HMUN 2014, I Am Here!

Alhamdulillah. Hari Selasa lalu, 2 Juni 2013, Allah menjawab satu mimpi besarku untuk bertolak ke luar negeri: Amerika! Ya, saya sedang mengikuti program Harvard Model United Nations (HMUN), program tahunan yang memfasilitasi para delegasi dari masing-masing universitas negeri di belahan dunia untuk menghadiri simulasi sidang Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) di Boston, Massachusetts, Amerika. Di sana, kami nanti akan membahas berbagai problematika yang sedang terjadi di dunia dan bagaimana resolusinya. Saya, bersama lima teman-teman lainnya dari gelombang pertama, berhasil lolos dalam dua tahap seleksi yang begitu ketat. Dua tahap seleksi yang menguras tenaga, otak, dan kefasihan dalam berdiploma. Satu lagi syarat yang memang dibutuhkan untuk mengikuti program ini adalah para calon delegasi wajib berbahasa Inggris. Inilah yang, menurut saya, membuat program ini menjadi program yang menawarkan kesempatan yang sangat jarang.

Di postingan kali ini, saya  mau coba share apa aja sih yang udah saya alami selama dua tahap seleksi yang menegangkan, sekaligus sangat menginspirasi ini.

 

The Threshold to MUN
Semua ini berawal dari saran seorang kerabat di kelas saya, Fauzia, yang nawarin untuk ikutan program ini. Awalnya, saya agak gak yakin sama sarannya, karena ngeliat para delegasi tahun lalu yang fotoya berupa spanduk dipajang mentereng di Gerbang Lama UNPAD bulan Februari 2013 lalu, itu udah bikin saya minder. He he. Tapi, gimanapun harus tetep optimis. Akhirnya, saya coba-coba cek website HMUN for UNPAD danmemang ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi: harus membuat sebuah surat motivasi, esai singkat mengenai topik yang diberikan (waktu itu topiknya Perang Konflik di Suriah), dan sebuah Curriculum Vitae. Saya makin gak bisa mikir pas tau kalo ternyata deadline pengumpulan semua surat itu jatuh pada 22 Mei 2013, yang artinya 5 HARI LAGI!

Tanpa basi-basi, saya langsung buka Ms. Word dan browsing gimana caranya buat surat motivasi yang bener. Walhasil, setelah melakukan research kesana-kemari tentang topik yang akan saya bahas di esai nanti, saya pun berhasil mengumpulkan semua surat itu tepat waktu. Perasaan lega dan gembira bercampur jadi satu, karena harus ngerasain cari referensi kemana-mana dalam tempo singkat, buat struktur esai yang padan, dan harus revisi ulang agar jadi esai yang utuh. Saya bersyukur karena seenggaknya udah bener-bener bisa buat surat dan tulisan untuk sebuah program yang diakui.

Keesokan harinya, saya dapet e-mail dari Faculty Advisor-nya untuk hadir menjalani tahap pertama seleksi. Akhirnya, saya bertolaklah ke Dipati Ukur pas saat weekend, tugas kuliah menggunung, dan saat cucian lagi banyak-banyaknya. He he he. Dengan bismillah, saya bertolak ke sana jam 8 pagi, karena tau pasti bakal lama banget nunggu bus yang ke sana. Setelah hampir 45 menit menunggu bus jurusan Dipati Ukur-Jatinangor yang masih ngetem, saya kaget pas gak sengaja ketemu seorang teman di Sasing juga, Lukman, yang ternyata juga mau ikut seleksi! Akhirnya, yaudahlah kami sepakat, karena saking lamanya nunggu, untuk naik travel ke sana.

 

The First Stage
Sekitar delapan lingkaran kecil yang terdiri dari 6-10 orang sudah memenuhi Lorong Kerjasama Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNPAD pas saya dan Lukman tiba di Kampus UNPAD Dipati Ukur. Ternyata tinggal kami berdua yang telat! Ck ck. Setelah lapor sama seorang senior yang menggunakan jaket bertuliskan HARVARD kalo kami terlambat dan punya motif macet, saya akhirnya dimasukkan ke salah satu lingkaran kecil itu. Sementara Lukman di lingkaran lain.

