Masuk DKM Itu Bukan Pilihan, Melainkan Kebutuhan

Semenjak masih duduk di bangku SMA, saya selalu mencari alternatif untuk mencari jalan eskap untuk ‘keluar’ dari situasi yang belum sepenuhnya bisa saya adaptasikan. Mulai dari teman-teman yang “nakal” dan selalu masuk ruang BK (Bimbingan Konseling) setiap minggu, guru-guru yang tidak semuanya kompeten, membuat saya tercenung: Lalu untuk apa setiap hari saya masuk kelas kalau teman-teman saja tidak pernah memperhatikan gurunya? Parahnya, para guru pun tidak ambil sikap. Bahkan, setiap kali ada “celah-celah kosong”, dimana baik teman-teman dan guru-guru sedang bosan atau materi yang diajarkan sudah mentok, para guru malah membuat lelucon yang tidak beresensi. Selama hampir tiga tahun, saya mengalami sendiri keganjilan-keganjilan seperti itu. Dan inilah satu dari berbagai hal yang membuat saya berpikir bahwa saya harus otodidak menuju SNMPTN. (Ujian Nasional tidak usah ditanya, tidak belajar juga tidak apa-apa, karena diberikan ‘bantuan’ berupa bocoran)

Untunglah, Allah Maha Baik. Tidak semua teman-teman di kelas itu “memperburuk” suasana hati saya ketika sedang belajar; ada teman-teman yang tidak lebih dari 3% dari keseluruhan siswa yang memiliki pandangan yang sejalan dengan saya. Kelas 11 (atau 2 SMA), saya selalu meluangkan waktu untuk mengikuti mentor, liqo’, atau khalaqah kecil-kecilan yang diadakan oleh rohis (rohani islam) sekolah. Meskipun tidak sedikit yang berpartisipasi, tapi saya tetap harus aktif di rohis.

Terlepas dari semua itu, hingga saya sudah duduk di bangku kuliah sekarang, masih saja saya mendengar ocehan-ocehan atau huru-hara samar dari teman-teman bahwa anak rohis itu tidak eksis, tidak trendy, atau dengan kata lain, ‘cupu’ (culun punya). Hampir setiap hari berkutat di dalam masjid/musholla, membentuk lingkaran dan membuat kebisingan dengan tadarrus Alquran bersama-sama secara tidak sengaja. Awalnya, saya sempat ‘termakan’ dengan omongan-omongan itu, tetapi saat saya telisik dan renungkan lebih dalam, ternyata menjadi bagian dari sebuah komunitas islam itu adalah sebuah pengalaman luar biasa yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup.

Menjadi bagian kecil dari sebuah komunitas islam (atau rohis), bagi saya, mengubah cara pandang saya tentang hal-hal kecil dengan jalan pandang yang lebih agamis dan, sedikit, filsufis. He he. Saya selalu menanamkan dalam hati ini bahwa Allah adalah penguasa langit dan bumi. Langit dan bumi. Bayangkan, keseluruhan langit dan bumi, beserta isi-isinya adalah milik-Nya. Lantas, tentu dapat disimpulkan bahwa semua aspek ilmu, adalah juga milik-Nya. Pemikiran ini lahir semenjak saya lulus dari SMA. Di kampus, awalnya, saya agak panik karena takut kalau-kalau saya tidak bisa menemukan sarana komunitas islam seperti yang saya temukan di SMA dulu. Tapi, setelah beberapa minggu berselang, saya akhirnya mulai mengadaptasikan diri di DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) Al-Mushlih FIB UNPAD.

Sungguh tidak berlebihan, apalagi absurd, jika saya mengatakan bahwa masuk DKM adalah kebutuhan, bukan lagi sebagai pilihan. Ilmu, mata kuliah, mata pelajaran, atau apapun itu yang sedang saya emban sekarang, dalam kasus ini adalah Sastra Inggris, merupakan satu dari begitu besar dan luar biasanya ilmu yang dimiliki Allah Swt.. Allah selalu menegaskan bahwa apapun ilmu yang sedang kita emban, hendaklah men-tafakkuri-nya (bersungguh-sungguh), men-tadabburkan-nya (mengkajinya), mengulangnya, dan kemudian, mengamalkannya. Alquran juga menegaskan bahwa satu dari berbagai obat hati adalah berkumpul dengan orang-orang yang sholeh. Berkumpul bersama teman-teman di DKM Al-Mushlih, yang juga mahasiswa baru dan kebanyakan berasal dari masyarakat berbahasa sunda (yang begitu memusingkan bagi saya pribadi!), rasanya membuat hati tenang. Bahan perbincangan kami pun terjaga, dan insya Allah, bisa saling menasihati dan mengingatkan satu sama lain jika khilaf.

