Do’a Dasimah

  There’s a moment in life where you need to scream. While everything seems to mock you at the most. That scream; the loudest, harshest, rudest voice whereas your lips widely opened. The saliva we shared; bestows upon cheek of the honourable mother. A mother, a warm-blooded creature God has well-perfectedly invented to earth, she has a lovely peace-making hands, who sways her children, protects them from harm, and loves them from deep down.

Ibu adalah wanita yang martabatnya paling terhormat di dalam sebuah keluarga. Allah memberikannya beberapa derajat lebih tinggi dari seorang ayah. Dibawah ini adalah kisah yang mencengangkan siapa saja yang membacanya, bahwa apapun perlakuan kita kepada seorang ibu, meskipun ia tua, lusuh, berpenampilan tidak menarik, dan lecek, ia tetap seorang ibu. Wanita yang mencinta dan dicinta.

***

Namaku Dasimah. Aku adalah seorang ibu. Allah telah memberikan aku kesempatan untuk menjaga titipan-Nya dengan wujud lima orang anak yang begitu aku cintai, oh sungguh aku cintai. Besarnya cintaku tidak mampu menyaingi dua benua di ranah bumi ini digabung menjadi satu. Sedih aku membayangkan, beberapa tahun lalu. Dimana satu orang anakku yang telah pergi meninggalkan panggung sandiwara yang ia dulu kenal bernama Bumi. Namanya Harianto, anaknya lucu, senang sekali tertawa yang meninggalkan dua lesung pipit manis di sudut pipinya. Tidak sampai genap satu tahun umurnya, Allah mencabut ruhnya dari tubuh kecil itu.

Dua dari anak-anakku sudah pergi merantau bekerja sejak dua tahun yang lalu dan sekarang tinggal satu atap denganku. Mereka memiliki anak-anak—cucu-cucu tercintaku—yang sangat lucu. Ah, sungguh ingin rasanya hati ini mendekap mereka—membayangkan anak-anak yang sekarang sudah menjadi orangtua—ketika mereka kecil dulu, menjadi perempuan muda yang sanggup melindungi dan dicium pipinya, diusap air matanya, didekap tubuhnya.

            Umurku sudah enam puluh lima tahun. Sementara tiga anakku yang lain ada yang masih duduk dibangku universitas dan yang lain masih di bangku SMA, anakku yang pertama, Priwari, sukses bekerja dan mendapatkan istri yang begitu jelita dan anakku yang kedua, Renggia, lebih sukses dan mendapatkan income setiap bulannya dengan bayaran yang begitu besar. Aku tahu semua ini karena sesekali mereka memberiku uang saku. Ha. Aku tertawa dalam ringis. Lucu rasanya membayangkan mereka dulu kunafkahi hanya dengan keringat dan tangis yang selalu kubendung untuk membayar sekolah mereka, sekarang dengan mudahnya uang-uang itu berada dalam kantongku dengan uluran tangan mereka. Bahkan mereka tidak perlu usaha banyak untuk menafkahiku.

***

Lebaran tiba.

Semua anggota keluarga berkumpul di rumah Priwari. Aku satu-satunya perempuan yang terlihat tua dan suntuk. Anak-anak dan cucuku yang lain terlihat begitu cantik dibalut baju putih dan gaun-gaun berwarna, rambut mereka ditutup kain putih panjang. Wajah mereka dipoles sedemikian rupa demi menjaga penampilan dan keserasian warna baju mereka.

Aku hanya tersipu malu melihatnya. Namun, aku juga bahagia. Semerbak wangi bedak Mirabella, Olay, Biore tercium jelas di hidungku ketika satu persatu mereka menyalami pipi dan menciumku. Aku sedih lagi, karena ternyata aku hanya menaburkan Bedak Cussons Baby milik cucuku, Admiral. Aku tertawa dalam tangis penuh rasa lega karena merasa terhanyut, ketika dua pipi ibu dan anak bertemu, segala rasa sesal berpendar rasanya, semua rasa kesal berpijar bak lampu pion yang menyala terang.

            Lebaran hari ini sungguh membuatku tersentuh.

***

Mobil-mobil didepan rumah sudah memenuhi garasi. Motor-motor bebek pun rasanya tidak mau kalah, mereka rela bersenggolan satu sama lain demi mendapatkan tempat istirahat, setelah perjalanan panjang menuju rumah Priwari rasanya lepas saja terkentut-kentut. Belum lagi udara panas yang menjunjung. Waduh, lebaran hari kedua itu seperti bersahabat akrab dengan sinar terik matahari.

Aku segera berdandan dan mengenakan kerudung lusuhku sejadi-jadinya. Dari ambang pintu kamarku, Priwari dan istrinya menyunggingkan senyum terbaiknya bagi para tamu yang berdatangan. Mereka menyambutku dengan gentar, sebuah tangan kokoh menyambut lenganku yang gemetaran menuju ruang tamu utama. Aku dibimbing dan dipandu. Sepertinya aku memang sudah setua itu.

