Pertemuan Lembaga Kemahasiswaan FIB dengan Dekanat

27 Februari 2014.

Bismillahirrahmanirrahim…

Siang tadi, sekitar pukul 13.00, teman-teman dari lembaga di FIB berkunjung ke dekanat. Di aula ruang sidang gedung A, sambil menunggu teman-teman yang lain, kami menyiapkan pertanyaan-pertanyaan untuk diajukan ke dekanat. Awalnya, memang, kami kira Dekan FIB, Pak Yuyu, akan turut hadir, tapi ternyata hanya Mas Anto dari P2K2M yang bisa datang. Beliau hadir dengan setelan batik rapi, memasuki ruangan sambil tersenyum akrab. Dengan kacamatanya, beliau tampak lebih berwibawa sembari menawarkan kami boks kue untuk camilan. Setelah semua teman-teman lembaga masuk ke ruangan, Mas Anto pun membuka agendanya.

Beliau membuka agenda dengan menggarisbawahi poin-poin penting yang akan dibicarakan: SOTK (Sistem Organisasi dan Tata Kelola) di FIB, Periodisasi, dan Teknis Ijin (Birokrasi). Kami, meskipun sibuk dengan konsumsi kami masing-masing, tetap fokus mendengarkan penjelasan beliau. Beliau mengawalinya dengan menerangkan bahwa MENPAN (Menteri Pemberdayagunaan Aparatur Negara) mengatur bahwa Pembantu Dekan 3 akan dihapuskan, yang tentunya mengubah struktur dekanat tahun ini. Sebelumnya, PD 1, PD 2, dan PD 3 masih tercantum dalam tataran kepengurusan, tapi tidak tahun ini. PD 3 dilengserkan, dan nama PD 1 dan PD 2 diganti menjadi Wakil Dekan.

Di rektorat sendiri, sementara itu, dalam bidang kemahasiswaan, ada Biro Pembelajaran dan Kemahasiswaan yang membawahi Kepala Bagian Kemahasiswaan, yang keduanya bertanggung jawab kepada rektorat bersama Wakil Rektor 1. Sistem tersebut merupakan aturan yang sudah ditetapkan pemerintah. Lebihnya lagi, pihak rektorat ternyata memiliki sebuah badan, Lembaga Pengembangan Kemahasiswaan dan Hubungan Alumni (LPKA), yang dinilai agak kurang signifikan jika harus berdiri sendiri. Dengan kata lain, LPKA, menurut Mas Anto, “tidak kuat untuk menanggung beban yang berat.” Maka dari itu, dibentuklah P2K2M, Pusat Pengembangan Kegiatan dan Kreativitas Mahasiswa. Ini merupakan sebuah tim yang dibentuk khusus untuk menangani masalah kemahasiswaan.

Lebihnya, Pak Anto berkelakar, “Seharusnya yang jadi kepala P2K2M ini Pak Rasus Budhyono dari Sastra Inggris, tapi beliau mengundurkan diri; walhasil, sayalah yang maju.” Sambil melontarkan candaan, beliau sempat bercerita bahwa beliau agak kaget ketika diminta untuk mengisi kekosongan ini. “Saya kaget,” katanya, “saat akhir bulan Januari 2014, Pak Mumu meminta saya untuk menjabat sebagai kepala P2K2M.” Beliau menggambarkan situasi ini seperti mulung muntah (menerima sesuatu yang sudah tidak enak). Namun demikian, posisi kepala P2K2M ini memang tidak setinggi PD 3; satu dari berbagai kelemahannya adalah bahwa P2K2M tidak boleh “berbicara” mengenai dana, mengingat bagian pendanaan sudah diatur oleh Wadek 2. Justru, tugas utamanya adalah untuk membantu Wadek 1 di bidang kemahasiswaan. Selain itu, ia juga tidak diijinkan untuk memberi tanda tangan/cap seperti halnya PD3–hanya paraf.

