Banjir: Hikmah Terselubung

Bencana banjir selalu hadir di tengah-tengah kehidupan keluarga kami. Komplek Ciledug Indah 2, Tangerang merupakan satu dari berbagai daerah yang rawan terkena bencana yang datang setiap lima tahun sekali ini. Tahun 2002 adalah tahun yang terparah. Waktu itu, banjir tidak hanya merusak secara materiil, tetapi juga secara emosional. Tingginya air banjir yang disebabkan mampetnya saluran air got karena sampah dan hal-hal lain, membuat kami yang menetap tidak bisa bergerak. Rumah-rumah tetangga yang hanya memiliki satu lantai mau tidak mau harus mengungsi di tempat yang lebih tinggi; sementara beberapa ada yang menumpang untuk tinggal di rumah-rumah tetangga yang lain yang memiliki lantai atas. Saya sungguh beruntung karena memiliki rumah dengan dua lantai. Meskipun lantai itu sebetulnya bukan tempat untuk ditinggali, tetapi setidaknya saya masih punya kesempatan untuk membantu tetangga-tetangga yang tidak punya tempat untuk bermalam selama beberapa hari.

Image

Ditambah lagi, ketika air banjir yang semakin hari semakin tinggi itu juga merupakan sumber berbagai penyakit. Pada tahun yang sama, karena kehabisan stok makanan (yang biasanya dikiriim secara rutin lewat atap-atap rumah), saya dan keluarga memutuskan untuk mengungsi di kampung yang tanahnya lebih tinggi. Melewati air banjir yang keruh, akhirnya, kulit saya jadi korban. Tumbuh bintik-bintik merah kecil di kaki saya dan rasanya begitu gatal. Namun, alhamdulillah, sekarang semuanya sudah kembali hampir normal; meskipun bintik-bintik merah itu meninggalkan bekas ungu seperti memar yang enggan lesap dari kaki saya hingga saat ini.

Sembilan tahun kemudian (tahun ini), Tangerang kembali disapa banjir. Rasa miris, ironis, sekaligus rindu timbul dalam hati ini. Miris mengetahui bahwa lagi-lagi lingkungan Ciledug Indah harus diterpa cobaan ini. Lebih miris mengetahui bahwa saat air banjir mulai mengganas dan beringsut masuk ke dalam rumah, dan orang-orang di rumah mulai sibuk mengangkat dan memindahkan barang ke tempat yang lebih tinggi, saya tidak disitu. Saya masih berada di Jatinangor, karena menunggu waktu pulang yang tepat (karena jalanan masih banjir). Keadaan lalu berubah menjadi ironis saat mengetahui bahwa di rumah saya hanya ada kedua orangtuaku dan Maya. Ibu dan Bapak, ironisnya, sudah tidak muda lagi; sementara mereka harus mengangkat barang-barang berat tanpa bantuan dari saya atau abang saya, yang juga sedang tidak ada di rumah.

Di sisi lain, saya rindu suasana banjir. Mengingat selama hampir 13 tahun saya hidup di Tangerang; hidup dan besar seiring dengan datang dan perginya bencana ini, setiap kali hujan deras mengguyur tanah Ciledug, dan air-air got mulai meluap, peraaan miris sekaligus rindu itu hadir menggelayut. Entah mengapa. Tiba-tiba, saya teringat akan kerinduan masa kecil untuk lomba berenang menyusuri air bah bersama teman-teman dulu, atau lomba tahan napas di dalam air banjir. Wekkksss. Tidak sadar saya sedang berendam dalam kotoran orang. Hehehe. Terlebih lagi, saya rindu suasana kekeluargaan yang begitu dominan ketika bencana ini tiba. Saya dan keluarga hanya berdiam diri di lantai atas (atau mungkin bersama beberapa tetangga lain), menikmati tenangnya air banjir di lantai bawah. Berkumpul membentuk lingkaran kecil untuk menyantap bersama-sama hidangan nasi bungkus yang dikirim dari kampung atas; mencumbu gelapnya rengkuhan sinar-sinar lilin yang kami pasang di sudut-sudut ruangan setiap malamnya. Subhanallah. Bencana banjir ini membuat tali persaudaraan, yang baik saya dan keluarga maupun keluargaku dan tetangga lain, telah bina semakin erat dan tidak akan rentan untuk putus.

Image

Pelataran dan lingkungan rumah di Ciledug Indah 2 yang sekarang ini terjadi tidaklah membuatku surut atau geger. Meskipun keadaan, kadang-kadang, memaksaku untuk tetap menyangkal bahwa hadirnya bencana ini merupakan salah pemerintah atau ketidakbecusan gubernur dalam mengelola drainase dan saluran air di komplek Ciledug Indah 2, saya harus menyadari bahwa bencana yang didatangkan dari Allah ini tidak lain adalah karena perbuatanku sendiri. Bencana banjir ini adalah cobaan bagi mereka yang selalu mengumpat dan selalu  menyalahkan satu sama lain. Tanpa melihat kembali ke dalam diri. Apa yang sudah diri ini perbuat? Apakah perbuatan yang telah kita lakukan dapat memberi manfaat bagi orang lain, lingkungan, dan bahkan diri kita sendiri?

Saya harus bersyukur karena dengan didatangkannya bencana banjir ini, saya masih tetap bertahan hidup–jauh…jauh lebih beruntung dibandingkan mereka yang rumahnya dilalap habis oleh air bah, harta bendanya ludes disapu kotoran manusia, mobil motornya tenggelam dimakan lautan keruh yang menguning. Saya masih jauh lebih beruntung dibandingkan mereka yang mengungsi, lalu kelaparan, serta ditimpa penyakit yang datang silih berganti. Para lansia, orangtua-orangtua, anak-anak kecil, bahkan bayi-bayi terancam penyakit membahayakan. Semua hal-hal fatal yang padahal, secara tidak sadar, berasal dari mulut dan tangan kita sendiri.

Ujian ini membuat saya harus lebih bersyukur. Membuat saya lebih sadar bahwa saya tidak memiliki apa-apa di dunia ini. Buktinya, hanya dalam beberapa jam saja, harta-benda, mobil-motor, uang, pakaian, buku-buku, dapat ludes diterpa air banjir yang tiba-tiba datang saat tengah malam. Tak pernah ada gunanya menyimpan harta, lalu menahan-nahannya hingga ia tiba-tiba hilang tak ada. Ini membuat saya harus lebih banyak menangis. Ketika ibu dan bapak yang tulang-tulangnya sudah tidak kuat menopang tubuhnya saat mengangkat benda-benda berat, saya harus lebih sadar bahwa betapa berharganya masa muda.

 

Kepadamu, Tangerang
Himawan Pradipta

 

Rintik-rintik hujan yang menderas
Dan menjadi besar
Menyulap kota kecil nun panas
Menjadi gempar

Sadarku ini rintangan
Yang bukan disalahi
Dan disesalkan
Lah untuk direnungi
Dan dicamkan

Kawan, usah rengkuh hartamu
Ia akan hilang
Usah renggang jemarimu
Baik saja kau ulurkan

Tanah ini tanah kami
Yang disapu buih siang dan malam
Bukan kantong sampah yang kau telan
Dan kau kunyah tiap pagi

Tapi ini tanah kami
Tanah anugerah
Yang tak boleh kauhindari
Biar kaurebut kuasa Ilah.

Image

Wassalamualaikum,
Untuk Tangerang; rumahku, sahabatku, tempat tinggalku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s