The 10 Very Best Moments in UNPAD

Time flies like a jet. Rasanya baru beberapa hari yang lalu masuk ke aula gedung B FIB UNPAD, ketemu sama anak-anak kelas B untuk masa perwalian sama dosen, ELT (English Language Test) dan masa perkenalan. Sampe akhirnya gue jadi KM (Ketua Mahasiswa)–setingkat sama ketua kelas–dan sekiranya bisa ngewakilin anak-anak kelasan selama satu semester. Duh! Satu semester.

Gak berlebihan kalo gue bilang perjalanan ini adalah perjalanan indah yang gak pernah bisa dilupakan. Sejak berada di titik ini, gue selalu coba flashback untuk kembali ke masa-masa sulit waktu gue kelas 3 SMA. Waktu itu, semuanya terasa kacau. Jam sekolah yang lebih lama, selesainya langsung PM (Pendalaman Materi), dan langsung cabut untuk les di Primagama. Parahnya, sekolah gue dulu, yang gue yakin bakal dikasih ‘bantuan’ pas UN, justru malah memperburuk suasana dan mood untuk belajar siswa-siswanya. Entah dari guru-gurunya, temen-temen, sampe keadaan kelas itu sendiri. Mulailah bulat tekad gue untuk belajar secara otodidak. Jurusan IPA yang gue pilih lama-lama rasanya membunuh diri ini secara perlahan. Walhasil, H-7 SNMPTN, gue pindah jurusan IPS.

Alhamdulillah, pilihan pertama SNMPTN, Sastra Inggris UNPAD, tercapai.

Dan ini, 10 hal yang paling sulit untuk dilupakan selama gue masuk UNPAD:

(1) Mewakili Lebih dari Enam Ribu Mahasiswa Baru. Begitu banyak pengalaman berharga yang gak mungkin gue blow up satu-satu di postingan ini. Mulai dari pengalaman pertama banget gue kepilih jadi representative yang akan dilantik langsung oleh rektorat; masa Perwakilan Penerimaan Mahasiswa Baru, bersama 33 maba lainnya, empat hari ikut training dibawah naungan kakak-kakak KPM (Korps Protokoler Mahasiswa) UNPAD, dan karenanya, rambut gue jadi korban: kepala digundulin! Dan badan jadi makin menciut entah kenapa, karena waktu itu bertepatan sama hari-hari tua bulan Ramadhan. (2) Opera Budaya FIB. Sehari setelah PPMB, fakultas langsung ngadain Opera Budaya, program maskotnya FIB. Acaranya berlangsung selama enam hari, dengan puncaknya yaitu penampilan senior dari masing-masing jurusan, dan semua itu udah gue rangkum dalam catatan OPBUD 2012. Gue masih inget banget pas nyalonin diri jadi ketua angkatan, segala wawancara yang menegangkan, dan hasil yang mencengangkan. Euforia perjalanan panjang dan melelahkan, sekaligus indah ini sulit rasanya untuk dilupain gitu aja.

(3) Hari Pertama Kuliah. Hari pertama kuliah berlangsung…ngablu! Hehehe. Waktu itu, mata kuliah pertama yang akan diajarkan adalah bahasa Indonesia. Sayangnya, Pak Djarlis, dosen bersangkutan, belum bisa hadir. Jadi, kami dipaksa duduk selama hampir 45 menit cuma untuk nunggu dosen yang telat, tapi tetep ada esensi hectic-nya. Gimana gak hectic, dapet kuliah pertama kali, hari pertama dan bareng temen-temen baru. Maba-maba lain pasti juga ngerasain ini. Gue tau gue ga pernah sendirian (?)

Akhirnya, hari Senin itu, dari tiga mata kuliah yang seharusnya diajarkan, cuma dosen Basic Grammar yang hadir. And you have no idea how extremely hectic I was to be on that class that day. Rasanya masih mimpi dapet kelas grammar pertama kali. Di kampus. Speaking English. Wah. Sebuah pengalaman yang udah jadi mimpi gue untuk bisa belajar di english-speaking environment. Sorry if I’m exaggerating, but this one’s truly not to miss.

