Caesar dan Enam Hari Sisa Hidupnya.

Sore itu, sudah banyak orang-orang yang datang berkumpul ke Tempat Pemakaman Umum Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Sejauh mata memandang, dari tempat duduknya, Caesar hanya bisa melihat sekumpulan orang berbaju hitam mengelilingi satu sudut kuburan ditempat itu. Ada yang mengenakan kerudung, sesekali dari mereka ada yang menggosok hidung dengan tisu basah, bahkan ada pula yang tersenyum bengis. Caesar hanya terpaku didalam mobil, di bangku bagian belakang tempat ia biasa duduk dan bermain bersama ayahnya, Ari dulu.

Namun apa boleh buat, sekarang ia baru sadar ternyata orang-orang bertekuk lutut, menengadahkan tangan mereka diatas nisan bertuliskan

Caesar Langit Ragiash.
17 Desember 1992 – 13 Januari 2012
Anak tersayang.

      Ia langsung menangis. Ingin rasanya teriak. Mulutnya menganga. Ingin rasanya mengucapkan satu kata, yang daridulu ingin ia sampaikan namun tak pernah bisa. Ia terbelenggu dalam alam yang tak pernah ia tempati sebelumnya. Tersiksa melihat tetes-tetes air mata yang jatuh keatas batu nisan itu. Ia mencoba berlari, namun akhirnya terjatuh. Habis sudah…

***

15 Januari 2012. 14:35.

Tita masih duduk santai diteras depan rumahnya, sembari duduk-duduk dan membaca East of Eden, ia tiba-tiba teringat sesuatu. Sesuatu yang sudah tidak mungkin untuk dibayangkan, yang sudah tidak ada, yang sudah mati. Namun akhirnya ia terkesiap saat ibunya berteriak memanggil.
“Tita…..kamu diatas ya?”
“Iya, Maa!”
“Turun sebentar deh..”
Dengan malas, Tita menutup novelnya dan langsung turun kebawah. Setibanya dilantai bawah, mamanya sudah terlihat rapi dengan kerudung dan bros yang terlampau besar, make-upnya juga agak berlebihan.
“Ada apa sih, Ma?”
“Temenin Mama sebentar yuk!”
“Kemana? Ya ampun aku lagi males banget….”
“Kamu males terus! Udah ayo ikut! Nanti Mama ajak jalan deh pulangnya.”
“Bener ya?”
“Iya sayaaaang. Daripada kamu dirumah kaaan.”

Setelah mandi dan ganti baju, mobil sudah dipanaskan dan dengan lajunya, Pak Amin langsung menginjak pedal gas dengan semangat.Oh ya! Daritadi Tita lupa bertanya mau kemana sebenarnya mereka.

“Ma, sebenernya kita mau kemana sih?”
“Itu lho…kerumah Bu Mulia. Dia ngundang Mama buat hajatan sekalian ada arisan kecil-kecilan dirumahnya.”

Rumah Bu Mulia? Berarti rumah Caesar. Oh tidak! Pikir Tita dalam hati. Ia dan Caesar akhir-akhir ini sering sekali bertengkar, memperdebatkan tentang apa yang harus Eza kenakan pada fashion show sekolah nanti. Ia tertawa kecil.Tau-takut kalau nanti ia bertemu dengan Caesar, yang ada mereka malah membuat keributan. Tak sampai ia berpikir terlalu panjang, mereka sudah sampai didepan rumah Bu Mulia. Didepan rumah, tempat parkirnya sudah dipenuhi dengan mobil-mobil lain yang parkir, sampai-sampai Pak Amin bingung mau memarkirkan mobilnya dimana.

