Kebesaran Islam dalam Tausiyah Felix Siauw

Hari Selasa, 13 November 2012 lalu, aku berkesempatan untuk pulang ke Tangerang. Kesempatan ini kupergunakan sebaik mungkin karena selama satu minggu ke depan tidak ada jadwal kuliah mengingat adanya peringatan tahun baru Islam yang jatuh pada hari Kamis, 15 November 2012. Kepulanganku ke Tangerang merupakan salah satu pengalaman yang sulit dilupakan. Pada hari Jumat, 16 November lalu, seorang pembicara, aktivis islam, dan penulis buku “How To Master Your Habit”, “Beyond the Inspiration,” dan “Muhammad Al-Fatih 1453”, Felix Siauw, hadir untuk mengisi acara di Masjid Darussalam, masjid dekat rumahku (Ciledug Indah 2). Acaranya dimulai bada isya, tepatnya pada pukul 20.00 WIB. Sejak sehari sebelum acara dilaksanakan, para pengurus masjid dan warga sekitar sibuk membersihkan dan merapikan ruangan-ruangan masjid, baik lantai, mimbar, sajadah, tikar gulung, langit-langit, maupun lampu-lampunya. Setiap selesai shalat fardu, mereka langsung bergegas mengambil perkakas dan peralatan bersih-bersih untuk membuat masjid terlihat lebih cantik dan anggun.

Malam itu, Masjid Darussalam terlihat megah. Mereka berhasil mendekorasi tempat ibadah itu menjadi sebuah ruangan luas yang dapat ditempati hingga seratus hingga dua ratus orang. Dinding-dinding masjid yang putih pucat terlihat bermandikan lampu-lampu yang sudah dilap dan dibersihkan, membiaskan cahayanya ke seluruh sudut-sudut masjid. Sebuah layar lebar dipasang tepat di sebelah mimbar, dimana biasanya tempat ini digunakan sebagai tempat imam, dengan meja kecil yang di atasnya diletakkan satu laptop kecil dan gelas bening berisi air mineral yang ditutup rapat. Baru lima belas menit rasanya aku duduk, lalu seketika masjid sudah penuh oleh orang-orang, baik ibu-ibu maupun bapak-bapak, tua atau muda.

Felix Siauw

Felix Siauw, pembicara malam itu mengangkat tema “Membangkitkan Motivasi Muslim” untuk presentasinya. Awalnya, kukira tausiyah ini hanya membahas tentang sejarah hijrah atau hijriyah (karena hari itu bertepatan dengan tahun baru Muharram), dimana bahasannya hanya mengenai perjalanan Nabi Muhammad yang hijrah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsho, lalu kemudian dilanjutkan hingga ke Sidratul Muntaha dengan bermacam-macam embelnya, tapi ternyata aku salah. Beliau lebih  banyak cerita tentang sejarah bagaimana negara islam itu berjuang untuk merebut kekuasaannya yang sempat diambil alih oleh Imperium Persia dan Imperium Romawi.

Diceritakan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada tahun 818 M, sementara Cina sudah dikenali dan dimasuki agama islam pada tahun 651 M. Aku semakin tertarik ketika beliau memaparkan tentang perseteruan antara Imperium Romawi, yang luasnya mencapai 7.400.000 km2 dan Imperium Persia, yang luasnya mencapai 5.000.000 km2. Sementara itu, kawasan Arab, dimana tempat tinggal para nabi, memiliki luas area yang perbandingannya jauh lebih kecil dibanding kedua imperium raksasa tersebut. Dijelaskan juga bahwa tanah Arab adalah tanah yang hanya berisi budak-budak untuk dijadikan pekerja baik di Romawi maupun Persia. Kedua raksasa ini bertempur untuk meraih kejayaan abadi. Setelah beberapa tahun berperang, keduanya sama-sama kuat, sehingga untuk mencari siapa yang lebih kuat, harus diadakan perang berkelanjutan. Hal ini membuat orang-orang yang tinggal di sekitar kawasan kedua imperium tersebut, seperti Arab, Iran, bimbang (karena menentukan siapa yang akan menang). Akhirnya, Allah swt. menurunkan ayat 1-4 dalam surat Ar-Rum, yang artinya:

Alif, Lam, Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang).

