Karakterisasi dalam Perubahan Temperatur Drastis akan Kehadiran Bejo: Analisis Mendalam Adegan Film “The Raid 2: Berandal”

oleh HIMAWAN PRADIPTA

Poster The Raid 2
Poster The Raid 2

Film Indonesia sepertinya makin lama makin berkembang dalam sisi genre-nya. Dari yang bertemakan islami hingga horor semuanya tersedia di kancah perfilman dalam negeri. Tak jarang, beberapa diantara film-film tersebut berhasil menembus dan mencuri animo tak hanya masyarakat dalam negeri tapi juga masyarakat luar negeri. Satu diantaranya yang sedang hangat diperbincangkan adalah film The Raid 2: Berandal. Film yang dibesut sutradara Wales, Gareth Evans, ini berhasil menghidupkan semangat sineas-sineas perfilman lokal untuk terus berkarya dengan menyajikan sesuatu yang tak biasa.

Sekuel dari The Raid: Redemption (Penebusan) ini menghadirkan beberapa tokoh baru, yang membuat alur cerita filmnya, meskipun lebih dramatis dari sebelumnya, juga berbeda dan banyak kejutan di mana-mana. Saya sendiri lebih suka film yang kedua ini dibandingkan yang pertama. Film yang pertama, meskipun epik, terkesan terlalu ‘kasar’. Wajarlah, orang-orang Indonesia belum terbiasa dengan aksi Iko Uwais yang membenturkan kepala berpuluh-puluh orang di setting yang mengambil tempat di Indonesia. Justru, orang-orang kita sudah tak asing, bahkan agak abai,  jika aksi tersebut dilakukan oleh Vin Diesel atau David Craig. Namun, kehadiran Gareth Evans dengan gaya membuat filmnya yang mistis dan mencengangkan menjadi ciri tersendiri dalam kiprahnya sebagai sutradara yang bisa dibilang awam di mata Indonesia.

Tak hanya itu, yang perlu menjadi sorotan di film kedua ini adalah pengaruh karakternya terhadap jalan cerita secara keseluruhan. Awalnya, karena belum puas (sekaligus ngebet) dengan bagaimana Evans bermain-main dengan naratologinya, saya akhirnya memutuskan untuk menonton film ini dua kali. Ada beberapa potongan adegan yang kalau  lengah sedikit saja bisa membuat kita kewalahan mengikuti jalan cerita selanjutnya. Keluar dari bioskop, saya langsung berselancar ria di internet, menilik-nilik resensi dan analisis beberapa orang yang hobi me-review film. Hasilnya, hampir semua website/blog yang saya kunjungi mempertanyakan hal yang sama: kok pas di tengah-tengah film ada salju? Ini juga yang menjadi pertanyaan besar saya pas nonton pertama kali. Rasanya sungguh absurd bahwa Gareth Evans menurunkan salju sementara setting-nya mengambil tempat yang ada gerobak bertuliskan “Mie Ayam,” yang berarti itu di Indonesia. Tapi setelah menonton film ini kedua kalinya, saya baru dapat jawabannya! Semua itu tidak lepas dari keterlibatan salah satu karakter sadis, Bejo, yang melahirkan konsep dingin ini. Mari kita simak!

Adegan pertama: pembunuhan Andi
Adegan pertama: pembunuhan Andi
Andi (Donny Alamsyah) menggigil sebelum dibunuh
Andi (Donny Alamsyah) menggigil sebelum dibunuh

Di awal film, Evans menampilkan karakter kakaknya Rama (atau Yuda), Andi, yang diperankan oleh Donny Alamsyah, yang sedang berada di ambang kematiannya. Di tengah-tengah ladang antah berantah, karakter Andi tampak menggigil luar biasa (bisa dilihat dari gerakan badannya yang lebih dari sekadar kedinginan). Keberadaan Bejo di situ membuat temperatur film menjadi turun dari sebelumnya, menjadi lebih dingin dan ‘mematikan.’ Di titik ini, Gareth berhasil mengecoh penonton dengan menempatkan adegan pembunuhan dingin ini di awal-awal film, membuat penonton lengah bahwa Bejo lah yang menjadi point of departure (titik awal) bagaimana film ini dijalankan. Tidak hanya itu, jika penonton cukup teliti, beberapa detik sebelum tangan seorang algojo yang memegang pistol diulurkan ke kepala Andi, tampak ada butiran es yang berjatuhan dari mulutnya. Ini jelas menjadi poin penting yang cukup signifikan dalam pengkarakteran tokoh-tokoh di dalam film ini.

Uco ditelpon Bejo: terlihat hembusan uap dari mulut Uco
Uco ditelpon Bejo: terlihat hembusan uap dari mulut Uco

Selanjutnya, temperatur kembali turun di tengah-tengah film, ketika Uco dan Yuda sedang meluangkan waktunya berkaraoke dengan dua gadis bayaran. Tepat selesai berargumen hebat dengan seorang gadis bayaran itu, Uco mendapat telepon dari Bejo–yang tidak ditampilkan di adegannya. Uco pun keluar ruangan karaoke, dan kamera menampilkannya dalam sorotan medium (medium shot) dengan gerakan mendekat (loop in). Jika penonton cukup awas, yang sepertinya tidak (hehe), saat Uco berbicara di telepon, ada uap yang terhembus baik dari mulut maupun hidungnya. Begitu juga dengan mulutnya yang tampak selalu terbuka, menunjukkan ekspresi kedinginan mendadak. Di titik ini, kita juga bisa melihat bahwa yang sebelumnya Uco tampak beringas karena di dalam ruangan itu ‘lebih hangat’, lalu berubah terdiam (tidak terlalu banyak omong) ketika menutup teleponnya, mengindikasikan kengerian yang ia rasakan.