“Tita, ayo!” kata Mamanya setelah Pak Amin berhasil mencari tempat nyaman untuk parkir.
Dengan ragu-ragu Tita masuk. Ia celingak-celinguk kiri kanan. Fyuh……. Caesar belum terlihat. Dari ambang pintu masuk, Bu Mulia sudah berdiri asik menyambut dan memberi salam pada tamu-tamu yang baru datang. Dengan senyum lebar diwajahnya, Tita melihat sesuatu yang kelam , dan tak pernah terduga sebelumnya diwajah Bu Mulia. Wajah keibuan, wajah seorang pembunuh…

Tak sampai nafasnya kembali teratur, Tita mendengar suara pintu mobil lain dibanting jalan seberang rumah. YA! Caesar keluar dari pintu penumpang, disusul Igo yang keluar dari pintu setir. Ingin rasanya Tita bersembunyi, namun ibunya pasti akan mengira dia idiot berlari dan bersembunyi dengan menggunakan high heels seperti itu. Ia memutuskan untuk tetap tenang, dan tetap berjalan masuk kedalam rumah.

“Tit!” Sebuah suara berat memanggilnya dari arah belakang.
Pelan tapi pasti, Tita menengok dan melihat.
“Eh, Go!”Ternyata Igo. Sambil melirik kebelakang, Tita sudah tidak bisa melihat Caesar dibalik tubuh Igo. Mungkin dia langsung masuk lewat pintu samping kali…. Pikirnya lagi.
“Lo ngapain kesini?” Wajah Igo yang bersih membuat matanya memincing. Diterpa sinar matahari, setiap kali Tita ngobrol dengan Igo, ia selalu menyipitkan mata.
“Gue nemenin nyokap, Go. Lah lo?”
“Sama. Udah ya! Nyokap gue udah nungguin didalem. Udah laper juga hehehehe”

Sudah duabelas jam rasanya Tita dan Caesar beradu mulut lewat Blackberry Messenger (BBM), masalahnya sepele, karena kebetulan Eza bakal dipilih buat Jakarta Fashion Show School Competition beberapa hari lagi, dan mereka berdua jadi panitia dan asisten pribadi Eza, tentu salah satu dari mereka ingin menampilkan dan mengusulkan yang terbaik untuk sahabatnya itu. Tidak seperti pasangan-pasangan lain, mungkin Tita dan Caesar tidak ditakdirkan untuk jadian. Tapi kalau dipikir-pikir, dia juga terlalu kangen sama Caesar.
“Go! Bentar!” Igo yang nyaris berlari menuju pintu masuk, terhenti dan berbalik.
“Kenapa?”
“Ng… Lo tadi kesini sama siapa?”
“Sendirian.”

Sebuah suara melengking tiba-tiba terdengar dari sudut paling bawah gendang telinganya, seperti suara jeritan yang terlalu keras. Suara yang hanya orang yang mempunya pendengaran luar biasa yang bisa mendengarnya. Suara orang mati.

“Loh?! Bukannya lo sama Caesar tadi?”
Igo tertawa meledek. “Hah? Lo apaan sih, Ta? Caesar kan udah…..”

Belum sampai Igo menyelesaikan kata-katanya, ibunya sudah memanggil-manggil namanya dari dalam rumah. Tanpa basa basi, Igo langsung pergi masuk dan meninggalkan Tita diluar, sendirian. Kali ini, ia benar-benar merasa kesepian. Caesar sudah…? Sudah apa? Sudah jadian lagi? Atau PDKT lagi sama Reta? Ah! Masa bodohlah.

“Tita! Kamu ngapain bengong sendirian disitu? Ayo masuk!” Suara ibunya membangunkannya. Ia langsung tersenyum kecil, malu dan langsung masuk.

