Ramadhan Menyinggung

Subuh itu, kota Pontianak tidak berpenghuni. Hanya hawa dingin yang menggigit tulang dan bunyi jangkrik disana-sini yang membuat kota itu semakin sepi. Suara-suara koar penduduk setempat yang menyerukan suara takbir Allahu akbar walillahilham sebagai penenggelam sunyi. Hanya Rudi, salah satu penduduk kota yang sedang duduk termangu di bawah kaki langit. Mencium lembut harum aroma embun dini yang masih sejuk, menunggu pelukan hangatnya sinar sang mentari. Telapak tangan kanannya masih menopang dagunya yang kokoh. Matanya menengadah ke langit angkasa; memikirkan sesuatu…

Hari ini hari terakhir bulan Ramadhan, di penghujung bulan suci. Rudi tidak pernah membayangkan untuk bisa menikmati ketenangan suasana dan kelembutan udara bulan Ramadhan di pagi hari. Subhanallah... Ucapnya dalam hati. Sesekali ia menutup mata, mengingat-ngingat kejadian beberapa tahun silam, ketika dirinya sibuk akan hilir mudik kehidupan kota dan karir yang menenggelamkannya dalam kesesatan yang begitu nyata. Sosok ibu dan ayahnya yang telah pergi jauh entah di pelosok angkasa mana sekarang hadir dalam benak Rudi. Wajah mereka yang begitu kentara, ocehan-ocehan mereka yang menyakitkan hati justru menjadi pemacu bagi Rudi untuk menjadi orang yang lebih baik di bulan Ramadhan kali ini.

Bandung, 10 Oktober 2011.

Ramadhan hari ke-28. Menjelang lebaran. Laki-laki berperawakan tinggi, berkulit bersih, dan berbadan tegap itu masih terlelap di meja kantornya. Beberapa dokumen-dokumen dan arsip-arsip yang ditumpuk tebal terlihat menggunung di mejanya. Ya, Rudi bahkan tidak ingat pukul berapa tadi malam ia tidur. Bahkan mungkin, ia tidak ingat lagi apa yang ia kerjakan malam tadi. Dua kancing atas kemejanya dibiarkan terbuka, tubuhnya berkeringat, bibirnya terlihat masih basah. Satu note kecil dari sekretarisnya, Nindya, terjatuh di lantai bersama dengan kertas-kertas coretan yang berhamburan dimana-mana. Ruangan kantornya kacau balau.

Selepas adzan subuh berkumandang, rasanya masih berat bagi Rudi untuk membuka kedua matanya. Alhasil, ia telat makan sahur. Kejadian ini bukan pertama kalinya; terbangun di meja kantor pukul delapan pagi, kerja lembur, sendirian, ruangannya berantakan. Padahal Rudi terkenal dengan kerapian, kesopanan, dan keefektifan dia sebagai direktur di sebuah perusahaan swasta itu. Mejanya juga selalu terlihat rapi, tidak seperti sekarang ini. Ada apa gerangan?

Dengan segera, Rudi berdiri malas. Sambil memicingkan kedua matanya, ia mengulet. Otot dadanya yang bidang menyembul kentara dari balik kemeja yang ia kenakan. Tanpa aba-aba, ia segera pergi ke toilet kecil yang ada di dalam ruangannya dan membasuh wajahnya dengan air dingin. Tidak terasa, pagi itu ia bangun pukul tujuh lewat lima belas menit. Dengan air yang masih menetes-netes dari wajahnya, ia kembali ke ruangannya dan baru menyadari betapa berantakan ruangan itu. Ia berjingkrak, memilah jalan agar kertas-kertas di bawahnya tidak terinjak dan basah. Ia pun lupa shalat subuh. Ia lupa Tuhannya: Allah. Kalimat mohon ampun pada Allah yang dulu seringkali ia ucapkan itu masih terbersit di saraf-saraf otaknya yang bergetar hebat. Kalimat itu.

Tidak sampai ia mengingat begitu lama, tiba-tiba seseorang dari luar mengetuk pintu. Rudi terperangah. Segera ia merapikan rambutnya yang berantakan, mengancing kembali kemejanya, memasang ikat pinggangnya, dan mengenakan jam tangannya.

“Masuk!” kata Rudi setelah ia merasa ia cukup rapi.

