Sahabat Itu Kusebut Ujian (SNMPTN)

“Kalau kita menganggap bahwa ujian adalah momok, bahkan musuh, maka ujian itu juga akan memusuhi kita. Bersahabatlah dengannya.”

Bismillahirrahmanirrahim…

Image

Sore ini, tiba-tiba saya kepincut untuk buat tulisan tentang SNMPTN dan tetek-bengeknya. Belakangan, banyak berita dan rumor yang bilang bahwa tes-tes ujian tertulis/tulis/undangan untuk masuk universitas akan semakin ketat tahun ini. Berbagai pihak pun dilibatkan, dari guru-guru, hingga aparat negara. Di Twitter, berita ini heboh. Sebuah akun twitter yang khusus membahas mengenai ini di universitas saya pun ketularan euforia-nya, sampe-sampe semua mahasiswa, bahkan yang udah angkatan tua, ikutan nimbrung mengenai ini. Tapi, saya insya Allah gak akan ngasih tips untuk teman-teman yang lagi deg-degan ikutan tes. Saya mau berbagi sedikit gapapa ya sebelumnya? Hehe.

Ada beberapa hal yang teman-teman harus perhatikan.

1. Anggap tes itu teman dekatmu. Banyak siswa kelas 12 yang selalu menganggap bahwa SNMPTN atau tes lain adalah sebuah momok. Mereka menganggap bahwa tes ini adalah kakaknya Ujian Nasional (UN), yang akan menghantui dan membuat mereka ngeri setiap kali mendengar atau menyebut namanya. Justru, pemikiran seperti itulah yang keliru. Yang harus teman-teman ingat adalah ujian itu BUKAN sekali seumur hidup, melainkan berkelanjutan sifatnya. Di titik ini, kalian akan merasakan apa yang namanya “deraan.” Entah itu tekanan dari lingkungan, orang tua, atau justru diri sendiri. Begini, anggap saja ada beribu (atau tak terhingga) ujian yang akan menimpa kalian selama kalian hidup. Kasusnya, guru-guru di SMA kalian menamai ujian itu adalah “SNMPTN” atau “Ujian Nasional”, yang padahal pada dasarnya hanya “ujian” saja. Di sini, kalian bebas menamai apa ujian yang akan menimpa kalian, tanpa harus memikirkan hal-hal yang buruk tentang itu. Namun, banyak dari kita–termasuk saya–yang kadang salah memandang masalah ini.

Jangan khawatir. Lagian, Allah/Tuhan juga sudah membuat resolusi untuk masalah kita yang satu ini. Di dalam Al-Qur’an, surat Al-Insyirah, yang artinya berlapang dada (Tuh! Artinya aja udah bikin lega. Hehe), Allah menjelaskan bahwa “sesudah kesulitan pasti ada kemudahan.” Yang harusnya membuat kita menjadi pribadi yang harus terus optimis. Maka, buat temen-temen yang belum optimis, hayoo segera ubah pandangannya mengenai “ujian” itu sendiri. Jangan anggap dia momok apalagi musuh, pasti dia juga akan memusuhimu.

2. Siapkan segala sesuatunya dengan matang. Menganggap ujian itu sebagai teman, itu langkah awal yang signifikan. Kalian sudah berhasil mencapai 65% dari target final. Tapi, hanya karena udah menganggap itu sebagai teman, bukan berarti kalian bisa santai. Tentu, ada beberapa hal yang harus kalian siapkan. Contohnya, materinya. MIsalkan kalian dari jurusan IPA, otomatis yang kalian persiapkan juga yang berhubungan dengan itu. Sama seperti jurusan IPS atau Bahasa. Di SNMPTN nanti, sepengetahuan saya, akan ada dua jenis tes: tes dasar dan tes khusus. Tes dasar itu Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia. Sementara, tes khusus itu tes sesuai jurusan yang kalian ambil. Kalo IPA, yang diujikan ya Fisika, Kimia, Matematika IPA, dan Biologi. Entah kalau bahasa. Saya belum mencari tahu lebih banyak mengenai jurusan itu.

Sementara yang dari SMK atau Madrasah Aliyah, kalian harus mempersiapkan juga materi intinya. Dan kalian tentu harus bekerja ekstra dibandingkan teman-teman SMA, mengingat kalian tidak mendapatkan materi dasar saat di sekolah. Tapi tenang, hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa teman-teman SMA yang berpeluang lebih besar untuk lolos, tidak juga. Kalian juga, asal memiliki kemauan tinggi, pasti bisa, bahkan lebih unggul, dibandingkan yang lain.