Sekarang, kita beralih ke masalah kedua: periodisasi. Sebelum masuk ke topik inti, beliau mengingatkan kami para ketua lembaga bahwa anggaran dana dalam proposal acara harus disatulampirkan dengan lembar pengesahan. Hal ini memang sudah terjadi sekian lama pada proposal-proposal sebelumnya sehingga tradisi pengajuan proposal dengan cara yang keliru sudah terlanjur terpatri dalam benak mahasiswa FIB, yang sebetulnya insignifikan kemajuannya. Beliau juga menambahkan bahwa perihal keuangan tahun ini belum mendapat Surat Keputusan (SK) dari Wadek 2, sehingga sejauh ini kita masih menggunakan SK yang lama sampai (jika ada) SK yang baru dikeluarkan.

Di bawah ini adalah gambaran ideal periodisasi sebuah kepengurusan di universitas.

Gambaran Ideal Periodisasi Kepengurusan

Mengingat adanya gambaran seperti ini, maka FIB pun sedang berupaya mengajukan rancangan proposal induk, yang sudah diterapkan di beberapa fakultas sains di UNPAD, untuk dekanat pada bulan November mendatang. Adapun teknisnya adalah bahwa seluruh himpunan yang ada di FIB mencantumkan seluruh data berupa program kerja dan rancangan dana untuk satu tahun kepengurusan. Mengingat ini masih rancangan, berarti proposal induk tidak bisa diterapkan untuk tahun ini, tapi tahun depan. Lebihnya lagi, seluruh himpunan harus membuat rencana proker beserta anggaran dananya selama setahun ke depan dengan sedetil mungkin. Jika, misalnya, ada satu proker saja yang tidak tercantum, maka dana yang diajukan untuk agenda itu berkemungkinan untuk tidak dicairkan. Jadi, himpunan harus teliti betul.

Diskusi pun berlangsung seru hingga jam menunjukkan pukul 14.30. Padahal, agendanya hanya sampai pukul 14.00–tak apalah. Toh, Mas Anto juga tampak terbuka menyambut pertanyaan-pertanyaan kami. Oke, masih mengenai periodisasi. Penjelasan panjang Mas Anto akhirnya dipatahkan oleh teman-teman dari Sastra Jerman, yang tampaknya masih belum bisa setuju dengan kesepakatan bahwa mereka harus lengser bulan November. “Baiknya itu,” kata Mas Anto, “kalo menurut saya, ya kalian turun bulan November!” Kata-kata ini cukup sering diucapkan Mas Anto mengingat hal tersebut akan berimbas pada pendanaan kemahasiswaan. Tidak lama kemudian, Ketua BEM FIB 2013/2014, kang Akim, mengklarifikasi bahwa untuk lingkup nasional, pendanaan kemahasiswaan itu seharusnya sudah selesai pada setiap akhir Desember.

Forum terbuka itu pun menjadi semakin “panas” seiring dengan pertanyaan Kiki, Wakil Ketua BPM FIB 2013/2014, mengenai buka buku. Ia mengelaborasi bahwa pada dasarnya, ketika sebuah organisasi mulai bekerja pada bulan Desember, ternyata buka bukunya baru bulan Maret–empat bulan setelahnya! Lalu, bagaimana ini? Apakah proker-proker yang sudah dicanangkan antara bulan Januari-Februari menjadi sia-sia? Ternyata tidak juga. Mas Anto langsung memberikan konfirmasi bahwa setiap bulan Januari dan Februari itu penghonoran agak sulit di pemerintah, yang diiringi dengan tawa ketir. Lebihnya lagi, semua dana kemahasiswaan akan dicairkan setiap bulan April. Meskipun memang, pada dua bulan di awal tahun itu semua dana ditalangi oleh uang pribadi, tapi pada akhirnya diganti juga di akhir nanti.

Terakhir, mengenai birokrasi pengajuan proposal. Dekanat baru, tentu sistem baru. Tahun ini, teknis ijin untuk mengajukan proposal agak berbeda dibandingkan tahun-tahun yang sebelumnya. Di bawah ini adalah format tanda tangan untuk proposal kegiatan.