***

18 Januari 2011. 07.45.

Kamis pagi. Terbangun dengan wajah kusut, Tita langsung bergegas kekamar mandi. Ia telat lagi untuk kesekolah. Tiga hari belakangan ini, semenjak ia diajak pergi ibunya ke rumah Bu Mulia tiga hari yang lalu, tingkahnya menjadi aneh. Ia sering terbangun tengah malam hanya untuk menonton film-film horor yang biasa ditayangkan di TV setiap malam, atau sekedar berjalan tidur kekamar ibunya. Persediaan makanan dikulkas juga semakin lama semakin sedikit, entah mungkin ada tikus-tikus kecil nakal yang setiap malam menggerogoti dan makan makanan dikulkas.
Pak Amin sudah siap dibelakang setir mobil, menunggu Tita untuk turun. Sementara sedang memasang dasi sekolahnya, Tita mendapati Blackberry-nya dalam keadaan in holster, lampu merah kecil berkedip-kedip diujung layar handphone-nya itu. Tiga sms, dua pesan blackberry, dan satu mention di Twitternya. Ah, paling sms si Eza yang minta gue buru-buru dateng kesekolah, atau Dia yang ngingetin buat bawa lotionnya…..

“Tita! Kamu ngapain sih? Sarapannya udah siap nih!” Lagi, suara Mama dari lantai bawah menembus dinding kamar Tita.
“Aku siap kok, Ma! Bentar ya!”sambil menyusupkan handphone-nya kedalam sakunya, ia langsung turun kebawah.

Selesainya sarapan, Tita mengabaikan handphone-nya dan segala jenis notification yang ada di Blackberry-nya. Bisa aja Eza sms gue karena disekolah lagi ada kebakaran? Atau mungkin Dia udah punya langganan lotion baru? Atau bisa jadi itu smsnya Caesar yang minta maaf buat gue….. Tapi sebelum Tita berpikir lebih panjang, mobilnya sudah berada tepat didepan sekolah.
Tadinya, ia bertekad menemui Igo, namun batang hidungnya belum kelihatan sampai sekarang. Akhirnya ia langsung menuju Ruang Wicaksana. Ruangan khusus yang dibuat sekolah, untuk event-event tertentu yang menyangkut lomba dan pertandingan antar sekolah. Eza ada disana.
“Titaa!!”teriak Dia yang langsung kaget melihat Tita membuka pintu.
“Aduh, Diiii! Lo apaan sih. Malu-maluin banget deh hahahaha kita ketemu disekolah terus juga. Lo ketemu gue kaya orang gak ketemu setahun!” protesnya.
“Lo gimana sih? Emang salah ya sahabat lo kangen?”
“Ah jijik lo..”
“Hahahaha lo kan tiga hari ini telat mulu. Sampe Bu Vinta nanyain gue mulu.”
“Seriusan? Nggak ah. Gue on-time terus deh kayaknya.”
“Mana timeeee? Lo telat terus tau!”
Tita menggaruk-garuk kepala. Bingung apa yang dibicarakan Dia. Sekilas, dari sudut aula ruang besar itu, Tita melihat sosok tinggi, tubuh si cowok membelakanginya, rambutnya berantakan, mengenakan jeans belel yang ia kenal, dan dari belakangpun, ia bisa mengira wajah cowok ini tampan. Ya, itu Caesar.
Sesaat sebelum mengenali wajahnya, Tita langsung terkesiap dan muncul rasa kangen. Sangat kangen dengan cowoknya itu. Sudah hampir empat hari ia dan Caesar tidak berhubungan, jarang sms, jarang bbm, apalagi nge-tweet. Oh Tita…..Tita. Bego banget sih lo, cuma ngomong minta maaf aja nggak bisa.
Sambil sembunyi-sembunyi, Tita yang sedetik melirik Caesar dengan cepat mengalihkan pandangannya kearah lain ketika Caesar menghampirinya.
“Tita?” suara lembut itu datang.
Dengan semangat Tita berbalik badan, dan menengadah padanya.
“Sar?”
“Kamu kemana aja? Aku kangen tau….”
No way! Gue nggak mungkin sebego ini, pura-pura gengsi gak mau minta maaf dan akhirnya cowok se-sweet ini berani nghampirin gue dan minta maaf langsung?! Oh My God, Tita! Kemana aja lo?

