Aku dan Hujan

Ah, Jatinangor kembali ke musim hujannya. Aku selalu merindukan ini. Pertama kali hadir ke Jatinangor, “Si kota mimpi” aku menyebutnya, aku langsung merasakan desiran angin sejuk yang menerpa rambut dan melegakan hati. Ah, sungguh. Ini adalah momen yang kutunggu-tunggu.

Hujan itu, asal kalian tau, indah saja. Cukup sudah. Satu siang, selama hampir dari 15 jam berada di bawah sinar matahari yang menyengat. Dengan tajamnya, mata matahari terus memicing, menebar seluruh kasihnya ke penjuru bumi, tanpa ada yang protes, tanpa ada yang marah. Semuanya menerima. Baru sekitar pukul 3 atau 4 atau 5 sore, air-air itu berdatangan. Tetes-tetes air yang mendera seluruh permukaan jagad, tampak memesona dengan caranya sendiri. Suara “aaaah” lega keluar dari mulutku, tapi yang kudengar justru keluhan dan suara-suara mengganggu yang seharusnya tidak pernah diucapkan.

Hujan itu seperti pusaran air. Ia hadir ketika ada sesuatu yang tak beres. Tapi hilang ketika segalanya tenang-tenang saja. Allah, dengan ke-Maha-Baik-annya, mampu mengatur keakuratan itu dengan sebaik-baiknya. Tiada cacat, tiada keliru. Sama halnya ketika kita mencabut sumbatan di kolam renang, maka seketika airnya akan berkumpul di bawah tekanan serap yang kuat, menuju ke tengah-tengah kolam. Air itu akan berpacu antarmassa, melaju siapa yang lebih cepat sampai di tengah-tengah. Tapi ketika sumbatan itu tetap tertanam menutupi lubang pembuangan, semuanya tenang-tenang saja. Tiada yang perlu dikhawatirkan. Tiada yang perlu dipermasalahkan.

Begitu pula yang kurasakan di tempat ini, bumi ini. Siang yang seolah-olah menggerogoti seluruh elemen-elemen dalam tubuhku, tiba-tiba lesap dihapus rimbunnya air hujan saat sore hari. Rasa cemas yang menggantung di udara, menunggu kapan terik ini reda, akhirnya renggut meruap bersama awan-awan yang menari-nari di atas sana. Tenggorokan yang haus dengan membegitunya, tiba-tiba teduh dibasuh semilir udara sejuk dari batas cakrawala. Menuju sore, menuju hujan.

Ketika hujan, pikiranku bisa bebas ke mana-mana. Aku bisa berpikir, berasumsi,membuat opsi, atau bahkan membuat solusi. Dalam hujan, dalam gerai-gerai kegamangan yang semakin kabur oleh banyak pilihan yang tak bisa kuputuskan, semuanya tampak sangat melegakan. Dalam hujan, dengan suara airnya yang menetes mendepak atap rumahku, seolah-olah terdengar seperti orkestra yang mengalun merdu dari dunia kahyangan. Bau hujan, bau tanahnya, petrichor, yang mengoyak ranumnya wangi malam, membuat hujan tampak gagah  mendominasi gelapnya bumi ini. Tapi dalam hujan, aku justru tak ingin berpikir apa-apa. Terkadang, aku hanya membuat diriku menyimak suara-suara hujan.

Tiba-tiba semuanya menjadi romantis.

Lampu-lampu kamarku tampak seperti pijar yang menghangatkan kedua telapak tanganku, nyamuk-nyamuk yang berterbangan terlihat seperti beribu kupu-kupu yang bangga akan bunyi kepakan sayapnya sendiri, kaca jendela yang sedang kupandang lamat-lamat seolah tampak seperti ambang pintu yang agak doyong. Hujan ini merefleksikanku.

Hujan itu proses kembali. Dari air, naik ke langit, lalu melakukan perjalanan panjang, hingga akhirnya turun kembali menjadi air. Yang paling sulit dijelaskan adalah prosesnya menjadi uap. Massa air itu meruap naik, membawa perasaan-perasaan yang “hingar bingar”, berkecamuk entah ke mana, menuju ke satu titik di langit lepas. Perasaan-perasaan itu berkumpul, bersama dengan perasaan-perasaan orang lain di muka bumi ini, hingga menebal dan menjadi awan. Angin pun tak sabar untuk menerbangkannya, perasaan-perasaan itu, ke tempat yang jauh dari orang-orang, agar tak ada lagi kegamangan, tak ada lagi ketakjelasan. Agar semuanya pudar.

Kumpulan perasaan itu akhirnya tiba di pucuknya. Matahari mulai tersipu, lelah mendominasi dunia ini, dan hengkang dari ruang lepas atmosfer. Ia lalu mempersilakan awan untuk mengambil alih. Awan pun berpindah posisi dan seketika langit biru lesap dan diganti dengan warna abu, dengan kuas yang baru pula. Seperti Leonardo Da Vinci yang menggoreskan rambut-rambut halus kuasnya ke atas kanvas kasar, yang akhirnya menghasilkan lukisan Monalisa yang tak tertandingi.

Satu tetes hujan. Dua tetes hujan.

Tetes-tetesan itu tiba di atas kepala seorang manusia sambil bertanya, “adakah kau mensyukuri ni’mat-Nya?”

Kita sering menyepelekan hujan. Bahkan sering menghujatnya, atau mencelanya! Hujan si pembatal agenda lah, si pembuat onar lah, si pengacau lah, si pembatal kencan lah. Dan lah-lah yang lainnya. Padahal proses hujan itu, jika ingin diresapi, mengandung esensi kehidupan yang amat dalam. Dalam waktu 15 jam dalam sehari, sang hujan harus menunggu sang matahari mundur dari singgasananya; kita belajar SABAR. Dalam waktu hanya kurang dari 1 jam, air sungai sudah harus tiba di muara sungai untuk kemudian dipanaskan menjadi uap; kita belajar TEGUH. Dalam waktu kurang dari 3 jam, sebagian besar volume dari air sungai tersebut sudah naik ke atas menjadi uap; kita belajar RENDAH HATI. Dalam waktu kurun waktu 4 jam, awan itu bergerak menuju satu titik agar menjadi berat; kita belajar KETEKUNAN.

Dalam waktu 2 detik, awan itu meneteskan tiga bulir air hujan ke atas kepala kita; kita belajar BERSYUKUR.

Rain in Paris
Rain in Paris

Hujan, tetaplah turun. Tetaplah di sini.

 

Salam,

Himawan Pradipta.

One thought on “Aku dan Hujan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s