(4) The Very First Sudden Game. Hari Selasa, mata kuliah Introduction to Linguistics. Ibu Lia Maulia, dosen bersangkutan, tidak bisa hadir entah kenapa. Akhirnya, untuk membunuh kejenuhan, gue coba sekreatif mungkin untuk bikin kelas baru ini hidup. Dengan jumlah mahasiswi 15/16 orang, dan mahasiswa cuma 6 orang, gue harus bikin kelas ini nyatu. Yah…tanpa basa-basi, gue langsung maju ke depan kelas dan bikin game sejadi-jadinya. Kami sekelas coba main game Who Am I, Hot Seat, dan Alphabets Chain. Sampe detik terakhir jadwal mata kuliah itu habis, kami masih seru nentuin punishment untuk grup yang kalah. Dan grup yang menang bisa ngasih hukuman apa aja.

(5) Students’ Day. Hari Rabu kosong, dan Hari Kamis ada mata kuliah Introduction to Prose. Hari itu bertepatan sama Students’ Day; hari dimana para mahasiswa baru diperkenalkan untuk melihat-lihat dan mengikuti UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa)–setingkat dengan ekstrakulikuler di sekolah. Di sepanjang jalan dari gerbang lama sampe depan Fakultas Kedokteran, berjejer stand-stand kecil dan beberapa senior yang duduk didalamnya. Gue coba ikut KOPMA (Koperasi Mahasiswa), KPM (Korps Protokoler Mahasiswa), PSM (Paduan Suara Mahasiswa), dan ESU (English Speaking Union). Dan pada akhirnya, sampe detik ini, gak ada satupun dari UKM itu yang masih gue ikutin. Hehehe. PSM berhenti, karena latihannya yang selalu di DU (Dipati Ukur), Bandung, dan waktu latihannya magrib. Ga cocok. ESU juga sama. Pertama kali disuruh kumpul buat seleksi tim debat, abis itu gak pernah ada kabar lagi. Entah itu gimana kabarnya. Direkomendasikan sama banyak senior untuk gue ikut KPM (karena gue pernah ikut PPMB), awalnya agak belum tertarik, tapi pas pertengahan semester satu, gue jadi tertarik banget ikut KPM tahun depan. Soalnya, gue liat banyak anak-anak atau senior dari KPM yang ‘beda’ dari mahasiswa lainnya. Cara bicara, duduk, ketawa. Semuanya elegan. And I think I’m pretty into that.

KOPMA hopeless. Gak pernah denger huru-hara tentang KOPMA selama satu semester ini.

(6) Kelas Prose Pertama. Lanjut ke mata kuliah Introduction to Prose. Pertama kali, kami gatau siapa dosen yang bakal ngajar. Sampe akhirnya, seorang tinggi, tegas, dan tegap masuk ke kelas. Pak Ari. Beliau lulusan Amerika, dan pernah ngajar disana. Kesan pertama ngeliat beliau adalah tegang. But as soon as he started talking about things and stuff, the suspension started to fade away just then. Dia cerita banyak tentang (sedikit) filosofi kehidupan, gimana menciptakan persepsi dan membangun pandangan-pandangan baru tentang hal-hal kecil yang gak pernah sekalipun terlintas dalam benak kita, yang bikin kita semua tercengang dan terus pengen denger cerita beliau. He narrates, has a good sense of humour, and sees everything both shrewdly, yet satirically, which makes him quickly become one of my favorite lecturers. But the suspension, however, was one of those things I would hardly forget.

(7) Si Dosen-Labwork-Super-Sibuk. Pengalaman satu kelas sama dosen-dosen sastra inggris rasanya selalu menarik untuk dibahas. Tanpa mengurangi rasa hormat, gue dan teman-teman tentu gak punya maksud apa-apa selain untuk share dan blow up apa yang ada di kepala gue. Satu masalah yang bikin anak-anak kelasan itu ngedumel setiap kali ada mata kuliah Labwork: General Interests adalah dosennya. Anak-anak kelasan bilang, beliau selalu telat dan hampir absen. Emang betul sih, dosen bersangkutan juga sempet bilang kalo beliau paling males ngajar hari Jumat sore-sore. Awalnya, kami sempet punya anggapan buruk tentang beliau, yang maleslah, moody-anlah dan segala macem. Tapi, akhirnya kami tau bahwa selain ngajar, beliau ternyata juga lagi ngambil Statistika, dan sedang mengerjakan tesisnya. No wonder. Overall, he’s a good lecturer. Meskipun, di beberapa kesempatan dia sering bikin kerusuhan kecil di laboratory. Entah itu pura-pura jatoh dari kursi, abis itu ketawa ga jelas. Terus, pas semuanya lagi on headphones dan lagi diem, dia tiba-tiba ngomong kata-kata kasar sendiri, which is weird because you just never know what’s in his head. I don’t even know. I’d better not know.

