The D-day: We Survived 2012!

Tajuk Makrab Sasing
Tajuk Makrab Sasing

Kamis lalu, tepatnya tanggal 11 April 2013 merupakan hari yang cukup bersejarah bagi para mahasiswa Sastra Inggris UNPAD 2012. Saya dan 144 kawan lainnya menghelat acara Malam Keakraban (makrab) yang bertajuk We Survived 2012! dengan tema Kreativitas dan Seni. Acara ini merupakan satu dari berbagai program kerja Ketua Angkatan Jurusan, yang juga merupakan tradisi setiap tahunnya. Tujuan acara ini sendiri dikhususkan untuk mempererat ikatan persaudaraan antarmahasiswa jurusan yang digelar dalam sehari semalam. Jurusan Sastra Inggris yang terdiri atas 7 kelas dengan masing-masing 20 siswa perkelasnya, tentu bagi saya cukup sulit untuk mempersatukan mereka semua dalam satu event/momen khusus. Maka dari itu, terhelatlah acara ini.

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang lebih dominan menampilkan adu siapa-bisa-main-gitar/drum-paling-hebat, makrab tahun ini kami khususkan untuk mengadu bakat talenta yang dimiliki masing-masing kelas. Setiap kelas harus menyumbangkan satu penampilannya, terlepas dari apakah mereka mau atau tidak, pokoknya kudu tampil. He he.

April dan Dudu
April dan Dudu

Acara dibuka oleh April dan Dudu yang dengan santainya membawakan acara se-fun mungkin. Sekitar pukul 4 sore, mereka asyik berceloteh menyapa penonton dan dosen-dosen yang baru hadir. Sesekali, suara guntur yang saling menyaut, membuat kami seketika gelisah. Tapi untunglah, antusiasme penonton untuk hadir menikmati acara kami begitu luar biasa. Sebagai ketua angkatan, saya selain bertugas sebagai penanggung jawab acara, juga bertugas sebagai mobile selama acara berlangsung. Sementara temen-temen lagi asik ngangguk-ngangguk dan goyang-goyang menikmati penampilan pertama dari kelas E dan F, yaitu grup vokal, saya harus sibuk ngecek ini dan itu buat mastiin kalo semuanya baik-baik aja. Entah itu ke lahan parkir, antisipasi kalo ada polisi yang mau patroli dateng, atau sekadar ngecek kalo ada ‘mata-mata’ yang harus diselidiki dari mana datangnya.

Akhirnya, tibalah kelas saya yang tampil, kelas B. Kami sudah sepakat untuk menampilkan pertunjukkan teatrikalisasi puisi, yang sebelumnya dikonsep sama Ghifar dengan sebegitu ciamiknya, dengan masing-masing orang melakoni peran yang berbeda-beda. Kami cukup puas dengan dua hari yang sempet kami gunakan untuk latihan, dan hasilnya…wah! Salute! Puisi “Ah, Hujan” yang kami bawakan, sungguh kebetulan, sangat sepadan dengan kondisi panggung Blue Stage yang sedang gerimis.

Penampilan Kelas B
Saya di-brief interview
Saya sedang melakukan brief interview

Penampilan kelas D, yaitu pemutaran film pendek, menurut saya bagian yang cukup menarik. Mereka dengan kreatifnya membuat sebuah film tanpa dialog yang bercerita tentang ‘kiamat’ kecil yang sering terjadi di kehidupan manusia/mahasiswa sehari-hari: duit kiriman yang telat, seorang gadis yang buta, down, dan mahasiswa yang kecanduan games. Penampilan kelas G juga gak kalah menarik, mereka membuat drama kecil berdasarkan lagu “Fix You”-nya Coldplay. Dentingan suara piano yang dimainkan Sky dan lagu yang dinyanyikan secara acapella, membuat malam itu semakin redup, namun tetap berkesan.

Acara terus mengklimaks menuju momen-momen penting di mana saya–dan mungkin temen-temen yang lain–akan ingat seumur hidup. Menuju pertengahan, April dan Dudu mulai memberikan iming-iming bahwa sesosok figur di Sastra Inggris yang begitu melekat di hati semua orang, Pak Maryoso, yang akan diberikan lifetime achievement berupa sebuah video singkat, yang diberi tajuk Tributes to Pak Maryoso. Hari pun beranjak gelap dan hujan mulai menderas. Para penonton yang masih dengan setianya berdiri menikmati pertunjukkan sambil memegangi payung masing-masing, atau sekadar merapatkan sweater mereka, terlihat terkesima dengan video yang dibuat oleh kawan-kawan tim PUBDOK ini. Lima belas menit film pendek itu berkonten komentar-komentar singkat mahasiswa mengenai almarhum, pesan dan kesan selama diajar almarhum, dan ungkapan terima kasih. Begitu menggugah, begitu menyentuh. Selamat jalan, Ayah… Kami pasti akan selalu mengenangmu. Lebih dari itu, bahkan mungkin “gak akan pernah ada satu kata pun yang sanggup mewakili kenangan kami terhadap beliau. Gak akan pernah,” kata salah seorang dosen terbaik Sasing, Pak Ari.