Pas duduk, saya langsung disuruh memperkenalkan diri. Dalam bahasa Inggris, saya dituntut untuk menyebutkan latar belakang umum dan informasi lain yang perlu diketahui teman-teman lain di lingkaran itu. Saya inget waktu itu cuma pake kaos item, celana bahan warna item, dan sepatu kulit warna cokelat favorit saya. Simpel bin simpel. Terlepas dari itu, setelah masing-masing kami diberikan kesempatan untuk memberikan pidato singkat mengenai topik Suriah selama lima menit, kami pun berdiskusi dengan satu sama lain membahas tentang resolusinya. Karena saya bukan berasal dari latar belakang politik, saya mau gak mau harus ‘nyemplung’ ke dalam pikiran-pikiran politis orang-orang di sekitar saya ini dengan wajah tak berdosa. Mengingat yang ada di lingkaran itu, yang dari Fakultas Ilmu Budaya cuma saya, 97% sisanya dari FH atau FEB. Plak! Bakal kebanting gak, ya? Pikir saya awalnya. Tapi, lama-kelamaan pikiran itu pun saya buang jauh-jauh pas inget sebuah pepatah yang sangat umum didengar, “Gak ada yang gak mungkin.”

Gak sadar, saya pun tersenyum. Pasrahkan aja.

Setelah diskusi dan deliver speech masing-masing, saya diwawancara secara personal dengan seorang faculty advisor-nya. Saya ditanya mengenai kesibukan–organisasi atau kepanitiaan yang sedang diikuti–dan kira-kira gimana kalo saya diterima, saya bisa nggak ngatur jadwal dan waktunya? Mengingat selama berbulan-bulan ke depan, akan ada pelatihan intensif dan lain-lain, yang tentu akan menguras banyak waktu, uang, dan pikiran. Katanya gitu. Saya pun bilang kalo saya positif insya Allah bisa mengatur semua itu. Dan saya yakin pasti Allah mendengar apa yang saya ucapkan🙂

Keesokan harinya, saya dikabari lewat e-mail bahwa saya lolos tahap pertama. Subhanallah. Saya, pas saat itu, gak terlalu excited karena ini masih tahap pertama. Saya kira bakal ada tahap-tahap selanjutnya yang bakal makan waktu, kayak tahapnya sampe berbelas-belas gitu. Jadi, saya mutusin untuk gak terlalu girang. Hmm. Abis itu, saya langsung tanya Lukman gimana pengumumannya. Ternyata, sayangnya, dia belum lolos. Oya, dan ini juga sebetulnya masih gelombang pertama. Belum nanti yang gelombang kedua. Wah, pikiran-pikiran aneh sering banget deh muncul waktu itu. He he. Tapi, tetep. Pasrah🙂

 

The Second Stage
Gak lama setelah para future delegate diumumkan untuk tahap pertama, dari e-mail udah langsung dikabarin bahwa untuk menuju tahap kedua, kami wajib membuat sebuah Position Paper sesuai dengan negara mana yang kami wakili. Paper ini dibuat untuk membahas topik yang sekarang sedang terjadi, kejadian di masa lalu yang berhubungan dengan efek yang sekarang, sama resolusinya gimana. Kali ini, topik utama yang diberikan adalah Nuclear Safety dan Atomic Radiation Effects. Berat ya. Di e-mail-nya juga, faculty advisor yang baik ini juga turut menyertakan study guide tentang sejarah singkat topik ini, yang juga sangat membantu saya memahami masalahnya lebih baik. Ya, at least, pas presentasi di depan nanti gak terlalu gagap mau ngomong apa. Hee.

