SNMPTN: Momen-Momen Itu

It’s here! Hari-hari yang ditunggu telah tiba. Perhelatan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri atau yang biasa disebut SNMPTN dimulai.
12 dan 13 Juni 2012 dimana penentuan itu dilaksanakan.
Di sebuah ruangan seluas 7 x 8 meter ber-AC yang tidak lebih besar dari jumlah daya tampung universitas yang para calon-calon mahasiswa ini perebutkan.
Sebanyak 20 orang random dari berbagai sekolah, baik dari SMA Tangerang, SMA Jakarta, maupun Madrasah Aaliyah ditempatkan dalam satu kelas — berjuang memperebutkan 88.071 kursi di Perguruan Tinggi Negeri yang diidam-idamkan 300.000 peserta lainnya.
Disinilah.

11 Juni 2012. 19:23.
Satu hari sebelum hari H, gue jauh-jauh dari meja belajar. Buku-buku cetak tebal yang gue sengaja beli buat tembus PTN gue singkirkan. Buku catatan Kampus yang menggunung — hasil gue belajar di Primagama selama kurang lebih dua bulan — gue pisahkan dari buku-buku yang lain. Ditangan gue cuma ada buku “Kiat Lulus SNMPTN Jurusan IPS. 99,99% Anti Ngulang!” dengan ditulis hurufnya besar-besar. Malam itu, gue gak belajar. Cuma review hasil tujuh kali Try Out di tempat les dan pahamin ulang betul-betul pembahasan soal-soal SNMPTN tahun lalu.

Kartu peserta, fotocopy tanda lulus asli dari sekolah, KTP, SIM, dan STNK udah gue persiapkan didalem tas. Baju dan jeans udah gue setrika. Sepatu All-Star yang udah tergenang lumpur dimana-mana juga udah gue poles dan gue bersihin. Papan jalan juga udah siap. Gak lupa, soal-soal Try Out terakhir gue selipkan di clip papan jalan gue, iseng-iseng gue ambil pensil dan gue tulis “Sebelum mengerjakan: Baca doa, inget ibu dan bapak, kerjakan seefisien mungkin.” Dibawahnya, gue tulis “Setelah selesai: Cek ulang jawaban dan kertas lembar jawaban. Serahkan semuanya pada Allah.

Dengan hati yang mantap dan yakin, gue tuliskan dengan tinta berwarna merah bertuliskan “MAN JADDA WAJADA!” disebelahnya gue tulis “UNPAD, tunggu saya“. Setelah shalat isya dan berdoa meminta kemudahan hati dan kelapangan pikiran buat besok, gue langsung bergegas tidur.

12 Juni 2012. 04.00.
Belum sampai azan subuh berkumandang gue udah bangun. Tanpa basa-basi, gue langsung ambil handphone, nelfon Khailani dan Adit. Berhubung gue belom terlalu hafal jalan menuju lokasi, jadi mau gak mau gue harus bareng orang-orang ini. Lokasi tesnya di SMP Pancakarya, Cikokol. Meskipun udah survey, tapi tetep deh kalo dalam urusan hafal-menghafal jalan angkat tangan gue. Apalagi daerah yang belom pernah dilewatin.

Dengan hati mantap, gue cium tangan nyokap. Bu, minta doanya ya… kata gue sambil melangkah ke luar rumah. Sekitar jam 7 kurang 15, rombongan gue sampe di depan gerbang Komplek Pendidikan Cikokol; dimana di komplek itu isinya sekolahan semua. Sambil ngelirik palang petunjuk jalan. Gue tiba didepan lokasi tes. Beratus-ratus orang meramaikan jalan komplek. Ada yang otw ke kampus, ada yang masih sibuk cari-cari lokasi karena mungkin baru pertama kali dan gak survey, beratus motor ikut menambah kesibukan pagi itu, belum lagi ditambah mobil-mobil yang malang melintang. Makin bikin pusing tujuh keliling.