3. Berdoalah. Ceritanya, teman-teman sudah berhasil mempersiapkan segala sesuatunya untuk ujian nanti. Dari pensil 2B-nya, jam tangannya, bahkan sampe kemeja atau jeans-nya. Sekarang, waktunya kalian “kembali” ke sang pemilik ujian itu. Di sinilah tempat kalian meresapi makna ujian yang sesungguhnya dari Sang Pemilik Ujian, yaitu Allah/Tuhan. Terlepas dari hasilnya, apakah kalian lulus atau tidak, itu urusan belakangan. Di tahap inilah kalian menyerahkan segala sesuatu yang sudah dipersiapkan dan memasrahkan hasilnya ke depan. Ini penting karena jika kalian tidak melewati tahap ini, bisa jadi pas ujian, hatinya akan gelisah gak keruan.

Juga, tidak kalah penting, ketika hendak berangkat ke lokasi ujian, usahakan minta doa restu pada orangtua bahwa kalian akan menghadapi ujian. Pasti teman-teman sering dengar kan pepatah yang bilang bahwa, “Restu Tuhan adalah restu orangtua.” Maka, jangan remehkan sekadar salaman di punggung tangan ibu/ayah kalian, atau kecupan “selamat berhasil” dari mereka.

4. Tidak ada yang namanya salah jurusan! Tuh, pake tanda seru. Waktu saya lulus SNMPTN dan berhasil masuk universitas impian saya waktu itu, UNPAD, saya gak habis pikir dengan beberapa teman saya. Ketika saya lagi bersyukur-bersyukurnya dan lagi semangat-semangatnya kuliah, tapi yang saya lihat justru pesimisme di mana-mana. Banyak dari teman saya di jurusan Sastra Inggris yang agak mengeluh terhadap mata kuliah waktu itu. Yang tidak sesuai harapan merekalah, bukan hasrat merekalah, dan banyak lainnya. Mereka menganggap bahwa mereka salah masuk jurusan.

Oops! Sebelum ngawang-ngawang terlalu jauh, stop! Segera ubah cara pandang seperti itu! Kalo teman-teman sudah mau untuk melakukan 3 hal sebelumnya, pasti gak akan ada lagi lontaran bahwa “Saya salah jurusan.” Kalian sudah mempersiapkan segalanya, mengorbankan segalanya, bahkan rela gak keluar rumah atau gak pergi hang out sama teman-teman kalian cuma karena kalian ingin denger kalimat “Selamat, Nak! Mimpimu terkabul!” dari orangtua, maka kalian pasti akan sudah pasrah atas apa yang Allah/Tuhan datangkan. Jika memang kalian tidak diterima di jurusan yang kalian inginkan, itu berarti Allah sudah MERENCANAKAN segala sesuatunya untuk kita ke depan. Dan itu pasti rencana terbaik untuk kita🙂

Misalnya, kalian memilih jurusan Teknik sebagai prioritas utama dan menempatkan Sastra Inggris di pilihan kedua, lalu saat hasilnya keluar, kalian diterima di Sastra Inggris. Itulah jalan hidup yang kalian telah pilih! Hindari mengeluh yang tidak-tidak. Itu hanya akan memperkeruh suasana hati. Banyak kejadian seperti ini, dan akhirnya mereka justru jadi orang yang hilang arah. Semacam tidak punya tujuan pasti. Semua itu ada di tangan teman-teman. Kalian semualah penentu mau dibawa ke mana diri kalian. Tanpa jiwa yang kuat dan mampu melepaskan apa yang sudah kita rencanakan, kita akan jadi pribadi yang jauh, jauh lebih bijak ke depannya. Silakan teman-teman bangun jiwa itu! Bahwa apapun yang terjadi dalam hidup ini pasti sudah ditakdirkan oleh-Nya.

Sekian. Tetap semangat. Jaga optimismenya. Allah Maha Melihat usaha-usaha kalian, sekecil apapun itu.🙂

Ngomong-ngomong, tadi di awal saya janji mau berbagi sedikit mengenai pengalaman saya ya waktu SNMPTN? Hehe. Silakan dicek di sini :)

 

Salam,

Himawan Pradipta.

One thought on “Sahabat Itu Kusebut Ujian (SNMPTN)

  1. Yups !! Terima kasih bgt
    kak,tulisannya membuat saya
    bersemangat untuk masuk
    SasIng UNPAD 2014. semoga
    saya bisa diterima SNMPTN
    2014 “Aku Anak Unpad
    selanjutnya” see you next
    time🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s