Ramadhan Menyinggung (Bagian 2)

Setitik air mata Rudi muncul di pelupuk bulu matanya. Ia membayangkan apa rasanya payudara raum yang dulu selalu ia hisap ketika masih bayi, ia ambil nutrisi-nutrisi bergizi yang berasal dari ASI ibunya, sekarang payudara itu rusak, yang satu hilang entah kemana. Rudi merasakan sesuatu yang bergejolak di dalam hatinya. Berteriak. Minta keluar dari dalam dadanya. Astaghfirullah….ucapnya.

Pontianak, Menjelang Bulan Ramadhan.

Setahun sudah Rudi menjabat sebagai direktur utama sebuah perusahaan swasta ternama di Jakarta. Berhubung besok adalah hari pertama bulan Ramadhan, Rudi dipindahtugaskan di wilayah kerja yang khusus menangani lahan-lahan kosong di tanah khatulistiwa itu. Nindya sudah menikah dan memiliki dua orang anak. Namun, meskipun jarak sudah memisahkan mereka, jauh dari waktu mereka dulu bersenggama, mencumbu, Rudi selalu menyimpan nomor handphone Nindya bagaimanapun caranya. Dan Nindya yang sekarang bukan lagi seperti Nindya yang dikenal orang-orang dulu.

Ia berkerudung sekarang. Wajah putih bersihnya nan lonjong dibalut kain sutra halus berwarna cerah setiap kali Rudi bertemu dengannya di lain kesempatan, membuat aura kecantikannya semakin terpancar. Aduhai cantiknya, tidak pernah kusadari betapa cantiknya kau ketika kau masih menjadi sekretarisku dulu, pikirnya. Simpul-simpul saraf abstrak di dalam otaknya yang selalu membisikkan pikiran-pikiran maksiat terus-menerus bergetar hebat setiap kali Rudi melihat perempuan cantik. Wajar saja, Rudi masih dua puluh enam tahun. Gairahnya begitu memuncak dan birahinya yang selalu menggelegak setiap kali melirik atau dilirik wanita cantik. Namun, ia akhirnya sadar. Semua itu hanyalah perhiasan dunia dan tipu daya setan yang begitu memikat. Akhirnya.

Astaghfirullahaladzim…

Sekarang, ia adalah Rudi yang berbeda. Rudi seringkali menangis tiap kali membayangkan dirinya setahun yang lalu, Rudi yang tidak pernah sahur, yang selalu bangun telat setiap kali berhubungan seksual dengan wanita mana saja, yang selalu membiarkan kancing-kancing kemejanya terbuka dan menampakkan bidangnya dada seorang laki-laki, yang selalu membiarkan resleting dan ikat pinggangnya kedodoran setiap kali ia terbangun di meja kantornya.

Setelah Nindya menikah, bayangan-bayangan Rudi tentang hidup enak, bebas, dan nyaman selamanya ternyata keliru. Nindya, yang tadinya ia pikir nyaman dengan hubungan gelap seperti itu dalam waktu lama, ternyata akhirnya menemukan tambatan hatinya juga. Akhirnya. Kata itu mengiang-ngiang dalam benak Rudi. Tidak ada yang berlangsung selamanya, kesemuanya adalah sebuah perubahan konstan yang harus dilewati dan dijalaninya dengan perbaikan-perbaikan kedepan agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik.

“Saya tau Bapak orang baik. Bapak adalah anak kesayangan orangtua Bapak. Sebaiknya Bapak kembali ke jalan dimana Bapak masih mengenal Allah. Pekerjaan dan karir telah membutakan Bapak. Sehingga apa yang sekarang Bapak kerjakan, Bapak yakini bahwa itu semua adalah benar.” nasihat Nindya yang terus mengiang-ngiang itu masih membutakan jalan pikirannya.

