Hari Syahman: Seberkas Cahaya yang Terkulum

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

– Q.S. Al-Mulk (67) ayat 2.

Malam itu, kami masih asyik membicarakan mengenai mekanisme perekrutan terbuka (OPREK) untuk Sekretaris Jenderal di Sekre Bersama FIB UNPAD beberapa hari yang lalu. Di ruangan itu, hanya ada beberapa orang, dan kami baru saja mengadakan Sidang Awal Tahun Lanjutan bersama beberapa teman dari BEM dan BPM FIB. Selepas maghrib, sidang selesai, tapi BPM memutuskan untuk tetap di tempat karena masih ada beberapa agenda yang harus dibahas. Semuanya terlonjak kaget ketika tahu bahwa ternyata mereka belum boleh pulang selepas sidang,

tapi tidak di matanya.

Mata Hari Syahman tampak lega, meskipun lesu, mendengar bahwa BPM akan mengadakan rapat pertama. Meskipun kecil-kecilan dan informal.

Ia tetap tersenyum di antara cemberut-cemberut yang tertangkap oleh mata saya. Saya tahu betapa dia sangat termotivasi untuk berada dalam organisasi ini. Betapa ia begitu bersemangat, sebagai mahasiswa baru (maba), untuk mencoba organisasi ini dan itu, untuk mencari tahu kira-kira gairahnya ada di mana.

Saya dengar, Hari sudah menjadi kuncen (baca: penghuni) kampus, padahal ia masih maba. Beberapa hari sebelum sidang, ia terlibat dalam sebuah acara di himpunannya, HIMASA (Himpunan Mahasiswa Sastra Arab) yang mengharuskannya menginap di kampus karena terkendala kondisi pada waktu itu. Ia sungguh bersemangat. Seakan tak ada rasa lesu yang terpancar dari wajahnya, yang membuat saya juga semangat melihatnya. Dari situ, saya belajar istiqomah untuk menjaga citra saya dalam kondisi apapun, seburuk atau sebaik apapun itu.

Beberapa hari kemudian, saya dan Hari shalat Jum’at bersama di masjid Fakultas Ilmu Keperawatan. Saya menggunakan kemeja rapi dengan setelan yang pas untuk sholat, sementara Hari menggunakan kaus lengan panjang, jeans belel, sendal sederhana, serta tali (atau kalung?) yang ia lingkarkan di lehernya, membuatnya tampak kucel dan kusut. Belum lagi ditambah rambutnya yang obrak-abrik. Hehe. Jadi sedih mengingatnya. Namun begitu, kami pun shalat dengan nyaman dan tenang.

Tidak lama, shalat pun selesai. Beberapa orang meninggalkan masjid, terburu-buru karena harus mengejar kuliah atau dosen pembimbing, atau urusan yang lain. Begitu pula Hari. Ia pergi beberapa menit setelah semua orang beranjak keluar, meninggalkan saya dan beberapa orang di dalam masjid. Memang sudah menjadi kebiasaan saya kalau habis shalat tidak bisa langsung melengos. Harus duduk dulu. Dzikir dulu. Mengumandangkan lafadz-lafadz tertentu dulu. Lalu doa. Doanya pun kadang agak panjang dan “kemana-mana.” Saya tidak melihat ke luar jendela. Saya tidak memperhatikan Hari ketika saya sedang dzikir. Pokoknya, saya hanya fokus pada bacaan saya. Yang saya pikir, ah paling Hari sudah duluan.

Begitu selesai (yang memakan waktu sekitar 15 menit) dan menelungkupkan kedua tangan setelah berdoa, saya melihat keluar dan ternyata masih ada Hari menunggu! Merasa tidak enak, saya langsung menghampiri dan meminta maaf karena sudah membuat menunggu. Ia dengan santainya, seperti biasa, tersenyum sayu.

Tiga-empat-lima hari kemudian kami tidak bertemu satu sama lain.

Ada jeda yang diisi dengan minggu tenang dan minggu kuliah untuk kisi-kisi UAS. Waktu berjalan lambat dan seolah-olah menggerayangi seluruh elemen di tubuh bahwa UAS akan segera tiba. Seminggu akhirnya berlalu.

