Maaf Ma, Nisa Merokok.

Hari ini aku bingung. Wajahku terasa lebam sehabis ditinju pohon berduri berkali-kali, tubuhku gemetar seiringan dengan detak jarum jam yang semakin menghunus, hatiku kacau, mataku sayu, rasanya aku ingin muntah. Memang, tidak ada yang bisa tau bagaimana rasanya dimarahi orangtua berulang kali dan dicaci maki dan diduga yang tidak-tidak oleh teman-teman sekitarmu.

Namaku Nisa. Aku anak baik-baik. Gadis dari keturunan keluarga yang baik-baik. Wajar saja, namaku Annisa Nadia Dzikrillah. Begitu islami, mengandung ruh rohani yang begitu relijius yang diberikan oleh kedua orangtuaku. Di sekolah, aku bukan siapa-siapa. Tidak terlalu populer, tetapi juga tidak terlalu kuper. Aku anak yang pendiam, namun cukup atraktif jika berinteraksi dengan teman-teman sebayaku. Bahkan, guru-guruku sering mengatakan kalau aku ini diam-diam menghanyutkan. Kalau tidak diajak berbicara, tidak merespon. Tetapi kalau dijahili sedikit, bisa ngamuk. Begitulah aku.

Aku punya cukup banyak teman di sekolah, di rumah, dan pekarangan kebun kecil di belakang rumahku; kebanyakan temanku di kebun adalah para petani yang sangat ramah dan terbuka kepadaku, bahkan mereka adalah satu-satunya tempat pelarian ketika aku sedang memiliki masalah di rumah. Meskipun penampilanku yang agak nyentrik, para petani, khususnya ibu-ibu mengatakan bahwa aku adalah seorang anak gadis ABG yang seharusnya mendapat perlakuan sebagaimana seorang gadis. Tapi aku tidak peduli. Aku pede dengan keadaanku yang seperti ini.

Suatu malam, teman-teman sekolahku mengajakku  makan malam. Katanya sih makan malam, tidak tahu jelasnya apa acaranya. Malam ini malam minggu, tepat sekali, perfect timing. Kebetulan bulan ini adalah bulan ramadhan, jadi akan diadakan acara buka bersama di suatu food court di kawasan Bintaro. Aku memesan Big Mac Beef Burger yang rasanya begitu menggoyang lidah, satu pack kentang goreng, dan satu teh kemasan yang disajikan dingin. Tidak sampai lima menit, perutku sudah terisi penuh sampai-sampai aku tidak bisa bergerak. 

Salah satu teman cowokku, Rando dengan segera mengeluarkan satu bungkus rokok berbungkus putih, dicomotnya satu batang dan disulutnya ujung batang rokok itu. Aku terhuyung melihatnya; pura-pura tidak peduli dan melanjutkan ngobrol dengan Maria, teman satu bangkuku. Tidak sampai aku berbicara panjang lebar dengan Maria, asap rokok yang dihembuskan dari bibir Rando seolah-olah secara sengaja ditiupkan ke arahku hingga aku terbatuk. Tapi, tidak sampai aku terbatuk untuk kedua kalinya, Maria mencomot satu batang rokok yang lain dari bungkus rokok Rando.

Ia menyulut dan membakar rokok itu, menghisap rokok itu dengan nikmatnya dan mengepulkan asap-asap tebal ke udara. Aku sangsi melihatnya. Aku merasa malu dibuatnya. Teman-temanku adalah teman yang selalu sejalan denganku. Mereka selalu go with it dengan apa jalan pikiranku. 

“Nis, cobain satu gih. Mumpung masih banyak. Ayo, coba sekali dulu. Apa salahnya kan?” bujuk Maria dengan kata-kata yang menggoda.

Aku tetap sangsi. Wajahnya terlihat begitu santai dari sebelumnya. Setelah menyulut batang rokok, aku melihat raut wajah dan garis-garis muka mereka yang perlahan berubah menjadi jauh lebih rileks dan santai dibanding tidak merokok. Aku pun penasaran untuk mencoba. Dengan tekad dan keraguan yang begitu, aku comot satu batang rokok dan kusulut ujungnya. 

“Uhuk…….Uhuk…..” aku terbatuk saat menghisap pertama kali.

“Pelan-pelan, Nis. Coba nikmati dan rasakan lezatnya. Kau pasti akan terbiasa kok.” bujuk Maria sambil menggosok-gosokkan telapak tangannya di atas punggungku.

Aku terhasut, mencoba menghisap rokok itu lebih dalam, dan lebih dalam. Semenjak itu aku merasakan ketenangan batin dan sebuah rasa yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya: kenikmatan abadi. Apalagi jika disulut malam hari ditemani secangkir kopi susu. Wah, bisa-bisa tidak bisa tidur aku.
Selama dua minggu berturut-turut, aku tidak bisa melepaskan dari yang namanya rokok dan kopi. Mataku mulai menghitam karena kurang tidur, badanku jadi semakin lunglai, materi-materi pelajaran di sekolah yang diajarkan pun terasa melayang-layang di atas kepalaku, aku tidak fokus ketika diajak bicara, nilaiku anjlok.

Akhirnya, orangtuaku dipanggil ke sekolah untuk berhadapan dengan Kepala Sekolah mengingat aku tidak akan bisa mengikuti Ujian Kenaikan Kelas jika nilaiku tidak bisa diperbaiki. Tapi bodohnya aku, aku malah tertidur ketika dinasihati. Hingga akhirnya, aku merasakan pukulan keras yang mendarat di pipiku. Aku terhempas. Saat bangun, aku tidak sadarkan diri.

Aku begitu terhanyut dalam pergaulan yang begitu merusak. Hingga yang tadinya aku merasa cukup dan mampu dalam mengikuti pelajaran, ternyata itu semua keliru. Orang-orang yang selama ini aku percaya ternyata bukan siapa-siapa selain penghancur yang sangat profesional. Aku lupa Tuhan. Aku lupa mensyukuri ni’matnya. Aku mendekati larangan-Nya. Aku lupa bahwa aku adalah perempuan. Menyulut rokok dan bergaul bersama para cowok-cowok sebetulnya diharamkan. Tapi apa mau dikata? Aku sudah terjerumus ke dalam kesesatan yang nyata.

Maria dan Rando sekarang sedang berada di penjara karena mengonsumsi narkoba tingkat lanjut, ditambah usia mereka yang masih muda sudah menggunakan obat-obatan terlarang di tempat tersembunyi. Ya ampun. Aku membakar uang kedua orangtuaku, memusnahkan hasil keringat mereka, membumihanguskan darah mereka, membanting balik tulang yang telah mereka perjuangkan untuk menyekolahkanku. Dengan air mata tumpah aku mengucap astaghfirullahul adzim berulang kali dalam hatiku.

Siapa aku?
Bukan siapa-siapa.
Hanya penyulut uang dan darah pahit orangtua.

Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s