Ulas Novel: Anak Sejuta Bintang

Hari ini adalah hari pertama lebaran. And I’m starting to feel lacking of my creativity of being myself (baca: bete) up here. Akhirnya, peraduan terakhir gue ya Gramedia. Rasanya lama banget gak ke Gramedia, terakhir juga pas kelas 3 SMA ngebetak buku New Moon-nya Stephenie Meyer versi English yang harganya berkisar Rp 140.000. Astaghfirullah. Betapa buruknya kelakuan gue dulu itu. Tapi berhubung hari ini sudah lebaran dan menjadi lembar kosong baru lagi, gue stop.

Buku ini awalnya gak pernah terbersit buat dibeli, tapi apa daya. Tujuan utama gue tempo hari lalu ke Gramedia Ayani Mal Pontianak adalah untuk beli novel Perahu Kertas-nya Dee. Novel ini udah booming banget sejak…..2009an gitu deh, cuman novelnya masih yang versi digital. Sampe gue baru tau mau keluar filmnya beberapa hari lagi, langsung deh gue beli. Buku yang gue maksud adalah Anak Sejuta Bintang karya Akmal Nasery Basral.

Jangan terlalu lama berdiri di tempat gelap, Cal. Karena nanti bayangan kita akan pergi meninggalkan kita. -Bakrie

Di bestseller section table, ada novel Perahu Kertas, Anak Sejuta Bintang, Sepatu Dahlan, dan Twilight! Gila. Twilight masih aja merajai Gramedia, padahal Bella-nya kan udah selingkuh *eh gosip*

Novel ini tebalnya 400 halaman. Just so you know, gue emang gak nyari novel-novel yang berbuku tebal kaya Harpot Deathly Hallows yang sampe seribuan itu. Karena pas pertama gue baca dan nonton filmnya, lo tau apa? Sekeluarnya dari studio bioskop, gua ngedumel sendiri karena gue adalah salah satu penonton yang gak ngedumel sendiri tentang filmnya. Karena disamping kiri-kanan gue, penonton lain yang keluar  kaya ngedumel, “Apaan sih filmnya jauh beda banget sama bukunya.” Ah menurut gue bagus-bagus aja kok, pikir gue dalem hati. Belum-belum lagi, ada bocah cewek berkacamata yang kayanya sih addicted banget sama Daniel Radcliffe, sampe-sampe kacamata yang dia pake bulet penuh kaya yang dipake Harpot. Ya Ampun dek, menderita banget sih hidupnya dicanduin sama dunia sihir.

Tapi itu cuma sekilas. Intermezzo masa lalu.

Unik.

Novel ini nyeritain tentang seorang kisah anak kecil, Ical, yang bernama lengkap Aburizal Bakrie. Selain Ical, tokoh utama yang menjadi pusat perhatian adalah Ibu dan Bapaknya, Roosniah dan Bakrie. Novel ini–menurut takrif yang diungkap dalam halaman awal novel–adalah kisah nyata dari kehidupan seorang public figure Indonesia Aburizal Bakrie yang menceritakan kehidupan masa kecilnya selama ia duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) dari tahun 1952-1958.

Disitu, Ical bertemu sama banyak banget temen-temen baru. Uniknya, temen-temennya yang udah satu kelas sama Ical sejak TK, beberapa bahkan ada yang terus sekelas sampe kelas 6 SD. Setiap adegan demi adegan dibumbui kisah menarik Ical dan kawan-kawan. Kocaknya keluguan Ical sebagai bocah SD yang masih pengin tau ini-itu. Temen-temen , guru-guru (cik-cik), dan kedua orangtuanya yang begitu men-support keberhasilan Ical sebagai murid yang bersinar dikelasnya dan di lingkungan luar sekolah dengan cara yang khas, membuat novel ini menjadi lebih ‘kaya’ akan makna. Sampe-sampe, Ical dijuluki “Anak Sejuta Bintang” karena keberhasilannya meraih peringkat 1 dalam lima tahun berturut-turut.

Terangkai Indah.

Akmal Nasery Basral dengan ciamik menyusun bab per bab dengan cerita dan alur yang begitu memikat siapapun yang membaca. Gue berhasil menyelesaikan membaca novel ini cuma dalam waktu 3 hari (dan alhamdulillah gue ngerti! Subhanallah. Pertama kali, pengalaman baca novel itu baca Novel Breaking Dawn yang tebelnya sekitar 800 halaman. Gue baru sadar ternyata baca novel itu butuh pengkajian dan pemahaman kaya baca Al-Qur’an: harus khidmat dan tenang. Mungkin ini hikmah Ramadhan, sesuatu banget bisa ngerti baca novel tebel). Berbagai macam pelajaran-pelajaran berharga yang sering kita temui di kehidupan sehari-hari atau bahkan yang sudah pernah kita dapatkan dari orangtua kita sejak kita kecil akan banyak bermunculan di setiap babnya.

