Bedah Film ‘Penghulu’

“Apakah kalian muslim? Jika ya, maka jadilah pribadi unggul, pemenang, dan kreatif. Hindari malas dan menunggu.” – Iqbal El-Fajri

Selasa sore, 4 Juni 2013, selasar Al-Mushlih Center DKM FIB UNPAD sudah terlihat penuh. Ba’da ashar, para pengurus internal DKM sudah tampak mengerubungi selasar mengingat acara “Bedah Film ‘Penghulu'” akan segera dimulai. Bersama pemateri, yang sekaligus ketua Salman Film, kang Iqbal El-Fajri, yang telah duduk menunggu, langit mulai berubah menggelap, tapi perlahan seolah-olah ada tempias cahaya yang menerangi cakrawala langit Padjadjaran di atas kami. Kajian yang digelar oleh kawan-kawan dari Departemen Bimbingan Bakat Mahasiswa (BBM) DKM FIB ini berlangsung selama hampir 2 jam. Meskipun pesertanya tidak terlalu banyak, tetapi kajian bisa tetap berjalan dengan lancar.
Film Penghulu
Penghulu adalah sebuah film pendek karya teman-teman dari Salman Film yang sedang menggandrungi dunia media digital/film. Ceritanya berkisah tentang sepasang kekasih muda beretnis Sunda, Saepuloh dan Mirna, yang hendak menikah. Mereka sebelumnya harus membuat buku nikah yang dikisahkan memiliki seluk-beluk yang “UUD” (ujung-ujungnya duit) yang cukup menggelitik dan bersinggungan dengan kisah kehidupan sehari-hari. Dalam satu adegan, di depan sebuah kantor perkawinan, mereka beradu mulut mengenai uang bayaran buku nikah yang harganya melambung. Mereka menganggap harga buku tersebut hanya berkisar Rp 35.000, tetapi si penghulu justru menuntut harga (sangat) lebih: Rp 700.000. Dua puluh kali lipatnya! Jelas, Saepuloh keberatan dan akhirnya mereka memutuskan untuk membatalkan rencananya membuat buku nikah.

Saepuloh dan Mirna

Belum selesai, Mirna yang masih terlonjak pun merengek. Ia bingung mengapa Saepuloh tidak langsung saja memberikan uang kepada si penghulu. Saking kesalnya, ia bahkan sempat melontar, “kalo gak punya uang, gak usah nikahi aku!” kepada si calon suami. Setelah perdebatan singkat, akhirnya, film berdurasi 13 menit ini, ditutup dengan foto-foto slideshow si kedua pasangan dalam keadaan tengah menikah, yang artinya, Saepuloh telah membayar Rp 700.000 untuk dua buah buku nikah.

Cerita ini menjadi menarik karena terdapat penyimpangan atau rasionalisasi yang kebanyakan masyarakat jaman sekarang, khususnya pasangan muda yang hendak menikah, yang masih menelan mentah-mentah persepsi salah yang cenderung dibenarkan. Tanpa buku nikah, gak akan bisa nikah. Kekeliruan cara pandang Mirna tentang sebuah status pernikahan dalam film ini, menurut saya, merupakan hal yang cukup impresif karena bersenggolan dengan cerita sehari-hari pada umumnya.

Macam-macam Film
Setelah Penghulu diputar, kami para peserta diberikan beberapa slide mengenai definisi film pendek, film indie, film panjang, film mainstream, dan film islam. Sementara film pendek (hampir sama dengan film Indie) adalah film yang (1) durasinya tidak lebih dari 30 menit (atau versi internasionalnya tidak lebih dari 60 menit); (2) beralur kondisi kehidupan masyarakat sehari-hari; dan (3) ber-budget rendah, film panjang justru memiliki durasi lebih dari 60 menit, memiliki jalan cerita yang dibuat sesuai dengan kebutuhan pasar, dan ber-budget tinggi. Film mainstream bisa disebut juga film bioskop. Sementara itu, film islam merupakan film yang menceritakan kondisi islam yang berfokus pada individu (fokal) atau umat secara keseluruhan yang mengandung nilai-nilai agama.

Kang Iqbal menambahkan bahwa sebuah film, apapun jenisnya, bisa menjadi atraktif karena cerita yang ditawarkan menyuguhkan kondisi kehidupan manusia atau kemanusia-manusiaan. Misal, mengapa orang-orang pada saat ini cenderung lebih memilih film vampir, animasi, robot, kartun, dan sebagainya? Ia menjelaskan semua itu bisa menjadi menarik karena ada unsur-unsur kemanusiaan dalam film tersebut, seperti film Transformer, Twilight, Finding Nemo, dan Shaun the Sheep–yang sekarang banyak digandrungi anak-anak. Tentu akan sangat sulit bagi kita untuk menyukai sebuah film robot yang tak mampu bicara pada manusia, terbang, bertarung, dan menangis. Unsur kemanusiaan, pada akhirnya, mengundang ketertarikan dalam diri kita untuk terus mengikutinya.

Pesona Tjut Njak Dien
Di tengah-tengah acara, saat langit mulai meredup dan mendung lekas menyapa, kang Iqbal menarasikan sebuah film islam mengenai tokoh dari Aceh, Cut Nyak Dien, dengan begitu menggetarkannya. Ia mengatakan bahwa film Tjut Njak Dien adalah film Indonesia terbaik yang pernah ia tonton. Karakter Dien yang diperankan oleh Christine Hakim betul-betul hidup. Konon, aktris kawakan Indonesia itu rela membiarkan kulitnya terkelupas dan wajahnya memar berdarah hanya untuk sebuah adegan perang di hutan di Aceh. Christine, tambahnya, mengatakan bahwa ia bermain film ini tidak lain dan tidak bukan adalah karena Dien adalah seorang figur Islam yang patut dijadikan teladan bagi seluruh wanita di Indonesia. Tangguh, tegar, dan loyal. Serentak, seolah-olah dengan ceritanya, kami dibius oleh kata-katanya yang deskriptif tentang perjuangan yang tiada henti oleh seorang pahlawan Aceh yang masih dikenang sepanjang masa.

Tak terasa, jarum jam dinding terus berceloteh, waktu sudah menunjukkan pukul 17.30. Lapas singgasana senja. Maghrib pun hendak tiba. Masih ada beberapa menit untuk mengakhiri acara ini. Terakhir, Kang Iqbal mengguncang selasar AMC sore itu dengan kata-kata motivatifnya. Ia menceritakan bahwa meskipun keadaan kehidupan Rasulullah pada masanya begitu berliku-liku dan penuh tantangan, namun Beliau tetap tidak mau hengkang. Beliau tetap berpegang teguh pada keyakinannya dan menomorsatukan ikhtiar berjuang, berdakwah untuk melewati terpal dan duri-duri tajam yang ia sedang hadapi. Beliau pun, dengan demikian, menganalogikan semangat dakwah Rasulullah pada masanya dengan keadaan remaja Indonesia pada saat ini. Ia menambahkan bahwa seorang muslim adalah seorang yang tangguh dan yang semangatnya tak pernah padam. Seorang muslim adalah seseorang yang mencontohkan yang terbaik dan tidak memiliki perasaan kesal, iri, jengkel, buruk sangka di dalam hatinya ketika ada apapun yang menimpanya.

Kami para peserta pun tersentak, mendengar deburan optimisme dalam suaranya yang mulai ditelan terawang cahaya langit emas yang perlahan mulai tenggelam.

Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s