memang seorang farmasis. Sama halnya dengan Norman Erikson Pasaribu, penulis cerita “Jeremy”. Nama Pasaribu yang mencirikan keluarga Batak tertuang dalam karyanya yang satu ini. Adat arisan batak dan aturan-aturan perkawinan yang cukup kental justru membuat cerita ini manis. Ditambah lagi, membaca cerita ini, menurut saya, seperti membaca kisah dalam jurnal seseorang. Pandangan saya tentang perkawinan sesama jenis semakin terbuka.

Terkesima dengan cara para penulis ini memainkan diksi dan alur cerita mereka masing-masing, saya tak pernah membaca cerita pendek yang jalan ceritanya seluwes dan semenarik dalam buku ini–setidaknya setelah membaca “Dunia di Dalam Mata”. Dinamisasi pergerakan karya sastra yang semakin ke sini semakin “mengalir” dan modern tampaknya mulai tertuang dalam buku terbitan Plot Point ini, tanpa mendiskreditkan harga-harga utama yang mesti dilekatkan dalam sebuah karya apapun: nilai sejarah atau pesan moral. Buku ini membuat saya terbang bebas dalam ide-ide yang mainstream namun tetap segar dalam penyuguhanya. Dengan demikian, Delapan Sisi sangat saya rekomendasikan untuk teman-teman yang bosan menunggu perjalanan atau membunuh waktu. Daripada bengong, sekadar mendengarkan musik atau melihat jalanan penuh mobil berpolusi, lebih baik baca buku ini. Selain dapat personal pleasure, dapat pengetahuan yang banyak juga!

P.S.: Saya jadi kepincut mau masuk Akademi Bercerita nih hehehe.
Selamat membaca!

 

Salam,

HIMAWAN.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s