“Caesar..” nada suaranya serak. Tak mampu berkata apa-apa. Caesar menunggu jawaban.
“Aku minta maaf banget deh sama sikap aku kemaren-kemaren. Sumpah, aku gak bermaksud nyuekin kamu kaya gini.”
“Gapapa. Aku ngerti kok.” Suara yang tenang itu seolah-olah mengiris-iris hatinya. Seperti suara sesosok malaikat yang ikhlas. Sangat tenang.
“Aku bodoh banget ya?…” Tiba-tiba Tita menangis.
Caesar terpaku dan menghapus air matanya. Wajahnya serius. Tangannya masih bertahan dipipi kanan Tita. Dengan respons cepat, Tita langsung menyambar tangan Caesar yang lembut dan menahannya.
“Aku minta maaf ya, Sar…”
“What? Kamu tuh ngomong apa sih Ta. Aku tau kita pasti bakal kaya gini. Ada pertemuan, pasti juga ada pertengkaran.” Caesar memberontak. Nadanya lebih tinggi satu oktaf dari sebelumnya.
“Kita nggak selamanya bakalan smooth, atau flat, pasti kita bakal nemuin pertengkaran kaya gini, Ta… kita harus siap….” lanjutnya.
“Tapi aku yang salah! Aku egois banget ya?” sambung Tita. Air matanya semakin tumpah.
“Jangan gitu ah! Stop nyalahin diri kamu sendiri ya, Sayang.”

Mereka berpelukan diruangan itu. Pelukan yang Tita harap bisa berlangsung selamanya. Ia berpikir bahwa pertengkaran akan terjadi dalam setiap hubungan, dan ia tahu itu salah. Tapi Caesar selalu ada disitu, selalu ada dikala Tita sedih maupun senang. Caesar lah obat rindu Tita yang selama ini ia cari. Perkataannya tadi benar-benar membuat Tita hampir jatuh pingsan. Hampir jatuh pingsan hingga akhirnya sebuah suara muncul.

“Tita! Tita! Lepasin gue!”

Eza yang daritadi dipeluknya merasa risih. Mereka jadi bahan olok-olokan orang-orang yang ada diruangan itu. Kali ini Eza berpikir Tita benar-benar gila.
Sejenak setelah Tita berkhayal—atau entah apa namanya—dan berbicara sendiri, akhirnya ia melepaskan pelukannya.
“Tita! Lo kenapa sih?” kata Eza dibalik wajahnya yang tampak sedu.
“Caesar mana? Caesar? Gue mau Caesar!” kali ini ia berbicara sendiri seperti orang kerasukan.
Tiba-tiba Dia muncul. “Tit! Lo kenapa?!”
“Tita? Lo apaan sih!” teriak Eza.

Tidak sampai lima menit, Tita sudah membuat keributan. Hingga kekonyolannya hampir mengumpulkan orang-orang diruangan itu. Kali ini teman-temannya benar-benar beranggapan bahwa Tita memang sudah gila.

 

Siang itu, orang-orang di Toko Buku tampak ramai. Igo dan Dia masih betah mencari buku novel terbaru dan bahan referensi untuk mading sekolah mereka. Mereka berjalan bersamaan. Sementara Dia yang mencari, Igo hanya lirik kiri-kanan berharap ada cewek cantik yang lewat.
“Go, gue kasian deh sama Tita.” Cetus Dia.
Igo tersadar, “Hah? Kenapa? Dia kan sehat-sehat aja.”
“Ih bukan…… Gue kasian tau, empat hari belakangan ini dia kaya orang gak bener gitu.”
Igo langsung terlonjak. “Gak bener gimana?”
Don’t you get it?..” jawab Dia kesal. “..lo gak liat kelakuan dia kemarin meluk-meluk Eza gitu? Terus, nganggep Eza itu Caesar…”

Tiba-tiba tepat dari arah belakang leher Dia, ada suara nyaris melengking yang memekakkan telinga. Dia spontan langsung menutup kuping dan beranjak dari tempatnya. Igo mengikutinya.
“Tadi apaan?!” nadanya berubah satu oktaf. Dia masih memegangi bulu kuduknya.
“Emang apaan sih?”Igo kesal.
“Go, lo masa ga ngerti-ngerti juga sih. Tita lama-lama kaya orang kesurupan tau. Belom lagi cerita lo yang dia nanya-nanya tentang Caesar dirumah Bu Mulia tempo hari.”
Igo tersadar. “Oh, iya. Tita nanya-nanyain Caesar gitu.”