Dua, tiga, empat kali saya  baca berulang kali study guide itu, tapi tetep masih belum dapet gagasan utamanya. Saya mewakili negara Italia. Mau gak mau, saya pun harus research topik yang bersangkutan dan hubungannya sama negara itu. Saya bertolak ke perpustakaan, internet, dan buku-buku bacaan untuk caritahu sebanyak-banyaknya tentang kemanan nuklir dan efek radiasi di dunia, dan voila! Jadilah Position Paper saya dalam tenggat waktu empat hari. Awalnya, gak terlalu yakin apakah saya memasukkan pertanyaan-pertanyaan penting yang harus dijawab di paper atau nggak. Saya lebih mentingin koherensi waktu itu. He he. Tapi, tetep optimis deh.

 

Nerve-wracking, Mind-bending Mini-Caucus.
Saya tiba di Dipati Ukur (lagi) hari Sabtu, 1 Juni 2013 (yang juga kebetulan bentrok sama satu acara DKM Al-Mushlih FIB, Bahasa Bicara, di mana kebetulan saya jadi pengiring acaranya) jam 2 siang. Saya disuruh duduk menunggu sama calon delegasi lainnya di pendopo gedung C FEB. Sekitar 15 menit menunggu, nama saya dipanggil. Wawancara pun berlangsung. Saya disodorkan estimasi dana untuk tiket keberangkatan, visa, biaya penginapan hotel, jaket Harvard, dan tur keliling Amerika. Awalnya, saya kaget karena estimasi dana yang diajukan cukup banyak. Dan saya belum konfirmasi ke orang tua. Tapi, setelah negosiasi dan tanya beberapa informasi mengenai dana dan sponsor ke faculty advisor-nya, saya pun agak bisa bernapas lega.

Setelah itu, kami disuruh menunggu di sebuah ruangan besar yang agak remang. Kami akan menjalankan mini-caucus! Mini-caucus ini adalah simulasi sidang PBB benerannya. Ini merupakan hal yang paling berkesan buat saya, tapi juga menegangkan. Setelah menunggu selama 20 menit (sekitar pukul 3 sore) kami pun masuk ke salah satu ruang kuliah di gedung A FEB. Itu merupakan ruangan kuliah terbesar dan terkeren yang pernah saya  masukin! Beneran. Jadi tuh, bentuk ruangannya seukuran kayak ruangan bioskop mini. Kursi-kursinya ditata mencuat ke atas, menghadap ke panggung kecil di depan kelas, dan dibuat satu-satu. Lebih lagi, kursi ini bisa dilipat! Padahal itu terbuat dari kayu. Bener-bener gak ada yang lebih keren deh dari itu.

Setelah semua delegasi duduk, dan para faculty advisor mengikuti duduk di bagian belakang, mini-caucus pun dimulai. Aturan main simulasi sidang ini pun dibacakan, dan keadaan berubah jadi semakin tegang pas tau ternyata kita harus deliver speech selama waktu yang ditentukan oleh Chair (ketua)-nya. Beliau mengurutkan negara-negara mana yang akan dimasukkan ke dalam General Speakers List. List ini dibuat untuk mengetahui urutan delegasi mana yang duluan untuk mengutarakan speech-nya tentang topiknya secara umum. Saya dapet urutan ketiga.

Setelah lima negara dari delegasi menyampaikan speech-nya, harus ada tiga motions (topik) yang diajukan dari masing-masing delegasi. Apa aja. Tapi tetap berkenaan dengan topik nuklirnya. Dan setelah tiga motions ditampung, forum harus memilih motion mana yang akan dibahas. Dan ini yang menarik! Yang membuat ini menarik sekaligus menegangkan adalah bahwa kami harus membuat outline pidato secepat mungkin! Karena kalo pas Chair-nya manggil negara yang kita wakilin tapi kita gak maju, maka ada beberapa poin yang dikurangi. Dan saya gak mau itu terjadi. Ini negangin bangetlah!

