SWIS 2012: Penggugah Hati, Pembangun Jiwa Islami

Setiap pagi adalah lembar baru dalam buku kehidupan. That’s what they say. Hari Sabtu dan Minggu, tepatnya tanggal 24 dan 25 November 2012 gue dapet sebuah pengalaman luar biasa yang insya Allah akan merubah hidup gue ke depannya. SWIS (Studi Wisata Islami) nama acaranya. Acara ini dilaksanakan sama kader-kader DKM (Dewan Kemakmuran Mahasiswa) Al-Mushlih FIB UNPAD. 

 

HARI 1: Sabtu, 24 November 2012.

Kami berkumpul di halte bus Damri di deket gerbang lama Universitas Padjadjaran. Setelah semua peserta dan panitia berkumpul, kami langsung berangkat naik bus jurusan Bandung-Garut. Selama kurang lebih dua jam perjalanan menggunakan transpor sambung-menyambung bus dan angkot, tibalah kami di sebuah vila sederhana di kawasan Desa Wanajaya, Kota Garut. Kami mendapat sambutan yang cukup hangat dari para peserta dan panitia yang sudah berada di vila sehari sebelumnya (karena seharusnya acaranya dimulai hari Jumat, 23 November, cuman karena gue berhalangan hadir, jadinya datengnya di hari ke dua, hari Sabtu ini).

Acara ini diramaikan oleh peserta ikhwan (laki-laki) sebanyak 10 orang, dan peserta akhwat (perempuan) sebanyak 7 orang. Kami para peserta ikhwan tidur di basecamp (begitu kami menyebutnya) yang kapasitasnya cukup untuk 10 orang. Untuk basecamp ikhwan dan akhwat dipisah dengan ditempatkan pada rumah-rumah yang berbeda.

 

Selayang Pandang Kota Garut

Sebelum shalat zuhur, kami disuruh untuk membuat kelompok kecil dengan masing-masing empat orang setiap kelompoknya. Acaranya adalah Sosialisasi dengan Masyarakat. Jadi, kami disuruh untuk bertanya-tanya seputar tema yang para panitia berikan. Kami memilih tema pendidikan. Sekilas, ternyata, Kota Garut ini selain punya budaya yang unik, juga sistem pendidikan, pertanian, dan kesenian yang unik. Ibu Siti Nur Aini, seorang penduduk tetap di Desa Wanajaya, mengatakan bahwa kebanyakan anak-anak di desa itu bersekolah hanya sampai jenjang SMA, dan tidak memutuskan untuk melanjutkan ke perkuliahan; sementara Pak Uyu, seorang petani yang kami wawancarai, menegaskan bahwa ada beberapa anak-anak yang melanjutkan ke jenjang perkuliahan, namun tidak bekerja. Para sarjana itu lebih memilih untuk bertani dan beternak, karena kedua profesi tersebut merupakan bagian penting dari peradaban Desa Wanajaya. Terlebih lagi, lurah dan ketua wilayah pertanian sudah sepakat untuk menyediakan fasilitas bertani dan beternak yang lengkap. Sehingga, orang-orang itu tidak kesulitan untuk menjalankan profesinya.

Kota Garut terkenal dengan budaya adu domba. Budaya ini sudah menjadi tradisi selama berpuluh-puluh tahun. Salah satu penduduk mengatakan bahwa jenis budaya yang diadakan tiap beberapa tahun sekali ini menyiratkan sebuah kebesaran makhluk Tuhan, betapa kuat dan gagahnya domba-domba itu, bukan untuk hal-hal yang negatif, seperti judi dan macam lainnya. Lain halnya dalam kebudayaan, dalam hal kegamaan, salah satu masalah yang menjadi faktor turunnya minat mengaji para penduduk adalah tidak adanya para penduduk yang mau menyempatkan diri untuk hadir, terutama para remaja. Dengan demikian, para pengelola masjid atau wilayah Desa Wanajaya selalu mengadakan pengajian bergilir yang diadakan di tiap-tiap masjid atau musholla di pelosok desa tersebut. Meskipun tidak ada yang hadir, setidaknya mereka sudah berusaha.