Suasana sendu saat pemutaran video Tributes to Pak Maryoso
Suasana sendu saat pemutaran video Tributes to Pak Maryoso

Belum selesai para penonton menyeka air matanya, dan mendadak hilir mudik angin mulai menggigit tulang-tulang kami, Ryo dari kelas G dan kawan-kawan menggebrak panggung dengan musiknya yang upbeat. Ditambah lagi, lagu “Firasat” yang dinyanyikan oleh Kak Eca 2010, diiringi dengan petikan gitar Pak Sandya Maulana dan Adi 2011, membuat kami sejenak kembali terhempas dalam relung-relung waktu. Disusul Pak Ari dan Bu Ari yang membawakan lagu “Blackbird”-nya The Beatles yang di-mix-up dengan sebuah puisi manis berbahasa Inggris. Tak sampai situ, kesenduan malam itu pun terus berlanjut ketika Pak Sandya akhirnya menyumbangkan suara emasnya lewat lagu “Yesterday”-nya The Beatles. Kami, masih sambil memegangi payung, tanpa terasa turut bernyanyi, terhenyak dalam lembutnya atmosfer malam Jumat yang melebur dalam sejuknya pentas Blue Stage.

Performance Kak Eca 2010, Pak Ari, Bu Ari, dan Pak Sandya
Performance Kak Eca 2010, Pak Ari, Bu Ari, dan Pak Sandya

Satu momen favorit saya adalah waktu penampilan Band-nya Otep dan Shu and The Ashes. Kedua grup musik yang sama-sama dari angkatan 2012 ini berhasil menyedot perhatian penonton paling besar. Lagu-lagu yang mereka bawakan juga cenderung jazzy, bluesy, dan up-tempo. Membuat kami semua yang menonton ikut menyanyikan hits-hits dunia yang mereka bawakan, sambil menikmati rengkuhnya suasana dingin di bawah langit Jatinangor. Selain itu, Saman Sastra juga jadi favorit! Teteh-teteh berkerudung ini dengan apiknya membawakan tarian khas Nanggroe Aceh Darossalam tersebut.

Penampilan Band Otep (Ghifar - Adit - Otep) dan Saman Sastra
Penampilan Band Otep (Ghifar – Adit – Otep) dan Saman Sastra
Penampilan Shu and The Ashes dan Band Sky
Penampilan Shu and The Ashes dan Band Sky

Tibalah satu momen yang cukup ditunggu-tunggu oleh semua orang: Dosen Awards! Momen ini bisa dibilang memang menjadi momen vitalnya dalam setiap acara makrab sasing. Berbagai kategori ditawarkan untuk dosen-dosen yang sudah dipilih oleh mahasiswa 2012: The Most Handsome, Beautiful, Hillarious, Kind-hearted, Mysterious, Impressive, sampai Arrogant. Masing-masing pemenangnya adalah Pak Bima, Bu Rima, Pak Sandya, Pak Heryanto, Pak Ari, Pak Taufiq, dan Pak Randy. Seselesainya, sekitar pukul 9 malam, teman-teman dari Big Fat Liar Academy (BFLA), kabaret sasing, mengejutkan penonton dengan penampilannya yang tidak biasa. Bermodalkan lip-synchronization, orang-orang jago acting ini mampu membius kami, baik para penonton dari Sasing dan dari jurusan lain, untuk terus mengikuti penampilan mereka dari awal hingga akhir. Gestikulasi dan koreografi yang kocak, namun sarat tidak membuat kami jengah, dan terus membawa penampilan mereka terus mengalir.

Dosen Awards Winner (Pak Ari, Bu Rima, Pak Sandya, Bu Ari, Pak Taufiq)
Dosen Awards Winner (Pak Ari, Bu Rima, Pak Sandya, Bu Ari, Pak Taufiq)
Big Fat Liar Academy
Big Fat Liar Academy

Hujan mulai berhenti. Tapi angin beku di pelataran pentas terus berhembus. Satu hal yang saya sangat salutkan adalah fluktuasi antusiasme penonton yang begitu tinggi dan stabil. Mereka tidak kabur/pergi pulang saat hujan mulai mengeroyok tempat duduk panggung, tetapi justru berpindah ke bagian depan panggung dan terus menyaksikan hingga detik terakhir acara. Panggung menyambut penampilan kelas A, yaitu drama mini, dengan tema horor. Penonton semakin menggila saat Saturday Night Karaoke, band andalan senior Sasing, naik panggung. Grup musik bergenre garage, dead punk ini berhasil membuat para audiens terbang bersama gebukan drum yang super cepat, dan petikan gitar listrik yang sukar untuk diikuti, menutup malam kami dengan puas dan menghembuskan napas lega saat acara selesai nanti. Sekitar enam buah lagu dibawakan dengan sangat enerjiknya, mendongkrak gairah penonton yang sudah mulai ngantuk dan lemas di menit-menit terakhir acara.

Sebelum ditutup, April dan Dudu mengomandokan kepada seluruh panitia Makrab Sasing untuk berfoto bersama di atas Blue Stage. Di situ, kami betul-betul merasakan sebuah pencapaian yang luar biasa. Kami merasakan sebuah perjuangan, yang mana kami korbankan segala daya dan upaya, waktu, serta biaya kami untuk hadir rapat berminggu-minggu, hanya untuk satu hari ini saja. Dan semuanya berjalan…mulus! Alhamdulillah.

Acara selesai tepat pukul 22.30 malam. Dan kami pun menghembuskan napas lega.

Walau hujan, mereka tetap setia...
Walau hujan, mereka tetap setia…

SALAM.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s