Keuntungan lain yang saya dapatkan dari DKM adalah bahwa saya tidak semata-mata memilih DKM hanya untuk mengisi kekosongan waktu di kos/kampus, tetapi juga menambah ilmu dan mempererat tali silaturrahim antara para mahasiswa dari jurusan lainnya (mengingat saya adalah satu-satunya pengurus DKM dari jurusan Sastra Inggris). Ditambah lagi, seringkali jika sekre DKM sedang kosong atau tidak dipergunakan, kami para pengurus sering berkumpul bersama selepas jam kuliah untuk sekadar ngobrol atau bersantai sambil membincangkan berbagai hal.

Masuk DKM itu bukan pilihan, melainkan kebutuhan.

Bagi saya, entah bagi teman-teman yang lain, berada jauh di pengawasan orangtua, yang itu pun masih dalam proses beradaptasi dengan lingkungan baru dan teman-teman yang tidak sepenuhnya saya kenal, menimba ilmu di tempat yang betul-betul baru, untuk ‘membersihkan diri’ dan ‘kembali’ kepada-Nya adalah jalan terbaik yang saya telah pilih. Satu dari beberapa hal yang pernah terjadi adalah bahwa saya sering sekali merasakan jika ada nilai UAS di beberapa mata kuliah yang agak sulit, mendapat nilai buruk, langsung down. Belum lagi, dosen mata kuliah bersangkutan agak menyebalkan dan harus selalu bisa keep up dengan beliau (harus mengikuti apa maunya). Atau jika mood saya sedang tidak bagus, perasaan bosan mulai merasuki benak setiap kali ada mata kuliah di jam-jam terakhir. Akhirnya, karena demikian, saat UAS tiba, saya baru menyesal mengapa tidak mendengarkan dosen saat mata kuliah berlangsung dengan penuh perhatian.

Kawan-kawan, di lingkungan kampus yang universal dan diverse ini, begitu banyak cobaan, kesenangan, ketidaknyamanan, bahkan problema-problema yang bahkan kita sendiri tidak tahu untuk mencari jalan keluarnya. Alhasil, semua itu menjadi beban pikiran dan efek sampingnya berpengaruh pada mata kuliah dan mood untuk belajar. Semua menjadi kacau. Akhirnya, ketika melihat teman yang sudah lebih dulu unggul, kita menjadi dengki, iri, dan bahkan tidak bersemangat untuk kuliah. Astaghfirullah.  Padahal, itu sudah menjadi kebutuhan dan kewajiban dia (dan tentu bentuk tanggung jawabnya terhadap orangtuanya) untuk berkuliah. Dan untuk ‘kembali’ dan membersihkan diri adalah jalan satu-satunya menuju kemenangan.

Setiap kali saya berada dalam kondisi sulit, saya selalu mencoba ‘mengasingkan’ diri dan fokus sepenuhnya kepada Sang Pencipta yang membuat saya berada dalam keadaan seperti ini. Saya selalu mengingat-ngingat dan ‘menyuntikkan’ dogma-dogma ke dalam hati dan pikiran saya bahwa ilmu adalah milik Allah. Sama halnya dengan waktu. Waktu adalah hal yang begitu luar biasa yang Allah turunkan. Maka, alangkah celakanya saya jika membuang-buang waktu itu dengan melakukan hal-hal yang sia-sia, mengingat saya tidak bisa memastikan kapan saya akan meninggal dunia. Satu menit dari sekarang? Sejam dari sekarang? Wallahu’alam.

Dan alhamdulillah, setelah saya menerapkan ini dalam menjalani apapun, baik ketika sedang belajar, beraktivitas, beribadah, maupun melakukan hal-hal lain, saya bisa menjadi lebih tenang dan optimis. Karena bagaimanapun, saya sedang mencoba untuk belajar satu ilmu kecil dari berbagai ilmu yang Allah miliki. Dengan memiliki keyakinan kuat bahwa Allah telah mengatur rejeki hamba-hamba-Nya, insya Allah, kita bisa menjadi seorang pemenang yang ikhlas, tawaddhu, dan selalu bersyukur.

Salam.

2 thoughts on “Masuk DKM Itu Bukan Pilihan, Melainkan Kebutuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s