Rumah Renggia sedang ramai tamu. Tamu-tamunya adalah teman-teman sekantornya yang berjumlah sekitar dua belas orang. Dari jendela ruang tamu sini, bisa kulihat ia sedang bersalaman menyambut teman-temannya yang baru datang. Aku baru ingat, ia baru bangun beberapa jam yang lalu. Belum mempersiapkan segalanya, dari kue, taplak meja, kursi-kursi, lontong, opor ayam hingga gaun-gaun yang akan ia kenakan. Apa kata teman-temannya nanti? Pasti ia sangat khawatir dan bisa-bisa membuat tamunya tidak betah, khawatirku.

Aku segera bangun berdiri dan membawakan satu panci berisi opor ayam yang masih panas. Kuketuk pintu belakang rumahnya dan ia muncul. Air mukanya langsung berubah melihat penampilanku yang masih lusuh.

“Ibu bawa apa?” katanya sambil seolah-olah menyembunyikan diri dari pandangan teman-temannya.

“Ini….ibu bawakan opor ayam. Kamu emang udah nyiapin makanan buat tamu-tamu kamu hari ini? Bangun tidur aja baru beberapa jam yang lalu.” kataku lembut.

“Alah gausah, Bu! Gia udah siapin semuanya sendiri!” katanya. Meskipun sederhana, namun kalimat-kalimat itu terasa menyentak dadaku karena nada bicaranya naik satu oktaf lebih tinggi dari sebelumnya. Aku tergidik.

“Gapapa kok, Nak. Lagipula kan disana belum ada tamu.” Kataku sambil menyodorkan panci ketubuhnya, mataku tetap lembut.

Air mukanya berubah garang. Matanya seperti melotot. Bisa kulihat dari sudut-sudut matanya ia marah. “Aku udah bilang gausah, Bu!”

“Iya. Iya,” aku tersentak. Masih terngiang akan ucapan-ucapan bernada tingginya, aku segera berbalik badan. Matanya masih melotot garang, aku tidak kuasa melihatnya. Ingin rasanya aku menangis, namun ia tidak berkata apa-apa. Seolah-olah matanya memerintahkan agar aku cepat pergi dari pandangannya. Bisa kulihat syetan sedang merasukinya.

Renggia anak perempuanku yang paling kusayang sekarang lebih menyayangi teman-temannya dibanding ibunya sendiri. Aku tidak pernah habis pikir aku bisa dicampakkan seperti itu. Dengan perasaan yang begitu carut marut, aku meletakkan panci itu dengan rasa sedih yang begitu.

Kuhapus setitik air mataku yang jatuh, hanya setitik. Segera aku kembali ke ruang tamu utama untuk menyambil dan menerima tamu-tamu lebaranku dengan sepenuh hati, karena aku tidak mau mereka mendapati aku sedang menangisi anak yang sudah ia rawat selama  42 tahun, dan hanya dalam 3 menit angka 42 itu rasanya tidak ada apa-apanya. Aku tergidik kembali.

“Bundaaaaaaa!” suara perempuan yang begitu kukenal berdenging dibalik kerudungku. Mataku memburu. Aku segera berdiri dan pergi ke pintu belakang.

Regia sudah muncul di ambang pintu. Setibanya aku di sana, ia menarikku kedalam kamar. “Bu, pake baju yang baguslah. Cepetan dikit, yuk! Temen-temen Gia sebentar lagi udah mau pulang. Ibu dicari, tuh.” kata-katanya terdengar begitu indah beruntut, namun tetap tersirat kemarahan diantaranya.

Aku menyambar kerudung bekas lebaran yang kukenakan dan mengalungkannya diatas rambutku.

“E, jangan pake yang itu! Pake yang itu aja!” katanya sambil menunjuk gaun cokelat panjang pemberiannya.

“Alah, Gi. Masih dirumah aja kok bagus-bagus banget sih. Itu sih kalo mau kunjung ke tempat-tempat jauh. Pake yang kemaren aja ya? Lagian kan masih bersih dan gak bau.” Kataku melembut.

“Ealah, Bu. Jangan lah. Yang bagus dikit lah. Apa itu udah busuk!” matanya melotot. Aku terhempas mendengar kata-kata terakhir yang ia lontarkan tadi. Aku merasa bagai sisa nasi terakhir yang terbuang karena tidak termakan dan dimakan kelabang jelata.

Aku pun menurut saja dan segera mengenakan baju pilihannya. Aku menyambut tamu-tamu—teman-temannya—dengan senyum ikhlas. Senyum yang tidak pernah kulupakan seumur hidup, senyum dibalik kenistaan. Tak kuasa aku membendung air mata yang kukumpulkan dalam hati namun tak sanggup kupecahkan. Kabut-kabut tebal hitam yang tak sanggup menahan air hujan meringis kembali, tak lekas mencumbu daratan. Tertahan.

***

            Innalillahi Wainna Ilaihi Raji’uun.

