Catatan Untukmu, Mushollaku…

Mushollaku

Keberadaanmu di tengah-tengah masyarakat menjadi makmur, padahal bentukmu mungil dan hanya satu. Kami, pengurusmu, senantiasa memberikanmu yang baik-baik. Hampir setiap hari kau kurawat, kugosok rambutmu dengan gaung suara azan, kudekap telapak kakimu dengan pijak-pijak lembut, kubersihkan hidungmu sampai air di dalamnya habis demi berwudhu, kubekap tangan terbukamu dengan ucapan “assalamu’alaikum”, kusingkirkan debu-debu yang melekat pada hati tetangga-tetanggamu.

Damai saja cukup. Hanya itu yang bisa dirasakan ketika berkarib denganmu.

Hingga akhirnya, mereka pun memutuskan untuk merobohkanmu…

Dan menggantimu dengan yang baru…

Yang baru

Dan berarti kau sebentar lagi akan menjadi yang lama

Rambutmu akan tergerai indah ketikaazan kaugaungkan, atau bahkan rambutmu tergelung sangat tinggi hingga penjaga langit ke lima turut rengkuh mendengarnya. Kau akan berubah dari kucing pemimpi menjadi singa jantan yang bersurai. Pedangmu akan menghiasi singgasanamu. Kau tidak lagi akan kalah besar dibandingkan tetangga-tetanggamu, wahai, Mushollaku…

Aku pasti akan merindukan telapak kakimu. Yang hampir setiap hari, kuciumi, kujelajahi. Sebentar lagi, akan semakin banyak orang-orang yang melakukan itu. Kau akan tumbuh besar, suatu saat nanti. Telapakmu akan dilapisi permadani pulen yang harum baunya. Seperti pandan, seperti angan.

Mushollaku… aku pasti akan merindukan sejuknya air dari buku-buku tanganmu. Yang kau pancarkan setiap panggilan cinta terdengar di seluruh penjuru. Tapi esok, air itu akan berubah menjadi telaga. Yang mendekapku, mendekap kami semua. Esok.

Namun sayang…

Terkadang, aku sedih melihat keadaanmu. Ketika sedang menjalin indahnya ikatan tertinggi di dalam pangkuanmu, konsentrasiku pecah. Karena orang-orang itu tidak bisa menghormatimu dengan adab. Konsentrasiku bahkan sempat buyar ketika mereka mulai tertawa terbahak-bahak di pendopomu, melebih-lebihkan bahan bicara yang seharusnya dijadikan renungan. Aku merangkak, sambil berdoa, “Jadikan aku lebih sering menangis dibandingkan tertawa, Ya Rabb.”

Lalu…

Keberadaanmu dinomorduakan atas segala hal. Ketika suaramu berguruh, sekelumit saja yang mengindahkanmu. Yang lain sibuk mencari kesenangan sementara dan kesesatan abadi. Ketika keningmu mulai mengernyit, hanya sedikit yang meramaikan shaf dan barisan. Padahal yang lain, sedang duduk-duduk membincangkan hal lain di halamanmu. Kau didahului suara perut mereka yang berisik, rasa kantuk yang tak tertandingi, dan hal-hal lain yang tak lebih penting dari mengindahkanmu.

Mushollaku…

Keberadaanmu seperti kutil di atas wajah yang cantik. Jika ditutup bangga, jika dilihat aib. Tidakkah kau rindu akan pasukan-pasukanmu? Yang selalu menyayangimu bahkan ketika tak ada orang lain di sekitarmu?

Sebentar lagi kau runtuh dan berubah menjadi peretas kerinduan teman-temanmu, tidak lagi sekadar pemanis di antara yang lain. Baik-baik, Mushollaku. Semoga kami akan terus menyayangimu.

One thought on “Catatan Untukmu, Mushollaku…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s