Nyamuk.

Malam itu aku tersudut. Wajahku terhempas kain kelambu yang jatuh tumbang dari titik pakunya. Titik paku yang kucantolkan pada tiap-tiap sudut kamarku, untuk kugantungkan empat tali rafia yang kujadikan sebagai penopang kelambu. Lelah rasanya telingaku mendenging setiap kali makhluk kecil hitam bersayap ini dengan konyolnya terbang disana-sini. Ngiiiiiing……ngiiiiiiiiing. Begitu bunyinya. Kurang ajar.

Pukul tiga lewat lima belas menit subuh hari. Ternyata bukan malam lagi, sudah subuh. Aku masih mengantuk. Dicekat rasa cemas, aku tampar nyamuk yang sedang asyik memberi makan perutnya yang kelaparan darah. Segores cairan kental berwarna merah menodai telapak tanganku. Nyamuk itu sudah mampus. Tapi adiknya datang lagi, tubuhnya lebih gempal terisi darah abangku yang juga sedang terlelap di sebelahku.

Aku menyibakkan kain tipis kelambu dengan risinya. Aku hempaskan kain itu ke sudut kasur agar tidurku nyenyak, tapi kelambu itu seperti memberontak. Ingin rasanya kuteriak. Tapi tiada berguna.Kukeluar dari tempat peristirahatanku, tempat pemapas lelahku dari siang yang menjemukan, mencumbu ranjang yang direkatkan bantal dan guling penopang tubuh. Tapi semuanya jadi berantakan, tidurku tidak nyenyak, gara-gara kelambu itu. Sialan, gumamku.

Kutepuki satu persatu makhluk-makhluk berterbangan itu. Kurasakan leganya hatiku ketika kedua telapak tanganku bertemu, menghasilkan satu suara yang menggema satu ruangan kamarku. Prakkk. Kunikmati gencetan keduanya ketika nyamuk itu terperangkap diantara kedua telapak tanganku. Kurasakan aliran darah dari perut mereka. Darahku.

Tak terasa, malam itu–subuh itu–aku terhenyak ditemani oleh bunyi membisingkan yang kubuat sendiri. Aku bergegas shalat tahajud. Menyerukan peraduanku kepada Sang Pencipta Nyamuk itu. Sedetik kuangkat kedua tanganku, dan kulihat noda merah darah yang masih membersit di atas garis-garis kedua telapak tanganku, aku meragu. Telah kubunuh makhluk itu. Pun lega, aku juga bersalah.

Kusingkap sarung dan sutrahku tanda selesai shalat. Sesekali, kugoyang-goyangkan tungkai kakiku agar tak digigit nyamuk. Tak hanya di dalam kelambu, di luar kelambu pun makhluk-makhluk bersayap ini sungguh kreatif! Mereka tidak menyerah, untuk mendapatkan satu paket spesial yang terdiri darah manusia dan desir-desir sarinya yang lezat. Ah, terpana aku rasanya. Mereka lebih ganas. Mereka tidak kenal lelah. Aku pernah lelah dan jatuh. Aku bangkit dan berdiri agar tidak tertelan beban. Biar tidak kalah oleh nyamuk-nyamuk itu. Mati sekali ditepuk, adik-adiknya justru lebih bersikeras untuk mengisi perutnya. Mencari sendiri.

Dalam dini, aku termangu. Bulan yang sekarang sedang kupuji kecantikannya pun tersenyum. Ia menertawaiku dari atas sana. Sinarnya memendarkan rona mengejek, pencemoohan. Seakan aku hanya diri yang tak pernah belajar dari makhluk itu. Kecil dan kreatif. Imajinatif.

Subhanallah. Betapa besar kuasa-Nya menciptakan makhluk yang bisa kuambil begitu banyak pelajaran darinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s