IN MEMORIAM: Ihsan, Sang Calon Dokter Itu

[Dia-lah] Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. – Alquran. Surat Al-Mulk ayat 2.

Kamis, 16 Januari 2013.

Pagi ini, aku terlempar dalam lorong waktu. Desir-desir halus pikiranku terombang-ambing dalam sebuah masa yang tak seharusnya kuingat-ingat lagi dalam ruang kepalaku. Sejenak beranjak dari rakaat terakhir shalat subuh, air mata ini tak sanggup membuncah mengalir jauh menembus waktu. Pigura itu. Sebuah foto yang beberapa tahun silam diunggah oleh seorang relasi; foto seorang sahabat, saudara sedarah; terpampang di headline koran Pontianak Post dan timeline sebuah media sosial. Di dalamnya, terpampang sebuah gambar seorang anak laki-laki yang masih mengenakan baju putih dan celana abu-abu. Hanya satu. Pose itu. Ia tersungkur mencium lembap aspal, tubuhnya terhenyak membujur, seolah-olah ia habis terhempas sesuatu yang menggilasnya keras. Kuperhatikan tubuhnya gepeng–seolah-olah tak bertulang. Sebuncah darah segar mengalir dari celah-celah kecil kepalanya yang remuk–tulang-tulangnya yang kuat, serta lunak–menyimpan otak jenius yang terlanjur hancur.

Itu Ihsan, sepupuku. Ah, ternyata, pelindung kepala yang ia kenakan di foto itu tidaklah dapat menahan kuatnya gilasan truk besar container yang melaju, melesat tepat menuju motornya yang oleng. Telak seperti seekor gajah mamot yang tidak sengaja menginjak semut merah secara mentah-mentah. Rasanya itu bukanlah kecelakaan; itu pembunuhan.

*

Ihsan, sejauh yang kukenal, adalah sosok yang menutup diri; ia tidak hanya pemalu, tetapi juga cenderung canggung jika berada dalam lingkungan yang bukan “tempatnya.” Ini bisa disebabkan karena ia bukan berasal dari lingkungan hedonis seperti kami kebanyakan anggota keluarga lainnya. Ihsan dibesarkan dan sudah menetap di Nangapinoh, daerah kecil di pelosok Kalimantan Barat, selama kurang lebih lima belas–atau enam belas–tahun bersama kedua orangtuanya, Om Fauzi dan Tante Emi, serta adik kesayangannya, Feby. Lingkungan Nangapinoh yang dikenal masih mengeruk nilai-nilai tradisi lama kebudayaan suku Dayak membuatnya ‘terkungkung’ jika harus berhadapan dengan lingkungan yang berbeda. Namun demikian, hidup yang serba kekurangan dan cenderung lebih berkutat pada alam dan lingkungan sekitar–tidak pada teknologi dan hal-hal membludak yang euforis seperti yang telah merajalela lingkungan dimana aku (dan mungkin teman-teman juga) hidup–tidak membuatnya gentar untuk meraih mimpinya untuk menjadi seorang dokter.

Kesempatanku bertemu dengan Ihsan dan keluarga kecilnya hanya bisa didapati ketika lebaran tiba. Hanya saat lebaran saja. Setiap kali mau nonton bioskop, misalnya, atau pergi karaokean, Ihsan sering menolak, hingga membuat adiknya juga ikut-ikutan tidak ikut, dan lebih memilih untuk berkutat di depan Play Station miliknya atau milik Raka, sepupuku yang lain, sementara kami yang lain asyik pergi ke Mal atau makan-makan di restoran. Ia hanyalah canggung, dan bukan tipe orang-orang yang demikian.

Ihsan adalah anak yang cerdas; ia selalu menempati rangking pertama di kelasnya, begitupun Feby: bintang kelas di SD-nya di Nangapinoh. Seringkali, tanpa sadar, Raka dan anggota keluarga yang lain–termasuk aku–mengejek mereka dengan lontaran bopong ‘bocah kampung’ dengan nada tinggi yang diikuti dengan gelak tawa. Lantaran tidak mengerti (karena perbedaan bahasa), mereka hanya membalas umpatan itu dengan senyum dan tawa, meskipun sebetulnya itu ejekan pahit.