Surat TTD untuk himpunan (2)

 

Format Penulisan Nama & TTD untuk LEMBAGA
Format Penulisan Nama & TTD untuk LEMBAGA

 

Di penghujung agenda, Mas Anto menjelaskan bahwa ternyata yang namanya ketua jurusan, atau sekretaris jurusan, itu tidak ada. Yang ada koordinator jurusan–yang hak dan kewajibannya sama seperti anggota di jurusan. Lebihnya lagi, yang namanya pendamping kemahasiswaan di masing-masing jurusan ternyata tidak dihonori. Mereka baru “dibayar” ketika himpunannya memiliki agenda untuk dijalankan. Dan yang berhak menentukan siapa pendamping kemahasiswaan di jurusan adalah Ketua Jurusan/Program Studi. Selain itu, beliau menerangkan bahwa periodisasi P2K2M itu belum jelas karena tim ini memang dibentuk hanya oleh UNPAD; sementara universitas-universitas lain belum ada tim sejenis P2K2M ini. Adapun tim ini dibentuk untuk meringankan beban rektorat dalam menangani hal-hal terkait kemahasiswaan. Bahkan, di KEMENDIKBUD pun tidak ada aturan mengenai P2K2M. “Jadi, saya,” simpul Mas Anto, “bisa saja berhenti di tengah-tengah kepengurusan.” Doktor di Ilmu Sejarah UNPAD ini juga menambahkan bahwa jarang sekali ada oknum yang mau jadi kepala kemahasiswaan–mengingat tanggung jawabnya yang begitu berat.

Sebetulnya, ada satu topik lagi–di luar agenda forum bersama dekanat ini–yang saya ingin sampaikan ke teman-teman, yaitu mengenai sistem penilaian yang baru. Jadi, belakangan ini tersiar kabar bahwa sebetulnya bukan kurikulum kita yang berubah, melainkan sistem penilaian yang dielaborasi dengan tabel konversi yang sudah saya unggah di laman Facebook “Himawan Pradipta” dan Twitter @bpm_fib beberapa hari yang lalu. Akhirnya, melihat banyak kicauan dari teman-teman mahasiswa, saya pun langsung menemui Pak Mumu, Wakil Dekan 1. Beliau pun menegaskan bahwa sistem penilaian yang seperti ini justru “lebih menguntungkan” dan “lebih menggambarkan realitas yang objektif.” Keberadaan tabel konversi tersebut, katanya, malahan memperkuat keterujian sebuah nilai yang diraih seorang mahasiswa. Atau, dalam kata lain, mengeksplisitkan nilai murninya. “Jadi misalnya,” lanjutnya, “kalo ada orang nanya sama kamu, ‘nilai matkul (misalnya) Reading kamu apa?’ terus kamu jawab ‘A’, pasti orang itu gak akan berasumsi lebih jauh. Yang jelas, mereka tau bahwa kamu lulus mata kuliah itu.” Maka dari itu, tabel itu setidaknya memperlihatkan keakuratan yang kita, atau banyak orang, sembunyikan, dengan mengetahui nilai yang sebenarnya.

Pak Mumu menambahkan bahwa sistem penilaian ini sudah diterapkan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis juga di beberapa fakultas di Jatinangor. Merangkak ke tingkat universitas lain, seperti Universitas Gadjah Mada, yang juga sudah menerapkan sistem ini, UNPAD justru dinilai “agak terlambat.” Beliau juga menerangkan bahwa sistem penilaian ini membuat para teknisi pengajar “berkecenderungan untuk memberikan nilai yang lebih besar.” Saya pun menjelaskan bahwa sebelumnya ada seorang dosen di Sastra Inggris yang mengatakan bahwa asal mula dibuatnya sistem penilaian ini adalah karena adanya teguran dari rektorat terhadap mahasiswa pascasarjana di FIB yang kebanyakan nilai tesisnya A atau berangka mutu 4. Lalu akhirnya dibantah oleh Pak Mumu bahwa sebetulnya “nilai akhir yang diraih oleh mahasiswa pasca itu tidak semata-mata dilihat dari nilai tesisnya, tapi juga dari kecepatan menyelesaikan masa studi dan jurnal internasional yang mereka buat.” Hal ini berkesimpulan bahwa sistem penilaian ini, mungkin, akan diterapkan pada seluruh angkatan di UNPAD (tidak hanya 2013). Meskipun demikian, rektorat belum memberikan konfirmasi atau mensosialisasikan ini kepada para mahasiswa.

“Selama rektorat belum menyosialisasikan masalah ini, kalian masih aman.” Atau justru tidak aman?

Kita tunggu saja keputusannya.

Salam,
HIMAWAN PRADIPTA.
Ketua BPM FIB 2013/2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s