Poor, poor Emilio…

Dangerous Minds Poster
Dangerous Minds Poster

Pernah nonton film Dangerous Minds-nya Michelle Pfeiffer? Di film itu, ada satu scene dimana Louanne, diperankan oleh Pfeiffer, ngamuk karena salah satu muridnya, Emilio, dikeluarkan karena gak ngetok pintu sebelum masuk ke ruangan kepala sekolah. Beberapa saat kemudian, dia terbunuh tepat pas dia keluar dari gedung sekolah gak jauh dari pelataran sekolah. Entah apa yang ada di pikiran si kepala sekolah waktu itu karena rasanya mengeksekusi segala sesuatu berdasarkan hal subjektif aja tentu gak etis. Buat yang udah nonton filmnya, mungkin ngerti kalo Emilio pada saat itu lagi ada dalam masalah–dia dikejer-kejer sama satu algojo karena punya hutang besar waktu dia dipenjara beberapa tahun lalu, dan tau kalo kehidupan sosial yang dialami remaja-remaja Amerika–dan kebanyakan dari kaum kulit hitam–yang bersekolah pada waktu itu emang bermasalah. Mereka gak peduli orang mau ngomong apa, mereka mau ngelakuin apa, gurunya mau jelasin apa, temen-temen mereka asalnya darimana. Mereka gak mau tau itu. Mereka cuma tau bahwa sekolah itu sama kayak kehidupan yang mereka jalani di kehidupan sehari-hari. Akhirnya, yang mereka tau cuma kekerasan, seks, dan konsumsi obat-obatan terlarang.

Setelah kejadian yang bikin temen-temen di kelasnya ini terkejut, Louanne otomatis gak mau tinggal diam. Dia seringkali merenung di kelas daripada ngajar. Inilah salah satu fenomena dalam masyarakat–khususnya pada masa itu–yang jadi topik kontroversial. Cuma karena satu anak–yang notabenenya semua orang tau bahwa dia berlatar belakang dengan keluarga dan kehidupan yang bermasalah–yang gak ngetok pintu sebelum masuk ke ruang kepala sekolah, langsung dikeluarin. Ketidakpedulian. Keapatisan. Orang-orang di sekolah/instansi pendidikan yang cenderung menganggap remeh murid-muridnya karena berbagai hal rasanya sulit dihindari. Dari yang pengeluaran siswa bahkan sampe kematian.

Emilio

Serentetan kejadian tragis dan gak masuk akal itu bisa kita lihat sehari-hari, entah di sekolah, kampus, atau perusahaan, dari cara orang-orang yang melayani siswanya dengan gak membalas salam dari siswa ketika masuk, atau gak menatap mata langsung si siswa sambil pura-pura ngerjain atau ngeberesin sesuatu, dan bahkan si siswanya lagi ngomong, dia malah asyik natap layar komputer. Hal ini, kata Louanne, yang justru memancing siswa-siswa kebanyakan jadi pendendam, perusak, bahkan pembunuh. Kebanyakan siswa di film Dangerous Minds yang udah punya masalah sosial di lingkungan keluarga dan teman-temannya, sekarang justru malah diperburuk dengan perlakuan di lingkungan sekolah. Pantes aja, kelakuan siswa-siswa waktu itu ga ada yang bener.

Hal serupa kejadian sama gue. Hari Sabtu, 22 Desember 2012, gue diundang untuk ngisi acara Table Manner yang diselenggarakan oleh KPM (Korps Protokoler Mahasiswa) UNPAD, tepatnya di Hotel Aston Primera, Bandung. Gue harus main piano dan gak ada piano yang bisa dipake waktu itu. Satu-satunya tempat yang nyediain piano itu ada di gedung PSBJ (Pusat Studi Bahasa Jepang) FIB, dan untuk main, harus minta surat ijin dari pihak yang berwenang. Akhirnya, beberapa hari kemudian, gue datenglah ke kantor Pembantu Dekan III untuk minta surat ijin. Sayangnya, di ruangan itu, cuma ada asisten beliau.

Pas gue masuk–setelah ketok pintu dan ngucapin salam–hal serupa yang terjadi sama Emilio di film Dangerous Minds terulang lagi.

Pas gue berdiri di ambang pintu, bapak ini langsung nyibukkin diri dengan pura-pura ngeberesin dokumen-dokumen setebel novel Harry Potter yang terakhir. Kacamata beliau menggantung di sudut-sudut matanya, entah ngeliat apa, dan tetep nunduk pas gue berdiri di depan mejanya. Dengan sesopan mungkin, gue jelasin sedikit panjang lebar tentang acara hari Sabtu. Beliau cuma kayak ngintip dan rasanya berat untuk mendongakkan kepala cuma buat ngeliat muka gue. Ngeliat hal itu, gue minta ijin untuk pake piano dengan nada yang lebih rendah. Dengan nada yang agak apatis dan, lagi, buang muka, beliau bilang kalo gue harus ketemu dulu sama PD III langsung, baru boleh pake. Akhirnya, gue keluar dan hopelessly berjalan keluar gedung A tanpa sepatah kata apapun.

Gue berusaha untuk ga gondok atau kesel, tapi kemasabodohan si bapak tadi yang masih bikin kepala ini gak habis pikir. Ya seenggaknya mereka sebagai bagian yang melayani seluruh mahasiswa FIB gak seharusnya berperilaku apatis dan ga peduli seperti itu. Gue ga ngebayangin udah berapa banyak mahasiswa/i yang dilayani dengan perilaku kaya gitu? Mungkin aja sebagian dari mereka, karena ngeliat perilaku asisten pelayan mahasiswa yang kaya gitu, jadi males dan cenderung masa bodoh juga. Atau bahkan sampe ada yang trauma.

Meskipun sepele, tapi masalah yang kayak gini ternyata bisa mempengaruhi kondisi psikologis seseorang juga, kan? Alhamdulillah, keluar dari ruangan itu gue masih bisa kontrol diri untuk gak gondok, tapi gimana yang lain? Inilah satu dari sekian banyak hal sepele yang sering diremehkan, tapi sangat penting dalam keberlangsungan kehidupan manusia: kepedulian. Apa sih susahnya ngeliat mata lawan bicara kita? Emangnya sulit kalo cuma mendongakkan kepala sejenak agar konversasi bisa berlangsung? Kecuali, lo punya masalah di bagian leher dan tulang-tulang kepala. Emang susah untuk menghargai lawan bicara kita dan menganggap mereka sebagai orang yang penting? orang yang patut untuk didengar dan direspon? Kayaknya nggak.

Tatap lawan bicaramu! Hargai dia. Jadikan ia sebagai orang penting, lebih penting dari apapun ketika sedang berbicara. Sebelum semuanya menjadi tragis seperti Emilio yang terbunuh karena tidak mengetuk pintu ruangan kepala sekolah sebelum masuk. Sebelum kita ‘terbunuh’ karena hal-hal yang sebetulnya sepele. Poor, poor Emilio…

Hargai lawan bicaramu. Dengan begitu, kau juga akan menjadi penting bagi mereka.
Hargai lawan bicaramu. Dengan begitu, kamu juga bisa dihargai mereka.
Hargai lawan bicaramu. Dengan begitu, kamu tau siapa diri kamu sebenarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s