Twitter: Dunia Tipu-tipu

Twitta….twittaa..tuit…tuit.
Tweet. Tiap menit. Tiap detik.
Tak kenal lelah. Tak kenal status.
Asal nama bisa terjual.
Status haram pun dipublikasikan dengan entengnya.
*ketawa renyah*

Apa sih sebenernya yang kalian cari di Twitter? Ga sedikit rasanya orang-orang ini secara cuma-cuma blow up sejadi-jadinya di social network berlogo burung biru ini, dari update status di negeri orang, sampe warna celana dalem pun bisa jadi bahan yang normal untuk di-tweet. Dimanapun, apapun mood yang lagi into, pasti tangan ini dengan santainya mulai ngetik-ngetik di keyboard BB atau iPhone untuk update status. What they feel. Just to let public know what they are doing instantly, even for some, tweeting, let’s say, too much matters to their lives.

Pertama kali gue kenal Twitter itu…….tahun 2009. Selesai SMP. Pas facebook udah banyak ditinggalin anak muda. Karena korban pergaulan temen-temen labil gue, akhirnya gue memutuskan untuk bikin akun twitter kala itu. Mungkin, satu dari tiga orang Indonesia yang baru bikin Twitter itu, bisa dibilang Gue. Rasanya agak bangga pas pertama kali punya twitter. Berhubung belom terlalu ada banyak followers waktu itu, jadi bisa ngomong apapun di timeline. Kurang labil apa cuba.

Masuk SMA, mulailah lagi obsessed2nya sama twitter, ditambah satu temen2 sekelas ikutan bikin akun. Setahun berjalan, ternyata Indonesia sudah masuk Most Citizen Who Access Twitter In The World list dan berada pada urutan ketiga DUNIA! Du-ni-a. Gila! Ga pernah kebayang gue, sehari bisa berapa kali orang-orang ini ngetweet hal yang sengena-ngena nya dan bahkan hal yang aib sekalipun bisa jadi Trending Topic. Hebat ya, teknologi.

*ngecap lidah*
*geleng pala*

Sejurus, gue ngerasa kalo main Twitter itu suatu kebutuhan. Karena mungkin, pas masih awal-awal dari euphoria Twitter yang membludak, rasanya agak garing kalo seharian aja gak nge-tweet. Some part of my body dies rasanya. Sampe akhirnya kejadian BB gue ilang, beberapa bulan lalu, mengingat hape yang ilang itu Blackberry, media PALING pewe buat ngetweet, hilang. Ada semacam rasa kehilangan yang begitu mendalam. Hahahaha. But I moved on.

Twitter rasanya bakal jadi hal yang normal buat bagi para ABG, ditambah buat bisnis dan promosi. Di TV-TV, gak jarang presenter berita yang selain namanya ditampilin, juga username twitternya dibawah namanya–which means Twitter has been spread out nationwide! Good thing tho. Ditambah kesederhanaan dan ke-gak-ribetan yang Twitter punya dibanding media sosial lainnya, orang-orang jauh lebih into sama Twitter karena tampilannya yang gak neko-neko dan kita bisa ngomong straightforward disitu.

Tapi, semakin kesini. I found out Twitter had kinda been boring recently. Gak tau kenapa. Semenjak BB ilang, the urge to tweet seems to fizzle gradually. Fizzlin’ and fizzlin’. Ampe sekarang. Walhasil, kalo mau ngetweet, gue mau ga mau harus off ke echofon dan ngidupin PC. BUT I MOVED ON (Again). Hai kalian anak-anak-yang-kecanduan-Twitter, let me tell you this. Setelah melewati beberapa proses dan pertimbangan, I tell you that this thing destructs you slowly heheheh ga percaya? Bisa dibuktiin sendiri. Kalian main twitter, katakanlah sehari bisa sekitar 20 kali buka handphone. Dan setiap kali buka timeline, pasti bisa sampe 7-15 kali ngetweet. Bahkan hal yang gak penting. Secara ga sadar, ngeliat timeline orang-orang yang isi tweetnya ga ada hubungannya sama sekali sama kita, yang bikin kita ada rasa untuk ngetweet yang macem-macem, itu justru malah bahaya. Kalo dihubungin sama agama, istilah nguntit atau ngestalk ini haram hukumnya. Karena apa yang kita utarakan sama yang kita baca yang jelas-jelas bukan keperluan kita, nanti akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Heheheh. Apapun yg kita tulis. Bahkan apa yang ada dipikiran kita sebelum ngetweet itu bakal dipertanggungjawabkan kelak.

Secara ga sadar, (terutama gue) ngerasa kalo selama 2 tahun belakangan udah ditipu si burung biru ini. Setiap ada kejadian APAPUN itu, whatever mood I’m into, pasti pelariannya ke Twitter, share sjadi2nya sama orang2 yang gak semuanya kita kenal. Cuma untuk kasitau hal-hal semacam itu, yang bisa dibilang kurang penting dan bisa2 menjurusnya ke publikasi aib sendiri. Gue ngerasa kalo hal2 yang berkenaan dengan hidup gue sekarang, sejalan, senafas dengan hadirnya Twitter ini. Apapun kejadian yang baru terjadi (kecuali hal2 diluar pribadi ya) pasti selalu ada di Twitter. Menuhankan Twitter bahasa kasarnya. Hahhaha sounds cliche ya, but i found Twitter is, like, the media of giving feedback of reaction between one to another people we barely know in lifetime.

Di Twitter, semua orang bisa jadi teman.
Di Twitter, semua orang bisa jadi pacar.
Di Twitter, semua orang bisa kenal sama kita.
Di Twitter, hal-hal buruk bisa aja kejadian.
Di Twitter, hal-hal yang kita bikin bohong di timeline, bisa menjurus ke masalah lebih panjang di kehidupan nyata.
Di Twitter, I found nothing.

So, would quitting Twitter be a wise choice? Or is it just a media/place to express your feelings to public through your Status Updates, while the other are, somehow, cornered for being jealous of what you wrote and annoyed to tweets you said to your friend while they don’t know who they truly are.

I’ve been enjoying tweeting these days. But it kinda made me think that, how much times I’ve wasted for this social-media-urge-to-moody-people thingy with my other IMPORTANT activities.

Suck up. I quit.

One thought on “Twitter: Dunia Tipu-tipu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s