Dwangga. (Part 1)

Kala itu aku sempat bingung. Siapa lagi yang harus kupercaya? Tak ada satu orangpun yang mampu kuandalkan, kuajak terbang, kubawa sampai akhir hayat…
Namun apa kala jika semua itu memang tak pernah bertemu pada akhirnya?
Akhirnya semua terpecah belah, hancur, hilang, tak ada. Musnah…

16 Maret, 2000.

Namaku Dwangga. Umurku tiga belas tahun. Seperti remaja lainnya, seperti kalian, aku masih bersekolah disuatu sekolah di Jakarta. Orangtuaku, puji Tuhan, masih ada. Hingga meskipun hingga sesal itu tiba. Mereka orangtua yang baik, baik dalam arti kata mampu menghidupiku sebagai remaja biasa. Bersekolah, bermusik, beraktivitas.
Ibuku adalah pengusaha kaya. Dan ayahku adalah seorang pegawai swasta. Mereka hidup harmonis–kami hidup harmonis. Entah mengapa aku menyukai kehidupanku yang sekarang. Kami baru pindah rumah, rumah lama kami di Jombang, Jawa Timur, beberapa bulan lalu baru terkena bencana gempa bumi. Itulah alasan kuat mengapa kami pindah ke Jakarta. Berat rasanya meninggalkan teman-teman lamaku disana, rumah lamaku, keyboardku, kamarku, dan tentu..sekolahku. Beradaptasi di Jakarta tidaklah mudah, kata Om Hans, “Jakarta itu keras. Kamu harus tetap hidup, sebelum kamu dibantai sama yang bosan hidup…”
Sampai sekarang, jujur, aku belum begitu bisa mencerna kata-kata itu baik-baik. Apa maksudnya? Apakah Jakarta seburuk itu?
Siapa yang tahu.

Rumahku yang baru berada dikawasan Bintaro. Ini adalah hari pertama aku bersekolah.

Senin, 27 Maret 2000.

Maret merupakan bulan ketiga semester pertama. Jadi, aku rasa aku belum terlalu melampaui masa ajaran kelas 8 tahun ini.
Dari dalam mobil, aku bisa melihat gerbang melengkung tinggi dengan tulisan “SMP Negeri 199 Jakarta” tebal-tebal. Entah apa alasannya mengapa mereka harus menulis setebal itu. Mataku hampir membelalak dibuatnya.
Masih duduk disamping Pak Ahmad, supirku, aku masih menunggu Ayah untuk membelikanku sarapan didepan sekolah. Ibuku sudah berangkat ke Bandung tadi pagi. Terpaksa, sekalian Ayahku ke kantor nanti, sekolahku dan kantornya juga tidak terlalu jauh jaraknya.

Tiba-tiba aku tersentak.
Mendengar suara decitan yang menyakitkan telinga. Aku mengira ada seseorang menggesekkan, entah apa itu, mungkin stang sepedanya kebagian samping mobilku.
Dan ternyata aku benar.
Aku langsung terbelalak dan membuka jendela, melirik kebelakang.

Sambil melihat ternyata ada anak laki-laki yang kira-kira tingginya 2 cm lebih rendah dariku menabrakkan sepedanya kebagian samping mobilku.
“Maaf maaf! Gak sengaja!” kata anak laki-laki itu. Masih sempoyongan. Mencoba bangun dan mengangkat sepedanya yang posisinya tergolek kesamping.
“Ini apa apaan!…” Ayahku langsung terpancing. “…Kamu lagi mabok apa lagi ngapain hah?!!”
Dia langsung hening. Aku kira dia takut. “Nggak, Om. Maaf banget. Tadi aku buru-buru soalnya, takut telat..”
Wajahnya langsung memucat. Mungkin dia berbohong. Ini kan masih pukul 06.26 pagi. Sedangkan, gerbang ditutup pukul 07.15 nanti.