Sebuah sosok cowok tinggi, berkulit bersih dan berbaju serba hitam tak sengaja menjatuhkan buku kamus English-Indonesia disudut sebuah Toko yang tak jauh dari tempat Igo dan Dia berdiri. Mereka berdua terkesiap. Tanpa panjang lebar, Dia langsung mengambil kamus itu dan mengembalikan ketempatnya, sebelum ada orang lain menginjaknya. Bulu kuduknya merinding lagi.Tak lama sebelum Dia ketempatnya tadi, buku lain sudah jatuh. Dan tempat buku yang jatuh itu tidak jauh dari tempat Igo berdiri. Tanpa panjang lebarpun, Igo segera membungkuk dan mengambilnya.
Namun, tepat saat Igo akan berdiri, ia menghantam sesuatu. Sesuatu yang keras dan padat. Sekilas ia langsung mengusap ubun-ubun kepalanya dan mengerang Argh.
“Igo? Lo gapapa?” kata Dia tepat saat Igo sudah kokoh berdiri.
Igo langsung menengadah keatas, mengecek apa yang telah ditabraknya tadi. Ternyata tidak ada. Langit-langit toko itupun masih jauh diatas kepala Igo.
“Go?”
“Iya iya gue gapapa. Udah yok! Pulang.”
“Eh bentar dulu! Kan gue belom dapet bukunya!”
“Ahelah, Di! Kita daritadi keasyikan ngobrol mungkin ya? Yaudah buruan cari yok!”

Mereka langsung pergi kesudut Toko lain.

Eza yang daritadi tampak lelah, langsung menuju mobilnya. Ya, sekolah sudah sepi. Prosesi Gladi Resik untuk Jakarta Fashion Show sudah selesai. Eza sudah bebas jalan-jalan. Bajunya masih kusut karena cengkeraman Tita pagi tadi. Padahal itu baju kesayangannya. Tita meluk gue kaya orang gila, berasa gue cowonya aja.. pikirnya. Namun, belum sampai ia berpikir lebih panjang, akhirnya ia sudah tiba didepan setirnya.
“Eza!!!” teriak sebuah suara dari balik jendela mobil.
Eza langsung menoleh, ah sial! Tita lagi. Dengan cepat ia membuka jendela mobilnya.
“Iya, kenapa Tit?”
Tita yang tampak ngos-ngosan seperti sehabis lari keliling satu sekolah, masih mengenakan baju SMA-nya. “Lo mau kemana?”
“Nongkrong.”
“Ikut dong!”
“Aduh, Ta. Ini cowok semua lho. Lo ntar gak betah lagi kalo gue ajak.”
“Gapapa deh. Pleeease. Daripada dirumah. Gak ngapa-ngapain. Okay?”
“Hmmm…… Oke deh.”
Dengan segera, Tita langsung berlari kearah yang berlawanan dari jendela Eza. Ia langsung ke pintu penumpang, bergegas naik dan membanting pintu.

