Jembatan Kehidupan

Sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sungguh, sesudah kesulitan itu ada kemudahan. – Al-Insyirah: 5 – 6

Jembatan Cincin. Buat para mahasiswa Jatinangor pasti udah gak asing sama jembatan ini. He he. Ya, jembatan cincin ini adalah satu-satunya jalan terdekat menuju kampus tersayang. Rumornya, jembatan ini dulunya adalah jalur kereta api, namun karena berbagai faktor, walhasil jadi terbengkalai dan sampe sekarang hanya jadi fasilitator penduduk setempat untuk transportasi dan rekreasi. Gak jarang kalo saya pulang dari kampus maghrib-maghrib, masih banyak aja anak-anak ABG yang suka nongkrong di tengah-tengah jembatan sambil denger lagu dan foto-foto. Beberapa bahkan suka ada yang pacaran berdua aja gelap-gelap. Hi hi.

Bridge_to_Bath_by_LotharZhou

Lebihnya lagi, yang bikin jembatan ini makin eksis di kalangan masyarakat Jatinangor (khususnya Cikuda, sebuah kampung yang letaknya agak ke ‘atas’ dan jalannya menukik, dan kampung di mana saya menetap) adalah bahwa katanya tempat ini pernah masuk Dua Dunia. Itu lhooo salah satu acara yang nampilin orang-orang kesurupan di tempat-tempat angker. Pas awal-awal baru masuk kuliah, sering banget saya denger omong-omong dari temen-temen kalo di Jembatan Cincin itu katanya ada kuntilanak yang suka nangkring di pohon bambu gak jauh dari situ. Trus, pas mereka tau kalo saya pulang-pergi kampus lewat Cincin, mereka langsung kaget dan bilang, “Lo gak takut, Wan?” Trus langsung aja saya bilang, “Takut ama sape? Sama bocah-bocah yang lagi foto-foto tiap malem?” Ha ha ha. Lagian kurang kerjaan jugalah foto-foto malem-malem. Bukannya muka yang keliatan, yang ada layar handphone-nya item semua. Aneh he he.

Dan baru beberapa hari yang lalu, saya baru tersadar, setelah tiap hari melewati jembatan itu, kalo ternyata ada satu pesan yang tersirat yang saya dapetin. Jadi gini ceritanya. Malem itu malem senin. Saya baru bisa pulang selepas shalat Isya karena ada agenda penting yang mengharuskan saya untuk gak langsung pulang, jadinya suka kebablasan sekalian shalat di masjid kampus. Saya akhirnya pulang dan tibalah di mulut jembatan cincin. Dari sini, ujung jembatan nun jauh di sana ga keliatan sama sekali. Dan sorotan lampu dari sebuah rumah makan cuma bisa sampe ke bagian tengah jembatan. Akhirnya, saya harus ngeraba-raba dulu kalo mau jalan. Gak asal langkah, biar gak kesandung. Seperti biasa, suasana sekitar jembatan cincin pas malem-malem itu sangat memesona. Lampu-lampu rumah dimana-mana, lampu-lampu mobil dan motor, bintang dan bulan yang rasanya begitu dekat, ditambah bunyi gemerisik daun-daun yang ditiup angin lembah, bunyi desir air sungai yang mengalir deras dan semilir angin sejuk yang rasanya menelisik hingga ke tulang. Subhanallah.

Sungguh takjub rasanya. Tapi, di tengah-tengah itu, tiba-tiba……..brakkkkkkk. Saya kesandung batu! Untung lagi sepi. Dan alhamdulillah gak ada yang ngetawain. Saya ngetawain diri sendiri aja akhirnya.

Dari kejadian ini, saya dapet beberapa pelajaran.

1. Lihat sebelum melangkah.
Jika boleh dianalogikan dengan tujuan hidup, ujung jembatan yang satu adalah awal mula kita berdiri, dan ujung jembatan yang lain adalah tujuan(-tujuan) kita. Semua orang pasti punya tujuan hidup, dan beribu-ribu cara untuk menggapainya. Sudah pasti setiap perjalanan menuju impian itu kita akan dihadapkan dengan berbagai macam masalah, kenikmatan, dan bahkan godaan. Ibaratnya, godaannya itu batu-batu yang kasat mata tadi. Kalo saya cuma fokus sama keindahan-keindahan (lampu-lampu mobil, lampu rumah, dan bintang-bintang), saya pasti akan tersandung, karena saya gak sepenuhnya fokus sama tujuan saya. Alhasil, jadi kesandung dan malu sendiri. Makanya, hati-hati, Wan.

2. Jangan terpaku dengan kendala-kendala yang sedang dihadapi, syukuri yang ada.
Seperti batu-batu kecil yang kasat mata itu, tentu kendala akan selalu muncul dalam meraih ujung jembatan kita masing-masing. Dalam ‘gelap’, saya harus meraba-raba langkah agar tidak tersandung lagi. Sudah gelap, banyak batu. Subhanallah. Sama seperti kehidupan ya. Terkadang berada dalam masa-masa cerah, terkadang gelap. Terkadang jalurnya mulus, kadang banyak kerikil-kerikil kecilnya. Tapi, saya lupa kalo saya lagi berada di atas jembatan. Saya lupa untuk memperhatikan hal-hal lain selain jalur yang akan saya tempuh: sekeliling saya. Saya lupa untuk melihat betapa indah ciptaan yang Allah berikan. Waktu saya lagi down, atau ada kejadian yang bikin hati ini nge’ganjel’, dan banyak omongan-omongan gak penting yang sebenernya bisa saya atasi, saya selalu melihat ke “bawah” dan menyadari betapa banyak yang harus saya syukuri. Dan dengan melakukan hal itu, alhamdulillah saya jadi bisa lebih bersyukur dan sadar bahwa apa yang saya lakukan dan cobaan yang Allah berikan, pasti ada hikmahnya. Subhanallah.

Saya bersyukur masih bisa kuliah, sementara banyak dari mereka yang kepingin kuliah. Saya bersyukur masih punya uang dan bisa makan enak, yang lain harus ngemis-ngemis senyum orang dulu biar dapat seremah nasi. Saya bersyukur masih punya orang tua,  yang dari mereka Allah menitipkan berbagai macam nikmat untuk saya pergunakan sebaik-baiknya, orang-orang di luar sana yatim piatu dan gak bisa merasakan apa yang saya rasakan sekarang. Allahu Akbar.

Kehidupan ini ibarat sebuah jembatan. Entah itu kita masih berada di mulut jembatan, sudah di tengah-tengah jembatan, atau bahkan sudah hampir menuju ujung  jembatan yang jauh di sana? Tapi kayaknya gak mungkin deh ada orang yang udah bisa sampe ke ujung jembatan itu, karena pada hakikatnya  manusia emang gak ada pernah yang puas. He he.

Meskipun begitu banyak rintangan, cobaan, dan ujian yang kita sedang hadapi, jangan lupa bahwa banyak orang-orang di luar sana yang juga sedang menghadapi cobaan yang bahkan lebih besar dari cobaan yang sedang kita hadapi sekarang. Bersyukur itu kunci kemenangan. Tapi, jangan lupa juga untuk berhati-hati dalam melangkah, sebelum malu, dan akhirnya menyesal. Dengan demikian, selamat menempuh jembatan hidup masing-masing!

Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s