Kehidupan Bioskop

Hmm…kehidupan bioskop emang ga pernah lepas dari yang namanya kesel, sedih, haru, bangga, dan ngena. Semua perasaan itu pernah gue rasain pas lagi nonton didalem bioskop. Entah itu bau popcorn orang yang nyenget idung, ato sekedar bau kaki/kaos kaki orang-orang ini yang innocently ngangkat kakinya dan ngelipet gitu aja sambil ngelanjutin nonton; gatau disebelahnya sebentar lagi pingsan karena bau kakinya. Hoeks.

June is coming. So-called predikat gue sebagai movie-goers kayanya emang kebukti banget bulan ini! Pasalnya, bulan Mei lalu banyak banget film favorit gue yang keluar! Nah, Juni comes out; bulan Blockbuster. Makin gila lagi deh gue kebioskop hehehe.
Singkat cerita, seminggu terakhir ini…….gue udah tiga kali ke bioskop. Gila gatuh? Ga juga sih. (Ceritanya) gue bakal mecahin rekor untuk nonton full seminggu. Tapi itu gak bakal mungkin karena cita-cita gue dan harapan yang gue taro di buku-buku materi IPS yang harus gue baca (instead of pergi ke bioskop) gak boleh gue lewatin gitu aja.

Tapi karena topik yang mau gue bahas bukan berapa kali gue nonton film selama seminggu, ato film apa aja yang gue tonton selama itu, so I’m stopping.

Hmmm.. Bioskop. One of those funnest places ever. Salah satu tempat dimana lo bisa nemuin jati diri lo (kok jati diri wan? Soalnya bisa diliat dari jenis film apa yang lo tonton kalo lo dateng ke bioskop. Gak lucu banget kan rasanya cowok nonton Love Is You-nya Cherrybelle. Berhubung ini gak nyambung dari topik, gue ceritain nanti). Sebenernya bukan jati diri juga sih ya, status seseorang juga.

Mbak, Nenek Gayung-nya Empat Tiket Ya…….
So, pada suatu hari gue pergi ke bioskop terdekat buat nonton The Avengers waktu itu. Kira-kira seminggu yang lalu. Ceritanya, antrian tiketnya panjaaaaaaang bukan main. Tepat didepan gue, berdirilah empat orang innocent yang sekode-kodenya, dan keliatannya sih kaya orang baru pertama kali ke bioskop. Mereka satu keluarga. Satu bapak, ibu yang lagi gendong anaknya yang masih bayi, dan satu anak cewek yang kurang lebih umurnya enam tahunan. Mereka keliatan masih bingung mau nonton film apa. Prediksi gue, film We Bought The Zoo-nya Matt Damon masih tayang, dan gue berasumsi bahwa mereka bakal nonton itu. Secara, sekeluarga yang sampe bayi aja diajak ikut nonton. Karena temanya keluarga.

Sampailah pada akhirnya, petugas tiketnya ngomong “Silahkan….” mereka bergegas empat-empatnya langsung maju. Gue masih tepat dibelakangnya nih. Sekitar dua puluh detik, mereka milih-milih. Dengan santainya, pada akhirnya gue yakin gue salah denger. Si bapak langsung ngomong “MBAK NENEK GAYUNG EMPAT TIKET.”

Mbak, nenek gayung empat tiket.

DUH!

GUBRAAAAAAAKKKKKKKK.

Pak, please pak. Anaklu masih bayi, Pak. Masih bayi udah disuruh nonton nenek-nenek bawa gayung yang jelas-jelas gak serem dan masang muka Laela Sari? Udah gede mau jadi apa anaklu pak. Astaghfirrrrr.
Mbak-mbak petugas tiketnya antara mau ketawa sama sedih gitu. Entah mungkin ngebayangin apa ekspresi si anak bayi pas nonton film ini. Gak worth the watching bgt. Sementara gue, kalo dibelakang gue gak ada orang-orang yang ngantri. Gue antara mau ngakak sama…..sedih juga sih. Alhasil, gue cuma bungkam mulut dan ketawa dikepalan tangan gue itu. Anjrit. Keluarga Indonesia mau jadi apa kalo udah disuguhin tontonan Nenek Gayung kaya gitu. Can’t even fancy that anymore.