“Udahlah, Yah. Lagian itu juga lecetnya cuma dikit, ga panjang.” kataku membela.
Dia langsung mengangkat kepalanya. Dan melirik ke ayahku.
“Iyaa tapi tetep aja lecet!” nadanya naik satu oktaf. Tidak mau kalah.
“Yaudah, kita ngomongin ini dirumah aja nanti. Aku juga sebentar lagi masuk.”
“Oke. Dan kamu…” sambil menunjuk keanak lelaki itu. “…kita belum selesai ya.” serunya melotot.
Anak itu menunduk lagi.
“Udah, udah. Lo masuk gih.” kataku.

Dia menurut, dan langsung mengengkol sepedanya cepat-cepat. Berusaha lari.
“Yaudah, Yah aku duluan ya.” kataku sambil membuka pintu mobil, dan mengambil tasku.
“Oke. Be Good, nak. Ini hari pertamamu sekolah. Jangan macem-macem.”
Aku mencium tangannya untuk mengucapkan salam dan langsung membanting pintu mobil.
“Wang! Buburnya!” ayahku menyodorkan bungkusan bubur yang tadi ia beli.
Aku berbalik dan lansung menyambar bungkusan itu. Tanpa menoleh, aku masuk kesekolah bersama dengan anak-anak yang juga sedang berjalan masuk.

Sekolahnya cukup luas. Gedungnya bertingkat empat. Dan memiliki beberapa lapangan untuk fasilitas olahraga. Banyak anak anak yang segera masuk kedalam kelas, beberapa bahkan ada yang berlari. Aku masih menggunakan seragam SMP-ku yang lama. Pastilah aku terlihat seperti anak baru.
Saat diruang Tata Keusahaan untuk mengambil jadwal kelasku, aku masih belum percaya ruangan TK-nya saja sudah sebesar rumahku.
Ruangan lobby-nya cukup besar, banyak kursi untuk memfasilitasi murid-murid yang menunggu pembayaran, aku salah satunya.
Kepalaku tertoleh saat gadis cantik memasuki ruangan itu. Itu adalah gadis tercantik yang pernah kulihat. Rambutnya sebahu, wajahnya tirus, kulitnya kuning, dan tubuhnya molek. Dia berjalan menuju kursi-kursi kosong disebelahku.
Aku terpana. Tak terduga.
Banyak anak perempuan diruangan yang sama menoleh melihatku dengan tatapan ingin tahu. Ya, anak baru merupakan daging segar. Ingin dicaritahu oleh banyak orang. Aku terkikik.

“Dwangga Rizky Al-Richie!!!”aku tersedak.
Sebuah suara seperti seorang perempuan tiga puluhan berteriak memanggil namaku.
Aku langsung berdiri dan bangkit. Menghampiri kaca besar pembatas itu.
“Iya bu.”
“Kamu anak baru itu ya?”
“Yap…”

Aku bisa melihat tanda pengenalnya, berbunyi, “Dahlia Paramitha” dengan gelar dibelakang namanya yang aku sendiri tak tahu apa kepanjangannya.
Sambil menunggu, aku langsung terkesiap melihat gadis cantik tadi sedang berdiri tepat di stand sebelahku. Ingin aku berkenalan, tapi hambar rasanya.
“Kamu kelas 8.9!” kata Ibu Dahlia, suaranya hampir berteriak.
“Oh iya iya. Ada lagi pembayaran yang harus saya selesaikan, Bu?”
“Bayaran bulan ini harus diselesaikan segera ya, Nak. Paling telat kalau bisa minggu depan.” katanya sembari memberikan amplop dan kertas kecil jadwal kelas-kelasku semester ganjil.
“Oke, Bu. Terimakasih.” kataku sambil menerima ampop dan kertas kecil itu.

Tanpa menoleh, aku langsung menuju kelas 8.9. Menuju kekelas baruku, bertemu dengan teman-teman baruku, yang ternyata mengubah hidupku…

-TO BE CONCLUDED-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s