Bersihkan “Kacamatamu” Setiap Hari!

Pake kacamata itu enak ga enak. Kalo lagi dibutuhin, kadang ngeselin. Tapi kalo lagi gak ada, rasanya ada sesuatu yang hilang. He he. Hampir setiap aktivitas yang jadi kegiatan sehari-hari saya selalu membutuhkan dua pasang kaca ber-frame ini. Pernah suatu hari saya sempet lagi dalam keadaan yang bener-bener sibuk di kampus. Disuruh fotokopi bahan tugas sama dosen, terus tiba-tiba keinget banyak banget tugas-tugas yang belum dikerjakan, ditambah rambut ini yang semakin panjang menguntai-nguntai ke jidat, dan keringat bercucuran di balik kacamata, belom lagi tenggorokan yang kering dan kantong yang kering. Hah! Rasanya pengen diremek-remek aja muka saya biar gak ‘penuh’ kaya waktu itu. Tapi gimanapun…saya harus hidup dengan benda ini.

Tapi dari sini, saya bisa ambil hikmah penting di baliknya.

Setiap pagi, secara rutin saya selalu membersihkan kacamata saya dengan kain soft-fabric. Padahal hari-hari sebelumnya kacamata itu tampak baik-baik aja. Seperti biasa, saya akan coba membuka jalan pikiran kawan-kawan dari sudut pandang yang gak biasa. He he. Dari kebiasaan itu saya belajar kalo ternyata dari sebuah benda kaca berbingkai bisa dianalogikan dengan ini: hati yang kotor, lupa, dan terlena.

Lho, apa hubungannya kacamata dengan hati?

Kawan-kawan, kacamata, sama halnya seperti hati manusia, berfungsi untuk membantu penglihatan aja, yaitu sebagai pembeda apakah yang kita lihat itu jelas atau buram. Setiap hari saya pake kacamata itu kemana-mana, dibawa kemana aja, sampe tidur (dan mandi) pun kadang kebawa. Tapi pas keesokan harinya, kita pasti akan menemukan kotoran-kotoran halus/debu kecil yang menempel di lensanya. Saya bertanya-tanya.

Kok bisa ya?

Nah, sama seperti hati kita, setiap hari terkadang kita seolah-olah tersedot dalam kehidupan perkuliahan yang serba divergen dan bebas. Mikirin kuliah, musingin ini-itu, uang kiriman yang telat dari orangtua, atau bahkan masalah sama temen, pacar, gebetan, dosen kita. Semua itu secara gak sadar bikin kita semua terlena, membuat kita melupakan hal-hal yang jauh lebih penting. Sangat masuk akal kalo saya bilang bahwa apapun masalah yang sedang kita hadapi, haruslah diserahkan semuanya kepada Sang Pendatang Masalah. Tuhkan, coba perhatiin lagi, Pendatang Masalah. Allah SWT, secara tidak langsung, sebenarnya bukan memberikan masalah kepada kita hamba-hamba-Nya, tetapi justru mendatangkannya. Ini berbeda. Penjelasan ini harusnya bikin kita sadar bahwa kalo suatu saat ni’mat yang kita miliki sekarang (panca indra, islam, iman, mencintai, dan dicintai) dicabut, maka kita sudah seharusnya gak boleh putus asa, karena semua itu kan milik Allah. Jadi, para kawan, dibawa pasrah aja sih hidup ini. Gak ada yang perlu dilebih-lebihkan, dan gak perlu juga mengurang-ngurangi yang ada pada diri kita. Saya pun selalu ingat kata mutiara pemberi semangat, “mensyukuri apa yang kita miliki merupakan kunci kemenangan daripada menginginkan sesuatu yang kita tahu tidak akan pernah kita dapatkan.”

Nah! Gitu deh. Jadi udahlah gausah galau-galau mikirin hal-hal yang gak penting/gak pasti, kalo diserahin semuanya sama Allah, pasti semua ada jalannya🙂 insya Allah.

Balik ke masalah hati. He he. Teman-teman, pada dasarnya, hati kita ini, luar biasanya, dianugerahi kemampuan untuk menentukan mana hal yang baik dan mana hal yang buruk. Tanpa disadari, setiap hari kita gak pernah tau seberapa bersih sih hati kita. Apakah semakin hari semakin meningkat kualitas hatinya, atau justru makin banyak “debu-debu” yang menempel? Itulah pentingnya bagi kita untuk selalu mendekatkan diri pada Si Penguasa dan Pembolak-balik Hati. Kita pun harus pandai-pandai memilih kelompok pergaulan, dan mencari cara bagaimana kita harus bersikap ke mereka-mereka yang tidak “seia sekata” dengan kita. Itu harus diperhatikan betul-betul agar tidak terjadi kesalahpahaman antarkedua belah pihak.

Kira-kira seperti itulah analogi hati dan kacamata. Mereka sama-sama memiliki potensi untuk berubah menjadi semakin baik atau malah semakin buruk. Makanya, dengan membersihkan hati kita secara rutin, salah satu caranya adalah memperbanyak dzikir dan menjaga perkataan dan sikap, kita, insya Allah, bisa menjadi pribadi yang lebih unggul dalam segala hal. Asalkan tawakkal, yang dibarengi dengan sifat optimis, mengingat Allah sudah menjamin rejeki masing-masing hamba-Nya. Dan bersyukur. Dengan begitu, jika kita berhasil, kita akan lebih tawadhu’ (rendah diri) kepada Allah–lepas dari salah satu sifat syetan: sombong, tetapi jika kita gagal dalam satu hal, itu bisa menjadi batu loncatan agar kita bisa menjadi insani yang lebih kompeten, berjiwa islami dan berkepribadian kokoh yang tahan banting.

Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s