Boyband Korea vs. Boyband Indonesia: Siapa yang Lebih Unggul?

Sore hari, di pelataran Masjid Ibnu Sina UNPAD, gue iseng-iseng ngaso di teras depan masjid. Setelah shalat Ashar, dan gak tau mau ngapain, akhirnya gue mutusin untuk lanjutin baca novel Amba-nya Laksmi Pamuntjak. Bab demi bab udah dilahap, tapi ga ada satu kalimatpun yang masuk ke otak. Walhasil, sebelum dibuat mumet sama isi novelnya, gue mutusin untuk denger lagu.

Gue set mode shuffle dan lagu Kim Tae Woo yang Dropping Rain pun ke-play. Ya, ini lagu korea. Sejenak, pikiran gue mulai ngaco dan mengarah ke hal-hal jaman dulu. Pikiran-pikiran abstrak itu tiba-tiba muncul aja kalo udah lama banget ternyata gue gak denger lagu korea (terakhir gue denger lagu korea itu waktu SMP, itu juga lagu F4 yang gue lupa judulnya), karena makin kesini gue makin sadar benda persegi empat bernama televisi itu udah nampilin orang-orang Indonesia yang ke-korea-korea-an. Mulai dari boyband, boyband junior *halah*, sampe sinetron dan film-film Indonesia pun setting-nya bercerita di Korea. Secara gak sadar, semua rasa naluriah untuk dengerin lagu korea dari dalam diri sendiri tiba-tiba hancur gitu aja karena doktrin yang belakangan ini terjadi.

Jauh sebelum fenomena ini terjadi (and FYI, I listen to any kind of music–apart from what my gender is), gue kurang suka sama lagu korea. Dulu, waktu SMP yang gue denger cuma lagu-lagu hip-hop barat yang gue sendiri gak tau penyanyinya ngomong apa (karena rap), lalu pas SMA beralihlah aliran gue ke musik klasik (karena waktu itu gue lagi tertarik banget untuk mendalami piano). Kelas 3 SMA, gue ngelanjutin ekskul silat yang dulu sempat terabaikan, dan dari sinilah, kecenderungan gue untuk suka ngedengerin lagu-lagu korea mulai muncul. Karena saking cintanya sama silat, temen gue ngerekomendasiin untuk nonton Drama Serial Dr. Champ. Ya, itu drama korea. Awalnya, gue agak skeptis sama serial-serial macam gitu, karena (1) buang-buang waktu, dan (2) nyapein diri sendiri karena harus berjam-jam disuguhkan penampilan si pemeran utama cewek yang nangis terus ditinggalin cowoknya–dengan musik yang nyeret-nyeret. Astaga.

Tapi, setelah episode pertama gue tonton, gue malah kecanduan. Episode satu sampe dua gue selesaikan dalam satu malam. Yang cuma diselang-seling belajar, makan, tidur, dan sholat, akhirnya serial itu gue lahap abis dalam kurang lebih tiga minggu. Akhirnya, gue mulai punya pandangan baru tentang drama serial korea. Drama-drama itu ternyata gak semua sifatnya feminin kok (well, karena ceritanya yang kebanyakan nguras air mata dan nawarin musik yang emang gloomy di setiap scene-nya), apart from all that, ada nilai-nilai tersendiri yang bikin itu lebih layak ditonton daripada soap opera kacangan yang ada di Indonesia. Drama korea, somehow, lebih punya tense dan passion untuk bikin penontonnya masuk ke dalam cerita yang kurang lebih ada 34 episode itu. Sejak itu, gue mulai caritau apa soundtrack setiap episodenya. Iya, Dr. Champ nama serialnya.