Secara bersamaan, selain buat outline, mau gak mau kan saya harus mikirin bahasa dan frasa formal dalam dunia diplomasi, which is extremely challenging. Pada saat yang sama juga, saya harus mikirin grammar dan tenses yang digunakan. Moreover, you stand there, delivering your speech, while teens of eyes staring at you in indescribable ways. Believe me………it was……….as crazy as it is. But it was super fun though🙂

Akhirnya, setelah sekitar 1 jam 30 menit menjalani mini-caucus, kami pun diberikan kesempatan untuk mengutarakan kesan dan perasaan-perasaan yang dialami tadi. It was nerve-wracking and mind-bending. Saya juga bilang bahwa ini bukan kompetisi, bukan mau nunjukkin siapa yang paling hebat atau fasih bahasa Inggrisnya atau paling dalem ilmu politiknya, tapi tentang gimana kita bisa berdiskusi bareng-bareng untuk menyelesaikan sebuah  masalah yang ruang lingkupnya sudah mencakup dunia global. So, no hard feelings, no pent-up feelings, no worries. We’ve all done our best, pals.🙂

 

The Announcement
Perasaan saya, waktu pulang ke Jatinangor, campur aduk. Seneng, optimis, sedih, takut, deg-degan. Tapi semua itu jadi hilang pas lagunya Glenn Fredly yang “Malaikat Juga Tahu” terdengar mengiringi perjalanan pulang. He he. Dan saya pasrahkan aja semua hasilnya, kalo memang diterima berarti itu memang sudah takdirnya, kalo belum diterima, mungkin Allah punya rencana lain yang jauh lebih baik.

***

Saya masih ngablu dan ngawang-ngawang pas ada bunyi sms masuk jam 00.21.

Ada tiga sms. Saya langsung buka dan ada satu sms dari nomor yang gak saya kenal, yang bilang, “Congratulations! You’re selected as one of the delegations of Universitas Padjadjaran for HNMUN 2014!” Subhanallah. Saya gak bisa ngomong apa-apa dan langsung beralih ke dua sms yang lain, karena masih gak percaya. Dari dua orang kerabat, “Wan! Selamat ya lo ke Boston! :)” saya makin gak bisa ngomong apa-apa.

Tanpa terasa, tangan saya tiba-tiba gak bisa gerak dan tubuh saya bergetar hebat. Saya langsung ambil air wudhu dan shalat tahajud. Puji syukur. Puji syukur. Sesembari air mata ini turun. He he. Sungguh Allah Maha Mendengar. Subhanallah. Paginya, saya langsung kabari orang tua dan beberapa relatif.

***

Ya Allah, ridhoi aku untuk berpijak di belahan benua ciptaan-Mu.
Untuk menggali kebesaran-Mu dan menuntut ilmu hingga waktu yang tak menentu.
Permudah aku untuk bisa bertahan hingga Februari 2014.
Aku akan bertemu orang-orang baru, dari belahan dunia baru.
Jika memang ini jalan-Mu, berikan aku yang terbaik dan jadikan aku yang terbaik untuk terus bersandar memahami jalan-Mu.

Ibu dan Bapak. Teman-teman. Kerabat. Sahabat. Orang-orang asing yang sampai sekarang saya belum hafal namanya. Terima kasih banyak.

Boston, I’m coming!
Bismillahirrahmanirrahim.

Salam hangat,

Himawan Pradipta.

4 thoughts on “HMUN 2014, I Am Here!

  1. Selamat! Gue anak FEB jadi minder nih baca postingan lo terus haha. Pada dasarnya, orang yang terbiasa nulis apapun itu pasti speaking skill-nya juga terlatih loh. And it proved😀 Btw sedikit koreksi, ruangan kuliah yg kata lo keren itu yang mirip bioskop itu namanya ruangan B1 (ged B lt.1) jd bukan gedung A hehe. Keep writing bro! #salamsatuunpad

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s