 ***

16 Januari 2012. 02.45

Caesar masih terus berjalan. Berjalan menuju lorong putih yang gelap dan dingin. Disana ia bertemu dengan orang-orang yang berwajah bahagia, berseri-seri, tertawa, hingga menangis tersiksa. Tempat apa ini? Dimana gue? Oh iya. Gue sudah mati. Ia tidak tahu darimana tempat asal ia berjalan, ia hanya terus berjalan, berjalan, bertemu banyak persimpangan, dan halte-halte kereta yang membawa orang-orang ini ke suatu tempat, ke suatu tempat yang ia sendiri tak tahu, ke tempat yang orang-orang itupun tak tahu mau dibawa kemana. Lama-lama ia merasa lelah, ia merasa telah berjalan sejauh delapan puluh kilometer. Namun kakinya terus memaksanya untuk berjalan, napasnya sudah terengah-engah, keringat bercucuran dimana-mana, namun belum keluar kata-kata menyerah dari bibirnya.
“Caesar?” sebuah suara lembut menyapanya dari balik cahaya.
Caesar menengadah, menengok. “Tita?”
“Kamu kenapa?” dengan cepat Tita langsung membopong Caesar yang sudah tampak kelelahan. Mereka akhirnya berjalan bersamaan.
“Kamu ngapain disini, Tit?”
Tidak ada jawaban.
“Tita, kamu tau kamu gak boleh disini.”
“Kenapa? Aku gak boleh ada disini? Sama kamu?”
“Kamu…..”Caesar menatap wajah Tita. “..Udah mati?”
Tita tersenyum kecil. “Belom, sayang. Tapi kamu udah.”
Caesar langsung terperangah. Tertusuk akan kata-katanya. Tidak ada yang boleh berkata seperti itu kecuali dirinya sendiri. Kecuali yang mengatakan itu tahu rasa sakit, rasa sakit hati yang tidak tertahankan. Bahwa mengakui seseorang yang sudah mati itu, kejamnya luar biasa.
“Lepasin aku!!” teriak Caesar.
Tita tampak bingung.
“Kamu dilarang ada disini! Tempat ini cuma buat aku! Cuma buat aku! Orang mati!”
Tita langsung terkesiap. “Sayang, kamu gak boleh ngomong kaya gitu! Aku…Aku…”
“Ah! Apa?! Aku emang udah mati kan? Kamu masih hidup! Aku? Gak pernah berharap lebih sama kehidupan. Bahwa kalo nanti aku mati, dalam keadaan yang sangat muda, aku bakal bener-bener mati. Gak tau akan berbuat apa. Kamu?! Kamu masih dikasih kehidupan, masih dikasih jalan untuk minta maaf sama orang-orang yang mencintai kamu..”
Tiba-tiba semuanya hening. Orang-orang disekitar mereka yang masih menunggu kereta tampak diam. Semuanya diam. Hanya tertinggal suara mereka berdua.
“..Pergi kamu! Kamu ganggu kehidupan aku disini! Sana pergi! Biar aku yang nyesel disini. Sama orang-orang yang aku gak kenal disini, Tit. Sana pergi! Jangan bikin aku tambah tersiksa.”

Tita terbangun.

***

17 Januari 2012. 01.55

Kali ini, Tita sedang duduk dibawah pohon beringin. Berbaju hitam. Ditemani rembulan yang menggantung manis dilangit hitam, dan bintang putih bersinar disampingnya. Malam itu sungguh indah, sungguh manis. Rambutnya tergerai dan tertiup angin sepoi-sepoi, melihat orang-orang lalu-lalang didepannya, namun tidak lagi ketika ia terkesiap melihat orang yang ia kenal sedang berjalan disudut persimpangan sana. Tita langsung terkesiap.
“Caesar..”
Matanya hanya tertuju pada Caesar. Ia sedang berdiri kokoh dengan jaket hitamnya, berpegangan pada tiang lampu jalan, hendak menyeberang, namun tak berani. Orang-orang yang sedang lewat terlalu ramai. Ia takut terjebak dalam keramaian itu.
Ingin rasanya Tita kesana, namun belum sampai ia berdiri, Caesar yang daritadi sudah berdiri diujung jalan, akhirnya hilang ditelan keramaian.
“Caesaaaaaaaar!!!!!!!”

Tita terbangun.

