Kisah si Pengamen Jalanan

Hidupnya gentar. Tak kenal usia. Tangannya memilin batang gitar ukulele kemana-mana. Memasang wajah pusara tak bertuan. Berpindah dari satu bus ke bus lainnya. Merangkak, berjalan, bahkan berlari dengan sandal bututnya. Demi mengejar selembar biru penentu masa cerah. Untuk ibu di rumah, untuk adik yang menangis, meronta-ronta perutnya. Tiada kesempatan untuk menuntut jua, merenggut asa, meraih cita di sekolah.

Kami para pengemis receh para penghuni jalanan. Yang bernyanyi, berjoget, bahkan menangis demi koin-koin berharga. Satu, dua, tiga remah koin di jalanan yang kami temukan menjadi tumpuan hidup kami. Hasil bernyanyi seharian hanya bisa untuk makan sore ini. Hari mulai panas, aku mulai lekas. Semakin kencang aku berlari. Tapi ternyata ukulele ku meleleh mencair di bakar marahnya sang matahari.

Suatu hari aku bosan, aku muak dengan keluhan ukulele kecil yang aku beli dengan hasil mengamen hari itu. Ia meronta, menarik-narik baju pemberian ayah yang selalu aku sisipkan di bawah ketiak sebelum mengamen. Sabar ya, sahabat… kataku dalam hati. Pagi itu aku terbangun, dinginnya udara dini hari yang menggigit tulang mengetuk-ngetuk ubun kepalaku, menghembusan nafas bersih tanda aku agar lekas bangun. Karena jika aku tidak bangun, tubuh ibuku akan semakin kurus, adik-adikku semakin meronta dan membuas nantinya. Aku dan ukulele kecilku penentu nasib hidup ini.

Hari itu aku memutuskan untuk tidak pergi mengamen. Kakiku tersengal, tanganku terlipat, kerongkonganku terasa haus bagai sepeda motor yang rindu pelumas. Aku lelah. Sambil melamun manja, mendongak atap-atap rumahku yang hilang dua per dua, aku melihat tabungan ayam adikku yang ada uangku juga didalamnya. Tabungan itu tersudut di pojok kamarku yang 3 x 3 meter. Dengan tekad bulat, kupecahkan bank koin itu. Tidak sampai dua detik, bunyi koin-koin yang berjatuhan bergerincing membahana seisi rumahku. Tidak ada suara setelah itu. Aku comot lima per lima koin-koin kuning dan perak kecil itu. Segera aku keluar dan mengucapkan Assalamu’alaikum Ibu dan adik-adikku dengan cinta dalam hati.

Tak terasa embun pagi itu terlalu malu untuk berbaring di atas daun-daun, para kumbang jelata pun tak ragu untuk menari-nari di atas rerumputan yang tersenyum, kepompong yang hendak berdewasa dengan eratnya mencumbu kekayuan. Matahari sudah muncul. Aku bisa mendengar riuh di kejauhan, suara pasar, pertemuan para saudagar dan penggantung nasib. Menjual apa saja, membeli apa saja.

Pasar loak. Suara dari pasar itu semakin keras ketika aku berjalan mendekati riuh itu. Berbagai barang-barang bekas atau barang daur ulang dipampang, dipajang, dan dijual di setiap meternya. Ramai nun gaduh, riang nun teduh. Kesemua barang itu tidak ada yang menarik–padahal memang aku saja yang tidak berduit–semua barangnya berharga diatas tiga ribu rupiah. Sayang, saku ku berkata lain. Aku hanya mengantongi uang sebanyak seribu lima ratus rupiah. Meskipun ada beberapa barang yang sependapat dengan suara kantongku, tapi aku terlalu malu untuk mengeluarkannya, karena uangku koin semua–ya yang 5oo-an lah, 100-an lah, bahkan ada yang 25 sen. Ditambah, bajuku yang lusuh dan penampilanku yang kusut. Rasanya aku ingin cepat-cepat memisahkan diri saja dari kerumunan orang ini.

Tapi setelah aku berjalan dan berjalan, satu hamparan kain putih yang lebih kecil dari hamparan kain-kain lainnya menarik matanya. JUAL BIOLA BEKAS. HANYA SERIBU RUPIAH SAJA. Tulisannya yang besar-besar membuatku semakin tertarik. Sudah bosan aku dengan ukuleleku, kini waktunya aku harus berubah, beli ah..lagipula kemampuan menggesek biolaku bisa sedikit. Tidak apalah, pikirnya panjang. Setelah ia memilih, ia mendapatkan biola barunya.

Segera ia turun ke jalan dan naik bus jurusan Garut – Lebak Bulus. Dengan rasa percaya diri yang tinggi dan biola baru yang ia tenteng sekarang, ia masuk ke dalam bus berpenumpang berdesakan itu. Seketika bus dijalankan pelan-pelan, ia mulai menggesek biolanya perlahan disesuaikan dengan irama dari lagu yang ia nyanyikan. Seisi bus hening dan mendengarkan lagu Cinta Dalam Hati-nya Ungu dengan khidmat. Beberapa penumpang terlihat berbinar matanya. Aku terus menggesek biolaku dan bernyanyi. Tak kurasa, ternyata alunan musik yang kumainkan menciptakan harmoni yang begitu indah. Tidak sedikit koin-koin yang aku dapatkan ketika aku menyodorkan bekas plastik permen Kopiko kepada para penumpang. Beberapa penumpang menyodorkan recehan seribuan, bahkan ada beberapa yang memberiku lima ribu rupiah. WAH!

Hari ini aku akan makan banyak, air mata ibuku akan tumpah membayangkan momen ini, perut adik-adikku akan terlonjak kegirangan, bulir tangisku tumpah seketika. Sambil menghitung pendapatanku hari ini, adzan zuhur sudah berkumandang. Segera aku shalat zuhur dengan pakaianku yang belum terlalu bau dan sarung dari masjid. Aku panjatkan syukur yang tiada henti. Aku panjatkan doa agar aku diberi kemudahan dalam mencari penghasilan demi ibu dan adik-adikku.

Dengan senyum, aku pun termangu di kaki masjid mengharap sesuatu. Bahwa hidup adalah perjuangan. Apa yang akan terjadi esok hari jika kita menyerah hari ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s