Keajaiban Bermimpi

Vision without action is only a dream, action without vision is merely passing out of time, but vision with action can definitely change the world!

Satu dari berbagai cita-cita saya adalah menjadi seorang pengajar. Terutama pengajar bahasa Inggris, dengan fokus speaking, karena memang bidang saya di situ. Awalnya, saya belum bisa menargetkan mau  mengajar siapa. Anak kecil? SMA? Teman-teman di kampus? Atau justru senior? Terserah deh. Yang penting bisa ngajar. Dan pas pertama kali mikir pengen ngajar, saya mikirnya kayaknya muluk-muluk deh. Tapi, setidaknya saya bisa menyibukkan diri semasa kuliah.

Waktu itu inget kelas 3 SMA, para guru merekomendasikan saya untuk terus mengikuti program bimbel di International Language Programme (ILP) karena beberapa bulan setelahnya saya ditunjuk untuk jadi representatif sekolah untuk mengikuti lomba debat se-Yadika. Sebelumnya, saya sempat ambil program regular, yang fokusnya tensis, grammar, structure, dan hal-hal memusingkan lainnya. Tapi ternyata, Allah telah mengatur jalan-Nya agar saya bisa bener-bener fokus ke speaking. Dan walhasil, sampe sekarang saya, entah kenapa, jadi suka ngomong sendiri! Hahaha.

Pas akhir-akhir semester 1 kuliah, saya ditawarin sama Kang Dadan, salah satu pengurus DKM FIB, untuk ngajar. Wah kapan lagi…saya emang lagi ngincer banget pekerjaan beginian, pikir saya. Lagipula, waktu itu juga saya lagi mau menyibukkan diri. Gak sekadar kuliah, belajar, keluar-masuk kelas, dan rapat sana-sini. Akhirnya, Allah mempertemukan saya dengan tanggal 30 Januari 2013. Saya pun akhirnya mengikuti proses wawancara untuk menjadi pengajar di SMA/SMK kawasan Jatinangor, di bawah naungan Jatinangor Language Center (JLC), program maskotnya DKM Al-Mushlih FIB UNPAD yang fokusnya bahasa. Saya ambil program mengajar bahasa Inggris. Kalo boleh mililh, mau ngajar grammar atau conversation. Saya 1000% pasti minta ngajar pilihan kedua. Tapi, menurut kesepakatan saya dan panitia, pas ngajar nanti, saya harus menyeimbangkan antara teori dan prakteknya langsung.

Setelah di-interview beberapa hal dan saya harus menjawab pertanyaan-pertanyaannya dalam bahasa Inggris, lalu setelah sesi  microteaching (pura-pura ngajar di depan anak-anak SMA beneran), saya pun pulang ke kos dengan perasaan 90% optimis bakal diterima. Dan alhamdulillah. Beberapa hari yang lalu, panitia JLC mengumumkan bahwa saya berhasil lolos untuk mengajar bahasa Inggris di SMAN 1 Jatinangor.

Subhanallah.

Beberapa hari kemudian, saya langsung menghubungi Ibu dan Bapak untuk mengabarkan berita penting ini. Saya juga meminta doa restu mereka agar amanah ini bisa menjadi berkah dan jalan saya agar menjadi orang yang banyak bermanfaat bagi orang lain. Mereka pun merespons dengan ucap syukur yang menyegarkan hati saya. Alhamdulillah. Ternyata nikmat ya membuat orangtua seneng? Banget-bangetan pokoknya. Bapak berpesan agar saya bener-bener men-tadabburi (memahami) bidang kajian yang akan saya ajarkan, supaya orang-orang yang saya ajarkan nanti, tidak kecewa dan hanya membuang-buang waktu saja. Insya Allah. Bismillah.

Tidak sampai disitu, beberapa hari yang lalu. Para teteh dari Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) Unpad sedang menggalakkan satu dari berbagai program kerja (proker) BEM dan ROHIS FIK. Programnya adalah semacam kajian keilmuan gitu. Dan saya diajak (lagi) untuk mengisi proker tersebut, ya, sebagai pengajar bahasa Inggris juga. Subhanallah. Tiba-tiba begitu banyak amanah yang datang bertubi-tubi. Padahal cuma dari mimpi kecil dan keinginan yang saya pikir muluk-muluk awalnya, tapi mungkin mimpi-mimpi yang kita anggap remeh awalnya ternyata bisa jadi jalan hidup kita. Wallahualam. Manusia hanya bisa berencana, Allah tetap yang menentukan.

Betapa besar ya arti sebuah mimpi. Hanya dengan berpikir dan membayangkan apa yang terjadi jika kita betul-betul berada dalam mimpi kita itu, alam bawah sadar kita secara otomatis akan menarik respons-respons positif agar kita bisa menggapainya. Modalnya hanya dengan yakin dan percaya.

Bermimpilah, kawan-kawan! Bermimpi membuat kita jadi lebih ‘hidup.’ Tanpa mimpi, kita bisa dianalogikan seperti orang mati. Seperti kata Arai kepada Ikal dalam film Sang Pemimpi, “Orang-orang yang gak punya mimpi itu akan mati, Kal.” Sungguh luar biasa.

Bermimpilah, kawan-kawan! Setelah membaca beberapa bagian dari buku Notes From Qatar 2-nya Muhammad Assad, saya terinspirasi untuk selalu  menuliskan mimpi-mimpi saya di tempat yang bisa digunakan untuk menulis: kertas, laptop, blog, atau apapun. Dan meletakkannya di tempat-tempat yang sering saya lirik/buka-buka. Jadi, jika lagi unmood atau down karena berbagai hal, saya selalu liat catetan itu dan inget bahwa saya pernah berhasil. Tapi, yang paling terpenting adalah selalu ingat bahwa Allah telah menjamin rezeki hamba-hamba-Nya masing-masing dengan mimpi yang mereka punya dan…usaha keras yang tak pernah berhenti.

Bermimpilah! Lagian, kalo cuma disuruh membayangkan seperti apa diri kita kalo udah sukses, gak makan banyak energi juga, plus gak ngurangin duit juga. Hehehe. Yang makan banyak energi itu justru pas masa-masa sekarang lagi males-malesan karena gak punya mimpi dan tujuan, pas di akhir baru deh kerasa nyeselnya. Naudzubillah. Jangan sampe deh.

Selamat bermimpi!
Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s