Tiga hari setelah kejadian itu, Renggia meninggal dunia. Di usianya yang genap 43 tahun, masih terbersit rasa sesal itu aku beradu mulut dengannya. Namun apa daya, haram hukumnya aku menyesali kesalahan yang telah kuperbuat di masa lalu, apalagi dengan anak-anakku.

Di hari ketika ia dimakamkan, Priwari telah mempersiapkan segalanya. Hanya tinggal prosesi pemasukan jenazah Renggia yang masih ditunggu-tunggu banyak orang. Aku tidak tahu selama ini apa komentar dan penilaian orang tentangnya, tapi aku tahu anakku. Waktu rasanya melesat cepat. Gadis kecil yang periang, ceria, dan tak pernah bersedih itu telah tumbuh dewasa menjadi seorang perempuan muda yang cantik dan cerdas. Hingga akhirnya ia dikaruniai dua orang anak.

Anak-anaknya adalah seperempat jiwaku, a half part of her life. Bagiku, Renggia Tribhuwana adalah anakku yang masih kecil. Ia masih sering marah dan tertawa—bahkan menangis—disaat bersamaan. Meskipun sejak kejadian tiga hari yang lalu telah membuat hakikatku sebagai manusia hampir hilang ditampar kata-kata yang bertubi-tubi terlontar dari mulutnya. Ia lebih sayang teman-temannya. Tapi bagiku, ia tidak lain adalah seonggok mutiara yang bersinar terang jauh di dalam lubuk hati kecilku yang telah ia robek.

Hari itu orang-orang terbelalak, terutama aku. Liang lahat tempat peristirahatan terakhir dimana Renggia akan dibaringkan ternyata terlalu sempit. Aku menangis setiap kali melihat tubuh Renggia yang sudah dibalut kain kafan rasanya terlalu panjang untuk ukuran kuburannya yang padahal sudah diatur tinggi dan lebarnya. Para tukang gali kubur melebarkan liangnya, namun tubuh Renggia rasanya semakin panjang dan semakin panjang.

Sejak Ashar prosesi ini sudah berlangsung, namun belum juga berakhir. Awan hitam sudah mulai mengabut di atas Taman Pemakaman itu. Tapi, hari mulai gelap. Sinar jingga mentari dari pihak timur tak ragu mencumbu awan-awan putih yang bersemat di atas kuburan Renggia. Awan-awan itu tampak bersenggolan satu sama lain, mengaduh. Mengeluarkan suara berisik yang kukenal bernama guntur. Air mataku membanjir.

Pukul lima petang hari, orang-orang mulai berbisik membicarakan apa sebenarnya yang terjadi dengan Renggia, kerabat tersayangnya itu. Priwari dengan setia masih memelukku dengan erat. Hingga akhirnya koar-koar para qori’ yang sedang mengaji mulai terdengar, menyuarakan tanda maghrib akan segera masuk, para ustadz tidak punya akal lain. Jasad Renggia harus segera dimakamkan sebelum sang surya bersembunyi.

Tidak ada cara lain, para ustadz setuju untuk melakukan cara terakhir: cara paksa. Akhirnya, jasad pocong Renggia dibaringkan di mulut kuburannya. Meskipun sudah digali ulang berkali-kali, kepala dan kakinya masih saja melebihi batas ukuran kuburannya. Tubuhnya kaku, seperti batu yang tak pernah padam dihempas ombak tsunami di lautan. Ustadz Ruhiyah pun seperti mengambil posisi siap, ia berdiri dengan sigap di sisi mulut kuburan. Orang-orang lainnya mundur.

Sembari mengucap Allahuakbar, Ustadz Ruhiyah menginjak tubuh Renggia hingga tubuhnya terlipat dan masuk kedalam kuburan sebegitunya. Posisi tubuhnya membentuk posisi sudut sembilan puluh derajat. Seperti muncul kuasa Allah yang begitu dahsyat, tanah kuburan disisi kanan-kiri kuburan membenam sendiri, masuk dengan sendirinya kedalam kuburan Renggia. Terkejut, Ustadz Ruhiyah segera ditolong untuk naik ke atas. Astaghfirullah, sungguh besar kuasa-Nya. Mengapa buruk sekali cara Allah mengambil nyawanya? Renggia meninggal dengan keadaan seperti itu. Terlipat didalam tempat peristirahatannya sendiri, meringkik seperti orang yang sedang rukuk. Tidak menghadap kiblat pula.

Aku mengucap istighfar dalam hati berkali-kali.

Dalam setiap do’aku, aku bersimpuh dihadapan kuasa-Nya agar Renggia diberikan tempat senyaman-nyamannnya di alam barzakh, tapi telingaku berdenging tiap kali mengucapkan namanya. Astaga, inikah yang namanya petaka?

Rabbighfirlii waliwalidayya warhamhumaa kamaa rabbayani saghiraa.

Ya Allah, ampunilah dan sayangilah kedua orangtuaku sebagaimana mereka menyayangiku sejak kecil.

2 thoughts on “Do’a Dasimah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s