Ia bingung. Apakah ia harus rela meninggalkan semuanya ini, agamanya, jabatannya, martabat dan hartanya demi Allah? Apakah ia harus rela berhaus-hausan di siang bolong tanpa wanita, tanpa gairah dan tanpa uang yang berdatangan? Sanggupkah seorang Rudi, direktur muda yang sangat bertalenta mengikuti seluruh peraturan-peraturan yang dibuat oleh agamanya sendiri itu?

Ia masih termangu di depan rumahnya di deretan Jalan Ngurah Rai. Rumah bernomor 180 itu terlihat berdiri kokoh di antara rumah-rumah tetangga lainnya. Sama seperti Rudi, sosok muslim yang terus berdiri kokoh mencari jati dirinya sebagai seorang muslim diantara ‘direktur-direktur sesat’ lainnya yang telah terperosok dalam lubang kesesatan yang begitu jauh.

Menjelang maghrib, ia bersikeras untuk pergi ke masjid menjalankan ibadah shalat sunah tarawih berjamaah. Ia harus shalat kali ini. Rasanya, sudah lama sekali ia merindukan sejuknya hawa masjid, merasakan lembutnya permukaan sajadah ketika ia sujud, bertemu dan bersalaman sambil menyunggingkan senyum terbaik ketika bertemu tetangga. Oh, indahnya Ramadhan. Betapa ia merindukan Ramadhan. 

Ia bergegas mengambil air wudhu. Membasuh segala bagian-bagian tubuhnya yang telah ia kotori sendiri beberapa tahun-tahun silam, berkumur-kumur membersihkan bekas lipstick perempuan-perempuan muda yang dulu ia sering ciumi bibirnya. Tetesan-tetesan air wudhu yang sejuk jatuh ke bajunya. Dulu ia ingat sekali, ketika terbangun di pagi hari, bertelanjang dada dan membasuh air dingin di dalam ruangannya, air-air itu jatuh ke atas dadanya. Ia merasakan betapa sejuknya air itu. Betapa damainya sebuah pagi yang diiringi dengan basuhan air sejuk pelepas dahaga. Kini, ia merasakan hal yang serupa dengan pribadi yang jauh lebih baik. Bukan Rudi yang bertelanjang dada, tapi sudah berbaju koko. Tidak ada lagi celana yang melorot dan ikat pinggang yang lupa dikencangkan, tapi sarung polos yang masih harum. Subhanallah.

Momen-momen inilah yang ia dulu idam-idamkan, yang sempat ia bingungkan: siapa dia sebetulnya? Sekarang, insya Allah ia sudah mendapat petunjuk, namun belum sepenuhnya.

Muadzin sudah mengumandangkan adzan maghrib. Rudi berjalan dengan khidmat penuh rasa hormat kepada Allah dalam perjalanan menuju masjid. Tidak sedikit motor-motor yang ditumpangi anak-anak muda yang sedang berpelukan berlalu lalang di depannya. Anak-anak muda yang berpelukan erat, laki-laki dan perempuan, tidak menghiraukan ada adzan maghrib dan bahwa esok adalah hari pertama bulan suci. Mereka malah asyik sendiri berpelukan dan berciuman seperti itu. Matanya nanar. Wajahnya berubah masam membayangkan betapa jauh lebih parah ia dulu melakukan zina yang begitu kotor dengan sekretarisnya. Astaghfirullah.

Tapi tiba-tiba BRAKKKKKKKKKKKKKK!!!!!!!!!!!!!

Suara hentaman keras jauh di depannya mengagetkannya. Matanya lebar, mulutnya menganga. Ada apa gerangan? Orang-orang sekitar mulai berkumpul mengitari sebuah motor yang tertabrak truk container. Astaga! Ternyata penumpang di motor yang tertabrak itu adalah dua orang anak muda yang tadi ia lihat, yang berpelukan dan yang dengan seenaknya saja melintas didepannya. Mengerikan sekali Allah mencabut nyawa kedua anak muda ini. Sungguh mengerikan. Darah terlihat di sepanjang jalan, cairan merah kental itu terus keluar dari kepala si perempuan, terlihat ada sikut tangan di penghujung jalan, sikut si cowok yang terlepas dari sendinya. Mengerikan sekali.