Intinya, sebenernya gak masalah sih lo mau nonton Nenek Gayung kek, Kakek Cangkul kek (SEE? THEY MADE IT INTO A SEQUEL!), ato Aki Clurit, ato bahkan Nini Tali Kutang gua ga peduli. I…………………can’t say  no more. It’s just too sad. Sabar ya, adik-adikku. Hidup tidak seburuk yang kalian bayangkan.

Snow White and The Mad Women.
Satu lagi cerita lucu dibioskop. (Sebenernya ada banyak banget cerita aneh, kocak, ajaib, bahkan mistis yang pernah gue alamin. Tapi entar deh). Baru banget, gue baru selesai nonton Snow White and The Huntsman. Ya ya….buat beberapa orang mungkin tau kalo satu-satunya alesan gue nonton film ini adalah KRISTEN STEWART! Hehehehehehe. Tapiiiii pas keluar bioskop, honestly, ternyata Kstew bukanlah satu-satunya alesan kenapa gue nonton film ini. Film ini……keren. Somehow, baru kali ini nih ada cerita klasik adaptasi disney yang bisa bikin gue lupa kalo ada phone calls, texts, dan notifications pas lagi nonton. Charlize Theron was just brilliant. And the movie was so well-depicted, the view and landscapes were sooooo magnificent, followed by touching and suspenseful music from the soundtrack. I admire Snow White, I do.

Singkat cerita, gue pergi bareng Maya, adek gue. Filmnya mulai jam 14.25 dan gue masih dijalan sekitar jam 14.20. Sampe sana pas jam setengah 3 dan langsung masuk. Gue duduk dan dihimpit oleh dua buah kelompok cewek-cewek (which is, sebelah kiri gue seems to be the GAUL ones, dan sebelah kanan adek gue yang kampungan). Which sucks.

Jadi, sekitar dua menitan filmnya udah main, gue (masih) duduk dengan tenang. Sebelah kiri gak ada suara tiba-tiba dari kanan gue HAHAHAHAHAHAAHAHAHA ada suara tawa kenceng bukan main, yang gue yakin menggema seluruh satu bioskop. Ternyata itu adalah suara ibu-ibu (dua orang ibu-ibu) yang duduk disebelah kanan gue tiba2 ketawa sendiri gitu! Gak cuma itu. Dipertengahan film, sebelah ibu-ibu itu KEEPS TALKING AND ASKING about what’s gonna come up on the next scenes afterwards ke ibu-ibu sebelahnya.

Ibu 1 : “Eh Ti, abis ini Snow whitenya ngapain dah?”
Ibu 2 : “Dia mo dicium apa yang ganteng noh. Au sapa.”
Ibu 1 : “Prins williem? Hah?”
Ibu 2 : “Bukaaaaan!”
Ibu 1 : “Ih sapaaaaa?”
Ibu 2 : “Iya deeeeng hehe”
Ibu 1 : “HAHAHAHAHA”

Ketawa sendiri.
Gila ini aneh bgt.

Mungkin buat yang udah nonton, tau adegan ini, Dimana si Snow White mau dicium sama The Huntsman-nya. Kedua ibu-ibu ini beraksi lagi dengan celotehannya.

Ibu 1 : “Lah kok dia yang mo nyium???!” (ga nyantai)
Ibu 2 : “Iya itu kan si pemburunyaaaa”
Ibu 1 : “Lah aneh bener ini. Trus yang cewek tua tadi mana? Ko ga ada dah?!!!!”
Ibu 2 : “Itu dia udah mati. Dimakan burung.”

*Kissing scene*

Ibu 1 : “Ayo cium. Cium…..cium…..cium.” (doi ngomongnya sampe kedengeran ke bangku sebelah gue, which is lumayan jauh.)

*Ciumannya udah*

Ibu 1 : *TEPUK TANGAN SAMBIL KETAWA GIRANG*

Aduh, gue makin gayakin nih yang duduk sebelah gue beneran ibu-ibu. Ato jelmaan ibu-ibu? Gue ga ngerti. Sinting parah.

TAPIIIIII meskipun agak terganggu dengan celotehan sepanjang film (bisa bayangin ga? sepanjang film suara ibu-ibu ini volumenya sama kaya suara aktor yang lagi ngomong, dan ketawa-ketiwi plus getaran getaran gajelas kursi gue yang dibuat ibu-ibu itu), FILMNYA KEREN. I can say, I recommend it. Terutama pecinta Kstew. Duh, gabakal nyesel deh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s