Prom Night: A Night To Remember.

Banner

Here comes the day.
Hari dimana siswa udah nunggu-nunggu.
22 Mei 2012.
Prom Night.
A Night To Remember.
Perpisahan Sekolah SMA Yadika 3 Tangerang akan dilaksanakan.

Acaranya dimulai jam 5 sore. Cuman karena gue kebagian sebagai pengisi acara, jadi mau ga mau datengnya harus (jauh) lebih awal dari jam yang dijanjikan. Ya, gue dan anggota band yang lain jam 12 udah harus stay distudio, latihan selama satu jam biar mainnya clean. Biar gak ngeburu waktu, kita langsung berangkat ke Hotel Istana Nelayan, Cimone, Jatiuwung. Yah…kurang lebih 45 menit dalam perjalanan lah. Cukup untuk bikin pantat gue membekas jok bagian belakang motor. Apa boleh buat, panas-panas, debu dan segala macem kita hadang cuma buat Yadika. Cieh.

Ballroom

Sekitar jam 4 kurang 5 menit, kita sampe di tempat. Udah lumayan banyak anak-anak dari kelas lain yang lagi duduk nungguin giliran ganti baju. Sigap, kita langsung ke Ballroom buat checksound. Ruangan Ballroom ya bisa dibilang sedenglah. Not as big as I’d expected, lagian murid-murid angkatan kelas 3 kan juga cuma dikit; sekitar 200 orang lebih. But it’s good though. Kapasitasnya cukup.

Setelah checksound dan mantap dengan amplifier panggungnya, gue langsung ganti baju soalnya acaranya udah mau mulai. Kita disuruh baris perkelas, dan absen + dikasih nomor doorprize dan merchandise, sekedar buat kenang-kenangan sekolah; meskipun ga seberapa. Setelah ruangan diisi oleh para murid sesuai shift kelasnya, Pak Amal mulai ngomong ini-itu ngorganisir apa yang udah disusun di Rundown list.

Setelah Molidta, temen sekelas gue yang sekarang eksis karena kesuksesan dia masuk Sekolah Tinggi Intelijen Negara, dia pidato bahasa Inggris (I was actually really proud of youuu, Lidt. But in someways, I felt a lil bit encouraged and uneasy coz your english still sucks to me😛 no you’re good tho. Keep up Lidt. Anak-anak bangga sama lo) yang diikuti pidato Mantan Ketua Osis, Tommy Dio. Tibalah saatnya kita. *bunyi genderang banci*

Sejenak setelah Pak Amal manggil nama “Himawan”, I was suddenly nerve-wracked, shocked, jolted, overjoyed, exulted, entah apalagi deh itu perasaan. Padahal udah beberapa kali manggung/lumayan ada lah pengalamannya. Danang, Khailani, dan Harits udah siap diposisi masing-masing, dan gue masih dibelakang panggung, baca-baca mantra dan sekian jurus-penghilang-rasa-nervous yang udah gue pelajarin selama gue ikut silat (?).

DAN BERHASIL LOH!
As soon as I get onto the stage, my nervouses, doubts, semuanya hilang! Lagu Masih-nya Ada Band dan Wherever You Will Go-nya The Calling jadi pilihan kami. Lagu pertama; menit pertama masih flawless soalnya gue main keyboard sambil nyanyi, masih bisa dikontrol sendiri lah. Ga masalah. NAH. menit keduanya nih, pas masuk reff (Walau badai menghadang……) satu nanodetik sesaat gue denger drumnya berantakan, gue langsung miris.

Lagu kedua deh yang gue PD. Soalnya mungkin beat-nya lebih dapet di yang kedua. But overall, it was fun yet so horrible instead. Gatau deh apa yang ada dipikiran kepala yayasan waktu itu. Mungkin selesai band gue nyanyi, langsung gundulin rambut bagian belakangnya kali, gataulah. Maaf, pak bener-bener maaf sayaa..

