Hai, Namaku Pohon Sawit

Diantara pohon-pohon yang menjulang tinggi.
Di tengah hutan belantara di sebelah timur Tasikmalaya, Bandung.
Tubuhku yang menerjang awan turut menghiasii indahnya siang yang terik ini.
Setiap turun hujan, anak-anak dan cucu-cucuku berjatuhan diambil para anak-anak itu.

Adalah Rian dan Atma. Yang setiap siang sepulang sekolah selalu menyimpan dan membawa mereka pergi. Entah kemana.

Namaku Sawit; Pohon Sawit. Sepanjang penglihatanku, siang ini aku tidak sendirian. Selain bersama sawit-sawit yang lain, aku melihat disudut barat hutan ini dua orang bocah yang memanggul karung goni besar. Yang satu laki-laki, Rian, dan yang satu lagi perempuan, Atma. Mereka jauh-jauh dari rumah membawa karung goni –yang beratnya bahkan dua kali lipat dari berat tubuh mereka– untuk membantu sang ibu di rumah. Sebuah keluarga miskin di daerah Tasikmalaya yang setiap hari hanya mengisi perut dengan nasi seadanya dan garam.

Rian adalah anak pertama dari sembilan bersaudara. Disusul Atma, si anak kedua. Ketujuh adiknya yang lain setiap hari bisa dengan sabarnya menunggu mereka berdua pulang sekolah, atau sang ibu yang membantu kerja sebagai kuli sewaan. Sambil bekerja, kadang sang ibu membawa Vania, si kecil yang masih balita, dan malah harus bersusah-payah mengangkut bata dan berbagai puing-puing bangunan sambil menggendong Vania.

Hampir setiap hari, keadaan rumah bisa sangat sepi, kosong melompong. Entah apalagi yang harus keluarga ini harapkan, masa depan akademik hanya ada di tangan Rian dan Atma, karena hanya mereka dua orang yang disekolahkan. Itu pun mati-matian menyekolahkannya.

“Hari ini ibu masak apa, Dek?” tanya Rian pada adik-adiknya dengan logat sunda yang kental.
Teu masak, Kak.” katanya.
“Setidaknya ada nasi ya.” kata Rian.
“Iya. Pake garam wae cukup lah.” kata adiknya lagi.

Dari postur tubuhku yang tinggi, saat memerhatikan kedua bocah ini di ujung jari-jariku, mengambil buah-buah kelapa sawit yang jatuh, aku melihat ada dua orang bocah lain dari seberang sana yang juga sedang membawa karung goni: anak dari keluarga miskin lain.

Seselesainya mereka mengumpulkan buah sawit dan mengumpulkan sebanyak dan sepenuh mungkin kedalam karung, inilah saat-saat yang menyenangkan. Waktunya barter! Tidak jauh dari tempatku berdiri tegak, mereka perlahan menjauhiku dan pergi ke sebuah rumah yang tingginya hanya setengah dari tubuhku. Kecil.
Di luar rumah, ada si bapak yang siap menampung sawit-sawit hasil sisa kumpulan anak-anak ini, dan memberikan mereka uang sesuai seberapa berat karung sawit yang mereka berikan.

Alhamdulillah. Rian dan Atma hari ini mendapatkan Rp 12.000. Setidaknya lebih banyak dari hari kemarin yang hanya Rp 6.000. Berhubung buah-buah yang aku hasilkan hari-hari kemarin tidak begitu banyak. Aku jadi ikut sedih melihatnya.

Pulang dari rumah itu, mereka tersenyum lebar. Bibir mereka tertarik begitu lebar sampai air mataku yang hampir berlinang akhirnya memudar. Dua belas ribu rupiah ini, penentu masa depan ini, penentu hidup-mati keluarga ini, yang akan digunakan untuk membeli nasi, air bersih, minyak goreng, dan berbagai macam kebutuhan lainnya.

Mereka –Rian dan Atma, dan mungkin anak-anak dari keluarga miskin lainnya– yang tidak sepatutnya mendapatkan perlakuan seperti itu. Yang seharusnya sepulang sekolah, mereka harus istirahat untuk menyimpan energi agar bisa belajar malam hari, tapi mereka malah di hutan belantara. Mencari sisa-sisa buah yang jatuh untuk dikumpulkan dan ditukarkan dengan uang. Untuk secercah senyum dibibir sang ibu, dan tidak ada lagi suara groooowwwwwwk dalam perut adik-adik mereka ketika mereka lapar. Tidak akan ada waktu untuk bermain bersama teman. Dan malam harinya, mereka acapkali belajar dengan mata terkantuk-kantuk.
Oh tidak….. Kawan, andaikan kau bisa melihat apa yang kulihat, kau pasti akan lebih sering menangis. Ingin rasanya aku melihat pemandangan lain dari atas sini. Aku bisa melihat tingginya burung-burung elang yang hilir-mudik sana sini, betapa sombongnya mereka karena bisa terbang tinggi. Atau birunya awan yang menggantung pekat di langit. Ternyata selama ini aku salah. Aku hanya melihat tingginya langit, tapi tidak melihat yang dibawahku: Penderitaan.

“Rian, Atma… Makasih ya udah kerja untuk ibu. Ibu juga kerja untuk kalian.” kata sang Ibu. Perlahan air matanya berlinang.
Kedua bocah itu hanya terdiam.
“Suatu saat kalau ibu sudah punya banyak uang, ibu janji akan sekolahkan kalian. Biar gak nunggak lagi, dan gak diejek teman-teman lagi.” air mata Ibu tumpah.

Perlahan, hari mulai gelap. Aku mulai tertidur. Aku bermimpi bahwa keluarga ini suatu saat akan diberikan keberkahan dan kenyamanan hidup oleh Tuhan yang sudah menciptakanku begitu tinggi seperti ini. Ryan.. Atma.. terus berjuang, Kawan. Perjalanan masih panjang didepan mata. Aku kembali menangis dalam tidurku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s