Pintu ruangan itu terayun begitu enteng dan dibaliknya ada sosok perempuan cantik, berperawakan tinggi, semampai, berbodi, rambutnya masih agak berantakan, dan bajunya yang kemana-mana. Ya, itu Nindya. Sekretaris kesayangan Rudi.

“Selamat pagi, Pak..” ucap Nindya dengan suara yang meluluhkan hati pria manapun yang mendengarnya.

Rudi tersenyum manis. “Pagi, Nindya…”

Nindya membalas senyumnya. Bajunya yang agak terbuka menampakkan cetakan payudaranya yang begitu ranum. Oh, sungguh ranum. Ikat pinggangnya belum tersimpul benar, ia bahkan belum mengenakan sepatu kerjanya. Ia masih berdiri di ambang pintu sambil membawa nampan yang terdapat dua gelas besar berisi kopi susu hangat. Ia menutup pintu dan meletakkan satu gelas besar itu di depan Rudi.

“Hhh. Semalem gimana Pak? Pulang jam berapa? Saya capek banget deh.” ucapnya dengan desahan yang memicu birahi lelaki manapun. Ia meletakkan nampan itu di sofa tidak jauh dari meja Rudi, menghampirinya dan memijat bahu Rudi yang kokoh.

Rudi terhenyak keenakan. “Saya gak pulang, Nin. Saya disini kok. Ketiduran.”

Ia menghentikan pijatannya, “Lho? Terus bapak sahur dimana? Bi Ina dan Pak Trejo kan shift kerjanya cuma sampai jam 11 malam, Pak.”

“Saya telat. Mungkin nanti saya akan cari makan siang di sekitar sini. Kalau perut ini tidak diganjal, waduh saya bisa-bisa tidak fokus pas rapat nanti.”

“Bapak nggak puasa hari ini?”

Tidak hari ini saja sebenarnya, kata Rudi dalam hati.

“Ah, untuk apa puasa!” ucapnya sambil meninju angin, senyumnya ringis mengejek, “puasa itu kan cuma untuk orang-orang yang sudah terlalu lama hidup miskin. Ia tidak punya makanan dan terlalu lama meminta-minta dari orang-orang yang mampu. Tidak dikasih makanan, akhirnya mereka tidak makan selama berhari-hari. Nah, pas bulan puasa datang, mereka pasti kegirangan bukan main karena setiap maghrib, mereka selalu bisa pergi ke masjid manapun yang mereka mau untuk mendapatkan makanan secara cuma-cuma.”

Nindya tergidik. Tapi, senyumnya tak pernah ia kulum. Pijatannya semakin lama semakin keras, dan ia tidak sadari itu.

“Yasudah, Pak. Kalau memang bapak berpikirnya begitu. Mungkin bapak capek banget ya, bekerja lembur semalaman. Akhirnya mikirnya jadi yang nggak-nggak kaya gini.”

“Kan lemburnya sama kamu,” Rudi tersenyum menggoda. “Gak bakalan saya capek kalau lembur udah ada yang nemenin. Hehehe.”

“Ah, bapak bisa saja.” Nindya terkikik canggung.

“Kamu nanti mau nemenin saya makan siang?”

Pijatannya memelan. “Kan kita hari ini ada meeting dengan Menteri Luar Negeri Pak? Masa mau dicancel begitu saja?”

“Ah tidak papa. Kan direkturnya disini aku. Aku yang menugaskan, aku juga yang bisa membatalkan. Lagipula, Menteri Luar Negeri itu kan teman baik ayahku, dan aku juga sudah cukup kenal dengan keluarga beliau. Jadi, no need to worry.” jawabnya santai.

Nindya merengut. Garis-garis wajahnya menegaskan raut kebingungan, carut-marut. Ia merasa Pak Rudi sudah melampaui batas terlalu jauh. “Oke deh, Pak. Nanti saya konfirmasi ulang dengan beliau.”

Pijatan yang semula hanya berfokus di bahu itu, lama-kelamaan menjalar kemana-mana. Tangan nakal Nindya yang begitu halus dan putih bersih semakin lama semakin turun ke daerah yang dianggap daerah vital laki-laki. Sepanjang pembicaraan tadi, tangannya ternyata sudah meraba-raba kemana-mana. Jari jemarinya dengan anggun menari-nari turun di atas dada Rudi yang kekar. Sesekali mendaratkan tangannya di lengan Rudi yang berotot; lengan yang membuat setiap wanita muda menjerit tidak tahan untuk merabanya. Oh, indahnya dunia.

