Film Hereafter: Magnet Sang Kematian

Setiap kali ada waktu senggang, dan bisa pulang ke kampung halaman, Tangerang, saya selalu menyempatkan diri untuk menonton film Hereafter karya Clint Eastwood. Kali ini, saya akan mencoba mengulas sedikit jalur ceritanya dan bagaimana itu bisa membekaskan dampak-dampak penggugah jiwa bagi saya (dan teman-teman) yang sudah nonton.

Image
Hereafter the Poster

Film ini memperkenalkan Mary (Cecile de France), seorang newsanchor dan bintang iklan ternama di Perancis, yang sedang menginap di sebuah hotel di Thailand bersama bosnya–yang juga kekasih gelapnya, Didier. Pagi itu, Mary berjalan turun ke pasar dekat hotel untuk membelikan anak-anak kekasihnya beberapa gelang dan kalung. Namun, tiba-tiba dunia seperti dijungkirbalikkan. Getaran-getaran dari bawah tanah membuat hati Mary bergejolak dan terus bertanya-tanya apa yang gerangan terjadi. Bumi Gajah Putih pun seketika hancur digerayangi air bah Tsunami yang Tuhan kirimkan. Mary, yang sempat hanyut terbawa arus air yang murka, berhasil diselamatkan setelah ia sempat mengalami kejadian mendekati kematian (Near Death Experience) ketika terhanyut arus. Peristiwa ini membuatnya selalu dihantui halusinasi-halusinasi maya tentang orang-orang yang ia lihat saat sebelum jiwanya kembali masuk ke dalam tubuhnya.

Image
Tsunami 2004 di Thailand

Adegan berganti ke Negeri Jam Big Bang, London. Diceritakan Jason dan Marcus (Frank dan George McLaren), mengalami dilema psikis akan ibunya yang alkoholik, mengalami hal yang serupa tapi tak sama dengan Mary. Suatu ketika, si ibu menyuruh satu dari mereka untuk pergi ke toko obat untuk membeli obat penyetop kecanduan alkohol. Jason pun bertolak ke sana sendirian. Sambil membawa ponsel ibunya, ia berjalan terus sepanjang jalan menuju toko. Dalam perjalanan pulang, ia dihadapkan pada segerombolan remaja kurang kerjaan yang sedang nongkrong di trotoar; mereka mengganggunya, dan mengejarnya. Panik, Jason lari tanpa ragu, yang membuatnya tertabrak van ketika ia hendak menyeberang sambil berlari.

Image
Marcus dan Jason

Kematian Jason pun membuat Marcus sedih bukan kepalang. Kesedihannya mempengaruhi kondisi mentalnya yang terkadang bermuara pada lamentasi panjang yang sukar dijelaskan. Ditambah lagi, ibunya yang memutuskan untuk mengalienasi dirinya ke tempat yang tak bisa dijangkau Marcus, membuatnya makin frustasi. Hubungan adik-kakak yang begitu melekat semacam ini memang mustahil untuk dipisahkan. Dengan demikian, Marcus pun berusaha untuk menemukan orang-orang ahli di bidang paranormal untuk membantunya bisa bertemu dan berbicara kembali dengan Jason. Tapi, tak satupun dari para psikis yang ia temui, bisa mengobati kerinduan mendalamnya.

Latar cerita berpindah ke Amerika. George (Matt Damon) adalah seorang psikis ulung, yang dengan talenta luar biasanya (atau justru terkutuk) itu, ia betul-betul mampu menembus garis separasi antara dua dimensi: kehidupan dan kematian. Tidak seperti psikis-psikis lain yang hanya berceloteh kesana-kemari dan haus uang, George mampu menebak situasi orang yang sudah meninggal, sekaligus mendengar mereka berbicara, dan menggambarkan gestikulasi para makhluk dari dimensi yang berbeda tersebut. Seiring berjalannya waktu, dan ketika banyak orang sudah mulai mempercayakan kekuatan magisnya, George pun mulai merasa jengah; ia tidak suka jika orang-orang tahu bahwa dia bisa mendengarkan makhluk gaib berbicara.

Image
George diminta untuk ‘membaca’nya

Secara keseluruhan, film ini terasa cair. Clint Eastwood membuat film ini sesimpel dan, dalam waktu yang bersamaan, seelegan mungkin. Dalam beberapa adegan, pergerakan kamera yang dibuat lamban dan sorotan close-up yang apik, cukup menjelaskan bahwa film ini tidak perlu dibawa pusing, tetapi justru dinikmati dan dibiarkan mengalir, tidak seperti film-film yang bertema sama (science-fiction), contohnya Knowing atau Afterlife, namun menuntut penonton untuk menguras ketegangan dan keingintahuan akan hal-hal yang mungkin terjadi pada baik si pemeran utama maupun pemeran pendukung. Herafter, meskipun begitu, justru menyuguhkan alur yang lamban, seperti halnya film drama Hachiko, juga berhubungan dengan kematian, tetapi membuat penonton terus terenung dan terbawa ke-ending sekaligus bertanya-tanya (saat dua puluh lima menit terakhir filmnya), “akankah Hachiko terus menunggu Prof. Parker?” Atau, “sampai kapan ia akan menunggu?”, tanpa merasa dipaksa.

