Kisah Sebuah Cangkir dan Tutupnya

Lingkaran itu hanya terdiri atas empat hingga enam orang. Sedari tadi aku masih terus duduk di halaman depan musholla ini memperhatikan anak-anak yang masih sibuk merencanakan keberangkatan menonton PERSIB untuk bertanding. Ya, hari ini bertepatan dengan jadwal pertandingan sepak bola antara PERSIB dan aku-lupa-apa,-nama-timnya, dan bertepatan dengan ketidaksengajaanku duduk di teras depan musholla ini. Tapi, aku tidak menyesal berada di sini.

Anak-anak di sana sibuk tertawa dan tampak bahagia. Wajah-wajah mereka sudah dikoyak dengan kata-kata “PERSIB BANDUNG: KAULAH JUARANYA!”, kulitnya dikelupas dengan cat-cat berwarna-warni. Aku tetap duduk dan terhenyak. Suara mereka yang bising menenggelamkan suara orang-orang di dalam musholla ini. Tapi aku terus mencoba fokus, dan mendengarkan apa topik yang sedang dibicarakan sore ini.

Kulihat seorang pemuda masuk dalam lingkaran kecil itu, setelah ia menyapa dan menyalamiku ketika berpapasan di ambang pintu. Sebelum duduk, ia menyalami orang-orang di dalam lingkaran terlebih dahulu.
“Assalamualaikum,” katanya, “apa kabar kalian semua?”
Semua anak-anak di lingkaran itu menjawab, “Alhamdulillah! Luar biasa!” seperti jargon kebanyakan orang-orang dengan baju koko putih, celana menggantung, dan pecinya yang sering berkeliaran di sekitar sini. Aku bergidik. Pemuda yang baru datang itu langsung masuk ke dalam lingkaran.

Ia menceritakan sebuah peristiwa.

Suatu ketika, seorang murid yang nakal dan sulit untuk diajar meminta tolong kepada sang guru. Sang guru, yang sudah bertahun-tahun mengajarnya dengan penuh kesabaran, mau tidak mau pun bersedia menolongnya.
“Apa yang kau hendak minta tolong, muridku?” kata sang guru.
“Bisakah kau tolong tuangkan teh panas itu ke dalam cangkirku?” pinta sang murid.
(Si murid sudah terbiasa meminta gurunya melakukan hal-hal sederhana, mengingat karena kenakalannya dan sifatnya yang tidak mau menurut kepada hampir siapa saja)
“Tentu.” jawab sang guru pelan.
Segera, ia ambil teko besar di dekatnya, ia dekatkan cangkir muridnya itu. Namun, sebelum ia menuangkan, ia tutup cangkir itu dengan penutupnya. Lalu ia tuangkan tehnya sehingga tumpahlah air teh itu kemana-mana.
“Pak guru!” sergah sang murid, “mengapa kau lakukan itu?”
Dengan wajah redam, sang guru menjawab, “Muridku, jika hatimu masih tertutup seperti cangkir itu, maka kau tidak akan pernah bisa mendapatkan cahaya yang orang lain tuangkan.”

***

Sekarang, perubahan-perubahan kecil itu muncul. Selama ini, aku merasa seolah-olah bergelimang dalam kesombongan yang tiada henti-hentinya memenuhi otakku. Hasrat untuk berbuat syaithani selalu hadir di kala aku sudah merasa pintar dan hatiku yang tidak pernah puas. Dari situ, aku sadar bahwa dalam menuntut ilmu, aku harus mengesampingkan bentuk-bentuk kesombongan yang mungkin terjadi. Dalam saling menasihati, aku jadi sadar bahwa pintu hatiku ini sangat memainkan peranan penting. Jika hatiku tertutup dan menganggap remeh nasihat-nasihat orang kepadaku, bagaimana aku bisa menemukan cahaya-Nya?

Mereka bukan siapa-siapa.

Saya lebih tahu dari mereka.

Mereka tidak tahu apa-apa.

Pikiran-pikiran peredup jiwa seperti ini pun harus kuberantas!
Namun, tentu dalam menerima nasihat aku harus memiliki filter yang cukup baik untuk menyaring omongan-omongan mereka. Karena tidak semua nasihat orang itu ada benarnya. Dengan iman dan takwa, insya Allah aku bisa menyaring nasihat-nasihat itu. Ilmu milik Allah. Harus kukembalikan pada-Nya. Karena tanpa kehendak-Nya, aku tak mungkin bisa menguasai ilmu pengetahuan yang sudah sekian lama berada dalam otakku, karena segala aspek ilmu itu merupakan milik-Nya.

Wallahu alam bis shawab.

***

Diam-diam, aku beranjak pergi dari teras musholla itu, dan akan kembali suatu saat nanti. Entah kapan, yang jelas aku akan terus setia menunggu siraman-siraman sejuk dari lingkaran kecil itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s