Suuzon Pada E-commerce: Pantas atau Tidak?

Sudah cukup lama saya memimpikan ingin membeli buku Muhammad Al-Fatih 1453 karya Ustadz Felix Siauw. Buku bersampul kuning ini rasanya sungguh sulit ditemukan. Saya sudah mencari dari toko buku yang ada di pinggir jalan di sekitar kampus, hingga toko buku yang sudah punya nama sekalipun, tetap saja buku itu tidak tertangkap mata saya. Salah satu faktor penyebab kelangkaan buku (yang katanya) luar biasa, penuh ghirah (semangat) islami, dan membangkitkan jiwa pemuda ini mungkin karena nama penerbit yang belum banyak diketahui khalayak: Pasar Khilafah. Tidak seperti penerbit-penerbit yang sudah bergengsi dan sudah melekat di hati kebanyakan masyarakat, seperti Gramedia, Elex Media, dan sebagainya.

Namun, saya tidak menyerah. Keinginan saya untuk mendapatkan buku itu terus bergejolak. Tidak ada di toko buku, akhirnya saya memutuskan untuk mencari info di internet. Dan alhamdulillah ada! Di salah satu akun Facebook penulis, tercantum kepada siapa saya harus memesan buku itu. Setelah mencatat nomor Contact Person yang tercantum, saya segera menghubunginya melalui sms. Dengan sesopan mungkin, saya langsung bilang bahwa saya tertarik dengan buku tersebut dan apakah memungkinkan agar pengiriman dapat dilakukan ke Jatinangor (tempat saya menetap sekarang). Lalu, tidak sampai 3 menit, sebuah sms masuk dari nomor itu. Beliau menjelaskan kisaran harga buku sekaligus ongkos kirim ke Jatinangor, dan mencatumkan nomor rekening untuk saya transfer dengan jumlah yang sudah tertera.

Awalnya, saya agak ragu untuk melakukan transaksi seperti ini. Jual-beli online. Aduh! Otak saya membayangkan: rasanya sudah cukup saya mendengar keluhan-keluhan teman-teman saya ketika mereka ditipu karena e-commerce ini. Mereka sudah membayar dalam jumlah sesuai dengan harga barang yang mereka ingin beli, pihak penjual berjanji untuk mengirimkan dalam kurun waktu tertentu, tapi bahkan hingga batas waktu yang ditentukan, barangnya tidak sampai ke tangan pemesan. Ini menjadi salah satu faktor mengapa saya agak ragu untuk melakukan e-commerce. Apa memang harus membayar di rekening terlebih dahulu? Memangnya tidak bisa kalau dibayar di tempat saja? Biar lebih realistis dan tidak ada kecenderungan untuk melakukan penipuan. Dengan singkat, saya bilang bahwa saya akan transfer besok.

Keesokan harinya, beliau meng-sms saya, bilang “Apa sudah antum kirim uangnya? Tolong kabari jika sudah melakukan transaksi dan kirim alamat antum.” Saya mencoba sebisa mungkin untuk tidak suuzon pada orang tersebut, kebetulan juga pulsa saya untuk membalas sms-nya yang terakhir tidak cukup, jadi masih bisa untuk saya berpikir dua kali untuk membeli bukunya. Sepulang kuliah jam terakhir (sore), saya sudah meniatkan bahwa setelah ini harus ke ATM Center untuk mentransfer uangnya, kemungkinan besar dia sudah menunggu-nunggu–takutnya dia berpikir saya hanya main-main untuk membeli buku itu. Namun, sebelum saya berpikir lebih lama, sebuah sms masuk: “Maaf, Al-Fatih lagi kehabisan stock. Jangan kirim dulu uangnya. Nanti kalau sudah ada, saya kabari antum. Afwan.”

Wah! Hampir saja!

Untung saya belum mengirim uangnya. Mengapa telat sekali mengecek stock bukunya? Mengapa dia tidak mengecek persediaan bukunya saat saya pertama kali saya ingin memesan? Artinya waktu pertama kali saya meng-sms dia, dia langsung respon saja, bukan? Pertanyaan-pertanyaan itu saya coba hilangkan pelan-pelan karena saya takut suuzon kepada hal-hal yang belum terjadi. Tapi, bagaimana ini? Kalau saya sudah mengirim uangnya dan ternyata tidak ada bukunya? Astaghfirullah. Saya suuzon lagi, kan. Hehehe.

Sekarang, saya masih bimbang apakah benar-benar akan membeli buku itu dengan mentransfer uang saya, atau tidak? Dan memutuskan untuk pergi ke toko buku manapun, asal dapat. Entahlah. Tapi, mungkin saya akan coba untuk menghubungi orang itu terlebih dahulu. Untuk hasilnya? Wallahu’alam. Serahkan pada Allah saja. Setidaknya, saya berniat baik untuk membeli bukunya. Masalah dikirim atau tidak? Itu perkara dia dengan Allah kelak.

E-commerce…oh e-commerce... Kalau pihak penjual itu jujur, dan barang dapat dikirim secara utuh ke tangan pemesan, maka Alhamdulillah. Namun, jika yang terjadi sebaliknya? Apakah pantas kita ber-suuzon dalam hal ini?

One thought on “Suuzon Pada E-commerce: Pantas atau Tidak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s