Bersyukur Itu Lebih dari Segalanya

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.Al-Qur’an, Surat Al-Ma’arij ayat 19.

Assalamu’alaikum wr.wb.
Alhamdulillah, kita masih diberikan kesempatan untuk menikmati nikmat-nikmat Allah yang setiap detik Ia berikan: nikmat iman, islam, dan sehat wal afiat. Adapun karena-Nya, teman-teman masih diberikan kesempatan untuk membaca postingan ini.

Teman-teman, seringkali kita merasa bahwa kita adalah manusia yang sempurna. Masih banyak orang yang beranggapan bahwa–seperti dikutip dalam surat Al-Araf ayat 179–manusia adalah manusia yang paling sempurna. Ya memang! Hanya penciptaannya yang paling sempurna dibandingkan makhluk-makhluk yang lainnya. Hanya bentuknya saja.

Dalam dunia globalisasi ini, seringkali kita mengklaim bahwa apapun yang kita miliki, baik harta, uang, pakaian, jabatan, maupun tubuh ini, adalah sepenuhnya milik kita. Sehingga, rasanya sungguh berat untuk bersedekah. Pernahkah teman-teman berpikir bahwa uang adalah satu dari berbagai bentuk material yang paling sulit untuk dikeluarkan? Atau–dalam kasus ini–disedekahkan? Pernahkah teman-teman memperhatikan bahwa kita lebih senang menggunakan uang kita untuk makan di tempat yang mewah, membeli baju-baju yang sebetulnya tidak terlalu dibutuhkan, atau menonton film. Sungguh tidak adil jika kita rela untuk menghabiskan uang kita untuk hal-hal seperti itu dalam jumlah yang besar, tetapi ketika melihat seorang pengemis tua, hanya uang-uang receh sisa yang kita berikan, itupun dengan tidak melihat sekilas ke arahnya. Astaghfirullahul adzim. Meskipun tujuan itu semua adalah untuk pemenuhan hasrat hiburan, tetapi alangkah lebih baiknya jika kita mendahulukan orang-orang yang membutuhkan.

Hal ini tentu akan menyebabkan kita kikir dan enggan untuk bersedekah. Sabda rasul, “dahulukanlah akhirat, maka dunia kaudapat” sepertinya sudah hilang dalam keberagaman dunia yang hedonis. Sama halnya dengan perkembangan teknologi. Kehadirannya yang begitu pesat dalam era globalisasi tidak selamanya memberikan dampak positif bagi keberlangsungan hidup manusia. Ya, memang, komputer, gadget, dan alat komunikasi lainnya mempermudah pekerjaan manusia; mereka dapat ‘melibas jarak dan waktu’ antara satu orang dengan yang lainnya melalui atmosfer yang telah dianugerahi oleh Allah Azza wa Jalla. Tapi, pernahkah teman-teman berpikir bahwa keberadaan teknologi–apalagi bagi mereka yang sudah kecanduan dan sulit untuk melepaskan teknologi dari kehidupannya–menghancurkan kita secara perlahan-lahan? Ia tidak hanya menghabiskan waktu kita (tentu tidak jika menggunakannya dengan hal-hal yang positif) berjam-jam untuk games, video-video haram, dan yang lainnya; melupakan tugas kita untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah, tetapi juga, pada saat yang bersamaan, mengikis iman kita menjadi tipis…dan semakin tipis.

Orang-orang borjuis yang cenderung dalam kehidupan yang hedonis rasanya tidak puas dengan barang-barang yang sudah mereka miliki. Melihat teman atau orang lain yang menggunakan gadget yang lebih canggih atau lebih catchy, membuat mereka iri dan down karena gadget yang mereka miliki tidak sebagus milik mereka. Nauzubillah. Miris betul rasanya jika harus memperhatikan masalah-masalah tipis iman seperti itu, sehingga banyak orang yang mengeluh karena hal-hal yang sebetulnya tidak perlu dikeluhkan. Mereka tidak mempergunakan dengan baik titipan material yang Allah berikan berupa uang yang mereka habiskan untuk hal-hal yang tidak penting. Lalu apa? Mereka akhirnya menuhankan popularitas: membeli hal-hal yang tidak berguna sama sekali dengan maksud untuk beribadah kepada Allah, dan lalu dipamerkan kepada orang lain yang mereka tidak kenal, yang padahal adalah sumber kesengsaraan.

Teman-teman, apapun yang kita miliki sebenarnya adalah titipan dari Allah yang harus kita jaga dan pertanggungjawabkan di akhirat kelak. Kita harus sepenuhnya sadar bahwa kita tidak memiliki apa-apa. Kita tidak mau berpikir bahwa kenikmatan yang kita rasakan sekarang, belum tentu dirasakan oleh orang lain diluar sana. Masih banyak orang-orang yang tidak memiliki indra penglihatan seperti yang teman-teman sedang sekarang rasakan, atau tidak memiliki tangan dan jari-jari yang lengkap seperti yang teman-teman sekarang sedang pergunakan dengan lihainya untuk memencet mouse atau menekan keyboard.

Pernahkah kita setidaknya merenung bahwa keberadaan kita adalah ni’mat yang tidak dapat digantikan dengan harga setinggi apapun? Sudahkah kita menyendiri dari kesibukan dunia dan kebisingan orang-orang dari obrolan yang tidak penting untuk memikirkan penciptaan diri kita?

Allah, dengan cinta-Nya, menganugerahkan ni’mat indra penglihatan berupa mata untuk makhluk-Nya. Alangkah lebih indah jika kita mau lebih bersyukur atas apa yang sekarang kita miliki. Bayangkan jika kelopak mata ini dibuat berhenti berkedip, atau air mata ini habis, atau alis mata ini terkikis hingga tipis? Bayangkan jika keluar dari ruangan ini, Allah menguji kita dengan mengirim truk yang melaju dengan kencangnya untuk menabrak kita? Astaghfirullah. Sungguhlah kita tidak memiliki apa-apa. Tubuh dan jiwa ini hanyalah milik Allah semata.

Mungkin kita tidak pernah menyadari seberapa berharganya satu jiwa di hadapan Allah, atau mungkin kita tidak pernah menyangka bahwa hal-hal kecil, seperti nafas, detak jantung, urat nadi, dan hal-hal kecil lainnya, merupakan karunia besar yang tidak boleh kita lupakan untuk disyukuri. Allah sungguh tidak pernah silau akan harta, jabatan, atau uang yang kita miliki, tetapi kualitas takwa dan bagaimana kita mengamalkan takwa itu dengan iman dan penuh kesadaran bahwa kita semua–cepat atau lambat–akan kembali ke sisi-Nya. Dan satu cara untuk menyadari itu semua adalah dengan bersyukur. Cukup dengan bersyukur.

Insya Allah, dengan bersyukur atas apa yang sudah kita miliki, yang kita dapatkan, dan apa yang belum kita dapatkan, Allah akan membalasnya dengan ganjaran yang jauh, jauh lebih baik.

Insya Allah.
Jadi, sudahkah kalian bersyukur?

Merenunglah. Hidup hanya sedetik, lalu berarti, lalu ia berakhir hanya dalam sekejap mata.

Wassalamu’alaikum wr.wb.

One thought on “Bersyukur Itu Lebih dari Segalanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s