Cermin Terbaik Bagi Diri

Perbedaan bukan omong kosong. Ia mampu menebas jarak antara kedudukan, status, jabatan, bahkan martabat seseorang atau kaum sosial. Keberadaannya mampu menetaskan kelompok-kelompok baru pada golongan tertentu dengan berbagai macam jenisnya. Entah itu pengaruh lingkungan, atau bahkan diri sendiri. Perbedaan mampu melahirkan berbagai macam hal yang bertentangan; meskipun demikian, ia mampu membuat persamaan antara dua kelompok yang disandingkan. Yang pada akhirnya, perbedaanlah yang membuat baik newbies ‘orang-orang awam’ maupun orang-orang lama yang sudah menggerakkan kelompok-kelompok tersebut. Akhirnya, muncullah si kaya dan si miskin, si tinggi dan si pendek, si gaul dan si cupu, si pintar dan si bodoh, dan berbagai macam hal lainnya yang mesti disandingkan–yang terkadang tidak masuk akal. Karena sebetulnya semua itu tidaklah begitu penting. Pertanyaannya, lalu apa yang dituntut hidup yang sementara ini? Apakah perbedaan yang menentukan kedudukan satu orang dengan yang lain menjadi lebih tinggi atau lebih rendah di mata Tuhan?

Dengan tegas, Allah melarang makhluk-makhluk-Nya untuk berperilaku sombong kepada sesama manusia–dan terutama kepada Tuhannya–dalam surat Al-Baqoroh ayat 34, yang berbunyi:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia Termasuk golongan orang-orang yang kafir.

collage

Saudara-saudaraku, tanpa disadari, sering kita khilaf dan lupa untuk mensyukuri apa yang telah kita dapatkan. Apa yang sudah ada pada diri kita (tanpa embel-embel materiil) sebetulnya adalah harta karun dan rahasia Tuhan yang tidak layak dikufuri. Segala hal yang sudah Allah berikan pada kita (seperti yang pernah saya bahas disini) merupakan karunia yang tak ternilai harganya. Dengan demikian, sudahkah anda bersyukur? Apalah arti harta, kekayaan, jabatan, rasa bangga, dan lain-lain jika pada akhirnya akan musnah? Komaruddin Hidayat, dalam bukunya Psikologi Kematian, menyebutkan bahwa satu dari berbagai macam cara yang paling simpel untuk mensyukuri nikmat adalah menganggap bahwa everyday is my birthday ‘setiap hari adalah hari ulangtahunku’. Mengingat bahwa setiap malam kita menemui ‘malam kematian’, dimana ruh akan ditarik selama beberapa waktu hingga pagi menjelang; lalu dikembalikan lagi. Setiap hari begitu. Maka, tidak patutkah kita bersyukur jika setiap pagi kita masih bisa bernapas dan merasakan segarnya udara pagi? Sungguh Maha Besar Allah.

Saya selalu melirik kembali ke dalam diri ini. Terkadang, secara tidak sadar, saya hampir selalu terperangkap dalam jebakan orang-orang hedonis yang selalu mengagungkan harta dan jabatan; orang-orang yang selalu mengedepankan kekayaan untuk sekadar pamer pada orang-orang yang bahkan mereka sendiri tidak kenal. Punya uang banyak, lalu membeli barang-barang yang tidak terlalu penting, lalu lupa untuk ber-shadaqah atau menggunakan hartanya untuk dijalan Tuhan yang memberikan uang itu. Dengan keadaan seperti itu, akhirnya saya menyadari bahwa selalu ‘melihat ke atas’ merupakan sumber bencana, yaitu selalu membandingkan diri ini dengan orang-orang yang memiliki lebih dari kita secara materiil, tidaklah ada gunanya; toh, semua itu akan lesap ketika liang kubur sudah memanggil-manggil, bukan? Keadaan seperti inilah, sepertinya, yang sedang merasuk ke dalam benak-benak orang-orang yang tidak kuat imannya. Mereka selalu merasa ‘kurang’ ketika melihat orang-orang di jalan dengan handphone atau gadgets canggih lain yang sangat memanjakan mata. Mereka tidak pernah sadar bahwa karunia terbesar bagi mereka adalah DIRI MEREKA SENDIRI.

Dengan kata lain, alangkah lebih baiknya bila kita, dalam keadaan khilaf, selalu ‘kembali’ untuk memikirkan fitrah kita sebagai manusia yang telah diciptakan Allah dengan sebegitu baik bentuknya. Secara tidak sadar, bentuk kebodohan-kebodohan kasat mata yang sekarang sedang membungihanguskan citra diri manusia untuk memiliki lebih dan lebih lagi, tidak pernah merasa puas untuk meraih sesuatu, secara pelan-pelan akan menghancurkan diri ini. Kita harus selalu ingat bahwa harta/materi akan habis kelak, namun keinginan (hawa) manusia tidak akan pernah terkikis; ia akan terus haus hingga kepuasannya terus dipupuk. Di sisi lain, kita juga harus sepenuhnya sadar bahwa Allah  memang telah menetapkan kadar rezeki makhluk-Nya masing-masing dengan taraf yang berbeda-beda.  Namun, banyak orang mensalahpersepsikan hal ini. Mereka mengira bahwa Allah ‘pilih kasih’ dengan hamba-hamba-Nya, yang pada akhirnya membuat mereka menjadi pengeluh dan pembangkang. Naudzubillah.

Konsep “melihat ke atas” haruslah diubah dan dibangun kembali agar dapat ditafsirkan dengan definisi yang lebih logis dan masuk akal. Bukan ‘melihat ke atas’ pada materi, tetapi untuk mencontoh dan meneladani orang-orang yang telah sukses karena ikhtiar (usaha) dan perjuangannya yang luar biasa. Suatu hadits menyebutkan bahwa “manusia tidak boleh iri kepada siapapun atau apapun, kecuali pada orang-orang yang hafal Al-Qur’an dan mampu mengamalkannya pada khalayak.”

Saudara-saudaraku, ketika segalanya terasa gelap, melihat orang-orang yang lebih sukses sementara kita terjebak dalam garis start yang tidak pernah bergerak, lihatlah ke bawah. Begitu besar pengorbanan orang-orang yang tidak lebih beruntung dari kita untuk sekadar mendapatkan remah-remah nasi. Mengais-ngais demi mengisi perut-perut di rumah yang kelaparan. Mengeluh bukanlah sifat islami, justru karena keberadaan orang-orang itu, kita diwajibkan untuk mengasihi sesama dan bersedekah. Dengan demikian, hidup terasa lebih tenang. Insya Allah. Profesor Albert Einstein juga pernah bilang kan, bahwa “orang-orang yang menyerah di tengah jalan tidak tahu bahwa mereka sesungguhnya berada satu titik di belakang garis kesuksesan.” Maka, jangan pernah mengeluh, kawan. Allah sudah mengatur rezeki hamba-hamba-Nya masing-masing.

Terakhir, saya menyimpulkan bahwa cermin terbaik bagi diri kita adalah diri kita sendiri. Tips ini merupakan satu jurus manjur yang selalu saya lakukan setiap hari: merenung. Merenung untuk melepaskan dari dunia sejenak, memikirkan untuk apa sebetulnya harta dan segalanya yang saya miliki di dunia? Yang pada akhirnya, saya tahu semua itu akan binasa. Cermin terbaik bagi diri adalah siapa pembanding kita. Apakah orang-orang yang di atas, atau yang di bawah? Teman-teman yang pilih😉

Meraih Hidup Tenang dan Bebas

Barakallah.
Wassalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s