Kembali ke Pontianak

Pontianak adalah–menurut gue–salah satu kota terpanas di Indonesia. Selain kekhasannya dengan cuaca panas, berbagai makanan fast food, big pirated dvds shop, dan pastinya orang-orang cina. Alasan yang terakhir itulah, yang sekiranya bisa memalsukan identitas gue sebagai orang Jawa dan temen2 gue tertentu bilang kalo gue setengah korea. Hehehe. While in fact, tanah kelahiran bokap dan nyokap gue emang gak jauh dari kota yang berbatasan langsung sama Malaysia ini.

Selain Tangerang dan Jakarta, kawasan yang paling tepat untuk berpanas-panas ria sekaligus menikmati keindahan Tugu Khatulistiwa, ya Pontianak tempatnya. Beberapa area di kawasan kota ini didominasi oleh kaum Tionghoa, jadi udah gak asing kalo di pinggir jalan-jalan Pontianak, banyak tulisan “Bubur Babi” atau “Gulai Babi” dan semacamnya. Sambil muter-muter kota Pontianak yang sekilas kayak Chinatown, ditambah gemerlap lampu mobil dan motor disana-sini, menambah kesan wah pada kota di barat pulau Kalimantan ini.

Menurut survey dari mbah Google, kata ‘Pontianak’ itu sendiri katanya diambil dari nama sesosok hantu berambut panjang: Kuntilanak. Penasaran? Mari kita telisik lebih dalam tentang kampung halaman gue ini.

Subuh itu, gue bangun dan minum susu. Apa daya saraf-saraf di mata ini belum terkumpul, alhasil gue ngeliat jam dinding udah jam 4 tepat. Setelah susu gue habis, beranjaklah gue dari rumah. Sambil nunggu adzan subuh, terbersit buat gowes sebentar ngelilingin komplek. Satu kiloan lebih gue kayuh sepeda itu. Sendirian. Gelap-gelapan.
Gak sampe dua kilo, dari sini gue bisa ngeliat jauh di ujung jalan sana, sosok putih panjang dan wajahnya ngarah tepat ke sepeda gue. Gak sadarpun keringat dingin gue sebesar biji jagung terbit dari pori-pori kening. Langsung gue banting setir dan ngibrit ke arah rumah Mbah (red: nenek dari bokap).

“Bunda! Bundaaaaaa!” teriak gue sekenceng-kencengnya. Lima detik kemudian pintu dibuka, gue langsung berhamburan masuk ke dalem dan cerita sejadi-jadinya. Gue liat jam dan ternyata itu baru jam 3! MAMPUS. Berarti yang gue liat tadi itu beneran kuntilanak! Di depan jalan rumah Mbah! Satu pelajaran yang bisa dipetik: Cuci muka setelah bangun tidur.

Untungnya kejadian di atas ga bener-bener keulang pas sekarang-sekarang, tapi pas tau kalo ternyata  itu beneran terjadi pas gue disana. I was genuinely goosebumped.

Singkat cerita, Ramadhan tahun ini gue pulang ke Pontianak lagi. Sama kaya tahun lalu. Pulang kampung. Sebelas bulan yang udah lewat rasanya kaya…….I’m going back home. Terbayar rasanya segala rasa rindu buat ngeliat wajah Mbah dan Nenek, sepupu-sepupu yang udah jadi ABG, atau just for the sake of going back to hometown. Sejurus pas gue sampe di rumah Om Teguh yang juga rumah yang Mbah tempatin, dan ngeliat jalan di depan rumahnya, keinget beberapa tahun lalu pas kejadian sepeda itu masih kebayang. Ah, haha waktu itu mungkin gue kebanyakan nonton film Horor kali ya. Mengingat, entah kenapa dan entah kenapa gue goblok banget, mau aja maksa-maksa nyokap beliin dvd-dvd horor indonesia. Akhirnya kebawa halusinasi sampe ngeliat kuntilanak di depan jalan itu.

Dulu, waktu gue masih SD, SMP, dan terakhir kelas 2 SMA, yang gue incer setiap gue pulang kampung adalah uang THR-nya. Karena apalagi yang seorang bocah harapkan kalo bukan uang yang bisa dibuang-buang beli apa aja? Rasanya, dulu tuh uang bener-bener bikin hati lega. Apalagi gue baru punya hape. Ada uang masuk dikit di dompet, dan kedapetan pulsa habis, langsung deh beli pulsa yang 100 ribuan. Padahal mah biasanya ngerengek dulu minta ke nyokap dan cuma dibeliin pulsa yang 10 ribuan. Hehehe. Atau uang THR yang gue dapet untuk biaya internet dan beli dvd.

But I grew up.

Sekarang, gue perlahan-lahan mulai sadar kalo lebaran itu bukan cuma untuk cari uang THR. It’s more than that. Lebaran adalah hari kemenangan. Masa penjajakan dimana selama 30 hari kita ditempa sama rasa haus, lapar, cobaan, rasa panas, dingin, dan kelakuan orang-orang yang bikin kesel, akhirnya terbayar di hari lebaran itu. Hari kemenangan. Menang akan godaan syetan. Disitulah hari dimana kita jadi pribadi baru.

Setiap Ramadhan ‘pulang’ dan ketemu sama bulan Syawal, gue selalu rindu. Ramadhan ternyata mengajarkan kita bahwa kesabaran manusia yang pasti ada batasnya masih bisa diatasi kok. Betul gak? Yang gak setuju berarti pendendam. Hehehehe. Al-Qur’an juga udah ngasitau kita untuk menjadikan rasa sabar sebagai tameng dari berbagai macam cobaan.

Jadikanlah shalat dan sabar sebagai penolongmu. Sesungguhnya itu adalah sulit kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.

Selesai sholat Ied, udah tradisinya kami sekeluarga berkumpul di ruang tamu utama dan bermaaf-maafan. Yang lain pada nangis dan dibasuh air mata, gue justru sedih karena ga bisa ngeluarin air mata! Hehehe. Setiap berkunjung ke rumah-rumah saudara, gak sedikit uang THR yang gue dapet. Gue gak mau munafik dan mentah-mentah nolak uang itu, karena itu adalah bagian dari rejeki. Saat megang uang itu gue sadar, disitu ada hak orang lain. Bukan buat gue sendiri; apalagi harus sampe beli pulsa–yang ga ada manfaatnya dan cuma buat kesenangan sesaat– atau beli dvd-dvd horor sampah Indonesia.

Di perjalanan pulang menuju Jakarta, gue ngomong sama diri sendiri: I have to change. I’m gonna make something big and real in my life. Dengan seijin Allah, gue selipkan uang-uang itu didalam dompet.
Pesawat gue udah siap untuk berangkat. Selamat tinggal, Pontianak. Kota Khatulistiwa. Dimana gue menemukan apa arti secarik lembar uang THR, dan apa arti kemenangan yang sesungguhnya.

GOOD AFTERNOON, DEAREST PASSENGERS. WELCOME TO BATAVIA AIR. THE AIRPLANE WILL TAKE OFF JUST RIGHT IN A FEW MINUTES. PLEASE FASTEN YOUR SEAT BELT AND KEEP SEATED UNTIL THE FASTEN YOUR SEAT BELT LIGHT IS SWITCHED OFF. THANKYOU.

Seketika pramugari selesai membacakan perintah itu, gue kembali ke Tangerang and ready to go facing something new out there.

2 thoughts on “Kembali ke Pontianak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s