Jam menunjukkan pukul 8 lewat 15 menit. Sip! Kelewatan sholat maghrib. Gapapa, semua itu terbayarkan dengan acara dinner. Hellyeah. Dinner ini salah satu rundown acara yang paling ditunggu-tunggu. Ga heran, pas gue tampil, dari atas panggung ada yang mukanya kaya ngeden-ngeden gajelas + megangin perut. Ada yang kayanya mau muntah; nah ini gangerti deh muntah karena belom makan atau muntah ngeliat gue tampil. Xixixi… Life’s hard.

Mulailah ngantri, sejenak setelah panggung dikosongkan, anak-anak dan guru-guru langsung menyerbu barisan bagian belakang aula. Ada berbagai jenis lauk pauk + dessert. Disini keliatan, yang mana yang bener-bener rakus, yang bener-bener laper, dan yang bener-bener belom makan. Keliatan dari seberapa tinggi gunungan makanan yang mereka ambil. See, dinner will never be apart.

Setelah foto bersama per kelas + per wali kelas, kita semua disuguhkan penampilan-penampilan Densha (which quickly becomes one of my favourite band now) dan Indra Band (alumnus Yadika). Both performed reeeeally well. I like the attraction between them and the audience. They’re able to bond us one another that brings everyone up in that hall to sing along and raise our hand up altogether. OH! Love’em both. Gatau kenapa dan apa penyebabnya, sekitar jam 10 lewat 45 menit, gue mulai mual. Mungkin jarang kena AC kali ya jadinya sekali kena langsung merinding gini (Alesan aja wan emang baru sekali ini kan luu ada diruangan ber-AC) Ckckc, life’s hard.

Ada satu penampilan yang ‘nendang’ dari seluruh penampilan guru-guru. PENAMPILAN BU INTAN! Jadi, doi disini nyanyi Ayu Tingting gue lupa judulnya apaan tuh, tapi pokoknya dia heboh bgt! Jauh bgt sama kesehariannya disekolah yang kata anak-anak itu debt collector soalnya sering banget nagih-nagihin uang bayaran + uang SPP/uang gedung yang 3 tahun belom dibayar hahahaha. But it’s fun tho.

See? Keliatan saking semangatnya goyang, kamera gue aja sampe goyang ngambil muka Bu Intan😛

Detik-detik terakhir acara, tibalah waktunya bersalam-salaman antar guru dan antar murid, lalu dilanjutkan antara murid dan guru.
Kesannya, meskipun ada SEGUBREG ke-gak-enak-an yang gue rasain selama bersekolah di Yadika, tapi apa mau dikata, ini sekolah gue. Bagian dari hidup gue. Bagian dari masa depan yang nantinya bisa gue ceritain ke anak-cucu. Seperempat bagian dari jiwa gue yang bisa dicurhat-curhatin ketemen-temen kalo misalkan nanti 25 tahun baru ketemu lagi. Sebagian jiwa seseorang yang gak pernah peka sama arti persahabatan, solidaritas, dan kemampuan.

Inilah, temen-temen. Masa-masa terakhir kita. Tiga tahun bersekolah, canda tawa, tangis sendu, air mata bahagia, keisengan yang gak pernah bisa terlupakan, perselisihan, persaingan, dan rangkulan persahabatan pada akhirnya harus ditutup didalam sebuah aula yang tidak lebih besar dari sekolah kita, rumah kita sendiri. Dimana semua kawan berkumpul dan menyaksikan betapa lamanya 10 tahun untuk menunggu teman kita muncul di televisi, betapa lamanya 5 tahun untuk melihat sahabat kita sudah berseragam dan berdasi, betapa rindunya 15 tahun untuk menyaksikan karib kita sudah bekerja diperusahaan ternama asing. Betapa kangennya 20 tahun untuk melihat teman-teman kita sudah tiada.

Ingatlah hari ini, Kawan.
Hidup tidak selamanya.
Jangan cepat puas, Sahabat.
Hidup hanya sebentar.
Jangan mudah putus asa, Sob.
Hidup tidak hanya dalam kejapan mata, berjuanglah.
Optimislah.
Masa depan yang cerah menunggu kita semua.

P.S: Maaf, sementara foto-fotonya bersumber dari kamera gue. Untuk nama-nama yang terlibat diatas mohon referensi fotonya lebih banyak biar tulisan ini jadi lebih berkesan hehe. Videonya nyusul yaa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s