 

Materi-materi Penggugah Hati

Materi-materi yang diberikan dalam acara SWIS sangatlah mengubah pandanganku tentang dunia keda’wahan islam dan persatuan (ukhuwah) umat muslim. Materi-materi tersebut selalu kuikuti dengan penuh antusias dan pandangan mata yang tak lepas dari pemateri. Sesekali, tangan ini dengan cekatannya menuliskan hal-hal penting yang rasanya harus kucatat di buku binder-ku. Materi pertama dalam acara ini adalah Amal Jama’i yang dibawakan oleh kang Habib Alwi Jamalulel, salah satu kader DKM Al-Mushlih dan juga ketua BPM FIB UNPAD periode 2009-2012. Kang Habib mengatakan bahwa dalam sebuah organisasi, berjamaah itu sangat penting. Berjamaah membuat kita bersatu dan tetap terikat dalam sebuah kesatuan diantara banyak perbedaan. Jika diibaratkan dengan seikat sapu lidi, satu batang lidi untuk membersihkan dedaunan kering rasanya sungguhlah sulit, tetapi apabila ada banyak batang lidi yang disatukan dan diikat menjadi seikat sapu, maka kotoran mana yang tidak bisa dibersihkan?

Materi kedua adalah Urgensi Da’wah yang dibawakan oleh Kang Mughny, salah satu alumnus dan salah satu kader terbaik DKM Al-Mushlih FIB UNPAD. Kang Mughny menjelaskan bahwa seperti halnya berjamaah, berda’wah juga tidak kalah penting perannya dalam kehidupan. Berda’wah tidak hanya membuat kita saling mencintai antara sesama manusia, tetapi juga meningkatkan ikatan kita kepada Allah, Tuhan Semesta Alam, katanya. Banyak para peserta yang mengacungkan tangannya untuk bertanya ketika masuk pada sesi tanya-jawab, salah satunya gue. Bagaimana caranya untuk berda’wah? Apakah berda’wah artinya harus ceramah di depan orang banyak? Begitu salah satu pertanyaannya. Lalu, kang Mughny menjawab bahwa da’wah dapat dilakukan dengan teguran yang bersifat kebaikan ketika melihat kemungkaran, tentu disertai dengan ilmu yang cukup (tidak asal menegur tanpa tau efek-efeknya), hati yang ikhlas, dan kemampuan untuk menegur itu sendiri.

Orang-orang yang saling mencintai di dunia, nanti akan saling menuntut di akhirat.

Kang Mughny menjelaskan kata mutiara di atas bahwa jika di dunia ada seseorang yang melihat temannya melakukan kemungkaran dia tidak mencegahnya, maka di akhirat kelak si temannya itu memiliki hak untuk mencegahnya untuk masuk syurga. Naudzubillah…

Hari itu ditutup dengan sebuah perjalanan singkat berdirinya DKM Al-Mushlih yang disampaikan oleh ketua DKM Al-Mushlih, Kang Dadan pada malamnya. Beliau menyampaikan sejarah pendek Al-Mushlih dengan runtut hingga seperti sekarang ini. Setelah kami semua puas menonton video pendek tentang rekaman-rekaman dan foto-foto para kader ketika masih menjadi maba (mahasiswa baru) dan pengalaman-penglaman menarik ketika menjabat di Al-Mushlih, kami dipersilakan untuk istirahat.

 

HARI 2: Minggu, 25 November 2012.

 

Drama dalam Gelap

Pukul 3 dini hari, para panitia datang ke kamar-kamar untuk membangunkan kami. Setelah qiyamul lail, kami digiring ke luar vila dan dibuat barisan-barisan kecil. Para panitia mengatakan bahwa akan ada acara malam-malam buta seperti ini. Acara macam apa ya? Jurit malam? Semoga saja. Tapi, keraguan itu timbul-hilang ketika para panitia menutup mata kami dengan sarung yang sudah kami berikan kepada mereka. Kami digiring berjalan masuk lalu didudukkan disuatu ruangan yang hangat. Gelap. Tak ada suara. Ternyata, itu adalah pengalaman paling menggetarkan sekaligus mengharukan yang pernah kualami. Dengan kreatifnya, para panitia bikin kaya drama kecil gitu, dimana ada yang berperan sebagai anak yang durhaka, seorang ibu, seorang preman, dan seorang malaikat maut.

Dalam keadaan mata tertutup, gue tentu ga bisa ngeliat apa-apa. Cuma bisa denger suara dari belakang. Drama itu menceritakan tentang–seperti yang udah bisa ditebak–seorang anak durhaka kepada ibunya, yang ditusuk preman, dan disiksa oleh malaikat maut. Semua kejadian itu rasanya udah bosan untuk didengar atau disimak, tapi dengan keadaan gue yang seperti itu, semuanya jadi terasa lebih nyata. Adegan ‘penjemputan’ nyawa si anak oleh malaikat maut yang begitu dingin dan mengerikan. Suara malaikat maut yang ‘dibawakan’ oleh seorang manusia aja bisa bikin bulu kuduk ini sampe berdiri dan bergetar, gimana kalo suara malaikat mautnya beneran ya? Astaghfirullah. Suara-suara ‘sabetan’ dari malaikat maut ketika menyiksa si anak durhaka di alam kubur, dan suara teriakan-teriakan histeris oleh si anak yang meringis kesakitan. Semua itu ditambah lebih dramatis dan elegan dengan sebuah narasi-puisi yang dibawakan oleh salah seorang teteh panitia.