Setting yang disusun secara bergiliran (Prancis-London-Amerika) dengan masing-masing narasi yang berbeda tetapi satu tema, membuat film ini layak ditonton sebagai omnibus yang gurih. Penonton tetap merasa “terikat” dengan masing-masing cerita, tanpa dibuat bingung atau bosan dengan interval antaradegan yang dibuat agak panjang. Selain itu, teknik visualisasinya patut diacungi jempol, terutama saat adegan “penyapuan” bumi Thailand oleh si air bah Tsunami, dan adegan ketika Mary mulai “masuk” ke momen near death experience, di mana adegan ini, tentu, ada di dalam air dan akan memanjakan penonton dengan panorama bawah air yang memukau.

Film tanpa musik bagaikan sayur tanpa garam. Begitu kata orang-orang. Penempatan dentingan halus sekaligus menyayat hati dari alunan gubahan piano Tchaikovsky pada beberapa adegan, bisa dikatakan sangat berhasil. Memang, hampir 2/4 di film ini hampir tidak ada lagu pengiringnya/soundtrack. Meskipun demikian, musik-musik lembut yang sekilas terdengar itu tidak mengganggu masalah inti dari ceritanya. Pak Eastwood nampaknya memang enggan “menginterupsi” keterikatan batin yang dialami antara penonton dan para karakter yang masing-masing pernah mengalami peristiwa paling mengharukan dalam hidupnya: kematian, kehilangan, dan perasaan dibutuhkan. Musik-musik klasik-lah yang tampaknya cocok untuk jenis-jenis film yang tipe ini.

 

Lalu, mengapa, seperti yang saya tulis pada judul, kematian disandingkan seperti magnet?

Dari film ini, ketiga karakter utama, Mary, Jason, dan George, pernah mengalami keadaan bingung yang membegitu. Masing-masing akhirnya memilih untuk menarik hal-hal terserak yang belum mereka resap di benak mereka tentang kematian itu sendiri. Mary, misalnya, mengalami near death experience, yang membuatnya selalu terusik akan dikotomi antara kehidupan dan kematian. Dalam hatinya, ia selalu musykil, “Apakah saya pernah mati?” Yang secara implisit menjelaskan bahwa Mary ingin membongkar rahasia akan peristiwa di Thailand itu (yang juga merupakan Tsunami yang meluluhlantakkan bumi Nangroe Aceh Daarussalam pada 26 Desember 2004). Kejadian ini membuatnya terstimulus untuk terus mencari tahu akan sang kematian, satu dari berbagai bukti yang muncul adalah ketika ia melontarkan pertanyaan pada Didier, “menurutmu apa yang akan terjadi ketika kita meninggal?” saat makan malam. Didier pun tidak ambil pusing tentang pertanyaan itu, karena kematian dianggap masih tabu bagi kebanyakan orang seperti Didier–atau orang Perancis.

Sama halnya dengan Jason yang terus mencari mediator yang mampu mengantarkannya pada Marcus, kakak kesayangannya yang tewas tertabrak. Setelah berkelana kesana-kemari dari kepala-hingga-kaki London, akhirnya waktu mempertemukannya pada George di sebuah pameran buku yang diadakan besar-besaran di pusat kota London kala itu. Pertemuannya dengan George membuatnya merasa lebih “hidup” karena ia telah berhasil “mendengar” Marcus berbicara lewat George.

Cerita ini akhirnya ditutup dengan pertemuan Mary dan George di sebuah kedai kopi/kedai sandwich. Bayangan George akan pertemuan ini, di mana ia mencium Mary di tengah keramaian, menimbulkan kerancuan. George, yang notabene-nya hanya bisa menggambarkan keadaan seseorang yang sudah meninggal dengan melakukan kontak fisik (sentuhan/rabaan) dengan si pasien, secara tidak langsung ‘membayangkan’ bahwa ia akan menjalin cinta dengan Mary. Hal demikian membuat taksa sudut pandang penonton, apakah bayangan itu semata-mata halusinasi George atas hakikatnya sebagai manusia biasa, ataukah memang bayangan itu merupakan hasil ‘persentuhan’ fisik yang dilakukannya?

Image
The Ending

Meskipun demikian, tanpa lebih jauh memikirkan analsis ending film ini, Hereafter merupakan menu gurih bagi mereka yang selalu ingat akan kematian. Bahwa kita semua akan kembali ke tempat di mana kita berasal. Dengan demikian, saya tutup ulasan singkat tentang film favorit saya ini dengan kuotasi, “Kematian bukanlah akhir dari segalanya, ia semata-mata adalah sebuah permulaan.”

Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s