Alhamdulillah, setelah menunggu 15 menit waktu ujian masuk. Gue sudah duduk dibangku gue dengan tenang.

Senyum Pengawas dan Tangan Allah.
Jam menunjukkan pukul 08.15 tepat. Di ruang 293 dengan nomor urut satu inilah gue sekarang berada. Urut nomer satu dan duduk paling depan, dekat pintu kelas. Duduknya sudah diatur satu-satu. Dan jarak antarmeja juga agak jauh. Hampir gue pastikan, satu kelas itu bener-bener random dan gak ada yang kenal satu sama lain. Gue perhatikan muka mereka satu-satu. Wajah tegang, excited, tenang semuanya ada disitu. Wajah-wajah yang gue prediksiin bakal meramaikan wajah anak-anak UI nantinya. Wajah-wajah yang gue duga bakal jalan dengan senyum sumringah di pekarangan halaman Universitas Padjadjaran. Wah, priceless deh momen ini.

Sementara masih duduk tenang dibangku ini, gue pejamin mata sebentar, berdoa demi kelancaran ujian tes. Sesaat setelah gue buka mata, lembar jawaban ujian (LJU) udah ada di atas meja. Sebelum mengisi lembar jawaban, tiba-tiba dua orang pengawas berkerudung didepan kelas melambaikan tangan. Semua peserta menengadah.

Sebelumnya, mari kita berdoa menurut kepercayaan masing-masing. Berdoa dimulai…………Selesai.” Setelah membacakan beberapa peraturan menjawab di Lembar Ujian, kedua pengawas bilang “Kerjakan yang mudah dulu. Ingat ya, soal SNMPTN dirancang untuk tidak dikerjakan semua. Jadi, kerjakan saja yang menurut kalian bisa. Kalau ada jawaban yang sekiranya ragu, jangan dijawab karena takut mengurangi poin kalian. Yasudah, selamat mengerjakan.” Katanya dengan senyum manis.

Dengan berhati-hati — mengingat lembar jawaban ini bukan lagi Lembar pas gue ngerjain TO, atau pas UN jadi harus bener-bener hati-hati. Gak boleh kotor dan basah. — gue lap telapak tangan gue yang acapkali berkeringat. Dengan membaca basmalah, gue mulai menuliskan biodata diri selengkap mungkin dan mastiin biar gak ada yang terlewatkan.

Soal Tes Potensi Akademik (TPA) sudah dibagikan. Gue buka lembar merah muda pertama. Gue baca baik-baik petunjuk menjawab soal. Lalu lembar kedua. Dengan sigap, soal nomer 1 seolah-olah menyerang otak bertubi-tubi. Entah karena apa, tapi diawal menit, soal nomer 1 itu gue lewatkan. Karena masih bingung jawabannya apa.
Tapi setelah nomer 2 dan nomer 3 terlewatkan dan lanjut nomer seterusnya, gue mulai inget apa yang udah gue tuliskan tadi malem. Ingat Ibu dan Bapak. Dengan membayangkan wajah Ibu yang sempat tersenyum penuh harap tadi pagi, gue semakin lancar mengerjakan soalnya nomer-per-nomer, halaman-per-halaman, satu persatu gue libas habis soal TPA itu.

Meskipun ada beberapa nomer yang bolong karena gue masih ragu, tapi gue tetep meyakinkan diri sendiri kalo jawaban yang udah gue isi itu Benar. Sekitar 4 atau 5 nomer yang gue kosongin. Sisa waktu yang masih tersisa tinggal 10 menit. Gue cek lagi nomer peserta, identitas dan jawaban. Bel istirahat akhirnya berbunyi.

Gue tutup soal dan langsung gue serahkan sama Allah. Apapun hasilnya, baik bagus maupun buruk, gue akan terima. Gue keluar dengan lapang dada dan coba untuk ngelupain semua beban dan rintangan yang ada disoal dan coba untuk fokus ke tes yang berikutnya: Tes Bidang Studi Dasar.