Iqamat sudah dikumandangkan.

Polisi berdatangan. Rudi masih sibuk melirik-lirik dari kerumunan orang-orang ini, terdesak oleh himpitan bahu-bahu orang yang penasaran ingin tahu apa yang terjadi. Tapi Rudi berbalik badan dan menyegerakan diri untuk melaksanakan shalat Maghrib berjamaah. Sepulang dari shalat, ia menyempatkan diri untuk menengok Tempat Kejadian Perkara (TKP). Terlihat beberapa warga yang melipat tangan, beberapa terlihat menutup mulut dan menangis. Mungkin itu keluarga korban. Rudi pun tetap berjalan dengan mata was-was. Palang police line sudah direkatkan di sepanjang TKP, menandakan agar tidak ada sembarang warga yang nyelonong masuk ke TKP. Ada tiga orang polisi di dalam police line itu, mereka sedang berbicara dengan para saksi mata. Rudi menemukan bercak-bercak darah yang masih menempel di aspal jalan itu. Ngeri membayangkannya. Ia tergidik.

Namun, terlepas dari kejadian itu. Tiba-tiba Rudi membayangkan kembali kedua anak muda itu yang masih melintas di depannya ketika ia sedang berjalan menuju masjid beberapa menit yang lalu. Rudi begitu bersyukur bahwa ia bukan orang yang tertabrak. Apa jadinya kalau ketika Rudi yang ternyata ditabrak motor lain karena pengendaranya sedang mengantuk? Apa jadinya kalau ia dan Nindyalah orang yang jatuh tersungkur di jurang sewaktu mengendarai mobil untuk makan siang bersama? Apa jadinya kalau Allah sudah berkehendak lain? Apa jadinya ketika Tuhan sudah menetapkan takdirnya? Rudi hanya meringis.

Ia membayangkan betapa Allah menyayanginya. Ia tidak pernah membayangkan selama lebih dari setahun ini ia berbuat dosa, Allah ternyata masih memberikan kesempatan untuk bertobat. Di bulan Ramadhan inilah, ia rasa ia harus memperbaiki segala kesalahan-kesalahannya yang telah ia perbuat di masa lalu. Nindya saja bisa berubah, masa aku tidak, pikirnya. Anak-anak muda itu hanyalah gambaran atau sampel yang telah Allah rancang dengan sebegitu indahnya bagi Rudi untuk melihat kembali ke dalam dirinya sendiri. Bahwa setiap dosa yang dilakukan dan kita menyesalinya, pastilah Allah akan menerimanya dengan tiga syarat: menyesali perbuatan itu, berjanji untuk tidak mengulanginya, dan berusaha untuk tidak kembali terjerumus ke lubang yang sama.

Ia camkan itu baik-baik.

~~~

Ia sudah menopang dagunya disana selama berjam-jam. Hingga akhirnya pagi menjelang. Sinar matahari dengan hangatnya memeluk kota Pontianak yang lengang. Udara pagi bulan pertama Ramadhan begitu indah, sejuk namun tidak dingin, hangat namun tidak terik, sungguh damai. Hati Rudi begitu tenang rasanya. Jika mengingat kembali satu tahun lalu, hatinya pagi ini masih grasa-grusu, kacau, tidak tentu, tidak mengindahkan apa yang akan Allah perbuat padanya. Tapi hari ini, ia tumbuh menjadi sosok yang benar-benar berbeda.

Rudi ikut tersenyum melihat matahari seolah-olah sedang tersenyum kepadanya, dosa-dosanya yang telah lalu bagai awan-awan yang bening berpendar hilang menegaskan garis-garis wajah langit yang putih, daun-daun yang menari-nari seiring angin semilir yang menyembul dibalik pecinya. Ia menatap langit dan mengangkat tangannya, “Ya Allah, pertemukanlah aku dengan Ramadhan tahun depan.”

SELESAI.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s