Oke balik ke lagu Dropping Rain tadi. Kayak yang udah gue bilang, lagu-lagu korea itu kalo sedih, sedih banget; kalo nge-beat, nge-beat banget. Kan rese. Gausah jauh-jauh ngomongin lirik lagunya, dari judulnya aja bisa diliat seberapa galau nih yang bikin lagunya. Dropping Rain. Beeeeeuh. Hujan yang sedang jatuh. HALAH. Dibawah sinar matahari yang keemasan (maaf kalo agak prosaik soalnya masih mencoba menerapkan metode-metode menulis cerpen yang baik di salah satu mata kuliah gue) dan rerumputan yang bergoyang–sekaligus keheningan yang mencekam (?), gue coba pelajari musiknya. Gue dalemin tuh detik per detik lagunya. Setelah dua puluh detik, vokal si Kim Tae Woo pun muncul–

SATU HAL LAGI! Gue masih gak habis pikir, sumpah, gak pernah habis pikir kalo suara penyanyi cowok korea itu mirip orang lagi nangis setiap kali mereka nyanyi atau ngisi soundtrack drama korea. DON’T YOU THINK? Apalagi kalo pas nada-nada tinggi, aduh, merembes tepat ke jantung rasanya. Bukan? Entahlah, mungkin gue aja kali.

–sejenak, gue mulai terhenyak sama suasana itu. Dari suara biola, piano, drum yang sesekali, dan efek-efek triangle yang menambah kesan gloomy. Gak terasa, setelah empat menit lebih lagu itu tiba-tiba selesai, dan gak sadar dari tadi ternyata gue cengo. What a song, ya? Lagu macam apa coba yang bikin pendengarnya gak bisa gerak kaya gitu? Tapi gatau jugalah, apa mungkin cuma gue doang kali.

Setelah lagu selesai, lagu selanjutnya dimainkan. YAP! LAGU KOREA LAGI.

Lagu Should You Confess-nya Soyou SISTAR pun ke-play. AH! Lagi, gue terhenyak sama irama dan musik lagu yang satu ini. Setelah lagunya selesai, gue coba bandingkan lagu-lagu yang dinyanyiin sama member sebuah boy/girlband korea sama boyband/girlband Indonesia. Sejenak gue pikir, kalo salah satu member dari grup itu aja suaranya bisa sebagus itu, gimana kalo digabungin dan grup itu nyanyi bareng ya? Wah, bakal bagus banget pasti.

Beda pas gue denger girlband/boyband Indonesia yang udah nyanyi bergrup dan rame-rame, masih aja ada kedengeran yang fals, atau off tone. Baik recorded ataupun pas mereka nyanyi live (ya kalo recorded mungkin nggak lah ya), pas live-nya, salah satu boyband ini beberapa bulan yang lalu sempet ngisi acara di ulangtahun stasiun TV swasta, mereka ngebuka acara dengan dance khasnya dan nyanyi disela-sela mereka nge-dance. Entah speaker TV gue yang rusak, atau emang kuping gue gak beres, tapi gue denger salah satu penyanyinya fals. Bahkan, gak jarang dari mereka yang sempet-sempetnya nyuri-nyuri kesempatan untuk memamerkan bagian tubuh mereka yang agak berotot/menonjol ke penonton (asumsi gue sih ini mereka lakuin biar mereka gak terlalu nonjolin kualitas vokal mereka, tapi bodi aja). Ini otomatis gak menutup kemungkinan buat gue tarik kesimpulan bahwa boyband Indonesia cuma modal stamina aja, karena mereka mungkin udah kena doktrin yang begitu kuat di Korea, alhasil mereka berkumpul sama orang-orang dengan wajah yang (menurut mereka) ganteng atau punya bodi tok. Suara nya mah dinomorduakan.

Beda sama di Korea, yang stamina punya, bodi punya, dan suara juga punya. Pun kalo diliat dari konteks universal dan macem-macem pandangan, Korea lebih unggul dalam hal ini. Tapi, anehnya, makin banyak aja fans-fans boy/girlband ala Indonesia ini. Intinya, mau boy/girlband yang di Korea atau di Indonesia, artinya kita sebagai penikmat musik tentu bebas mau milih yang mana. Malah mungkin gak ada yang suka sama keduanya. Selera musik orang beda-beda juga.

Waktu udah menunjukkan pukul 5 tepat, harus segera balik ke kos dan belajar untuk UTS. Dan gak sadar, dalam perjalanan pulang, gue bingung kenapa orang-orang di jalan ngeliatin gue dengan pandangan aneh. Akhirnya gue baru sadar, sejak keluar dari pekarangan masjid, gue masih cengo daritadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s