Ada Yang Berganti Setiap Tanggal 17

Desember…ah…rasanya seperti kembali ke 17 tahun yang lalu. Tepat tanggal 17 pukul 17. Seorang wanita setengah umur sedang berusaha mengeluarkan jabang bayi yang ingin cepat-cepat keluar dari rahimnya, tempat peristirahatannya. Keringatnya terasa manis dikecap lidah ini, bulir air matanya yang menahan kesakitan terasa ranum dikecup, raungnya yang menggila terasa indah dalam sanubari. Subhanallah. Dia Sungguh Maha Merencanakan. Semua penderitaan itu, tangis itu, teriak itu dan air mata itu semua terbayar sudah dengan suara tangis seorang bayi laki-laki yang baru singgah ke dunia. Dalam lelah dan enyuh, wanita itu berbisik di telinga si bayi, “Ya Allah, jadikanlah anak ini anak yang sholeh.” Tanpa terasa, air mata wanita, yang kini sudah menjadi ibu, jatuh ke atas pipi bayi itu, yang masih lunak dan lembut.

Waktu berjalan cepat. Semua terasa hingar-bingar. Sebuah keadaan memaksa dua orang anak manusia yang semakin tumbuh dewasa, menjulang tinggi, dan mengenal dunia lebih dekat ke dalam dunia yang tidak pernah mereka singgahi. Tahun berganti tahun, umur anak itu terus bertambah. Berubah matang dan siap. Ia siap untuk menantang dunia yang lebih keras dan lebih perih dibanding penderitaan yang ibunya harus rasakan sewaktu melahirkannya. Ia berjanji, “Bu, akan kubahagiakan dirimu dan Bapak, suatu saat nanti.”

Kata-kata kasar dan ocehan-ocehan tak berdasar tidak sengaja terlontar dari mulut ini. Mencaci dan menghina. Entah setan apa yang merasuk, sosok apa yang menjelma menjadi sosok diri ini, aku. Meskipun penyesalan itu selalu datang pada akhirnya, tetapi kehendak untuk mengucapkan kata ‘maaf’ rasanya tidak pernah terwujud, kecuali ketika momen-momen hari raya Islam dan hari-hari raya besar lainnya. Betapa menyedihkan. Sesal, lalu jijik pada diri sendiri.

Terkadang, aku merasa hebat dan lebih pintar dari mereka. Tak pernah kupedulikan kata-kata manis mutiara yang selalu terucap setiap kali nilai ulanganku tidak sebagus yang kuharapkan. Terlebih lagi, jika nilaiku sudah hancur, tetap saja aku kekeuh ingin membeli barang-barang insidental yang sebetulnya tidak perlu, tetapi akhirnya mereka memenuhi apa yang kumau. Astaghfirullah. Rasanya sudah lebih dari banyak dosa-dosa yang harus kutanggung dan kupertanggungjawabkan di akhirat kelak. Aku bingung akan menjawab apa nanti, untuk apa masa mudaku kugunakan, kemana saja dua kaki ini telah melangkah, kata-kata apa saja yang telah kulontarkan kepada dua orang yang memiliki derajat paling tinggi di hadapan Allah. Aku tidak tahu. Sungguh.

Tetapi waktu terus berjalan. Aku selalu sadar bahwa Allah Maha Pengampun. Setiap malam, ujung sutrahku basah karena tetesan air mata yang tak kunjung berhenti menangisi dan menyesali perbuatan-perbuatanku yang rasanya tak pernah diampuni, mataku berubah sembap. Aku baru sadar bahwa mereka sudah memaafkanku setiap kali aku khilaf. Setiap kali aku berontak marah, kesal, dan tak pernah nurut, aku selalu berpikir bahwa mereka membenciku. Mataku ternyata tertutup. Ibu dan Bapak begitu mencintaiku.

Tujuh belas tahun sudah penantian ini kuhadapi. Aku seolah-olah merasakan penderitaan yang ibuku rasakan sewaktu hendak melahirkanku. Saat beliau hamil tua, dan beberapa hari lagi jabang bayiku akan segera mencumbu atmosfer dunia. Seolah-olah aku bisa mendengar ibu yang sesekali meringis kesakitan karena kakiku yang nakal menendang-nendang hendak keluar dalam tidurnya setiap malam, membuatnya harus terjaga hingga pagi menjemput. Mendengar bisik-bisik doa Bapak yang setiap malam selalu berharap bahwa aku akan jadi anak yang sholeh kelak. Merasakan sakitnya ibu yang berbaring telentang sementara bayi ini tidak mau diam–tidak sabar melihat senyum pertama ibuku.

Beberapa hari lagi, umurku bertambah satu. Angka ‘7’ pada umurku sekarang bertingkat menjadi angka ‘8’. Aku naik tingkat, naik kelas, naik jabatan. 17 ke 18. Subhanallah. Waktu berjalan begitu cepat. Dari titik ini, tidak hanya perasaan senang dan gembira yang sedari tadi menghantui mimpi-mimpiku setiap pagi, tetapi juga perasaan sesal dan sedih yang terus-menerus membayangi buku-buku pelajaran kuliahku. Selalu teringat ibu….selalu teringat Bapak…dan saudara-saudara di rumah.

Bertambah umur tidak hanya bertambah dewasa, tetapi juga bertambah kesadaran untuk terus berkaca pada diri ini. Introspeksi diri bahwa apakah tujuh belas tahun yang panjang itu layak untuk diperjuangkan? Bertambah umur artinya umurku di dunia semakin bertambah, tetapi juga terus berkurang. Bertambah–diberi kesempatan lebih oleh Allah untuk mengenal diri lebih dalam, dan berkurang–diberi kesempatan yang lebih sedikit oleh Allah untuk lebih giat beribadah dan mendekatkan diri pada-Nya. Karena aku tidak tahu kapan aku akan meninggal. Sedetik lagi? Semenit lagi? Wallahu’alam.

Maaf, Bu, Pak. Jika anakmu telah khilaf dalam segala hal, karena sesungguhnya, dalam nasihatmu dan omelanmu, terdapat sebuah pesan mendalam dan tak ternilai harganya daripada apapun. Semoga di umur 18 ini, semua impianku dan impian kalian dapat terwujud dengan kehendak-Nya dan keindahan jalan hidup yang telah Ia buat untuk kita semua.

 

Image

 

Untuk Ibu dan Bapak,

Dari anakmu, Himawan Pradipta.

 

 

 

Image

Jatinangor, 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s