***

18 Januari 2012. 04.20

Dalam mimpinya, seorang ibu tua berumur empat puluhan sedang berlari-lari kecil dibawah sinar rembulan yang terang. Ibu itu terus berlari, Tita mencoba melihat lebih dalam apa yang dikejarnya dalam gelap itu. Namun, tidak berhasil. Seolah-olah ibu itu sedang mengejar kegelapan.
Jalan disebelah sana, kali ini sangat gelap. Lebih gelap daripada mimpi-mimpi Tita sebelumnya. Ibu tua itu nampak ketakutan, terlihat dari caranya berlari. Napasnya bukan main terengah-engah, ia tidak peduli dengan gaun panjangnya yang terseret-seret ditanah basah.
Namun, ternyata Tita salah. Ibu tua itu ternyata sedang dikejar. Larinya semakin lama semakin kencang, seperti tidak tahu arah dan waktu. Ibu itu terus berlari, dan terus berlari. Setelah Tita pikir ibu itu sudah tidak sanggup lagi berlari, akhirnya ibu itu terjatuh. Dan sebuah sosok bertudung hitam langsung menyambar lehernya dari arah belakang. Sosok itu tinggi, dan tubuhnya padat berisi. Sesaat sebelum Tita terkejut, cowok itu sudah hilang sambil membawa ibu itu. Meninggalkan Tita sendirian lagi dijalan itu. Tidak bernapas.

Tita terbangun.

Di Mal itu, Eza tampak risih dengan keberadaan Tita disampingnya. Padahal, ia kira ia bisa mengubah pikiran Tita untuk tidak ikut dengan mengatakan kalau ia akan bertemu dengan temannya, cowok semua pula. Padahal, ia pergi ke Mal itu hanya seorang diri. Sudahlah… pikirnya. Kapan lagi ia bisa jalan-jalan bareng dengan teman lamanya ini.
Tita, Eza, dan Dia sudah berteman lama sejak duduk dibangku kelas 8. Mereka cukup akrab saat kelas 9. Dan makin akrab ketika masuk SMA bersama. Igo adalah teman Dia yang sekarang juga akrab dengan Eza dan Tita. Eza sangat menikmati masa-masa SMA nya sekarang ini, ia cukup popular disekolahnya. Ketua OSIS, kapten tim basket, sempat ditunjuk jadi ketua paskibra, hingga paduan suara. Tak jarang, banyak cewek tergila-gila padanya disekolah. Hingga pada akhirnya, ia jatuh hati pada adik kelas, Claudia, dan sampai sekarang hubungannya, serpertinya masih baik-baik saja.
Namun, kejadian “pelukan Tita” di Ruang Wicaksana tadi, membuat Claudia cemburu. Dan agaknya marah. Makanya Claudia tidak mau pergi dengannya ke Mal siang ini.

“Za, lo baik-baik aja kan sama Odi?”
“Hah? Odi?..” Aduh males banget nih ngomongin ginian. “..Dia agak sensitif hari ini.” padahal itu semua gara-gara lo tauk! Pikirnya.
“Oh lagi marah? Sabar ya. Dia lagi badmood kali.”
“Mungkin.”jawabnya singkat. Kali ini Eza benar-benar kesal dengan Tita.
“Mau kemana nih? Makan yuk! Gue udah laper.”
“Boleh.” Kata Eza sambil memutar matanya.
“Sushi yuk!”
“Emm….. boleh deh. Udah lama juga gue gak makan sushi.”

Sementara disisi lain Mal, Igo dan Dia baru keluar dari Toko Buku. Ditangannya sudah terdapat kantong plastik besar berisi buku lebar yang berjumlah banyak.
“Kita makan dulu yuk!”
“Yuk! Kebetulan gue udah laper.”
Sambil berjalan mencari-cari tempat makan yang nyaman, sebuah suara memanggil dari dalam restoran.
“Igo! Dia!” Tita melambai dari Sushi Tei.
Mereka tersenyum dan langsung masuk ke restoran itu, mencari bangku yang kosong dan langsung bergabung dengan Tita dan Eza.
“Wey bro! Darimana lo? Disini juga?” sapa Eza, yang langsung memberi high-five pada Igo, begitupun sebaliknya.
“Gue dari toko buku. Biasa. Cari referensi buat mading. Lo?”
“Ah. Gue bosen disekolah. Nih nemenin Tita makan.” Mata Eza memutar kearah Tita.