Malam itu, Rudi dan Nindya kembali melakukan hubungan seksual yang begitu intim. Jauh lebih intim dari malam-malam sebelumnya. Setiap malam, Rudi tidak pernah mengindahkan pesan-pesan singkat, pesan suara, atau bahkan missed call dari ibu atau bapaknya di Jakarta sana. Kalaupun ada sms masuk menanyakan kabar, Rudi hanya menjawab seperlunya saja. Ia lebih mengindahkan keindahan tubuh Nindya yang begitu semampai dan ranum harum bibirnya, tidak peduli dengan keadaan ibunya yang sedang sakit-sakitan atau ayahnya yang sekarang ternyata kerja serabutan. Astagfhirullahaladzim. Ia menikmati setiap lekuk tubuh Nindya setiap incinya. Begitu pula Nindya, kesempatan untuk menikmati tubuh ideal laki-laki tidak akan dilewatkannya begitu saja. Bibirnya tidak hanya merapat ke bibir Rudi yang tebal; menampakkan garis-garis kejantanan seorang laki-laki idaman, tapi juga turun ke dada, lengan, kemaluan, hingga dubur Rudi yang menurut Nindya, sungguh memikat perempuan manapun.

Sesekali Rudi mendesah menikmati bagian-bagian tubuhnya yang sangat dinikmati sekretarisnya itu. Ia kerja lembur lagi, bersama Nindya lagi, melakukan lagi. Sama seperti malam-malam Ramadhan sebelumnya. Desahan demi desahan yang dibuat kedua makhluk itu justru semakin membuat satu sama lain lebih bergairah dan lebih bergairah lagi. Alhasil, mereka pun melewatkan malam yang begitu indah dan tak terlupakan.

~~~

Suara adzan subuh sedang berkumandang. Ia telanjang dada dan hanya mengenakan celana boxer. Masih di ruangannya, Rudi masih terlentang pulas setelah melewatkan malam yang panjang. Nindya, yang tubuhnya masih diselimuti kain tebal panjang masih tergeletak pulas disampingnya. Rudi beranjak ke toilet di dalam ruangannya. Membasuh wajahnya dengan air dingin, merasakan sejuknya tetesan-tetesan air yang melewati pori-pori wajahnya, membiaskan sinar terang lampu toilet dibalik wajahnya yang putih bersih. Tak sedikit tetes-tetes air yang ia basuh itu jatuh keatas tubuhnya yang tegap, tetesan air itu meluncur melalui celah dadanya yang bidang dan perutnya yang kokoh.

Belum sampai adzan selesai, lalu lintas saraf-saraf otak yang terbersit di dalam alam bawah sadarnya mengingatkan untuk segera shalat subuh. Alam bawah sadarnya mengatakan demikian. Namun apadaya. Nampaknya Rudi tidak begitu mengindahkan hal itu. Ia mengecek Blackberry-nya, bermacam-macam notification lights yang berkedip-kedip membuatnya penasaran. Ada tiga belas pesan singkat yang masuk dan dua missed call. Sms-sms yang masuk kebanyakan dari rekan kerjanya, dan dua missed call dari Ibu dan Regia. Keduanya menelepon di waktu yang hampir bersamaan, dua puluh lima menit yang lalu.

Sementara Nindya adalah sekretarisnya, Regia adalah adik bungsunya yang sekarang sedang melanjutkan studi di Iowa University, United States. Ada rasa kangen yang mendalam terhadap Regia. Ia tidak pernah bisa menyangkal itu. Terutama ibunya, yang sedang menjalani kemoterapi kanker payudara. Ketika Rudi ditransfer kerja di Bandung, ibunya masih sehat. Menjelang Rudi dijabat sebagai manajer HRD, ia mulai menerima kabar bahwa ibunya mulai merasakan keganjilan pada dadanya itu. Hingga sekarang, Rudi yang telah menjabat sebagai direktur utama, sama sekali tidak mengindahkan kerinduan ibunya yang begitu mendalam di Jakarta sana.

Apa ya kabar ibu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s