Pemuda Berkaki Satu Itu…

Bismillahirrahmanirrahim.

Kesempurnaan adalah musuh kita sendiri. Kesempurnaan juga bisa menjadi obat, sekaligus penawar pada hati yang berkecamuk. Kesempurnaan bahkan bisa menjadi kelam dan jahat jika kita tahu bahwa sesungguhnya tidak ada yang sempurna di dunia ini.

Kalo nggak salah dua minggu yang lalu, gue dan teman-teman sekelas shalat Jumat di Masjid Ibnu Sina, UNPAD. Masjid ini bisa dibilang salah satu masjid inti yang ada di kampus karena selain tempatnya yang besar, halamannya juga cukup luas untuk melakukan aktivitas-aktivitas lain. Azan sudah berkumandang. Sebagian ruangan utama masjid sudah terpenuhi oleh para mahasiswa pas gue masuk. Beberapa ada yang lagi baca Alquran, nyempetin diri untuk tidur, baca buku-buku pelajaran, bahkan beberapa masih ada yang ngumpul sama mentornya untuk diberikan materi. Gue duduk di barisan paling depan. Shaf depan itu masih terlihat renggang karena waktu shalat belum mulai. Sambil nunggu khatib naik mimbar, gue sempatkan diri untuk tilawah.

Shalat pun dimulai, dan pemandangan luar biasa ini terjadi.

Pas gue berdiri dan mulai merapatkan barisan di shaf pertama, tiba-tiba seorang pemuda dari barisan belakang langsung masuk ke shaf pertama, beliau berdiri tepat di samping kiri gue. Sekilas, semuanya terasa cepat aja karena semuanya kelihatan lagi berdiri. Begitu imam takbir dan kami beralih ke posisi rukuk. Subhanallah! Pemuda di sebelah gue itu ternyata kakinya cuma satu! Kaki kirinya gak ada. He’s like half-limbless. Awalnya, gue agak kaget karena pemandangan macam ini pernah gue liat sebelumnnya, tapi cuma sekadar di foto yang di-share sama salah satu rekan gue di Facebook. Sekarang gue menyaksikan sendiri pengalaman ini.

Selesai shalat, setelah beberapa mahasiswa keluar meninggalkan masjid, menyisakan beberapa orang aja di dalem masjid, pemuda itu bangun dan beranjak untuk ngambil tasnya. Sambil dzikir, gue coba perhatikan gimana dia jalan dengan (maaf) gerakan seperti meloncat-loncat. Beliau bahkan gak menggunakan alat bantu! Yang bikin gue heran, gak ada orang yang ngebantu pula. Gue merhatiin gimana beliau menuruni anak-anak tangga (dari pekarangan masjid ke jalanan kampus itu harus turun tangga dulu–yang jaraknya lumayan jauh dan tinggi juga) dengan seimbangnya. No stick, no people helping, just with one, bare, magical foot.

Dari balik kaca masjid ini, gue merenung. Sudah sempurnakah diri ini? Masih pantaskah diri ini menyombongkan diri? Untuk apa disombongkan, toh semua itu akan gak dibawa ke dalam tanah kelak? Karena dunia dan akhirat hanyalah kuasa-Nya, harta-Nya. Dunia ini tidak lain hanyalah debu kecil tak kasatmata yang terbang disapu hembus kelembutan-Nya. Atom mikroskopis dari kerajaan-Nya Yang Maha Luar Biasa. Allahuakbar.

Seorang pemuda dengan satu kaki mampu menaiki dan menuruni anak-anak tangga Masjid Ibnu Sina yang cukup banyak jumlahnya hanya untuk beribadah kepada Allah. Beliau gak malu, sedih, atau berkecil hati. Melihat peristiwa ini, gue ngaca sama diri sendiri kalo setiap ada azan, kadang ragu mau ke masjid, atau bahkan gak ke masjid sama sekali. Gue malu sama diri sendiri, beliau yang–maaf–kurang dari segi fisiknya gak mau menjadikan kekurangan itu sebagai hambatan untuk mendekatkan diri pada Allah. Sementara gue, yang masih dikasih anggota tubuh lengkap aja kadang masih suka melalaikan shalat, dan lebih suka sama kehidupan dunia, padahal neraka sudah di depan mata. Astaghfirullahal Adziim.

Kejadian ini bikin gue harus lebih bersyukur karena masih diberikan nikmat anggota tubuh yang tak ternilai harganya. Lebih dalam lagi, gue merenung bahwa apa ya yang selama ini anggota-anggota tubuh ini udah lakukan? Apa yang udah tubuh ini kontribusikan untuk Allah? Lebih sering untuk ibadah atau melakukan hal-hal maksiat? Yang padahal kita tahu bahwa Allah selalu mengawasi kita dimanapun dan kapanpun kita berada.

Sebuah peristiwa yang membuat gue selalu sadar bahwa hidup ini adalah untuk disyukuri. Apa yang terjadi kalo misalnya kita yang gak punya kaki–atau tangan? Apa yang akan kita lakukan? Bersedih? Menyesal? Kesempatan sekarang ini sungguhlah nikmat Allah yang tak mungkin bisa dibayar dengan harga yang paling tinggi sekalipun. Mari contoh dan tarik pelajaran dari pengalaman ini. Jangan mengeluh, kawan-kawan. Contoh seorang pemuda yang dengan semangatnya naik-turun tangga masjid namun tidak pernah merasa lelah. Contoh beliau yang tidak pernah merasa malu ketika  ada suara-suara halus dan desir-desir cemooh dari belakangnya. Ambil pelajaran dari orang-orang di sekeliling kita. Semoga kita diberikan jalan untuk lebih dekat kepada-Nya lewat makhluk-makhluk-Nya. Insya Allah.

Masih maukah kita menyombongkan diri dan melupakan Allah?

Renungan ini, gue tutup dengan surat An-Najm ayat 60 dan 62, yang artinya:

Dan kamu menertawakan dan tidak menangis? Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)

 

Wassalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s