Selesai makan, Eza, Igo, dan Dia langsung keluar restoran. Hanya Tita yang tertahan diambang pintu restoran itu, Tita seperti melihat sosok yang pernah ia temui dimimpinya, sosok cowok itu sedang berdiri disudut sebelah sana. Sudut jauh dibawah pelupuk matanya. “Tita……”gumam sebuah suara lembut yang mengundangnya.
“Tita!” teriak Dia yang melihat Tita yang badannya membelakangi mereka bertiga. Namun, Tita tidak menjawab, ia berjalan kearah yang berlawanan. Kearah yang seharusnya. Kearah yang benar.
Tita terus berjalan.
“Caesar?” Tita mencari-cari suara itu. Mencari sumber suara itu.
“Murti……” kata suara itu lebih dalam.
“Murti……” kata suara itu lagi.
“Murti……” suaranya menghilang.
Tita menangis.

***

20 Januari 2012. 16.30.

      Sore itu. Tidak banyak kendaraan yang terlihat lalu-lalang didepan gerbang Taman Pemakaman Jeruk Purut. Terlihat empat orang  mengenakan baju serba hitam sedang mengelilingi satu kuburan disalah satu sudut tempat pemakaman itu. Igo, Dia, Eza, dan Tita sedang berdiri sejajar diatas nisan bertuliskan

Caesar Langit Ragiash
17 Desember 1992 – 13 Januari 2012
Anak tersayang

“Ta, lo harus akuin. Kalo Caesar itu udah meninggal.” Suara Dia pelan. Mengusik air mata Tita yang sekarang sedang jatuh membasahi pipinya.
“Gue tau kok.” Kata Tita sambil mengusap pipinya.
Dengan tak sengaja, tangan Eza langsung menyambar kantong kemeja hitamnya yang mulus, mengambil secarik tisu, dan memberikannya pada Tita.
“Kita nggak bisa lama-lama disini, Tit. Udah sore.” Sambung Igo dari balik tubuh mereka.
“Boleh sebentar lagi nggak?” jawab Tita.
Igo tidak menjawab. Ia kembali mundur dan menelan kata-kata Tita.
Tita kembali menangis. Kali ini semakin keras. Pelukan Dia semakin kuat. Tangisnya tumpah lagi. Namun, belum sampai Tita meneteskan air mata lagi, tiba-tiba ia melihat ada tiga nisan berderet yang tepat diletakkan disebelah  makam Caesar.
Makam pertama, letaknya tepat disebelah makam Caesar. Bertuliskan

Igo Arjuna
21 Maret 1992 – 10 Januari 2012
Anak tersayang

Makam kedua, letaknya bersebelahan dengan makam yang sebelumnya. Namun bentuknya lebih kecil. Bertuliskan

Andia Restu Pratiwi
06 Februari 1991 – 11 Januari 2012
Anak tersayang

      Makam ketiga, lebih panjang dari makam disebelahnya. Dan sepertinya paling panjang diantara ketiga makam disebelahnya. Bertuliskan

Eza Baihaque
07 September 1992 – 12 Januari 2012
Anak tersayang

      Suara melengking yang memekakkan telinga kembali  menusuk-nusuk telinga Tita. Tita melirik ke kiri, ke kanan. Dia sudah tidak ada dipelukannya, Eza dan Igo sudah lenyap dibelakangnya, kini ketiga makam itu yang menemaninya. Dari balik pepohonan, sesosok cowok tinggi dan tampak familiar sedang menatap Tita. Namun, belum sampai Tita melihat, cowok itu sudah hilang.

“Caesar?” kata Tita.

— B E R S A M B U N G —

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s