PSM UNPAD: The First Impression

Pertama kali tau padus itu……..pas SMA. Ya asal sekedar tau aja sih. Soalnya kan belum pernah berkecimpung langsung dalam dunia kepadusan. Waktu SMA, setiap kali ada upacara bendera, barisan paling depan–yang paling tersorot sama murid-murid yang lagi baris–biasanya itu petugas upacara, pembina upacara, MC, sama padus. Mimpi rasanya kalo harus berdiri di sudut lapangan dan tersorot oleh ratusan siswa lainnya selama kurang lebih satu setengah jam. Disitu gue membatin. Sebelum lulus SMA dan beranjak ke dunia perkuliahan, gue harus bisa berdiri di barisan depan itu. Dan akhirnya waktu pun mempertemukan. Gue ditunnjuk untuk pidato umum dengan tema yang ditentukan dalam bahasa Inggris. Ngacaknya pun random, yang bener-bener ditunjuk. But finally, one of my dreams has been granted tho🙂

Baru pas tanggal 1 Agustus 2012 itu. Acara Pelantikan Besar-besaran di Stadion Jati UNPAD yang dihadiri oleh seluruh mahasiswa baru Universitas Padjadjaran, yang akan dilantik secara langsung oleh Rektor, Dekan Fakultas, dan para Guru Besar. Hari itu bertepatan sama dilantiknya gue, bersama 33 maba terpilih lainnya, untuk dilantik secara simbolik oleh rektor langsung. Seperti yang udah gue papar abis-abisan tentang PPMB dan asal muasal kenapa gue bisa terpilih di postingan sebelumnya. Semuanya terangkum semua disitu, tapi satu yang gue ceritain: Padusnya.

Duduk, di karpet merah, sambil bawa tas selempang biru UNPAD, langsung di hadapan rektor itu….priceless. Ya, instead of cuma ngeliat di TV dan harus mendongakkan kepala untuk liat kaya gimana sih gesture rektor pas lagi pidato, dan semacamnya. Tapi dari situ–dari tempat gue duduk–rasanya puas. Semuanya terlihat jelas.

I can tell, PSM (Paduan Suara Mahasiswa) UNPAD is just beyond good. Baru pertama kali denger harmoni sebagus itu dari sekelompok orang yang notabenenya selama tiga tahun belakangan gue cuma disuguhkan penampilan padus anak SMA yang nadanya sama semua, bahkan masih kedengeran beberapa yang fals. From that moment on, I realized that I have to get involved with this thing. Karena kan lo tau sendiri, semenjak sempet menang lomba juara 1 menyanyi se-komplek antarmurid TK, dan masalah Indonesian Idol yang sempet tertunda, gue jadi makin menggebu-gebu buat ngeksplor bakat apa yang terpendam. Hehehe. Ya, daripada dipendem terus-terusan kan. So, I applied and filled out the form dan mulailah latihan pertama.

Gue masih gak percaya kalo bisa-bisanya suara Adam Lambert kecekak kaya gini bisa masuk begini-ginian. Tapi apa daya, waktu Student’s Day–acara demonstrasi seluruh UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) di UNPAD–gue langsung ke stand PSM dan isi formulir. Bayar berapapun. No matter what. Demi PSM. Satu hal yang bikin gue amazed sama paduan suara adalah karena kerumitan ngatur-ngatur berbagai macam suara yang ada. Entah gimana prosedurnya sampe jadinya bisa seindah itu kedengarannya. But we’ll find out soon anyway.

Senior dari PSM sms kalo latihan perdananya di UNPAD Dipati Ukur, Bandung. Agak bete juga kan pertama kali dikasih tau kalo latihannya aja harus kemana-mana. Mager pula. Masalahnya, katakanlah abis kuliah langsung ke kos, nyambil makanan, ngerjain tugas, dan langsung tidur. Tapi, demi PSM Dipati Ukur pun siap kutempuh. Hehehe. Pas hari pertama latihan, gue masih agak bimbang mau latihan atau nggak. Since I thought that maybe this was not as interesting as I had thought before, but something might happen there. Untuk menghapus segala pikiran-pikiran negatif itu, gue langsung memutuskan untuk pergi latihan.

Tanpa basa-basi, gue langsung ke kos Gifar dan berangkat bareng ke DU. Sesampenya disana, udah banyak orang yang bergerombol, bikin kelompok yang masing-masing kelompoknya ada 10 orangan lah. Gue langsung ambitus (pemilihan suara) dan dapet suara Tenor 1. Gabung sama kelompok Tenor 1 dan langsung nyanyi lagu pertama di buku My First Song Book khusus anak PSM Unpad, judulnya “Gaudeus”.

Buku itu.

Buku yang jadi jawaban semua pertanyaan gue dulu. Ternyata, di satu lagu itu langsung ada masing-masing nada/not untuk masing-masing jenis suara. Jadi, setiap lagu dalam buku itu, punya empat baris. Sopran, Alto, Tenor, dan Bass yang disusun berurutan menurut jenis-jenis suaranya. Ah! Pantesan bisa sebagus itu. Semuanya ada di bukunya. Yang penting, gimana kita–si penyanyinya–menerjemahkan not-not itu ke dalam bentuk suara. Kalo gak ngerti nada, waduh bisa-bisa pas pemilihan suaranya bisa makan waktu sejam deh cuma buat tau nada ‘do’ itu gimana, atau nada ‘do sel la’ bunyinya gimana.

Satu momen yang bikin gue makin cinta sama PSM adalah pas semua anggotanya ngumpul membentuk satu lingkaran besar, ditengah-tengahnya ada senior yang main piano sebagai instruktornya. Disitu, semua jenis suara digabungkan diiringi dengan alunan musik piano.

1, 2, 3! Semuanya nyanyi dan WAH!

Sebuah harmoni suara yang sedari dulu gue gak pernah tau gimana cara kerjanya bisa sampe terdengar sebagus itu, dan gue adalah salah satu orang itu! Gak peduli deh lo mau suara bass yang harus sampe nunduk-nunduk, atau suara sopran yang setiap kali nyanyi harus dongak-dongak, tapi lo padus men. Satu kesatuan. Gak penting jenis suara apa, tapi intinya gue adalah bagian dari harmoni itu. Mimpi. Untungnya, tenor gak terlalu haus syarat untuk menggunakan gesture berlebihan.

Ga perlu ngomong lagi lah ya seberapa jatuh cintanya sama harmoni suara PSM Unpad yang megah dan bener-bener mimpi. Tapi  yang pasti, I can’t wait for another training and to experience something big from this.

Salam,
Himawan.

🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s