Negeri 5 Menara: Movie Review

Man Jadda Wajadda
Siapa yang bersungguh-sungguh, dia yang akan berhasil.

Man Shabara Zhafira
Siapa yang bersabar, dia yang akan beruntung 

Awal bulan Desember 2011, gue sempet denger-denger ada buku best-seller baru yang judulnya Negeri 5 Menara. Keesokan harinya, diacara talkshow Just Alvin!, penulis buku ini, A. Fuadi, diwawancara. 1 Maret 2012 filmnya udah rilis dan jadi trending topic di internet. Akibat korban pergaulan, hari ini akhirnya gue pergi nonton. I never thought that this movie would be as good as I’d expected, but actually this movie is BEYOND good.

Filmnya bercerita tentang Alif, yang pada awal cerita masih diombang-ambing oleh sebuah keputusan untuk melanjutkan sekolahnya. Ia ingin sekali sekolah di Bandung dan melanjutkan ke ITB, namun orangtuanya menginginkan ia untuk masuk pesantren di Jawa Timur, Pondok Madani. Dengan secercah rasa ikhlas, akhirnya ia pergi ke pondok pesantren bersama ayahnya. Setibanya dipesantren, ia bertemu dengan teman-teman barunya yang berasal dari berbagai pelosok Indonesia. Mereka dipertemukan dan mengucapkan janji satu sama lain: Jika suatu saat nanti mereka sudah menjadi orang besar, mereka akan bertemu dan memperlihatkan foto menara dari negeri masing-masing. “Sahibul Menara” merupakan julukan mereka. Dan disinilah cerita luar biasa ini dimulai.

Ceritanya ber-setting di kota Padang, Ponorogo, dan terakhir ada sedikit bagian kecil kota London yang disorot untuk final endingnya. Sinematografi buat film ini bisa dibilang cukup well-depicted, terutama scene kota Padang yang menawan. Tidak hanya itu, scenery sawah-sawah yang terbentang luas dan jalan-jalan disekitar pesantren di Ponorogo juga cukup memanjakan mata. Ada salah satu adegan dimana Alif dan kawan-kawan ingin tampil dalam sebuah pentas yang diadakan Pesantren, karena ada bahan yang belum dibeli akhirnya mereka memutuskan untuk pergi keluar pesantren. Terlihat ketegangan dan bumbu humoris dalam adegan ini, karena bagaimanapun mereka sudah harus kembali ke pesantren sebelum azan maghrib. Namun, alunan musik yang touchy yang disertakan dalam scene ini, membuat adegan ini terasa nikmat ditonton dan tetap menarik untuk diikuti.

“Tidak penting seberapa tajam pisaunya, tapi dialah yang bersungguh-sungguh yang mampu mematahkan bambu ini.”

Skenario yang kuat, membuat para penonton terkejut dengan setiap scene yang akan muncul. Meskipun terdapat sedikit kesamaan konsep dengan film Laskar Pelangi dalam beberapa adegan, namun film ini dapat dijadikan rekomendasi untuk FFI pada tahun mendatang. Seperti misalnya, adegan Alif dan kawan-kawan yang sedang menikmati masa liburan pondok dengan pergi ke Bandung, bersepeda ria didepan gedung Konferensi Asia-Afrika dan merasakan betapa senangnya mereka untuk melihat Bandung pertama kali, sama halnya dengan Laskar Pelangi yang sedang bersorak-sorak bersepeda dijalan-jalan Belitong. Sutradara Affandi A. Rachman pintar menyesuaikan setiap adegan dan musik yang membaur menjadi sebuah tontonan yang dapat diingat terus oleh penonton bahkan ketika selesai menonton.

Para pemain Negeri 5 Menara merupakan para aktor pendatang baru. Sebagai Alif dan kawan-kawan, dipilih melalui audisi dari seluruh Indonesia. Namun, jangan salah. Meskipun mereka aktor-aktor yang masih awam dan belum cukup makan asam garam dalam dunia perfilman, akting mereka bisa dibilang dapat diacungkan jempol dan terlihat sangat natural. Sementara, untuk para peran pendukung, ada beberapa nama besar aktor dan aktris Indonesia yang turut meramaikan film ini. Ada beberapa nama seperti Andhika Pratama, Ikang Fawzi, Lulu Tobing, Donny Alamsyah, dan Mario Irwinsyah. Akting para pemain terlihat natural hampir diseluruh scene film. Terutama ketika Baso pergi meninggalkan teman-teman pondok, karena neneknya yang sudah sakit keras dan terpaksa harus pergi lama.

Pada bagian endingnya, Alif dewasa yang terlihat sudah menjadi wartawan di London, bertemu dengan Raja, teman satu pondoknya dari Medan, dan Atang yang dari Bandung. Ketiganya bertemu didepan Big Ben Tower, meskipun tidak dijelaskan bagaimana asal-usul Alif tiba-tiba sudah ada di London. Kelemahan yang lain, kisah cinta antara Alif dan Sarah, keponakan Kyai Rais yang sempat muncul ditengah film, tidak dilanjutkan. Sehingga, sedikit membuat penonton bertanya-tanya dan kecewa. Namun, semua itu dapat ditutupi dengan wajah sumringah Alif yang begitu tampak ketika tiba dan bertemu teman-temannya di London. Menandakan bahwa seluruh perjuangan yang telah Alif lakukan baik dipesantren, dan apa yang telah ia lakukan untuk orangtuanya, tidak sia-sia.

Negeri 5 Menara, somehow, has been put on my favorite-movies list.
You’ll never expect what you’re gonna get/find out.
Totally a somewhat inspirative story!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s