Yang paling membingungkan (atau jadi bahan protes) para penonton paling heboh mungkin adalah adegan Prakoso, yang diperankan oleh Yayan Ruhian, di sebuah diskotek “berisik” yang tiba-tiba berubah senyap dan diserbu orang-orang Bejo yang akhirnya membuatnya mati di tengah-tengah putih dan dinginnya salju. Saya awalnya juga tak berhenti mengernyitkan dahi bahkan ketika kamera menampilkan para penari-penari di situ (hehe). Nah, bisa dibilang ini merupakan puncaknya pelahiran konsep penurunan temperatur yang dipengaruhi karakter Bejo tadi. Kejanggalan ini bermula dari Prakoso yang mengeluarkan kalung foto anaknya dari saku jaketnya. Tiga detik setelah dia menatap kalung itu, pergerakan kamera berubah dari close-up menjadi long-shot, dan seluruh aktivitas diskotek lenyap. Perubahan yang drastis ini, hakikatnya, lebih menunjukkan kondisi psikologis Prakoso yang sudah hampir 15 tahun meninggalkan anak dan istrinya untuk profesi “kotor”nya bersama para mafia liar di Jakarta. Di akhir adegan, Prakoso akhirnya pun mati setelah berjuang habis-habisan melawan para penyerbu bawahan Bejo, yang secara bersamaan menunjukkan “perjuangan” setengah mati Prakoso untuk bercengkerama dengan keluarganya yang akhirnya berujung pada kesia-siaan.

Detik-detik kematian Prakoso dalam salju
Detik-detik kematian Prakoso dalam salju

Adegan berlanjut pada Prakoso yang tampak tertatih-tatih berjalan di gang yang jalannya diselimuti putih salju. Konsep ini juga merupakan bentuk pelahiran Gareth Evans akan darah yang mengalir dari tubuh Prakoso agar terlihat dominan dalam putihnya salju. Di scene-nya, darah segar yang merembes dari kulit Prakoso tampak kehitam-hitaman, dan mengalir dalam “kesucian”, memperlihatkan kontras, hitam dan putih, baik dalam makna literal maupun dalam makna figuratifnya. Evans pun mengindikasikan bahwa setelah sekian lama berkutat dalam dunia yang keji dan kotor (darah), kehidupan dan perjuangan Prakoso sebagai keluarga Bangun (sebagai darah yang berada dalam darah lain) tampak mulus dan kontrastif dalam kesucian kehidupan (salju).

Adegan terakhir dalam film yang menggunakan warna merah-dan-hitam (darah-dan-kekotoran) sebagai warna dominannya yang melibatkan Bejo adalah adegan makan malam. Di aula dansa berbalut karpet merah yang megah itu, Evans menampilkan semua tokoh jahatnya (villain) yang masih hidup dalam satu adegan. Di titik ini, penonton mungkin sudah muak atau tidak tahan dengan adegan penyembelihan manusia yang begitu bengis atau adegan tebas-tebasan botol bir di diskotek, sehingga di adegan terakhir ini tidak sempat fokus bahwa ada poin penting yang sempat terjadi dalam kehadiran Bejo. Evans dengan cerdasnya membuat karakter Bejo secara tak sengaja memperlihatkan tato yang menjadi ikon musuh utama keluarga Bangun, dengan membungkuk untuk mengambil tongkatnya. Di scene final ini, warna merah dan gelap yang begitu kentara mencerminkan ada sesuatu buruk yang akan menimpa mereka semua.

Adegan final: Uco membunuh semua villain
Adegan final: Uco membunuh semua villain

Belum selesai, kehadiran karakter Reza yang bengis dan licik, diperankan aktor kawakan Roy Marten, malah membuat temperatur filmnya kembali netral. Ini bisa dilihat dengan tidak ada tanda-tanda baik pada karakter maupun pada circumstance (hal-hal sekeliling) dalam adegan tersebut yang menunjukkan bahwa mereka kedinginan. Jika pada adegan-adegan sebelumnya Andi menggigil luar biasa, Uco menghembuskan uap, lalu Prakoso mati dalam salju, kali ini suhu film menjadi netral. Kira-kira kenapa? Yap! Ada Reza di sana. Karakternya yang sama-sama kejam membuat atmosfer ruangan ballroom itu tampak lebih hangat (atau panas?). Film pun diakhiri dengan Yuda yang mendapati bahwa dia dikhianati oleh semua orang-orang yang dia percaya awalnya, setelah sebelumnya Uco menembak Reza dan Bejo.

Dengan demikian, saya patut mengacungkan dua jempol untuk Gareth Evans yang tak hanya berhasil memikat para penonton pecinta film aksi nasional dan internasional tapi juga yang telah berhasil melahirkan konsep pengkarakteran tokoh-tokoh di dalamnya lewat latar belakang, temperatur, dan sikap tokohnya. Meskipun beberapa teman saya berpendapat bahwa film sekuel ini gak rame, tapi ini tetap menjadi satu dari berbagai film favorit saya sepanjang masa.

Hihihi. Masih penasaran kah? Film ini memang tidak cukup jika ditonton satu kali atau sesekali. Ini interpretasi saya. Atau teman-teman penonton punya interpretasi lain?🙂

***

Himawan Pradipta adalah mahasiswa semester empat Sastra Inggris Universitas Padjadjaran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s