And the time goes by…

Perjalanan panjang dan menyenangkan ini selalu berbarengan dengan keadaan-keadaan dimana gue harus merasakan sepi berkepanjangan (tanpa keluarga, orang-orang terdekat dan kota Tangerang (dan banjirnya) yang selalu ngangenin). Meskipun ada beberapa orang di kosan yang bisa nyembuhin keadaan itu, dan efeknya cuma sementara, kehadiran keluarga tentu jauh lebih vital. Alhasil, laptop, buku-buku pelajaran, novel-novel, literatur klasik, buku agama, dan Alquran-lah jadi penawar rindu. Selalu gue sebutkan dalam doa lima waktu agar mereka yang jauh di Tangerang sana diberikan kemudahan, ketenangan, dan perlindungan dalam melakukan aktivitas apapun. Biar berkah.

(8) Bahasa Sunda. Satu masalah penting lagi yang sampe sekarangpun gue masih harus adaptasikan adalah BAHASA. Entah di kampus, organisasi, seminar, bahkan di warung makan sekalipun rasanya gak afdol kalo gak ngomong bahasa Sunda. Meskipun mereka juga bisa responsif kalo diajak ngomong pake bahasa Indonesia, rasanya gak adil aja. Hehehe. Soalnya, waktu itu pernah juga ada acara FIB namanya SWIS (Studi Wisata Islami), dibawah naungan DKM (Dewan Kemakmuran Masjid). Nah, acaranya diadakan di Garut. Para peserta yang kebanyakan ikut adalah mahasiswa-mahasiswa Sastra Sunda atau Sastra Arab–yang kebanyakan berasal dari masyarakat Sunda. Tiba-tiba ‘nyemplung’lah gua masuk ke dalam lingkungan itu. Akhirnya, secara gak sadar, gue ke-bully cuma karena faktor bahasa. Mereka semua ngomong dan asik ketawa-ketiwi pake bahasa Sunda, gue meringkuk aja di pojokan kamar ga ngerti mereka ngomong apa. Ngomong apa ya bisa sampe seseru itu? Sampe mereka ketawa yang gue gak pernah denger tawa segirang itu? Apa mereka lagi ngomongin gua waktu itu? Entahlah. Setelah acara itu, gue bertekad untuk belajar bahasa Sunda secara serius. Hehehe. Wismilak!

(9) Kenangan-kenangan Bareng Kelasan. Satu semester sudah berlalu. Mulai dari senengnya nunggu dosen mata kuliah di hari pertama kuliah, gue bikin sudden games tiap kali ada dosen yang gak bisa hadir, sampe ketemu dosen-dosen yang nyentrik, ngeselin, sekaligus ngangenin, sampe masalah bahasa Sunda yang selalu menghantui diri ini untuk gak ke-bully kalo ketemu sama kelompok masyarakat bahasa Sunda. Kelas B dan anak-anaknya yang insya Allah gue banggakan, bohong rasanya kalo gak ada satupun kenangan yang kita sendiri akan ingat. Salah satunya adalah pas kami pergi ke Bandung untuk foto kelas. Di Jonas Photo. Meskipun cuma foto dan makan-makan di Ciwalk, setidaknya memori kelas sudah tertoreh di buku harian pribadi masing-masing. Bersama kalian, rasanya semuanya terasa mulus. Entah belajar bareng, bahas paper topic bareng, sampe ngablu bareng. Flawlessly done. Meskipun salah satu masalah yang muncul adalah pulsa gue yang–walhasil–jadi korban untuk sekadar ngasih info-info penting dan terbaru untuk perubahan jadwal mata kuliah, somehow semuanya terasa manis pas tau kalo satu semester udah lewat. Dan tanpa XL, dengan bonus pulsa yang kalo kirim sms sekali langsung dapet bonus sms seribu kali sampe tengah malem, info-info berharga tentang jadwal dan keadaan dosen bersangkutan gak akan sampai ke inbox kalian. Hehehe. *promo*