 

Masjid Xi’an, masjid pertama di Cina.

Tanah Arab memiliki begitu banyak orang-orang hebat dan besar (Avecinna, dkk), yang kebanyakan muslim. Beberapa nama pahlawan Arab dalam bermacam-macam bidang sempat mewarnai pergulatan mengenai sejarah berdirinya Arab. Pak Felix bercerita dengan sebegitu runtutnya sesuai dengan peristiwa-peristiwa kronologis dan faktual sehingga membuat aku makin tertarik untuk mendalami sejarah berdirinya tanah Arab dan apa yang terjadi pada masa itu.

Beliau adalah mualaf yang masuk islam pada tahun 2002. Selama 10 tahun perjalanan panjangnya mengenal islam, beliau bisa menyimpulkan bahwa agama islam ditopang oleh tiga pilar utama, dimana jika ada satu yang retak atau cacat, maka keutuhan dari entitas yang ada dalam agama islam pun menjadi rumpang atau tidak sempurna.

Pilar pertama adalah individu. Setiap individu harus sadar bahwa di dalam dirinya terdapat sebuah dunia yang luar biasa yang telah diciptakan oleh Allah Azza Wa Jalla. Masing-masing individu harus memiliki kesadaran bahwa segala yang terjadi di dunia ini hanyalah rekayasa. Mereka harus sepenuhnya sadar bahwa semua makhluk hidup pada akhirnya akan kembali ke Tuhan-Nya untuk dimintai pertanggungjawabannya masing-masing. Pilar kedua adalah masyarakat. Masyarakat dalam sebuah daerah harus memiliki honesty dan awareness yang tinggi dalam menjalani kehidupannya sebagai makhluk sosial. Sekumpulan orang-orang yang tinggal dalam satu daerah harus senantiasa mengingatkan jika ada yang berbuat salah dan saling tolong-menolong jika ada yang membutuhkan bantuan, tapi tidak saling membantu dalam hal keburukan dan kecurangan tentunya. Ini merupakan perwujudan dari konsep utama dalam agama Islam, yaitu amal ma’ruf nahi munkar. Pilar ketiga adalah negara. Beliau menjelaskan bahwa pilar ketiga ini adalah pilar yang lebih sering tidak dibahas atau didiskusikan dibandingkan pilar-pilar lainnya. Sebuah negara islami, sebelum mengeluarkan hukum-hukum atas tindak kejahatan, haruslah didasari oleh ayat-ayat dalam kitab suci Alquran, bukan semata-mata hanya untuk penghujatan atas tindak-tanduk kejahatan tersebut. Alquran, bukan hanya sumber pedoman, petunjuk, dan peringatan bagi seluruh makhluk, tetapi juga sumber hukum tertinggi. Dengan demikian, segala bentuk kecurangan dan ketidakjujuran dalam ranah duniawi, misalnya, korupsi, kasus-kasus asusila, dan semacamnya tentu akan dapat ditangani dengan baik sesuai hukum Alquran dan islam.

Vonis dua pengadilan: pengadilan di dunia dan pengadilan di akhirat. 

Sebagai masyarakat, sudah seharusnya dalam melakukan hal apapun, kita berjamaah. Jangan sendirian! Karena syetan itu selalu hadir ketika kita sendirian. Nonton porno, misalnya, enakan sendiri atau rame-rame? Pacaran? Otomatis enakan sendiri, karena disitulah ada setan yang menyertai mereka. Maka, berjamaahlah. Supaya kita terhindar dari godaan syetan yang terus-menerus membisikkan kejahatan dalam dada manusia. – Felix Siauw

Aku baru saja mendapat tausiyah segar dan wawasan baru tentang sejarah islam, perjuangan bangsa Arab melawan bangsa Romawi dan Persia, dan betapa hebat dan bangganya aku dilahirkan sebagai seorang muslim. Keluar dari masjid, aku mematri kuat-kuat dalam hati bahwa Islam itu sangatlah hebat. Ini juga yang membuatku semakin tertarik untuk membeli buku-buku Pak Felix.

Muhammad Al-Fatih 1453

Terimakasih, Pak Felix. Terimakasih, Allah!

2 thoughts on “Kebesaran Islam dalam Tausiyah Felix Siauw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s