Niat gue kuliah itu sebenernya ada banyak, cuman yang bener-bener jadi fokus gue cuma satu: Mau kuliah ke luar negeri. Entah gimana caranya, tapi gue harus pergi ke negeri orang. Merantaulah, suatu saat kau akan dapat kerabat dan keluarga baru. Kata Imam Syafi’i. Sebelum gue mantepin hati buat milih Sastra Inggris, sempet terbesit di otak gue untuk ngambil jurusan Hubungan Internasional; karena awalnya gue ngira dengan masuk HI peluang untuk pergi ke luar negeri bisa lebih terbuka. Tapi setelah ngeliat bahasan politik luar negeri yang begitu rumit, gue putuskan untuk mundur. Ngeliat politik Indonesia aja gue udah puyeng.

Setelah istirahat selama 45 menit. Bel masuk kembali berbunyi.
Tes Bidang Studi Dasar pun akan segera dimulai. Setelah menenangkan diri di bangku ini, gue langsung berdoa….lagi. Gapapa kaaan ga salah hehehe. Setelah isi biodata lengkap, gue langsung buka soal. Dan pertama kali materi soal yang gue buka adalah Bahasa Indonesia. Setelah lancar ngerjain sebanyak 5 soal, gue langsung beralih ke materi soal Bahasa Inggris. Jadi, gue ngerjainnya longkap-longkap gitu. Alhamdulillah. Bahasa Inggris gak sesulit yang gue bayangkan, bacaan yang disoalkan pun gak sepanjang dan sebelibet yang waktu di Try Out. Kalo di TO, satu bacaan untuk empat sampe lima soal aja bisa satu halaman penuh. Tapi pas ini, cuma setengah atau seperempatnya. Pertanyaan yang disuguhkan juga masih bisa pake nalar. Kali ini gak terlalu ruming.

Karena saking fokusnya ngerjain bahasa inggris dan bahasa indonesia, matematika dasar gue abaikan. Akhirnya, di menit-menit terakhir, gue sempetin buka soal matematika dan berhasil menjawab 4 soal lah. Sisanya? LEWAAAT. Baru ngerjain beberapa menit, tiba-tiba pengawas udah nyamperin, berhubung gue duduk dinomer satu jadi gue yang kertas ujiannya pertama diambil. Huhuhuhu.

Hari pertama gue cukup optimis.

13 Juni 2012. 10.00
Teeeeeeeeeeeeeetttttttttttt. Bel panjang berbunyi. Tanda Tes Bidang Studi IPS dimulai. Seperti biasa. Gue ingat kata-kata yang gue tulis satu hari sebelum ujian. Dengan ringannya, gue ayunkan tangan untuk membuka soal ips. Ekonomi skip, Sejarah skip, gue langsung menuju soal Sosiologi.

After all, soal-soal IPS ini agak melenceng dari soal-soal yang udah gue pelajarin sebelumnya. Yaaa kalo ditanya tingkat kesulitannya, kira-kira 40% lebih sulitlah. Akhirnya ekonomi gue kosongin 6 atau 7 nomer. Sejarah dan sosiologi keisi semua — tapi cuma yakin kira-kira 75% bener semua. Geografi kekosong 4 soal.

Gue pulang dengan hati lega. Karena, seluruh pengorbanan selama dua bulan yang udah gue jalanin. Leslah, harus belajar drill dirumah sendiri, harus rajin cek-cek internet dan browsing buat nambah referensi, ahirnya terbayarkan dengan dua hari ini.

Di perjalanan pulang, yang gue inget cuma satu: Ibu dan Bapak. Semua hasil tes udah gue serahkan sama Allah. Mau hasilnya nanti bagus atau jelek sekalipun gue harus siap. Harus siap buat menghadapi yang gak pernah gue duga-duga sebelumnya.
Sambil mengucap Amiiiin gue tutup muka dan tidur.
Bismillah.

One thought on “SNMPTN: Momen-Momen Itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s