(10) Panen. Alhamdulillah, terakhir gue cek IP gue 3,86. I’ve got straight A’s at almost all subjects. Cuma Labwork aja dapet B. Hehehe. Tapi, yang paling penting bersyukur adalah segalanya. All that was a walk. A long walk from there to here. Sekarang masuk liburan. Waktunya menikmati sekaligus merenungkan masa-masa indah selama di Sastra Inggris. Sebuah mimpi yang gue idam-idamkan sejak SMA. Semoga di semester depan baik hubungan antara dosen-kelas maupun hubungan antara satu anak dengan anak yang lainnya bisa terus terjalin, terikat hingga entah  kapan. Sebuah benih kecil yang gue tanamkan kuat-kuat, perjuangan panjang, yang akhirnya bisa gue panen dan cicip manis buahnya.

Banyak cerita, pasti banyak kelirunya. Tapi, cerita di atas ini kejadian nyata semua kok. Hehehe. Saya, selaku KM, minta maaf jika selama semester ini melakukan kesalahan, baik yang disadari maupun tidak. Menjadi ketua di sebuah kelas merupakan tanggung jawab yang harus saya cantumkan dalam daftar pertanggungjawaban, tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Semoga kita tidak hanya dipersatukan di kelas B, tapi juga dipertemukan di masa-masa yang akan datang kelak.

Dan, setiap detik yang udah gue lewatin ini, adalah momen-momen sebenarnya yang harus gue syukuri.

Image
Kelas B SASING UNPAD 2012

 

 

Hidup Mahasiswa!
Salam,

Himawan Pradipta.

9 thoughts on “The 10 Very Best Moments in UNPAD

  1. Perkenalkan saya wahyu kelas 12 SMA, di SNMPTN Undangan 2013 saya milih sasing UNPAD di pilihan pertama. Saya mau tanya, pas kakak keterima di sasing UNPAD SNMPTN Undangan, apa kakak masukin data prestasi pendukung, kalau iya apa aja kak?

    1. Salam, Wahyu! Wah saya agak bingung nih, prestasi pendukung maksudnya gimana? Setau saya ngga sih. Pas dapet pengumuman lolos, langsung daftar ulang ke UNPAD-nya, abis itu ada pengenalan fakultas dan Ospek langsung.

      1. Oh gitu, kalau total daya tampung Sastra Inggris UNPAD berapa dari yang keterima dari SNMPTN Undangan+Tulis+SMUP?

      2. Jelas beda-beda. Kalo tahun 2012, sasing punya 145 orang. Kalo tahun lalu (kalo ga salah) ada 160 orangan. Dan ngomong-ngomong, di FIB UNPAD, sastra inggris dan sastra jepang itu jurusan yang paling banyak mahasiswanya.

    2. Kenapa bisa beda-beda gitu, kak? dan kalau boleh tahu, ada gak sih kak, mahasiswa yang salah jurusan masuk Sastra Inggris UNPAD terus ngulang lagi ikutan SBMPTN?

      1. Maaf baru bales ya, Wahyu. Emang kuota setiap jurusan memang berbeda-beda karena tiap tahun peminatnya ada yang berkurang ada yang bertambah. Beberapa temen saya ada yang masuk terus ikut ulang SBMPTN tahun depannya hehe. Yaaa banyak faktornya lah🙂

  2. ka aku mau nanya dong🙂
    kan kaka asalnya kelas IPA, terus H-7 kaka pindah ke kelas ips, dan kaka bisa lulus snmptn sastra inggris unpad..
    emangnya bisa pindah ke ips gitu a? ceritain dong ka, gimana caranya?
    aku juga sebenernya kelas ipa, dan rencananya ntar kuliah maunya masuk sastra inggris unpad🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s