Begitu menggugah! Subhanallah.

Tanpa sadar, sepanjang ‘drama dalam gelap’ itu, air mata ini deras membanjiri pipi. Sebuah perjalanan yang begitu luar biasa. Sebuah realisasi dari kehidupan sehari-hari yang dipentaskan, yang terkadang kita sendiri menganggap remeh semua itu. Bahwa kita semua akan kembali kepada-Nya. Bahwa hidup bukan untuk bermain manja, bergantung pada dunia, terlena pada kesibukan fana, tapi untuk bergantung pada yang menciptakan kita, bermunajat pada Allah, Tuhan Seru Sekalian Alam.

 

Rahasia Allah Di Kaki Galunggung

Pukul 8 pagi, setelah sarapan, kami disuruh membuat kelompok-kelompok kecil untuk ‘dilepas’ ke pematang sawah untuk mengikuti acara selanjutnya. Acara ini juga tidak kalah menarik karena selain latarnya di outdoor, games yang ditawarkan juga sangat berguna. Ada lima pos, dimana masing-masing posnya akan ada game. Jarak antara satu pos dengan pos yang lainnya kurang lebih 2 km. Kesempatan untuk menikmati pemandangan pematang sawah di kaki gunung Galunggung yang menjulang gagah tentu tidak kusia-siakan begitu saja. Di Tangerang, susah banget nyari sawah yang seindah dan seluas dan semegah ini. Berada di tengah-tengah pematan sawah seperti itu, membuat aku sadar bahwa betapa kecil diri ini. Betapa lemah. Mengajarkanku untuk tidak sombong dan tinggi hati, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah semata.

Kami belajar untuk fokus pada sebuah permasalahan untuk menemukan titik terang dan bermusyawarah sebelum melaksanakan tugas dalam games Minesweeper dan Cari dan Perhatikan di pos 1. Di pos 2, kami diajarkan untuk bekerja sama dalam game Pelepah Pisang. Di pos 3, kami belajar untuk bersyukur dan menghargai kekurangan pada orang lain dan diri kita sendiri dalam game Buta-Tuli-Bisu, bahwa setiap kecacatan atau kekurangan dalam sebuah jamaah, pastilah akan menjadi sebuah kesempurnaan jika masing-masing anggotanya mau saling menghargai dan saling membantu. Di pos 4, kami belajar kesetiaan dan urgensi da’wah dalam game Semi Laba-laba. Di pos 5, kami belajar untuk PERANG! LHO??! Iya. Soalnya, game-nya tentang perang-perangan pake air yang udah dibungkus plastik. Hehehe. Acara di pos 5 ini seru karena kita harus lari-larian dan basah-basahan.

Akhirul kalam, kami pulang jam 3 sore. Subhanallah, dengan begitu banyak pengalaman yang gue dapatkan, gue bersyukur bahwa hidup adalah anugerah terindah yang Allah berikan. Acara SWIS 2012 akan sulit terlupakan buat gue pastinya.

 

Mabok Bahasa Sunda

Jadi, kebanyakan peserta ikhwan yang ikut itu berasal dari Sunda, Jawa Barat, dan sekitarnya atau dari jurusan Sastra Sunda atau Sastra Arab, sementara gue dari Sastra Inggris dan si Hanif dari Sastra Jepang. Tapi Hanif juga bisa bahasa Sunda. Mau gak mau, gue harus menelan semua kepahitan itu untuk dicela-cela karena belum bisa berbahasa sunda dengan lancar. Hehehe. Bisa dibilang, gue di-bully abis-abisan sama si Hanif. Setiap malem, semua orang pada ngobrol, dan gue cuma yang mojok di sudut kamar, meratapi  nasib untuk ga bisa ngomong bahasa Sunda sambil merengkuh dan denger MP3. Hahaha. Tapi gapapa, semua itu justru malah makin memaknai adanya Amal Jama’i dan Urgensi Da’wah itu sendiri. Bahwa kita berbeda-beda tetapi tetap satu. Keluarga DKM Al-Mushlih, keluarga islam, keluarga baru. Yah, mungkin langkah setelah gue ikutan acara ini adalah LES BAHASA SUNDA!

Syukran katsiiran, akang-akang dan teteh-teteh panitia SWIS 2012.
Jazakumullahu khoiro.
ALLAHU AKBAR!
Wassalamualaikum warahmatullah.

One thought on “SWIS 2012: Penggugah Hati, Pembangun Jiwa Islami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s