Purnama Lunglai Memapas Lailatul Qadr

Ramadhan..
Tikam saja iblis yang menjelma selimut
Yang mendekap binal saat sahur menafsir mimpi
Tanduknya menikam lamban subuh menderu
Melipat angan berkepanjangan alasan duniawi
Menebar pongah siang semakin liar

Kucoba menanam bibit kurma di ladang savana tanpa gembala
Kuburkan takabur saaat syukur terpusara pada malam sumbing
Melumbungkan hasil semai tiga puluh hari
Saat imsak menyapa dan petang mempersilahkan

Ketika malam tak lagi prosa
Ketika pagi bukan sekedar puisi
Ada adzan maghrib makin menggebu kurindu
Di beranda pahala lapar dan dahaga
Serupa kalam pantang tenggelam diterjang amarah pasang

Sunyi menghimpit detik musim yang mengintip dibalik jendela
Menyalami riuh pekat yang berkelana rapuh
Aku mengadu pada witir dan sepertiga malam terahir
Oh aku ingin hangat itu larut dalam siul dzikir
Mencair dalam denyut nafasku
Kumaklumi bias purnama lunglai memapas batas
Karena lailatul qadr lebih benderang dari dua belas dentang kisahnya

Berkali kubaharui bayang dalam paras cermin
Pada jemari rapat do’a bertapa
Mengoyak baju lusuh nafsu dan amal kumal
Dalam ramadhan ini, telanjangi aku Tuhan
Lalu sematkan tadarus ditubuhku
Meski suaraku makin parau mendebat amuk
Kuingin embun fitri berkerumun dalam jiwaku
Tersenyum mendulang kemenangan

Postingan ini adalah hasil reblog dari http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2012/07/22/purnama-lunglai-memapas-lailatul-qadar/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s