Ini Umat Muslim atau Bukan?

Masih dalam suasana euforia beredarnya film “Innocence of Moslems” yang udah beredar dimana-mana, gue masih agak skeptical sama kelakuan kaum muslimin yang kalo diliat dari segi islamiyah, itu tuh gak islamiyah banget.

Film “Innocence of Moslems” dibuat oleh seorang pendeta di Amerika. Tujuan si pendeta untuk membuat film ini adalah untuk ‘melambangkan’ kelakuan umat muslim yang sempat membuat geger rakyat Amerika. Again, I have to point out my perspectives about this controversial-thingy. Secara gue udah utarakan tentang film ini secara general di postingan sebelumnya.

Gue rasanya gak pernah habis pikir, apa ya yang orang-orang muslim pikirkan? Apa mereka mikir dulu sebelum berontak sekaligus demo dan ngancurin properti dengan bentuk demo dimana-mana sampe semuanya terlibat, hancur, dan berantakan? Kaum-kaum muslimin–spesifiknya–di Indonesia kayanya ga ada habis-habisnya secara keseluruhan menyalahi orang-orang Amerika sebagai pihak yang benar-benar menjadi tersangka. Padahal belum tentu.

Gak semua orang Amerika bisa secara gamblang disalahkan tanpa ada bukti yang jelas. Misalnya Presiden Barack Obama, menurut laporan TV One kemarin malam, 19 September 2012, beliau mengatakan bahwa oknum-oknum dari pemerintahan Amerika gak ada hubungannya sama sekali dengan film kontroversial itu. Lha orang jelas-jelas film itu gak seluruhnya dibuat di Amerika. Bahkan, aktor-aktornya juga katanya bukan orang Amerika asli.

Dalam laporan TV One yang gue tonton itu, ada tayangan eksklusif pidato Presiden Barack Obama yang mengungkapkan ketidaktahuan pihak-pihak pemerintah Amerika tentang adanya film itu. Secara Presiden juga kaget denger berita film itu. Ada juga Ustadz Syamsul Ali, imam besar di New York yang mengutarakan pendapatnya tentang bagaimana hancurnya sikap kaum muslimin yang gak cuma di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia dalam membela agamanya sendiri terkait pelecehan nilai-nilai fitriyah islam.

Kalo menurut perspektif gue, apalah untungnya kaya gitu. Yang ada justru sikap kita dengan demo dan sikapnya destruktif dimana-mana malah gak bijaksana. Ambillah contoh dari kisah tabahnya Baginda Rasulullah Saw. yang dengan cobaan dan rintangan yang beliau hadapi, lagi ceramah dilempari kotoran-kotoran hewan, diludahi, diejek, dicaci maki, bahkan mau sampai dibunuh kalo masih ceramah pada jaman itu. Tapi beliau tetap sabar. Justru dengan sikap ‘diam’nya Rasulullah dan tetap berceramah atas nama Allah, perkembangan agama islam justru semakin kuat, bukan?

Secara gak langsung, perlakuan umat-umat muslim di Indonesia sekarang ini justru secara gak langsung melecehkan Nabi Muhammad. Yang panutannya aja bisa tabah dan terus pantang mundur melawan orang-orang yang secara tegas melawannya, tapi umatnya yang sekarang kok malah hingar-bingar ikut merayakan kebodohan dengan cara demokrasi atas nama Nabi Muhammad? Astaghfirullah.

Orang-orang pembuat film itu yakin bahwa agama Islam adalah kaum yang berbau teroris dan merusak. Diliat dari perlakuan kita sama film yang durasinya gak lebih dari 30 menit itu, dengan membakar gedung-gedung bahkan sampe ada korban yang tewas justru makin membuktikan kalau Islam itu merusak dan senang menyakiti satu sama lain. Mungkin sekarang orang-orang pembuat film itu sedang tertawa gembira melihat sikap umat Islam di televisi dan radio. Kita tidar sadar bahwa kita sedang dilenakan oleh syetan.

Postingan ini, gue tutup dengan dua opini yang insya Allah bakal menggugah hati kita kaum muslimin untuk berhenti melakukan tindakan yang menyimpang norma-norma sosial seperti yang sedang kita saksikan di belahan dunia bagian Asia Tenggara, Asia Timur, dan Eropa Timur.

Orang Amerika dikenal dengan orang-orang yang suka menyampaikan pendapatnya secara straightforward atau berekspresi secara bebas, salah satu bentuk ekspresinya adalah membuat film. Namun, berekspresi juga ada batasnya. Jangan sampai menyinggung pihak-pihak tertentu dengan cara-cara tertentu. Biarkan film “Innocence of Moslems” tetap ada dan biar pembuatnya dimintai pertanggung jawabannya di akhirat nanti. – Anonymous.

Dalam menanggapi hal semacam ini, kita umat muslim patut marah, namun jangan berlebihan. Dari membakar gedung-gedung, ikut demokrasi tidak jelas kemana-mana, bahkan sampai ada korban jiwa. Orang-orang kafir mungkin tidak akan pernah berhenti mengejek-ngejek kita, tapi biarlah Allah menurunkan azab-Nya. – Anonymous.

Yuk! Serahkan semuanya sama Allah, jangan asal bersikap tanpa memikirkan apa solusi kedepannya dan asal bicara tanpa memikirkan efek dari ucapan-ucapan kita. Jangan menjadi muslim yang ke-kafir-kafiran.

Salam,
Himawan Pradipta.

One thought on “Ini Umat Muslim atau Bukan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s