Yang Berani, Yang Tinggal

Orang yang berani tidak akan kabur. Dia akan tetap tinggal dan melihat apa yang terjadi.

Kata mutiara di atas diucapkan oleh karakter bernama Hushpuppy dalam film Beasts of Southern Wild yang beberapa hari saya tonton. Filmnya, secara singkat, menceritakan tentang seorang anak berumur lima tahun yang hidup di Louisiana pinggiran, Amerika Selatan, bersama ayahnya yang terkena penyakit jantung. Alur ceritanya yang sangat keseharian dan menonjolkan sisi kesederhanaan dari hiruk-pikuk kota sibuk Amerika yang “tak pernah tidur”, membuat film berdurasi 93 menit ini menyihir siapapun yang menontonnya; meluluhlantakkan hati-hati keras kita, untuk tidak “melihat terlalu keras” dunia di sekeliling kita. Alih-alih menjadi gadis yang feminin, Hushpuppy besar menjadi seorang sosok kuat yang mampu melawan dunianya sendiri, meskipun masih hidup di dalamnya. Tidak hanya itu, visualisasi adaptasi dari drama “Juicy and Delicious” yang begitu natural dan magis membuat film ini menjadi salah satu film favorit saya sepanjang masa.

Beasts of the Southern Wild poster
Beasts of the Southern Wild poster

Penggalan kalimat dalam film ini mengingatkan saya pada sebuah keadaan dalam sebuah organisasi. Ada yang tetap bertahan, ada yang menyerah. Di awal, semangatnya masih menyala. Di tengah, api semangat itu mulai redup. Bahkan belum sampai ke pertengahan, ada yang apinya sudah mati, hangus, atau bahkan terbakar dengan asapnya sendiri. Kita semua mungkin tahu bahwa ada beberapa tahap dalam dinamisasi organisasi, satu diantaranya adalah penyesuaian, yang merupakan tahap terpenting dalam proses penjajakan dan penyesuaian di organisasi tersebut.

Hampir lima bulan sudah saya berada di BPM Parlemen Tajam, dan banyak hal yang terjadi–baik positif maupun negatif–di lembaga ini. Awalnya, saya melihat begitu banyak mata-mata kebingungan yang menghiasi dinding-dinding sekretariatnya, karena belum tahu hakikat organisasi yang diikutinya apa. Seiring berjalannya waktu, mereka mulai berteman, mencari orang-orang yang bisa bekerja dan bermitra dengan mereka, mata-mata yang bingung itu mulai cerah terbuka. Di sela-sela periode kepengurusan, oknum-oknum dari luar terasa, terdengar, dan terlihat lebih menarik di mata mereka–inilah badai dalam setiap organisasi. Ada yang sudah siap berpegangan pada sesuatu, ada yang sibuk mencari-cari pegangan ketika kakinya sudah terseret, ada yang langsung terbang hilang. Tapi itu bukan bencana terbesarnya, toh mereka akhirnya akan jatuh dan kembali lagi.

Masalah yang sebenarnya adalah bagaimana kita bisa bangkit setelah jatuh dari badai itu. Di film itu, Hushpuppy tak pernah terlihat menangis atau sedih. Meski tanah airnya, Bathtub, dilanda air bah dan merendam semua “tempat-tempat terindahnya”, Hushpuppy dan ayahnya tak pernah mau meninggalkan rumahnya. Mereka menganggap bahwa apa yang mereka mulai adalah rumah terbaik yang mereka pernah tempati. Bagaimana mereka dibesarkan, oleh siapa, atau di mana, tidak akan pernah membuat mereka lupa di mana rumah mereka sejatinya. Ditambah lagi, kendati Ibunya kabur dari rumah karena merasa tak sanggup membesarkannya di Bathtub, Hushpuppy tetap besar dan hidup dengan perlakuan yang maskulin (dari ayahnya). Air bah pun datang, dia melihat hewan-hewan, pepohonan, dan ikan-ikan di sekitarnya mati mengenaskan; tubuhnya terurai dimakan cacing kelaparan. Dia tidak pergi, tetapi tetap tinggal, hidup, dan memperbaiki sebisanya, meskipun kelihatannya sulit luar biasa.

Ending Film
Ending Film

Di akhir film, Hushpuppy berhasil menundukkan “beasts” yang digambarkan dengan babi-babi hutan raksasa–atau dalam kasus organisasi: badainya. Setelah itu, dia berjalan ke dalam rumah dan menyuapi ayahnya yang terbaring lemah di kasur dengan sepotong daging goreng pemberian ibunya (yang ceritanya Hushpuppy sudah temui). Dia pun, pada akhirnya, menangis melihat betapa bahagianya dirinya bisa memberi makan ayahnya dengan tangannya sendiri. Adegan ini merupakan adegan paling emosional yang pernah saya saksikan di layar.

Poinnya adalah orang-orang yang betul-betul peduli tidak akan pernah menyerah dan pergi kabur entah ke mana. Ini mengingatkan saya pada sebuah materi ketika saya mengikuti Sekolah Legislatif tahun 2013, yaitu materi Kepemimpinan. Narasumbernya mengatakan bahwa, “dalam organisasi, kita tidak boleh merasa lelah. Kita baru merasa lelah ketika air mata turun menetes dari pipi kita, mengetahui bahwa kita sudah membantu orang lain sebisa kita.”

Sama dengan kita, Hushpuppy telah melewati perjalanan penuh kerikil dan duri-duri tajam yang di tengah-tengah perjalanan bisa saja datang tiba-tiba. Menghantui mimpi-mimpi kita. Tapi, sudahlah. Mimpi hanya bunga tidur–angan-angan tak jelas; sebentar saja dia akan hilang tak ada. Mereka yang berani akan tetap berada di rumah dan melihat apa kekurangan dan kekhilafan yang ada; bukannya lepas dan pergi.

Lihat saja, berkat perjuangannya, Hushpuppy mampu “menghidupi” ayahnya, dengan penyuguhan ending yang menunjukkan bahwa Hushpuppy melihat ayahnya mati dalam pelukannya sendiri–hal yang tak pernah ia lakukan selama ayahnya hidup. Ditambah lagi, adegan ini pula yang membuat pemeran Hushpuppy, Quvenzhane Wallis, berhasil masuk sebagai satu dari lima nama terbaik di Oscar 2012.

Selamat berjuang di organisasi Anda masing-masing!

P.S.: Kalian harus tonton filmnya!🙂 It’s mostly recommended!

 

Salam,

HIMAWAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s