Semuanya tiba-tiba berjalan cepat ketika sebuah kabar yang mengharukan datang dari sebuah panggilan dari seorang teman dari BPM, teh Wulan. Beliau mengatakan bahwa seorang mahasiswa dari UNPAD, jurusan Sastra Arab, hilang di pantai Garut. Ada jeda yang cukup lama setelah saya mengucap lafadz istirja’, lalu teh Wulan mengatakan bahwa orang yang hilang itu adalah Hari Syahman. Beberapa saat setelah panggilan itu berhenti, panggilan lain berdatangan ke handphone saya. Semuanya mengabarkan hal yang sama. Hari hilang. Hari hilang. Dan Hari Hilang.

Setelah itu banyak postingan-postingan di media sosial yang menceritakan kronologis kehilangan Hari, dari berangkat hingga insidennya terjadi. Banyak juga yang mengatakan bahwa ada kasus kehilangan lain di pantai yang sama dan waktu yang sama, namun di titik yang berbeda. Wah! Pokoknya banyak hal-hal yang tak mengenakkan di telinga pada saat itu.

Beberapa rekan dari Blue Hikers, BEM, BPM GAMA FIB UNPAD, dan tim SAR serta teman-teman PALAWA UNPAD turun ke lokasi untuk membantu pencarian Hari. Lima hari berselang, tim pencari belum berhasil menemukan lokasi Hari berada. Semua orang kalut. Baik yang di Garut maupun di Jatinangor. Fakultas Ilmu Budaya gempar akibat insiden ini. Peristiwa kehilangan ini.

Hingga detik ini, Hari masih belum ditemukan. Namun, kami yakin Allah Maha Mendengar. Cahaya-cahaya tiris dari hati kami pasti mampu membukakan jalan agar Allah memberikan yang terbaik bagi kita, Hari, serta keluarganya. Harapan-harapan itu pasti ada. Namun, di sini saya perlu meluruskan, kawan.

Peristiwa apapun yang terjadi di dunia ini TIDAK ADA yang salah. Allah dengan sedemikian akuratnya mampu mengatur kejadian demi kejadian, dan detik demi detiknya. Kehilangan Hari bukanlah sebuah bencana, tapi justru peringatan. Bahwa kita semua akan kembali kepadanya. Tidak ada pengecualian. Semuanya akan “meninggalkan” tanah yang Allah datangkan, yang kita sebut Bumi. Masalahnya, bagaimana masing-masing manusia meninggalkan buminya, itu pasti berbeda-beda.

Dalam kasus ini, Hari, yang hingga sekarang belum jelas keberadaannya, masih di”sembunyikan” oleh sebuah laut. Laut yang hanya setitik embun dalam rengkuh galaksi dan nebula yang Allah ciptakan. Apalagi kita, manusia. Seatom debu pun mungkin tak mampu mewakili keberadaan kita. Kita semua akan kembali, Kawan. Percayalah itu.

Mari, sekali lagi. Kita minta kepada Allah yang terbaik untuk sahabat, saudara, teman, dan anggota keluarga kita, Hari Syahman. Mari berharap agar Hari bisa berkumpul bersama kita di sini. Di FIB, di UNPAD, di Jatinangor, atau (singkatnya) di Bumi ini. Agar kita bisa saling mengingatkan. Saling mengisi kekosongan satu sama lain dan saling memaafkan. Berkata bahwa kehilangan Hari adalah sebuah kesalahan adalah kesalahan. Justru meminta yang terbaik pada Allah agar kesalahan itu bukan menjadi kesalahan, itu yang harus kita lakukan.

Kepadamu, Hari Syahman.
Seseorang yang mampu mencercahkan seberkas cahaya dari kulum bibirmu yang tersenyum.

Image

Salam,

Himawan Pradipta.
Mewakili BPM GAMA FIB UNPAD Periode 2013/2014.

One thought on “Hari Syahman: Seberkas Cahaya yang Terkulum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s