*

Tak bisa kubayangkan jarum tajam dan panas yang menghujam jantung Tante Emy sejurus ketika mengetahui anak sulungnya terlindas container. Om Fauzi sekiranya tampak sudah mengikhlaskan kepergian anak kesayangannya itu, meskipun berat dalam dada, namun Allah pasti telah mempersiapkan rencana yang lebih baik untuk kehidupan orangtua dan Ihsan sendiri, pikirnya. Ambisinya yang luar biasa untuk mengemban profesi sebagai seorang dokter mau tidak mau harus kandas begitu saja. Apa salahnya? Aku sempat bertanya-tanya apa yang sebelumnya terjadi hingga menjadi seperti itu? Matinya sungguh mengenaskan. Wallahu’alam. Feby, dengan nada gentar dan sedih, sering bercerita kepada anggota keluarga yang lain tentang peristiwa-peristiwa apa saja yang terjadi setelah abang kesayangannya itu meninggalkan kami selama-lamanya.
Ndak ade yang ajari Feby berhitung lagi,” ucapnya dengan nada lirih, dengan logat Melayu Nangapinoh yang kental, membuat atmosfer menjadi sendu.
Atau beberapa kali, setiap kali ibuku bertanya bagaimana keadaan Mama’ (sebutan untuk Ibu di Pinoh), Feby menjawab, “Ibu ndak mau makan, Tante. Nangis terus ingat abang.”

*

Sebelum kejadian mengerikan itu terjadi, Om Fauzi, padahal, baru beberapa hari yang lalu membelikan (atau memperbolehkan) Ihsan untuk naik motor bebek sebagai sarana transportasi pulang-pergi sekolah; mengingat lokasi SMA-nya yang cukup jauh dari rumahnya. Ayahnya itu bercerita, sebelum Ihsan meninggal, Om Fauzi sering mengajar Ihsan bagaimana cara mengemudi motor yang baik dan benar di tempat yang tidak jauh dari rumah. Sekolahnya dibatasi oleh sungai, sehingga jika ingin berangkat sekolah, Ihsan dan kawan-kawannya harus menyeberangi sungai itu dengan kondisi yang seadanya. Mau tidak mau, ia dengan rela berenang melalui sungai itu pagi-pagi agar tidak terlambat masuk kelas. Subhanallah. Betapa besar semangatnya untuk tetap mencari ilmu, meskipun setibanya di sekolah, ia harus belajar dengan keadaan yang menyedihkan: pakaian sekolahnya basah, beberapa bukunya terciprat air, dan pulang sekolah, ia sering masuk angin. Tapi, api semangatnya terus membara demi cita-citanya untuk menjadi seorang dokter.

Benang asa yang telah ia rajut setinggi harapannya untuk mengemban profesi mulia haruslah putus di awang-awang atmosfer kelam. Ihsan telah mengukir prestasi di atas batu rijit yang kini telah pupus menjadi air beriak. Sepeninggalannya, Febylah penerus masa itu: perajut benang yang sempat terputus di atas awan, pengukir indahnya prestasi sebuah perjuangan. Ialah yang sekarang memegang pena harapan yang dulu abangnya tak sempat torehkan. Mungkin, kematian adalah hal tersulit dan terberat untuk diterima bagi mereka yang mencintainya, tetapi Tuhan Yang Maha Menghidupkan dan Menghidupkan pastilah punya rencana yang jauh lebih indah. Ia pasti telah mempersiapkan segala sesuatu yang terbaik untuk Ihsan, keluarganya, dan orang-orang yang menyayanginya. Sekarang, yang tersisa hanyalah penyesalan dan kehampaan bagi kami, saudara-saudaranya, yang sering mengejek Ihsan dulu. Dalam usia yang semuda, seaktif, dan seproduktif itu, ia harus pergi meninggalkan kami semua terlebih dahulu; meninggalkan prestasi dan luka yang secara bersamaan yang ia sengaja torehkan dalam kertas putih hidupnya. Singkat. Hidup itu singkat. Keadaan ini membuat kami–terutama aku–makin menyadari bahwa kematian dapat menjumpai kita kapan saja, dimana saja, dan dalam kondisi apa saja. Tidak ada batasan akan umur, waktu, dan jangka. Hanya amal perbuatan baik, dan amal perbuatan buruk.

Ya Allah Yang Maha Berkehendak, berikanlah Ihsan tempat yang terbaik di sisi-Mu, sekiranya apa-apa yang telah kami katakan dan lontarkan baik itu dengan sengaja maupun tidak, engkau ampuni. Sesungguhnya tidak ada sedikitpun niat kami untuk benar-benar mencelanya; dan Engkau Maha Adil, Ihsan justru tersenyum dan ikut tertawa bersama kami meskipun kami mengejeknya.

 

Ya Allah Yang Maha Mencintai, berikanlah keluarga yang ditinggalkan, Om Fauzi, Tante Emy, Feby, dan kami segenap anggota keluarga yang mencintainya dengan penuh, ketabahan dan kesabaran agar dapat menerima keputusan final-Mu yang pahit, namun indah ini.

Selamat jalan, Ihsan.
Kami sayang padamu.
Terimakasih Ya Allah; telah membukakan mata kami untuk tetap waspada dan tidak menyia-nyiakan hidup yang berharga ini. Insya Allah.

Image

ImageImage

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s