Novel ini adalah salah satu novel yang gue bener-bener salutin. Here’s why. (1) Gue gak pernah habis pikir kalo ternyata seorang bocah kelas 2–KELAS 2!–udah ngerti tentang cinta-cintaan. Sebenernya kalo diliat dari segi bentuk cinta yang kaya gimana, bentuk cinta yang seorang bocah SD lagi alamin, biasa aja cerita cintanya. Tapi mungkin, penulis yang merangkai kata-kata dan dialog antartokoh yang seolah-olah terlalu ngerti tentang cowok ganteng dan semacamnya. Seperti dalam salah satu adegan ketika Ical sedang di ruang kelas–tepatnya waktu masih kelas 2 SD di Sekolah Rakyat (SR) Perwari–dan ada murid baru yang namanya Ade Kadiman.

Jadi, di ceritanya Ade Kadiman ini ganteng luar biasa, tubuhnya tegap, hidungnya mancung, dan matanya tajam. Gila. Rio Dewanto kayanya kalah. Teman sekelas Ical, Wiwik, yang diam-diam naksir sama Ade sempat melakukan perubahan drastis pada dirinya. Jadi, dulu si Wiwik (yang sebelum dateng Ade) yang kalo dihina langsung kejer-kejeran, rambutnya gimbal dan kaya cewek berandal gitu, pas si Ade dateng, Wiwik langsung kaya sok-sok anggun gitu, gak suka main kejer-kejeran lagi, dan jadi lebih pendiem karena kedatangan cowok itu. Agak aneh aja, seorang bocah SD yang belom tau apa2 ternyata bayangan gue salah setelah baca novel ini.

Keunikan–atau bisa dibilang kejanggalan–lainnya adalah adegan yang terlalu mendewasakan karakteristik seorang anak kecil. Di sebuah adegan di bab pertengahan, latarnya adalah hari-hari setelah lebaran, rumah Ical diramaikan dengan anak-anak yang meminta sumbangan. Dengan nurani dari dalam dirinya sendiri, Ical memberikan seonggok anggur yang ia tidak tahu anggur itu punya siapa. Singkat cerita, ibunya marah-marah. Dialog antara Roosniah-Ical yang tergambar begitu kentara nilai moralnya. Ical membalas cecaran dan omelan ibunya dengan begitu bijak. Yang menurut gue, dilain sisi ada nilai moralnya, tapi juga unik banget. Bahwa bocah aja bisa sebijak itu ngomong, kalo di-flashback dikit, kelas dua sd gue baru kenal buku tulis sama bolpoin. Ya Ampun. Mau ngomong ama orang aja keringetan.

Highly Recommended.

Secara keseluruhan, buku ini patut buat dibaca semua umur. Dibuat dengan bahasa yang ringan namun tetap tidak membosankan untuk diikuti, dengan alur dan penggambaran yang begitu spesifik. Sebuah kisah tentang keingintahuan, petualangan masa kecil, persaingan, perbandingan, kecintaan, dan kekeluargaan yang satu ini patut jadi kebanggan Indonesia. Somehow, selepas baca novel ini, dan masih dalam suasana haru-biru Ramadhan, gue jadi pengen lebih deket sama bokap dan nyokap atau jadi pengen berada dalam dekapan temen-temen tersayang. *hiks*

Review.

Best Scene: Ketika Bakrie, ayah Ical, menyampaikan nasihat-nasihat di bab akhir. Ketika Ical terpuruk karena hanya menjadi peringkat dua di kelas enam dan bukan menjadi peringkat satu.
Best Quote: “Seorang laki-laki pemberani, pemimpin yang berjiwa pelindung, tak akan membiarkan dirinya dikuasai kesedihan terus-menerus. Bukan kesedihan yang menguasai dirinya, tapi dirinya yang harus bisa menguasai kesedihan. Sedih itu boleh, manusiawi, tapi jangan terlalu lama. Kalau kita anggap suasana gembira itu seperti siang hari yang cerah dan terang, maka kesedihan adalah suasana gelap. Kita tak boleh terlalu lama berada di dalam gelap, Cal. Karena kalau terlalu lama, bayangan itu akan pergi meninggalkan kita” – Bakrie ke Ical, dalam bab Jangan Berdiri di Tempat Gelap.

SELAMAT MEMBACA!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s