Sungguh Miris Nasibmu…Mpok Pinah…

Apa yang teman-teman rasakan jika melihat keadaan anak-anak SD seperti ini?

Pernahkah teman-teman melihat warung-warung nasi di pinggir jalan, dimana para penjualnya adalah penduduk lokal yang usianya sudah sangat lanjut? Pasti pernah. Lalu, pernahkah teman-teman memperhatikan apa yang mereka jual, entah itu lauk-pauknya dan sayur-mayurnya? Bohong kalau tidak pernah. Nah, sekarang. Pernahkah teman-teman melihat sekelompok bocah-bocah ABG (Anak Baru Gede) yang mendobrak masuk dan berjanji akan mengobrak-abrik warung nasi yang dijual nini-nini/aki-aki itu jika tidak diberikan sepiring nasi? Dengan ucapan yang beringas dan sangat tidak manusiawi?

Pernah?

Alhamdulillah jika tidak pernah. Karena saya, mengerikannya, pernah melihat sendiri kejadian seperti itu.

Sewaktu masih duduk di bangku SMA, (lagi-lagi cerita tentang pengalaman SMA. Dan yang ternyata justru baru sekarang saya merasakan kata-kata mutiara itu benar adanya: SMA adalah masa-masa yang paling indah. Ah. Tetapi tidak kali ini) saya selalu melewati gang-gang kecil menuju komplek perumahan yang saya tempati–hingga sekarang, Komplek Ciledug Indah 2, Tangerang. Mengingat komplek itu memiliki banyak jalur tembus yang bisa mengantarkan saya ke mana saja baik ke luar dan ke dalam komplek, saya tentu punya banyak alternatif jalan untuk pulang ke rumah.

Namun, hari itu, Allah telah menuliskan takdirnya bagi saya agar menyaksikan sendiri dengan mata kepala ini. Tidak jauh dari gerbang sekolah, terdapat satu warung nasi kecil yang tidak begitu ditangkap oleh pandangan orang-orang banyak. Bisa dibilang, agak tersembunyi. Jalan di gang yang biasa saya lewati setiap pulang sekolah, siang itu sepi. Hanya terdengar suara bising angin panas, suara desingan motor saya, dan bunyi ‘kelepak-kelepak’ kain tenda yang dipasang di depan warung nasi tersebut, bertuliskan: Warung Nasi Mpok Pinah.

Sungguh asri rasanya melihat Mpok (atau Nek) Pinah yang setiap kali saya lewati warugnya, meskipun hanya selayang pandang, sedang sibuk merapikan meja makan, mengelapnya, lalu menatanya kembali. Atau sesekali sedang mencuci piring di dapur yang tidak terlalu spasial, membuatnya harus mau tidak mau bertahan hidup dengan berjualan lauk-pauk seadanya dan dalam keadaan (yang mungkin) pengap selama bertahun-tahun. Dan dalam hati, saya selalu berkelebat mengucap lafas hamdalah bahwa betapa masih jauh beruntungnya saya untuk tidak hidup dalam keadaan demikian.

Tiba-tiba sekelompok ‘geng’ motor yang dipimpin oleh seorang anak laki-laki yang masih mengenakan seragam SMP, mengoyak kesepian siang itu. Sejenak saya perhatikan ternyata ia tidak sendirian. Ada empat-lima motor di belakangnya yang dikendarai oleh, sepertinya, teman-temannya juga, dan masih mengenakan seragam SMP. Saya tetap fokus pada arah jalan di depan dan coba untuk tidak musykil.

Tiba-tiba saya tersentak.

Ketika mengetahui geng motor itu berhenti di depan warung nasi Mpok Pinah, menyergah masuk (tanpa mengucapkan salam, menyapa, bahkan permisi untuk parkir pun tidak), saya…tetap melaju, tapi dengan kecepatan pelan. Terdengar suara dari seorang anak itu, “Woy! Cepetan mana nasi gua! Laper nih!!!” yang langsung membuat hati saya teriris. Beberapa langkah dari warung itu, saya juga mendengar bunyi seperti suara seseorang menggebrak meja dengan kekuatan keras. Brakkkk!!! “Buruan ah! Lelet lo orang tua!”

Naudzubillah. Saya pun memalingkan muka dan memutar pedal gas lurus ke arah rumah, tanpa berkata apapun.

Bayangkan, lima orang anak-anak SMP, yang KATANYA berpendidikan dan memiliki orangtua masing-masing, bersikap seperti itu pada lansia. Memberontak masuk, berteriak, dan menggebrak meja dengan pukulan keras. Astaghfirullah. Sungguh sulit saya membayangkan bagaimana reaksi Nek Pinah siang itu? Ya takut, gelisah, cemas yang membegitu, dan pada saat yang bersama juga kesal dan marah, tentunya. Namun, apa gunanya seseorang yang sudah lanjut usia marah-marah kepada anak-anak, yang bisa dibilang sudah dianggap sebagai cucu sendiri?

Apakah begini kehidupan anak-anak SMP di Indonesia? Astaghfirullah. Begitu banyak kekurangan dan kekhilafan yang–baik sengaja maupun tidak sengaja–kita lakukan. Terlepas dari kasus ini, adakalanya kita mengintrospeksi diri sesering mungkin. Melihat peristiwa ironis yang sudah terjadi dan saya saksikan sendiri beberapa tahun yang lalu itu, membuat saya membayangkan: apalah jadinya jika saya membentak orang tua saya sendiri? Berkata-kata kasar pada Ibu? Membangkang Bapak dan tidak mau menuruti nasihat-nasihatnya? Padahal, keduanya sudah memberikan begitu banyak kontribusi bagi keberlangsungan hidup saya.

Pantaskah saya berlaku kasar pada orang tua?

Sesampainya di rumah, saya langsung menyetel TV. Sebuah headline di layar kaca muncul: tawuran anak SMP dan SD terjadi beberapa jam yang lalu di Lebak Bulus. Parahnya, anak-anak tak berpendidikan itu membawa senjata-senjata tajam bersama mereka, yang pada akhirnya menghasilkan beberapa jiwa melayang. Mati konyol.

Dalam doa, saya meminta, semoga kejadian beberapa tahun lalu itu tidak pernah terjadi lagi selama saya masih bisa melihat. Bagaimana kabar Nek  Pinah sekarang? Semoga anak-anak berandal itu tidak kembali dan mencoba membunuh si nenek jika tidak diberikan sepiring nasi. Sungguh mengerikan jika harus membayangkan betapa banyak manusia jaman sekarang yang hanya memikirkan perut, perut, dan perut tanpa dilandasi iman yang kokoh. Dengan demikian, pikiran-pikiran mereka menjadi keruh dan akhirnya mencoba untuk melakukan apa saja demi memuaskan nafsu lahiriah mereka.

Percayalah, Allah Maha Pemberi Rejeki. Ia telah mengatur kadar rejeki hamba-Nya masing-masing. Hilangkan pikiran bahwa menjadi miskin adalah sebuah aib. Mungkin itu satu dari berjuta-juta cara Allah untuk menjadikan kita seseorang yang tidak hanya kaya hati, tetapi juga, insya Allah, kaya di dunia pada akhirnya.

Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s