Kabut, Guntur, dan Pelangi

Manusia adalah penciptaan Tuhan yang paling sempurna. Lebih baik dari makhluk lainnya. Makhluk yang tidur, makan, dan menyaksikan. Lukisan Tuhan yang tiada tara. Garis bayang matahari yang menampakkan siluet palsu dibawah temaram senja buta. Kesemuanya yang merupakan tempat peraduan nasib. Namun, ucapan syukur rasanya masih terasa menggantung sulit disudut-sudut bibir itu.

Aku terus berjalan dibawah sinar mentari mendung. Sinarnya meragu. Sore itu, panggilan cinta dari sang Ilahi terus meraung-raung membahana langit syurga. Waktu Ashar telah tiba. Suara keras dari speaker masjid-masjid kota itu saling beradu siapa yang paling keras. Aku terus berjalan.

Kakiku mulai merintih. Telingaku mendidih. Hari kemenangan itu telah tiba, namun aku belum menang seutuhnya. Dibalik sarung kasarku, lutut ini mengaduh. Mataku membelalak. Ternyata lebaran yang kuharapkan bukan seperti itu.

Tak lama rasanya aku baru mendapati beberapa pasangan muda saling bercumbu. Memadu kasih bak angsa biru penguasa telaga tiga warna. Lelah rasanya aku membayangkan, sudah aku petikkah hikmah dari bulan Ramadhan beberapa hari yang lalu? Sudahkah. Hanya aku, rumput-rumput ini, dan Tuhan yang tahu.

Hijaunya ilalang bahkan tidak mengerti perasaanku, mereka terus melambai dan berkobar. Seolah bersorak merayakan kebingunganku. Saraf-saraf otakku beradu, bergetar hebat menuju simpul saraf yang paling rumit untuk menemukan jawabannya. Namun, hatiku makin meragu.

Awan-awan mulai tersibak. Mereka menyisik, membentuk barisan-barisan yang menyiratkan kebebasan pendapa langit di ufuk timur. Dari bawah sini, aku melihat mereka tersenyum gembira. Tidak ingin rasanya aku mengakhiri perjalananku ini. Indahnya lukisan Tuhan itu. Seperti pemuda-pemudi tadi, sinar jingga yang terbakar seolah mencumbu awan-awan tadi. Diciumnya kabut putih ranum yang mengibaskan sinar birunya. Dibelainya sejuk udara dingin dari selatan yang mengudara dengan mesra. Aku tersipu malu.

Sore itu aku sadar, bahwa ada panas, ada musim, ada kuasa, ada Tuhan. Ada dingin, ada hujan. Ada hangat, ada riang. Ada ranum, ada kulum. Tapi sayang, tidak lama setelah mataku membinar dibuat pemandangan tadi, seonggok kabut tebal berwarna hitam mendaki punggung kabut-kabut tipis favoritku itu. Mereka datang berbondong-bondong. Memancarkan cahaya kuning terang yang cepat lintasnya: halilintar. Suara menggelegar yang begitu abu kusigapkan dibalik telingaku.

Kupendarkan hembusan nafas harapanku, takutku. Lajuku memburu, nadiku membisu, mataku menyatu ketika aku mengetahui hujan akan turun. Aku kecewa, rumput-rumput yang sedari tadi kupijak rasanya pasrah saja. Ah, sudahlah. Ternyata apa yang kulihat tidak seperti apa yang aku dulu bayangkan.

Bahwa awan putih ranum yang begitu halus, yang memancarkan cahaya putih kemerahan yang begitu indah, yang kusangka tidak akan berpendar mengutara, pada akhirnya harus pergi. Aku makin ragu. Menggagu. Mengganggu. Ah. Lepas sudah kesadaranku. Kali ini aku belajar: penampilan bukan segalanya.

Belum sampai kesadaranku hilang sepenuhnya, selintas cahaya murni kuning mendekap tanah disekelilingku. Dalam hitungan nanodetik, rumput-rumput itu hangus terbakar jelata. Jilat api yang mengelilingiku seolah-olah tertawa tak menentu. Lekas aku sadar, sesuatu yang kecil dan rintik membasahi punggungku. Sepertinya air. Satu, dua, tiga, empat rintik bertengger di atas pucuk rambutku. Aku mendongak. Mendapati ternyata kabut-kabut itu hilang berpencar entah kemana. Terganti menjadi lebih dari seonggok kabut hitam pekat yang jahatnya mendendam bagai noda hitam yang membandel di kemeja putihku.

Hujan turun, begitu deras. Sesekali, halilintar kuat saling bersaut-sautan ke segala penjuru langit kedua. Rengeknya menggelegar bagai anak kecil yang tenggorokannya meronta akan pelumas susu sapi. Putihnya mencolok bagai cencorang yang rindu akan rumahnya, melompat dan pergi kesana-kemari demi mencari peristirahatan terakhirnya. Halilintar kali ini mengerikan. Aku tidak tahu kenapa bisa jadi seperti ini.

Mereka menyerangku dengan rasa takut, mengharapkan aku dengan secuil harapan palsu, bahwa awan-awan putih akan kembali. Bersinar dan berjaya tiada pendar suci. Aku melongok mendengar suara buih dan riak putih air sungai di sudut pendulum bumi. Bermain warna dengan mencumbu gradasi. Putih ke abu-abu. Abu-abu ke hitam. Perlahan-lahan, mereka mendapati aku tersenyum, namun terkulum.

Pelangi itu muncul! Pelangi itu ternyata benar-benar ada. Harapan itu muncul! Harapan itu benar-benar ada. Aku tidak perlu berpikir lebih panjang sebelum mendapati bahwa kabut-kabut itu pada akhirnya tersibak. Tebalnya massa yang mereka punya seolah-olah membentang membentuk ruang baru ditengah-tengahnya. Hujan telah berhenti. Bajuku lusuh membasahi rumput-rumput favoritku, tanah negeriku, landai bukitku, terjal jurangku, mantap batinku.

Dari ekor mataku, sulit rasanya aku menepis bulir air mata tipis yang menggunung kecil didalamnya. Entah itu air mata, atau air hujan tadi. Aku tidak peduli. Peduliku pada harapan kini. Esok ternyata masih ada. Aku tidak selamanya terperangkap dalam takut yang hina, atau nestapa yang menggila, atau halilintar sendu yang menyendi pada tulang-tulang langit kedua. Aku bebas. Sinar itu ada. Rasa cinta itu hadir kembali. Relung-relung nadiku bergerak memasuki lorong-lorong nostalgia baru dalam kabut putih sematku. Cerah nun biru.

Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu sekarang warna favorit baruku. Dalam ragu, aku menyendu. Ternyata raguku tidaklah sebegitu. Harusnya aku bebas. Lepas dan hempas. Layaknya burung-burung gereja yang sekarang dengan manjanya sedang memeluk lunglai pundakku. Mereka mencicit legit. Menggigit hempit. Baru sedetik, aku tertidur pulas dalam baring purnama pemapas hari-hariku.

Selamat pagi, duniaku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s